Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Paman Alan Berkunjung


__ADS_3

Lelaki paruh baya yang disebut 'paman' oleh Aldo tersebut, terlihat diam dengan ekspresi wajah yang datar..


Dia diam seraya memperhatikan penampilan Aldo dari atas kepala sampai ujung kaki, Aldo terlihat benar-benar berantakan.


Rambutnya terlihat acak-acakan, bahkan kimono mandi yang dia pakai pun terlihat terbalik.


Pria paruh baya itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat penampilan dari keponakannya tersebut, dia tidak menyangka jika keadaan Aldo akan seteledor itu.


Lelaki baru bayar itu juga merasa heran, kenapa Aldo tidak mengucapkan salam saat bertemu dengan dirinya.


Aldo malah terlihat seperti orang bingung dan juga linglung, dia bertanya seperti orang yang lain, bukan seperti keponakan sendiri.


"Assalamualaikum, Aldo. Paman datang ingin mengunjungi dirimu, Paman juga ingin menanyakan tentang kebenaran pernikahanmu dan Paman juga ingin menanyakan tentang pekerjaanmu," kata paman Alan.


Aldo terlihat mematung mendengar apa yang dikatakan oleh paman Alan, dia benar-benar seperti orang yang bingung harus menjawab seperti apa.


Kalau dengan pertanyaan mengenai pernikahan dirinya dengan Arumi, mungkin Aldo akan menjawabnya dengan sangat gamblang.


Namun, jika itu mengenai pekerjaannya, Aldo pasti akan menutupi hal tersebut dari paman Alan. Tidak mungkin bukan jika Aldo harus berkata jujur, jika dia memuja Nyai Ratu.


Bahkan, Kini dia sudah menjadi budak Nyai Ratu di atas ranjang. Aldo harus berusaha untuk memuaskan siluman ular tersebut dalam menyalurkan gairah seksualitasnya.


Kembali paman Alan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mendekati Aldo dan menepuk pundak keponakannya tersebut.


"Kenapa kamu sedari tadi seperti orang linglung, Aldo? Bahkan penampilanmu terlihat sangat acak-acakan seperti orang gila, lihatlah! Bahkan baju mandi yang kamu pakai saja terlihat terbalik," kata Paman Alan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh paman Alan, Aldo terlihat memperhatikan dirinya. Dia pun tersadar jika dirinya masih menggunakan bathrob, bahkan dalam keadaan terbalik.


"Ah, iya Paman. Maaf, aku baru bangun tidur. Lagian kenapa Paman datang sepagi ini?" tanya Aldo setelah tersadar dari rasa kagetnya.


"Ini bukan pagi, Aldo. Ini sudah sangat siang, Lihatlah!" kata paman Alan seraya menunjukkan jam yang melingkar di tangan kirinya.


Aldo langsung melirik jam tangan yang ditunjukkan oleh paman Alan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.08


Aldo terkesiap, karena ini sudah hampir tengah hari bolong. Dia pikir ini masih sangat pagi, karena kepalanya masih terasa sangat berat, matanya juga terasa sangat sepat.


Akan tetapi ternyata dia salah, Aldo terlihat menunduk malu, dia bahkan langsung meminta maaf kepada paman Alan.


"Maaf, Paman. Aldo kira masih pagi, kalau begitu, mari masuk!" ucap Aldo.


"Ya," jawab Paman Alan singkat.


Aldo terlihat mempersilahkan paman Alan untuk masuk, dengan senang hati paman Alan masuk seraya memperhatikan ruangan yang ada di dalam rumah Aldo tersebut.


Rumah Aldo nampak megah danmewah, di dalam setiap ruangannya juga terpampang banyak barang berharga yang pastinya berharga sangat mahal.

__ADS_1


Paman Alan sangat bingung dibuatnya, kenapa Aldo bisa kayak dalam waktu singkat. Dua bulan ini dia memang tidak berada di kampungnya tersebut.


Karena dua bulan ini dia berada di kampung istrinya, di sana sedang ada panen besar. Selama dua bulan itu, dia sama sekali tidak mengetahui kabar dari Aldo.


Karena memang Aldo tidak pernah menghubunginya sama sekali, dia sudah mencoba menghubungi Aldo hanya sekedar menanyakan toko kue miliknya.


Karena selama dia di kampung, dia menitipkan toko kuenya tersebut kepada orang kepercayaannya saja. Namun, nomor Aldo tidak pernah aktif.


"Duduklah, Paman!" kata Aldo setelah tiba di dalam ruang keluarga.


"Ya, terima kasih!" jawab Paman Alan.


Paman Alan terlihat duduk, begitupun dengan Aldo. Dia duduk tidak jauh dari paman Alan, dia terlihat gugup sekali.


"Mandilah dulu, Aldo. Baru nanti kita bicara," kata Paman Alan.


Aldo merasa ragu untuk meninggalkan pamannya sendirian di dalam ruangan tersebut, dia juga merasa tidak enak hati jika harus meninggalkan pamannya yang baru datang itu.


" Tapi Paman--"


Paman Alan seolah mengerti kegundahan yang dirasakan oleh Aldo, dia tersenyum lalu berkata.


"Mandi dulu sana, Paman tidak suka melihat penampilanmu yang nampak seperti orang gila," kata paman Alan seraya terkekeh.


"Tapi, Paman. Aku tidak enak hati meninggalkanmu," jawab Aldo.


Awalnya Aldo benar-benar merasa ragu untuk meninggalkan pamannya tersebut, namun setelah paman Alan meyakinkan dirinya, Aldo pun merasa memang sebaiknya dirinya harus mandi terlebih dahulu.


Apalagi saat mengingat semalam suntuk dia bercinta dengan Nyai Ratu, sudah pasti badannya terasa sangat lengket.


Apalagi dengan miliknya yang mungkin sudah sangat kotor, dia harus segera membersihkan dirinya.


"Ya, baiklah. Terserah apa kata Paman, aku menurut," jawab Aldo.


Akhirnya Aldo berlalu dari ruang keluarga tersebut, dia masuk ke dalam kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya.


Sepeninggal Aldo, paman Alan terlihat duduk seraya memperhatikan ruangan tersebut. Semua yang dia lihat benar-benar merupakan barang-barang berharga mahal.


"Kenapa anak itu bisa kaya dalam waktu yang cepat? Kenapa Aldo bisa mempunyai rumah semegah ini?" tanya Paman Alan bingung.


Padahal paman Alan mengatakan jika dirinya akan menonton TV, namun hal itu tidak dia lakukan, dia malah bangun dan menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah megah tersebut.


Kepalanya menggeleng tidak percaya setiap dia melihat barang-barang megah dan mewah yang pastinya berharga fantastis yang berada di dalam ruangan tersebut.


Paman Alan benar-benar bertanya-tanya di dalam hatinya, sebenarnya apa yang Aldo kerjakan selama dua bulan ini? Kenapa kehidupannya benar-benar berubah total?

__ADS_1


Setelah lima belas menit berkeliling, paman Alan merasa haus. Akhirnya dia mencari letak dapur itu sendirian, karena Aldo tidak kunjung datang


"Mungkin berjalan ke arah sebelah sini," kata paman Alan.


Setelah mengatakan hal itu, dia terlihat berjalan menuju arah belakang rumah. Saat tiba di dapur, kembali matanya dibuat takjub.


Karena dapur milik Aldo sangatlah besar, barang-barangnya terlihat mewah dan tertata dengan sangat rapi.


Kembali paman Alan mengagumi barang-barang yang ada di sana, namun setiap kali dia melihat barang mewah hatinya merasa was-was.


Entah karena apa dia juga tidak tahu, hanya saja hatinya merasakan jika Aldo mendapatkan semuanya dengan cara yang tidak baik.


Paman Alan langsung membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral, setelah itu dia terlihat duduk dan mulai membuka minuman tersebut.


"Bismillahirohmanirohim," ucapnya sebelum menenggak minuman dari botol tersebut.


Setelah mengucapkan basmalah paman Alan terlihat meneguk minuman tersebut, dia mengelus lehernya karena merasakan kesegaran.


"Alhamdulillah, segar banget," katanya setelah meminum air mineral tersebut.


Dia terlihat mengedarkan kembali pandangannya, entah kenapa suasananya terasa mencekam.


Bahkan dia merasa jika bulu kuduknya terasa berdiri, rasanya suasana di rumah Aldo itu tidak hangat. Namun, terasa dingin dan membuat dia merasa takut.


"Paman, ternyata Paman di sini," kata Aldo dengan wajah was-was.


"Ah, iya. Paman haus," jawab Paman Alan.


"Oh," jawab Aldo singkat.


Sebenarnya Aldo merasa sangat khawatir, takut-takut paman Alan merasakan sesuatu yang janggal di dalam rumahnya itu.


Namun, dia berusaha untuk berpikir positif. Lalu, Aldo duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari paman Alan.


"Karena kamu sudah terlihat segar, kita bicara sekarang, ya?" kata Paman Alan.


"Baiklah, kita bicara di ruang keluarga saja," ajak Aldo.


Aldo tidak mungkin mengajak pamannya untuk berlama-lama bicara di sana, karena di sebelah dapur ada kamar milik Nyai Ratu. Dia takut jika pamannya tersebut menyadari sesuatu.


"Iya," jawab Paman Alan.


****


Masih berlanjut....

__ADS_1


Semoga kalian masih mau menunggu cerita dari Othor ini, jangan lupa untuk tinggalkan jejak yes.


__ADS_2