
Acara demi acara telah dilaksanakan, hingga pada akhirnya kini acara dilanjutkan ke acara resepsi pernikahan.
Aku dan juga Arumi terlihat naik ke atas pelaminan, kami benar-benar terlihat seperti sepasang Raja dan juga Ratu.
Kami begitu serasi dan terlihat begitu cantik dan juga tampan, apa lagi kini tubuh kami berbalut busana yang sangat mahal dan juga elegan.
Tamu undangan yang hadir terlihat mengantre untuk mengucapkan selamat kepada kami, tak lupa mereka juga meminta untuk berfoto bersama.
Dari mulai gaya formal, gaya biasa, hingga gaya terkonyol yang kami semua tampilkan. Semua orang yang hadir, nampak ikut berbahagia dengan pernikahanku.
Karena orang yang paling kecewa di antara semuanya sudah pulang ke rumahnya, ya... setelah menikahkan Arumi dengan diriku, bapak mertuaku langsung pulang diantar oleh perawatnya.
Arumi terlihat sedih saat bapaknya pulang begitu saja, karena walau bagaimanapun juga pak Didi tetap ayah kandungnya.
Berbeda dengan Aku yang nampak biasa saja, justru aku sangat bersyukur jika lelaki paruh baya itu tidak berlama-lama berada di sana.
Karena setiap melihat wajah bapak mertuaku yang seakan begitu membenciku, mood-ku seakan hilang.
Setelah banyaknya orang yang mengucapkan selamat, tiba-tiba saja seorang pria paruh baya datang bersama wanita yang sejak awal aku melangsungkan pernikahan naik atas pelaminan.
Tanpa aba-aba dia langsung memeluk dan menangis tersedu-sedu, aku terdiam karena di sini begitu banyak orang.
Aku tidak mungkin menyuruh dia untuk tidak memelukku, karena sebenarnya aku merasa sangat kesal terhadap wanita yang kini berada di dalam pelukanku.
Setelah tahu dia tidak menemuiku, padahal selama ini berada dekat denganku, aku merasa benar-benar kesal.
Aku marah dan aku benci dengan perempuan paruh baya yang kini sedang memelukku, selama ini aku selalu mengira jika dia tidak datang menemuiku karena hidupnya susah dan tidak bisa datang karena suatu alasan.
Namun, ternyata kehidupannya cukup baik jika dilihat dari penampilannya. Dia terlihat cantik dengan busana yang terlihat mahal, walaupun masih di bawah harga baju milikku sekarang.
"Maafkan Mommy, Sayang. Maaf karena Mommy baru datang, semuanya ka--"
Aku yang tidak mau mendengar dia banyak bicara langsung menyelak ucapannya, aku langsung menunduk dan berbisik tepat di telinganya.
"Cukup Nyonya, terima kasih anda sudah hadir. Tapi maaf, anda tidak bisa berlama-lama di sini. Masih banyak sekali tamu yang mengantre untuk mengucapkan selamat padaku."
Sengaja aku ucapkan kata kasar seperti itu, bodo amat dia mau marah ataupun bersedih sekalipun.
__ADS_1
Aku tidak peduli anggapannya seperti apa terhadapku, justru aku lebih marah karena selama ini dia tidak pernah datang untuk menemuiku.
Aku seolah anak yang terbuang, dilahirkan dan ditinggal begitu saja. Wanita paruh baya itu terasa memelukku dengan erat, tubuhnya bahkan berguncang hebat.
Mungkin saja dia sedang sedih dengan apa yang aku katakan, sungguh aku tidak ingin dia hadir di hadapanku, sungguh aku juga tidak peduli dengan bagaimana perasaannya.
Jika saja tidak ada banyak orang di gedung ini, sudah ku usir dia dari acara pernikahanku. Namun, karena aku ingat akan alasanku menjadi kaya karena dirinya, aku berusaha meredam emosiku.
Aku ingin sekali meminta orang yang berjaga untuk menyeret wanita ini keluar dari hadapanku, namun aku tidak tega.
Tidak lama kemudian, aku merasakan tubuhnya masih bergetar. Namun, isak tangisnya sudah mulai mereda.
Dia terlihat melerai pelukannya, kemudian menatapku dengan tatakan nanar. Aku memalingkan wajahku, aku takut perasaanku akan berubah saat melihat sorot matanya.
"Maafkan, Mommy. Maaf," cuma kata itu yang terus terulang-ulang dari bibirnya.
Aku marah dan aku benci dengan keadaan seperti ini, jujur di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak suka saat melihat dia menangis seperti ini.
Rasanya aku ingin merangkulnya, aku ingin memeluknya dan aku merasa ingin menenangkan dirinya.
Aku ingin sekali berkata jika aku baik-baik saja, teruskanlah hidupmu dengan suami dan anakmu, walaupun aku sangat membutuhkanmu.
Tidak lama kemudian, dia terlihat pergi bersama dengan lelaki paruh baya yang menjadi saksi di saat aku menikah.
Mungkin saja itu adalah suaminya, aku tidak peduli. Setelah mereka turun dari pelaminan, nampaklah paman Alan yang datang menghampiriku.
"Selamat ya, Nak. Semoga kamu berbahagia, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah," ucap Paman Alan.
Aku tersenyum, kemudian membalas pelukan dari pria paruh baya itu. Pria yang selalu membantuku dalam setiap aku kesusahan, walaupun terkadang aku merasa muak dengan nasehat-nasehatnya yang begitu religius.
"Terima kasih, Paman," ucapku.
Paman Alan melerai pelukannya, kemudian dia menatapku dengan lekat.
"Tadi mommy'mu yang datang bersama dengan suaminya, saat mengetahui kamu mau menikah dia bersikukuh ingin ke sini. Walaupun aku sudah melarangnya, dia tatap datang dan meminta suaminya untuk menjadi saksi pernikahanmu," kata paman Alan.
"Ya, biarkan saja. Terserah dia mau melakukan apa pun, yang penting dia jangan mendekatiku. Karena aku tidak suka," ucapku pelan namun penuh penekanan.
__ADS_1
Sepertinya Arumi mendengar apa yang aku katakan, dia langsung mendekatiku lalu dia mengelus lembut lenganku.
"Jangan bicara seperti itu, Mas. Tidak baik berkata seperti itu terhadap mommy kamu, aku tidak tahu apa yang membuat kamu membencinya. Tapi, dialah wanita yang melahirkanmu," kata Arumi kepadaku dengan raut wajah bingungnya.
Aku tahu, pasti Arumi sedang berpikir keras kenapa aku bersikap acuh terhadap Ibuku sendiri. Padahal aku sendiri yang berkata jika sumber kekayaanku adalah darinya, namun aku malah mendiamkannya.
Pasti Arumi akan curiga, tapi aku tidak peduli. Karena pada kenyataannya, memang mommy juga tidak peduli terhadap aku.
Selama ini aku hidup susah, bahkan demi mengejar wanita yang kucintai saja aku harus menjadi pemuja siluman ular penghuni hutan terlarang.
"Sudah-sudah, ini hari pernikahan kalian. Berbahagialah, bukanlah ini yang kaliam. inginkan?" tanya Paman Alan.
"Ya, Paman," jawabku.
Setelah mengatakan hal itu, paman Alan langsung turun dari atas pelaminan. Mungkin dia masih ada perlu, atau mungkin hendak melakukan pekerjaan lainnya.
Selama acara resepsi berlangsung, aku dan Arumi tidak terlalu banyak bicara. Kami hanya saling diam, sesekali kami tersenyum ke arah tamu yang hadir.
Pukul empat sore acara resepsi pernikahan pun sudah selesai dilaksanakan, sengaja aku tidak mengadakan acara resepsi pernikahan sampai malam tiba.
karena itu akan menguras tenagaku, bahkan itu juga akan menghabiskan waktuku. Mungkin saja akan memotong acara malam pernikahan kami, aku tidak mau.
Aku sadar jika ini bukan malam pertama untuk aku dan Arumi, tapi aku sudah menyiapakan semuanya untuk acara malam pernikahan kami.
Dari mulai kamar hotel yang mewah, sampai lingeri seksi pun aku beli khusus untuk Arumi kenakan di malam pernikahan kami.
"Kita langsung ke hotel," ucapku ketika acara sudah selesai.
"Iya, Mas," kata Arumi malu-malu.
Wajahnya terlihat merah merona, mungkin saja dia sedang membayangkan malam pernikahan kami nanti.
Untuk menyambut acara malam pernikahan kami, bahkan aku sudah meminum obat kuat. Karena setiap melakukannya dengan Arumi, rasanya milikku terasa dicengkam dengan kuat.
Aku tidak bisa tahan lama dan selalu ingin cepat keluar, herannya jika aku bercinta dengan Nyai Ratu, aku merasa tidak capek dan selalu bisa membuat siluman ular itu berteriak kenikmatan.
****
__ADS_1
Selamat siang, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.