Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kiriman


__ADS_3

Reihan mengernyitkan dahinya saat melihat bungkusan yang ditunjukkan oleh karyawan tersebut, nampak sebuah kain kafan yang terlipat di balik tumpukan barang yang sudah tidak terpakai.


Dia segera mengambil benda tersebut, saat membuka kain tersebut. Ternyata di dalamnya ada telur busuk penuh dengan belatung, semua karyawan yang melihatnya nampak berteriak.


Berbeda dengan Yoga, dia langsung mengambil benda tersebut. Dia berlari ke arah got yang tak jauh dari Resto dan membuangnya ke sana.


Reihan terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh Yoga, dia tidak mengerti kenapa Yoga langsung berlari dan membuang bungkusan pecahan telur busuk tersebut.


Dia bahkan melihat Yoga menekan bungkusan telur busuk tersebut dengan kayu agar semakin terkubur ke dalam lumpur got.


Reihan langsung menghampiri Yoga, dia menepuk pundak Yoga lalu bertanya.


"Ada apa sih? Kenapa kamu membuang bungkusan telur busuk itu?" tanya Reihan penasaran.


"Aduh Pak Bos, anda harus paham. Kalau kata nenek saya, itu artinya ada yang ngirim. Ngirim dalam artian biar usaha Pak Bos biar bisa cepat bangkrut," kata Yoga.


"Astaghfirullahaladzim, Yoga kok kamu pikirannya jelek banget gitu? Mana mungkin ada orang yang mempunyai hati yang busuk seperti itu?" kata Reihan.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Reihan, Yoga terlihat menepuk jidatnya seraya menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun bersuara.


"Ya Tuhan, tolong saya. Kenapa saya punya Pak Bos yang begitu baik hatinya dan pikirannya begitu jernih?" kata Yoga.


Setelah mengucapkan hal itu, Yoga terlihat menepuk pundak Reihan dengan kurang ajarnya. Lalu, dia pun berkata.


"Dengarkan saya, Pak Bos. Usaha Pak Bos sedang berada di atas, akan banyak orang yang merasa iri hati terhadap usaha yang Pak Bos jalani. Jadi, wajar saja bila ada yang berusaha ingin menghancurkan usaha Pak Bos," kata Yoga dengan wajah yang seriusnya.


"Ya ampun, kolot sekali pikiran kamu Yoga," kata Reihan.


Walaupun dia berkata seperti itu, namun dalam hatinya dia mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Yoga.


Rehan memang merasa, jika akhir-akhir ini banyak kejanggalan yang terjadi di dalam dunia bisnis yang sedang dia jalani itu.


Bahkan dia pun sempat berpikir ada orang yang ingin merusak citra bisnisnya, agar tidak ada lagi pengunjung yang datang ke Resto miliknya.


"Ck! Dibilanginnya ngeyel nih Pak Bos, udah deh sekarang gini aja. Setelah menemukan benda brengsek ini, saya jadi tahu kenapa aura Resto milik pak Bos menjadi gelap. Bagaimana kalau kita sekarang melaksanakan salat dzuhur berjamaah saja? Setelah itu, kita mengaji bersama, tutup saja dulu Restonya sehari ini Pak Bos. Kalau bisa, Pak Bos juga bersedekah terhadap orang miskin."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Yoga tertawa. Dia merasa lucu karena dia merasa menjadi ustadz dadakan, namun setelah itu dia pun kembali berkata.


"Tapi, akan lebih baik jika Pak Bos bersedekah terhadap kami karyawan Pak Bos terlebih dahulu. Karena walaupun kami bukan orang miskin, kami juga membutuhkan uang tambahan," kata Yoga.


"Ck! Modus!" kata Reihan.


"Aku serius, membahagiakan hati orang lain dan menebalkan kantong karyawan juga merupakan ibadah," beo Yoga.


Para karyawan yang sedang berkumpul hanya saling pandang mendengar obrolan antara Yoga dan juga Reihan, mereka tidak menyangka jika orang sebaik Reihan masih saja ada yang mengincar.


"Baiklah,sekarang kita shalat berjamah. Setelah itu kita tadarusan, nanti saya kasih uang bonus buat kalian." Reihan langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Resto.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Reihan, Yoga langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


"Yes," ucapnya lantang. Sedangkan para karyawan yang melihat hal itu langsung tersenyum senang, karena mereka akan mendapatkan bonus.


Tentu saja mereka langsung mengucapkan terima kasih kepada Yoga yang telah mengusulkan hal tersebut, karena berkat dia kini mereka mendapatkan rezeky.


Para karyawan langsung berjalan masuk menuju Resto dengan senyum yang mengembang di bibir mereka, ada yang langsung ke kamar mandi untuk wudhu, ada juga yang menutup Resto.


Reihan tersenyum dengan ide yang dilontarkan oleh Yoga, walaupun dia tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yoga, namun setidaknya ini menjadi hal positif karena pada akhirnya dia bisa melaksanakan shalat berjamaah bersama dengan para karyawannya.


Dia juga bisa bersedekah, itu artinya dia sudah melakukan kebaikan di hari ini. Kebaikan yang tentunya akan mendapatkan pahala yang besar dari Sang Pemilik bumi.


Di lain tempat.


Arumi terlihat tidak sabar dalam menjalani pekerjaannya, dia ingin segera bertemu dengan suaminya, Aldo.


Dia, sudah bertekad akan menyempatkan waktu untuk bisa bertemu dengan suaminya dalam setiap harinya.


Walaupun waktu yang dia punya sangatlah terbatas, karena jika terlalu lama dia bersama dengan Aldo, dia takut jika pak Didi akan curiga terhadap dirinya.


"Dokter Arumi, kami mau makan siang di luar. Mau bareng?" tanya Dokter Siska.


"Eh? Ngga usah, saya mau makan di sini saja," dusta Arumi.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kami duluan," kata Dokter Sisil.


"Ya," jawab Arumi.


Selepas kepergian teman-temannya, Arumi langsung mengambil tas jinjing miliknya. Dia kemudian memesan ojek online dan segera pergi dari sana, tentu saja tujuannya adalah ingin pergi ke rumah suaminya.


Namun, sebelum itu dia mampir terlebih dahulu ke warung makan langganannya. Dia memesan dua bungkus nasi padang, tentu saja satu untuk dirinya dan juga satu untuk Aldo. Tak lupa dia juga memesan dua jus mangga, karena dia dan Aldo sama-sama menyukainya.


Saat sedang memesan jus mangga, dia melihat Yuni yang berjalan dengan tergesa bersama dengan ibunya. Arumi terlihat mengernyitkan dahinya, karena Yuni terlihat membawa tas berukuran besar di tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggandeng tangan ibunya.


Dia yang merasa penasaran langsung menghampiri Yuni, dia ingin bertanya kepada dirinya.


"Eh? Mbak Yuni ya? Mau ke mana?" tanya Arumi.


Yuni terlihat sangat kaget saat melihat wajah Arumi yang kini berada di hadapannya, dia terlihat gelagapan.


"Hei, kenapa melihatku seperti itu? Aku bukan hantu," kata Arumi.


"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja--"


Yuni terlihat enggan untuk melanjutkan pembicaraannya, dia malah terlihat menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Arumi.


"Hanya saja apa, Yuni? Katakan saja!" kata Arumi.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya ingin berpesan, jauhi kak Aldo. Karena dia bukan lelaki yang baik, Maaf kalau aku sudah lancang. Permisi," kata Yuni.


Setelah mengatakan hal itu, Yuni terlihat mencegat sebuah Bajaj dan langsung pergi dari sana. Arumi menatap bingung kepergian Yuni dan juga ibunya, dia benar-benar tidak paham kenapa Yuni bisa mengatakan hal tersebut.


*


*


Masih berlanjut.


Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.

__ADS_1


__ADS_2