
“Kampung ini sepi sekali, kenapa belum ada yang lewat?” Hwa bertanya pada Hanif.
Mereka terus melihat ke jalan yang hanya membentuk setapak itu. Lengang, hanya ada kabut tipis yang menutupi setiap ujung pandangan.
“Mungkin karena masih pagi,” sahut Hanif berharap. Ia menggosok telapak tangan yang dingin.
“Juju?” Suara Hwa membuat Hanif ikut melihat ke arah Juju tadi. Tak ada seorang pun di belakang sana.
“Juki, Juki?!” Hanif berlari ke arah bekas Juju berdiri, hanya terlihat jejak dari rumput yang terinjak, Hanif akan maju tapi ia urungkan. Lelaki itu kembali ke mobil.
“Sepertinya ia masuk ke hutan, mungkin mencari sungai,” kata Hanif pada Hwa. Suaranya tak begitu yakin dengan apa yang terucap, tapi hatinya penuh harap kalau Juju hanya pergi sebentar.
Lelaki putih berambut lurus itu pun menarik napas lega.
“Semoga saja begitu,” jawabnya sedikit ragu.
Teringat tadi malam mobil berguncang tanpa tahu penyebabnya. Hwa merasa masih tersisa takut di tempat asing ini.
Satu hingga dua jam kedua lelaki itu makin gelisah, Juju belum juga kembali.
“Mana Juju?” Nilam terbangun dan keluar mobil. Hwa cepat memapahnya saat ia sempoyongan, wajah Nilam pucat. Dan, karena terlalu lama duduk membuat tubuhnya terasa kaku.
Setelah terdiam beberapa saat dan saling pandang dengan Hwa, Hanif berinisiatif mencari Juju. “Biar kususul jejaknya, kalau ada orang lewat kalian tunggu kami, ya. Aku bawa Juki segera,” ujar Hanif membuat Nilam menganga.
“Apa maksudnya? Juju kemana?”
Hanif mencoba menjelaskan sebentar sebelum pergi, lalu mengayunkan langkah cepat, menelusuri semak yang rimbun.
Ada jejak semak terinjak, terus memanjang memasuki rimba. Hanif bermohon kemudahan dari Allah yang maha pelindung, ini pertama kalinya ia berani berjalan sendiri ke tengah hutan. Nama adik sepupunya itu terus ia serukan setengah berteriak.
Sayangnya, hanya gema yang terpantul kembali ke telinganya.
***
Hingga menjelang sore, Nilam dan Hwa gelisah di tempat. Dalam kondisi lapar dan lelah mereka menanti Hanif dan Juju kembali, sambil menunggu ada orang yang lewat untuk dimintai bantuan. Sayangnya, itu hanya seperti angan kosong.
Nilam mulai tak bisa membendung air mata, terus menyesali dua orang teman yang ikut mengantarnya pulang. Seharusnya ia sendiri menghadapi semua, sendiri. Sesal membuatnya terus terisak. Gadis itu tersungkur saat kepalanya kembali memberat.
“Nilam?” Hwa mengangkatnya berdiri, memapah gadis itu masuk ke mobil.
“Berapa jauh rumahmu dari sini?” tanya Hwa cepat.
Hanya tertinggal dirinya sebagai lelaki di sini dan ia harus cepat mengambil keputusan, sebelum gelap. Sia-sia menunggu tanpa melihat seorang pun melewati jalan ini.
“Nggak tau kira-kiranya, tapi masih jauh,” jawab Nilam di sela isak.
“Kalau jalan kaki berapa lama?” Hwa mendesak ingin tahu.
Nilam membulatkan mata pada bosnya itu.
Jangan-jangan lelaki ini mau meninggalkan Juju dan Hanif, pikirnya.
__ADS_1
“Kita akan ke rumahmu berjalan sebelum hari gelap,” terang Hwa.
Dugaannya benar. Nilam langsung memasang wajah marah.
“Tuan Hwa, mau ninggalin dua temanku demi menyelamatkan diri?”
Hwa tersentak mendengar pernyataan Nilam. Mata mereka beradu beberapa saat.
“Apa kamu mau bertahan di sini tanpa Hanif? Aku tak bisa menjagamu seperti-“
“Aku nggak akan ninggalin mereka!” jerit Nilam.
Hwa memandangnya dengan raut putus asa. Ia urung akan kembali bicara saat melihat gadis itu melakukan gerakan mengusap wajah dengan telapak tangan.
Meski sambil menahan isak Nilam terlihat sungguh-sungguh.
Hwa menunggu, sambil berpkir keras. Ia sanggup berjalan berjam-jam demi Nilam tiba di rumahnya. Bermalam di sini sama saja mengantar nyawa. Baterai ponselnya juga tinggal sedikit. Akan tetapi, gadis itu keras kepala.
Hwa menyiapkan kata-kata agar Nilam setuju dengan rencananya.
Nilam tengah menjalankan salat Ashar, sesuai kemampuannya yang hanya menghafal surah Al-Fatihah dengan terbata. Cukup lama ia tenggelam dalam permohonan, diiringi tangis. Rasa takut kehilangan dua orang teman itu menghantuinya.
Mentari semakin condong ke Barat, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Hanif dan Juju. Jantung Nilam bertalu, semakin khawatir dengan kondisi mereka. Ia menyandarkan kepala di kursi mobil, tenggelamkan diri dalam alunan doa yang ia ucap dengan bahasa sendiri. Matanya terpejam membayangkan dua temannya itu segera muncul.
“Nilam, sesampai di rumahmu kita minta tolong penduduk. Kita akan gelap di sini,” desak Hwa karena melihat hari semakin sore. Nilam bergeming. Tetesan air mata mengaliri pipi putihnya. Pikirannya tertuju hanya pada Juju dan Hanif.
Apa yang terjadi pada mereka sekarang? Jerit hatinya meratap.
Nilam tak menjawab.
“Kamu ke sini mau bertemu ibumu, kan? Kita akan ke sana dan cari jalan keluarnya.” Nada Hwa dibuat sedikit keras.
Nilam membuka mata. Melempar pandang ke depan, tatapannya kosong. “Seandainya tau begini, harusnya aku sendiri yang pulang ….”
“Ssst! Jangan bicara lagi, kita harus cepat. Ponsel ini akan mati, kalau kita gelap di jalan pakai apa?” Nada kesal Hwa semakin terdengar. Ia menarik lengan Nilam.
“Kalau Tuan yang jadi mereka apa rela ditinggal?!” Nilam melempar tatapan tajam pada lelaki berbibir merah itu. Ia tak pikirkan lagi itu bosnya atau bukan.
“Oh, ya, tentu. Justru kalian ke kampung akan cepat mencari pertolongan untukku,” debat lelaki bermata bening itu menantang mata Nilam.
“Ayo cepat, sini ranselmu. Kita harus cepat.” Hwa mendesaknya. Sedikit enggan, Nilam turun dan mengikuti Hwa yang menggendong dua ransel milik mereka berdua.
Beberapa kali Nilam menoleh ke belakang, berharap Juju dan Hanif tiba-tiba muncul. Namun, hingga belokan jalan dua orang terdekatnya itu tak jua tampak.
Hati Nilam bagai tersayat, terus berharap tak terjadi apa-apa pada keduanya.
“Cepat!” Hwa menarik tangannya. Lelaki itu setengah berlari dengan tak melepaskan tangan Nilam.
“Ingat, Nilam. Jaga perasaan dan hati kamu, seperti kata Hanif. Semua akan aman,” kata lelaki di depannya itu tanpa menoleh.
Nilam mematuhi, ia terus mengingat semua kata yang menempel di otaknya. Kalimat dan nasehat Hanif menggema di telinganya.
__ADS_1
Suara bening lelaki itu pun seakan ikut mengalun, seperti sedang membacakan surah yang sama sewaktu ia di rumah sakit. Tak ada harapan lain selain doa keselamatan untuk dua temannya itu. Nilam menguatkan diri menyamai langkah Hwa.
Hari mulai gelap, Hwa menyalakan senter ponselnya, berharap bisa bertahan menerangi hingga mereka sampai. Belum ada tanda-tanda akan sampai ke sebuah kampung, di kejauhan masih sangat gelap.
Hwa berkali-kali mengulang tanya apa mereka sudah benar menuju arah kampung Nilam ataukah tersesat. Nilam tak bisa memastikan, sebab jalan yang gelap membuatnya sedikit lupa, tapi seingatnya itu arah satu-satunya jalan ke kampung.
Tubuh Hwa telah bermandi keringat, kakinya makin tak terasa. Di restoran ia terbiasa duduk di belakang meja, berkeliling sesekali dan hanya berolah raga di gym. Berjalan sejauh ini cukup payah ia lakukan.
Tak seperti Nilam selalu bersemangat sepanjang jam kerja. Seakan tenaganya selalu tersedia. Sekarang pun, meski fisiknya lemah ia terlihat kuat. Hwa sesekali melirik gadis itu, dari sinar senter ponsel bisa terlihat bibir Nilam
berkomat-kamit tanpa suara.
Lelaki berhidung tinggi ini mencoba tak mengganggu ataupun mengeluh, padahal ia sangat ingin berhenti karena kelelahan.
Tak sampai setengah jam, Nilam terlihat sangat lelah. Mulutnya membuka mencari oksigen di antara dzikir yang masih bisikkan. Ia kemudian terhenti, menumpu tangan ke lutut, menata napas yang terasa akan habis.
Hwa bisa melihat kekuatan spiritual itu mampu menguatkan jiwa, didapat saat seseorang berkeyakinan tinggi pada Tuhannya.
Gelap semakin pekat, mereka lanjut berjalan dengan langkah pelan. Hwa merutuki diri yang tak terpikir membawa senter. Arah ke kampung ini benar-benar tanpa penerangan. Ponselnya berbunyi kemudian mati. Di saat yang sama, angin berembus cepat melewati celah mereka. Nilam memegang lengan Hwa karena terkejut.
“Kita istirahat dulu, mana bisa jalan kalau gelap begini,” kata Hwa terengah-engah.
Nilam berhenti, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Kakinya terasa seolah tak menapak lagi, panas dan berdenyut. Gadis itu terduduk sembarang di rerumputan, menyelonjorkan kaki. Tubuh disandarkan pada ransel yang Hwa letakkan di belakang punggungnya.
Lelaki itu menjatuhkan tubuh di dekat Nilam. Sekarang, hanya terdengar suara napas mereka beradu cepat. Tenggorokan kering menagih disirami segarnya air. Tak ada yang sanggup bicara saat lelah sangat begini.
Beberapa lama keduanya diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing dalam naungan gelap.
“Allah, lindungi Juju dan Bang Hanif …” desah Nilam terdengar pasrah, menengadah menatap gelap tanpa bulan dan bintang. Ia terbaring berbantal ransel.
“Amiin.” Suara Hwa menyahut.
“Maaf gara-gara aku, semua ikut susah ….”
“Ssst, jangan katakan itu.” Hwa mencari tangan Nilam, menggenggamnya erat. Ia tahu gadis itu kembali menangis. “Kami semua menyayangimu, kamu harus kuat. Jangan sampai pengorbanan ini sia-sia,” gumam Hwa bernada serius.
Nilam semakin terharu. Tangan lembut dan halus milik bosnya itu menyela jemarinya.
Lelaki yang berada di sisinya ini adalah orang penting dari komunitasnya. Ia juga bos sekaligus pemilik tempatnya bekerja. Nilam merasa bagai mimpi sekarang sedang ada di dekatnya. Sebagai teman yang terasa akrab dan rela bersamanya di saat seperti ini.
“Panggil saja, aku Hwa tanpa Tuan di depannya. Kamu dan Juju sudah kuanggap teman,” jelas Hwa seakan mengetahui arti diamnya Nilam.
“Terima kasih.” Lelaki itu tersenyum kecil mendengar jawaban Nilam.
Hwa kemudian diam, membiarkan Nilam terus berdoa meminta keselamatan teman-temannya. Merengek dalam tangis yang terucap jelas, hanya pada Tuhannya. Lelaki itu mengaminkan semua yang Nilam ucap.
Tiba-tiba, sebuah tangan dingin dan kasar membekap mulut Nilam. Suara gadis itu terhenti, berubah gumam tertahan.
Refleks Hwa menahan tubuh Nilam yang dirasa tertarik menjauh.
Bersambung ....
__ADS_1