Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Bantuan


__ADS_3

Hari sudah semakin terang, matahari sudah semakin terik dan condong ke arah barat. Aldo sudah tersadar dari pingsannya, hanya saja dia terlihat susah untuk membuka matanya.


Dia terus saja meringis menahan sakit, Arumi dan pak Didi terlihat begitu perihatin melihat kondisi dari Aldo.


Arumi dengan setia mengompres tubuh Aldo dengan air es, dia berharap dengan seperti itu bisa mengurangi rasa sakit yang diderita oleh suaminya tersebut.


"Apa sudah terasa lebih baik?" tanya Arumi.


Aldo hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban, Arumi benar-benar merasa kasihan terhadap suaminya tersebut. Karena untuk bicara pun Aldo terlihat kesusahan.


"Aku bikinin bubur, kamu makan, ya? Aku suapin," kata Arumi.


Aldo terlihat menggeleng pelan, boro-boro untuk makan. Rasanya sekujur tubuhnya benar-benar sakit, untuk membuka mulut saja terasa sangat sakit.


Arumi terlihat meneteskan air matanya, dia benar-benar tidak tahu harus memperlakukan Aldo seperti apa.


Tidak lama kemudian, terdengar bel pintu yang berbunyi. Pak Didi terlihat bangun lalu menepuk pundak Arumi.


"Bapak keluar sebentar, sepertinya ada tamu. Takutnya kamu penting," kata Pak Didi.


Pak Didi disengaja membiarkan Arumi untuk terus menjaga Aldo, karena dirinya masih sanggup untuk berjalan dan dia juga sangat penasaran siapa yang datang untuk bertamu.


"Iya, Pak. Arumi paham," jawab Arumi.


Setelah berpamitan kepada Arumi, pak Didi terlihat keluar dari kamar Arumi. Lalu, dia terlihat melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Saat pintu utama terbuka, nampaklah Reihan yang datang bersama dengan pak Ridwan dan juga pak ustadz.


Pak Didi nampak mengernyitkan dahinya karena tidak paham, tidak biasanya Reihan datang tanpa mengabari.


"Assalamualaikum, Om. Maaf mengganggu, apa Aldo'nya ada?" tanya Reihan.


"Oh, ada. Aldo sedang sakit, dia ada di dalam kamarnya. Kondisinya sangat memprihatinkan," jawab Pak Didi.


Rehan dan pak ustadz terlihat saling pandang, karena sebenarnya Reihan sudah menceritakan semuanya kepada pak ustadz.


Sebenarnya Reihan sudah menunggu cukup lama di rumahnya, namun Aldo tak kunjung datang.


Maka dari itu, Reihan berinisiatif untuk datang bersama dengan bapaknya dan juga pak ustadz.

__ADS_1


"Apakah boleh jika kami menemui nak Aldo?" tanya Pak Ustadz.


Sebenarnya pak Didi saat ini benar-benar sangat tidak paham, kenapa Reihan malah datang bersama dengan bapaknya dan juga pak ustadz.


Namun, dia tetap mengiyakan.


"Iya, boleh. Mari masuk," kata Pak Didi.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju kamar Arumi, karena memang pak ustadz dan juga Reihan sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Aldo seperti apa.


Tiba di dalam kamar Arumi, baik Reihan, pak ustadz dan juga pak Ridwan terlihat kaget saat melihat kondisi dari Aldo. Aldo benar-benar terlihat menyedihkan.


"Aldo, ini saya Reihan," kata Reihan.


Aldo mencoba membuka matanya, dia tersenyum kala melihat Reihan yang datang bersama dengan pak ustadz.


"Terima kasih sudah datang," kata Aldo pelan sekali.


Namun, Reihan dan semua yang ada di sana masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Aldo. Walaupun terdengar sangat lirih sekali.


"Pak ustadz mau berbicara dengan kamu, bisa?" tanya Reihan.


"Apa benar yang saya dengar dari Nak Reihan tentang kamu yang memuja Nyai Ratu?" tanya Pak Ustadz.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak ustadz, Aldo terlihat mengganggu-ganggukan kepalanya dengan perlahan.


Dia seolah berkata jika dirinya sudah membenarkan apa yang dikatakan oleh pak ustadz, karena mulutnya begitu kesusahan untuk berbicara.


Arumi dan juga pak Didi terlihat kaget dan juga syok setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo.


Arumi ingin sekali bertanya secara langsung apakah benar yang dikatakan oleh pak ustadz tersebut.


Namun, Arumi ingin memberikan kesempatan untuk Aldo berbicara terlebih dahulu dengan ustazd tersebut.


"Sudah berapa lama?" tanya pak Ustadz.


"Sekitar empat bulan yang lalu," kata Aldo.


"Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya pak Ustadz.

__ADS_1


"Aku ingin bertaubat, aku ingin terlepas dari jerat Nyai Ratu," jawab Aldo.


"Satu hal yang harus kamu tahu, jika kamu ingin kamu sembuh. Maka bertaubatlah," kata Pak Ustadz.


"Iya Pak Ustadz, saya ingin bertaubat. Saya tidak ingin seperti ini terus, saya tersiksa," kata Aldo.


"Maaf Nak Aldo, sekarang pak ustadz mau bertanya. Jika kamu mau bertobat, apakah kamu sudah siap untuk kehilangan semua hartamu?" tanya Pak Ustadz.


"Siap Pak Ustadz, saya lebih baik tidak mempunyai harta. Saya lebih baik menjadi penjual tempe seperti dulu dari pada harus hidup tersiksa seperti ini, banyak harta namun banyak kendala. Saya tidak mau hidup saya tidak tenang," jawab Aldo.


"Bagus, saya akan membantu kamu dan menuntun kamu untuk kembali ke jalan yang benar," kata Pak Ustadz.


"Tapi, Pak Ustadz. Apakah bisa saya bertobat?" tanya Aldo.


"Tentu saja bisa, kamu harus bertaubat. Kamu harus memperbaiki diri dan jangan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi," jawab Pak Ustadz.


"Beneran Pak Ustadz, apa tobat saya bisa diterima?" tanya Aldo.


"Tentu saja, yang penting Nak Aldo melakukan taubatan nasuha," kata Pak Ustadz.


Aldo terlihat bisa bernapas dengan lega, dia merasa sangat senang karena ternyata dirinya masih bisa bertaubat.


Jika seperti itu, dia akan berusaha untuk bisa sehat kembali dan segera bertaubat. Dia sungguh menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda. 'Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air minum yang terbuat dari kuit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang seperti lemari, bupet, kulkas dan lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian' (HR. Muslim).


"Jadi, kalau kamu memang mau bertaubat. Saya bersedia membimbing," kata Pak Ustadz.


"Terima kasih," jawab Aldo.


Siang menjelang sore itu Aldo terlibat obrolan bersama dengan pak Ustadz, dia sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan keadaan yang seperti ini.


Dia ingin bertaubat dan sembuh lagi seperti sedia kala, Arumi benar-benar diam terpaku. Dia tidak bisa berkata apa pun lagi, walaupun dalam hati dan pikirannya banyak sekali pertanyaan yang muncul.


Namun, sampai saat ini bibirnya masih terasa kelu. Tubuhnya bahkan membeku, dia tidak bisa menggeserkan tubuhnya barang sedikit pun.


***/


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak yes

__ADS_1


__ADS_2