
Kini Aldo dan Arumi terlihat sedang berjalan di lorong Rumah Sakit, mereka sudah keluar dari ruang obgyn.
Aldo dan juga Arumi terlihat begitu bahagia setelah melakukan pemeriksaan kehamilan, apalagi saat dokter Lena berkata jika baby yang Arumi kandung sangat sehat dan berkembang dengan baik.
Arumi merasa sangat senang karena sebentar lagi dia akan menjadi ibu, Aldo pun sama. Dia terlihat begitu bahagia, dia akan menjadi ayah.
"Aku seneng banget, Mas. Aku ngga nyangka kalau aku akan hamil dalam waktu yang sangat singkat," kata Arumi.
Arumi mengutarakan apa yang ada di hatinya, dia benar-benar merasa bahagia tiada terkira.
"Mas juga senang, sekarang kita tebus obatnya dulu. Terus kita langsung ke rumah bapak," ajak Aldo.
Wajah Arumi yang awalnya terlihat begitu senang, kini berubah menjadi sendu. Dia memang merasa bahagia, dia juga ingin menyampaikan rasa bahagianya tersebut kepada pak Didi.
Namun, dia takut jika pak Didi akan merasa tidak senang hatinya karena Arumi kini tengah mengandung. Padahal mereka baru menikah selama lima minggu.
Pandangan Arumi terlihat kosong, melangkah pun terlihat tak berarah. Aldo menatap bingung ke arah istrinya, baru saja Arumi terlihat senang, kini terlihat sangat kacau.
"Akh! Aduh!"
Arumi tiba-tiba saja mengaduh kesakitan, bahkan dia terlihat hampir terjatuh. Beruntung Aldo dengan sigap menahan bobot tubuh Arumi, istrinya.
Aldo terlihat sangat panik, karena kalau saja Aldo tidak sigap, bisa saja Arumi terjatuh dan perut Arumi bisa terbentur bangku tunggu yang ada di depannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apanya yang sakit? Lagian kenapa malah melamun?" tanya Aldo.
Aldo benar-benar merasa khawatir, apalagi wajah Arumi terlihat begitu kaget, saat ini.
"Kaki aku kepeleset, Mas. Tadi ada uler kayaknya, mau keinjek gitu sama aku. Aku menghindar, jadinya hampir jatuh," jelas Arumi.
Aldo sangat kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, apa mungkin Nyai Ratu mengikuti mereka dan sengaja ingin mencelakakan Arumi, pikirnya.
Apalagi, Nyai Ratu bersikukuh ingin bayi yang ada di dalam kandungan Arumi' lah yang menjadi tumbalnya.
Namun, andaikan benar Nyai Ratu melakukan hal tersebut, nekat sekali pikirnya. Karena ini adalah siang hari, lagi pula sedang berada di Rumah Sakit.
Namun, Aldo tidak mungkin mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Arumi. Akhirnya Aldo langsung menggendong tubuh Arumi dan mendudukkannya di bangku tunggu.
Dia langsung mengusap seluruh bagian tubuh Arumi, lalu berkata.
"Apanya yang sakit, hem? Bilang sama Mas," kata Aldo.
"Kaki aku yang sakit, Mas. Sama kaget aja," kata Arumi. "Tapi serius, Mas. Tadi aku melihat ular deh kayaknya," kata Arumi lagi.
Aldo terlihat menggelengkan kepalanya, dia bingung harus berkata apa. Namun, beberapa saat kemudian dia berkata.
__ADS_1
"Mungkin karena kamu tadi melamun, jadi kamu salah lihat. Sekarang duduk dulu, Mas beliin minum," kata Aldo.
Aldo terlihat bangun, lalu mengedarkan pandangannya. Benar saja yang Arumi katakan, dia melihat sosok Nyai Ratu di dekat toilet yang terlihat sangat sepi.
Mata Nyai Ratu terlihat menatapnya dengan kesal, bibirnya menyunggingkan senyuman sinis.
Aldo langsung membuang pandang, dia menyadari jika Arumi terjatuh karena disengaja oleh Nyai Ratu.
Mungkin saja Nyai Ratu merasa sudah tidak sabar ingin mendapatkan janin yang berada di perut Arumi.
Mengingat akan hal itu, Nyai Ratu bisa melakukan hal nekat. Aldo pun pada akhirnya bersuara.
"Sebaiknya Mas tinggalkan kamu di ruangan kamu saja, terus Mas mau minta suster buat jagain kamu. Biar Mas merasa tenang," kata Aldo.
Arumi sedang cuti, untuk apa datang dan beristirahat di ruang kerjanya, pikirnya.
"Nggak usah, Mas. Kita pulang saja, aku sudah lelah pengen istirahat," kata Arumi.
Kaki Arumi juga terasa sakit, lebih baik istirahat saja. Sekalian meminta kakinya untuk dipijat, mungkin lebih baik, pikir Arumi.
"Nggak ke rumah bapak dulu?" tanya Aldo.
Dia takut jika Arumi ingin memberitahukan rasa bahagianya kepada pak Didi, jadinya Aldo kembali menawarkan Arumi untuk mampir terlebih dahulu ke rumah pak Didi.
Aldo seakan mengerti, karena memang pernikahan mereka tidak benar-benar direstui oleh pak Didi.
Pria paruh baya itu hanya menikahkan mereka saja karena takut mereka berbuat dosa zinah, tanpa ada Restu di dalam hatinya.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang. Nanti, Mas mau minta dicariin asisten rumah tangga yang bisa nemenin kamu siang dan malam di rumah kita," kata Aldo.
Lebih baik Aldo mempekerjakan asisten rumah tangga, agar Arumi ada yang menemani dan juga ada yang merapikan rumah.
"Minta dicariin sama siapa, Mas?" tanya Arumi.
Bukannya Aldo yang mencari, pria itu malah berbicara mau minta tolong.
"Mau minta dicariin sama pak Paijo, Mas ngga mau ninggalin kamu barang sedikit," jawab Aldo..
Aldo tidak akan meninggalkan Arumi sendirian, Aldo takut jika Nyai Ratu akan menyakiti Arumi saat dia sedang tidak ada.
"Tapi, Mas. Tanpa ada yang jagain juga aku ngga apa-apa, aku bisa jaga diri," kata Arumi.
Arumi merasa keterlaluan, kala Aldo berkata akan mencari orang yang bisa menjaganya siang dan malam.
"Ngga, Sayang. Mas maunya kamu ada yang jagain," kata Aldo.
__ADS_1
Walaupun Arumi tidak setuju, tapi dia tidak tega saat melihat wajah Aldo. Mungkin ini adalah bentuk perhatian dari calon ayah, pikir Arumi.
"Baiklah, aku setuju," kata Arumi.
Setelah mengatakan hal itu, keduanya terlihat berjalan menuju Apotek. Mereka menebus obat dan vitamin yang harus diminum oleh Arumi.
Sambil menunggu obatnya siap, Aldo menaikan kaki Arumi ke atas pahanya. Lalu, dia memijatnya dengan lembut.
Arumi terlihat memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Rasanya, membuat dirinya tenang dan nyaman.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Kita pulang, Mas. Kita sudah dapat obatnya, soalnya," kata Arumi.
"Ya, Sayang," jawab Aldo.
Akhirnya mereka langsung pergi dari sana menuju rumah Aldo, apalagi Arumi terlihat sudah sangat lelah.
Tiba di depan pintu gerbang perumahan, Aldo terlihat menurunkan kaca mobilnya. Dia memanggil pak Paijo agar menghampiri dirinya.
Pak Paijo dengan sigap menghampiri Aldo, Lalu dia tersenyum dan bertanya.
"Ada perlu apa, Pak Aldo?" tanya Paijo.
"Saya mau minta tolong sama kamu," jawab Aldo.
"Minta tolong apa?" tanya Pak Paijo heran.
Aldo sudah sangat kaya, uangnya melimpah. Barang yang dia gunakan semuanya bermerk, apa mungkin Aldo masih membutuhkan bantuannya? Batin pak Paijo bertanya-tanya.
"Tolong cariin saya asisten rumah tangga, dua orang boleh. Satu orang khusus buat bersih-bersih, satu orang lagi khusus buat jagain istri saya," pinta Aldo.
Pak Paijo nampak mencebikkan bibirnya, mentang-mentang berduit istri saja pake dijaga, cibirnya dalam hati.
"Ini uang jalannya," kata Aldo seraya menyerahkan sepuluh lembar uang dengan gambar soetta.
"Siap, Pak Aldo." Pak Paijo mengambil uangnya dengan cepat, Aldo tertawa lalu pergi dari sana.
"Kalau ada duitnya tetep beda," gumam Aldo.
****
Masih berlanjut....
Terima kasih untuk dukungan yang selalu kalian berikan, kuy ramein lagi kolom komentarnya. Biar Othor tambah semangat.
__ADS_1