
Makasih banyak masih mendukung karyaku dengan daya imajinasi super terbatas ini. (terharu .... *.*)
Buat kawan-kawan Author yang belum dikunjungi sabar ya, ada saatnya nanti aku cicil mampir. Buat semua yang udah read, like, rate, jejak, n Vote semoga amalnya dibalas berlipat-lipat, sehat slalu, aamiin.
Mari lanjut, yuk!
\~\~\~*\,*\~\~\~
Mereka memutuskan tetap di dalam mobil hingga hari terang, penerangan dengan ponsel Hwa cukup untuk mereka saling melihat. Hwa khawatir dengan Nilam yang menggigil.
Selepas menunaikan Isya di tempat duduknya, Hanif meminta bertukar tempat dengan Hwa. Dua lelaki itu berpindah tempat melewati sela kursi depan.
Ayat ruqiyah dari akhir Al-Baqarah hingga surah pendek lain, Hanif perdengarkan ke telinga Nilam. Suaranya beradu dengan hujan di luar. Tangan Hanif menempel dipunggung gadis malang itu, berlapis jaket milik Hwa yang dipakai Nilam.
Sebuah bayangan melesat mengagetkan Hwa dan Juju di depan. Terlihat dari cahaya ponsel, anginnya terasa masuk melalu kaca jendela yang sedikit diturunkan.
‘Aneh.’ Batin keduanya menyatakan kata yang sama. Juju beristighfar sambil berdoa. Hwa menenangkan diri juga memohon atas nama Tuhannya.
Semakin malam, hujan tak jua reda, seakan tak ada habisnya tumpah dari langit.
Hanif mulai kelelahan. Kantuk menyerang meski dilawan sekuat tenaga. Fisiknya cukup lelah, selama di rumah sakit malam kemarin hanya tidur satu jam, pun dengan malam-malam sebelumnya. Pikiran dan tenaganya sudah terkuras. Makin lama matanya tak tertahankan lagi menutup rapat, suaranya melemah dan terhenti.
Hwa memegang ponselnya tegang. “Apa kamu lihat sesuatu, Juju?” tanya lelaki berwajah bersih itu tanpa melihat arah lawan bicara.
Senter ponselnya menyorot ke luar, mata coklatnya awas melihat sekitar. Yang tampak hanya pepohonan tinggi dan gelap. Hujan mulai reda.
“Iya, Tuan Hwa. Tempat ini nggak aman,” sahut Juki dengan raut wajah sama.
“Mak …,” erangan Nilam refleks membuat Hwa menyorot ke belakang.
Gadis itu matanya terpejam, tapi gelisah, napasnya tersengal, terlihat dari balik jaket bomber hitam Hwa yang menutupi tubuhnya.
“Ni.” Juju memanggil. Juju merangkak ke belakang hendak membangunkan Nilam. Temannya ini pasti tengah bermimpi dan ia membangunkan agar Nilam tak lengah.
Belum sampai tangannya menyentuh Nilam, terasa sesuatu mengguncang mobil. Tubuh Juju terpental ke kiri, menubruk Hwa yang mengaduh terantuk kaca pintu. Ponselnya jatuh ke kolong.
“Astagfirullahaladzim! Ada apa?!” Hanif terperanjat merasa sesuatu menabrak tubuhnya. Ternyata Nilam terseruduk mengenai tubuhnya. Gadis itu terbangun dan cepat-cepat kembali.
“Bang, mobilnya-” Suara Juju terputus saat mobil yang tadi terdorong kembali berguncang.
Hwa yang ingin merayapi ponselnya urung bergerak. Tak ada yang berani bicara. Semua berpegangan pada apa saja agar tetap seimbang.
“Ya Allah, lindungi kami,” pinta Hanif bersungguh-sungguh.
Tangan sedingin es milik Nilam memegang erat tangannya, karena ketakutan. Tak ada pilihan lain bagi Hanif, selain mengalirkan ketenangan dalam genggaman tangan gadis itu.
Tetesan cairan hangat dan amis mulai keluar lagi dari hidung Nilam, tapi tak terlihat karena semua gelap. Nilam semakin khawatir waktunya telah tiba.
“Mak ….”
Nilam selalu menyebut nama Mak, cairan darah semakin banyak mengalir. Ia tak bisa lagi menarik napas dari hidung. Mulutnya membuka dengan napas tersengal.
__ADS_1
“Ni, tahan. Loe bisa, pasti bisa!” Juju berteriak penuh emosi, rasa nyeri sangat merobek hatinya mendengar erangan Nilam yang seakan berhenti bernapas.
Guncangan mobil membuat semua mencari tempat bertahan. Rasa takut menguasai, merasakan nyawa sudah di ujung tanduk. Juju dan Hwa berteriak-teriak dalam permohonan masing-masing.
Sementara di belakang Nilam terus merintih kesakitan. Hanif sekuat tenaga menenangkan dirinya juga Nilam, berharap petunjuk-Nya segera. Genggaman tangan dingin Nilam semakin lama terasa ikut membekukan jemari lelaki muda ini.
Tubuh Hanif mulai menggigil. Entah kenapa hafalan ayat yang ia ingat betul di otaknya seakan membeku, tak bisa mengingat jelas, bacaannya salah dan beberapa bagian terlupa.
Hanya kata yang diingat saja terus terucap. Batin Hanif menjerit.
Apa ini peringatan? Atau kiamat telah melingkupi dirinya yang telah tak terjaga?!
“Nilam, sebut nama Allah … lakukan sepenuh hatimu.” Suara Hanif tercekat, tapi tetap ingin mengalirkan semangat pada gadis itu. “Aku rasa melemah ….” Tetes air hangat dari mata Hanif membasahi punggung tangan Nilam.
Hanya nama Allah yang kemudian keluar dari bibir Hanif. Ia berpasrah dan ikhlas jika ini pun menjadi hari terakhirnya.
‘Bang Hanif?!’ Nilam mendengar jelas suara kesakitan dari lelaki yang terus membantu, menahan tubuhnya agar tak terbentur. Di antara teriakan Hwa dan Juju di depan sana, suara Haniflah yang terasa masuk ke pembuluh darahnya, merasuk nyeri menembus palung hati.
Kamu harus kuat, hanya hatimu yang bisa menolong. Jangan kosongkan. Sebut dengan nama Allah seyakin-yakinnya ....’
Kata-kata Hanif sebelumnya pun menggema dalam kepala Nilam. Sangat sering lelaki itu katakan padanya kalimat itu.
Nilam menarik napas panjang dari mulutnya, mengembuskan perlahan hingga berkali-kali. Meyakinkan diri, kemudian lidahnya berusaha melafalkan. Daging tak bertulang itu tercekat, tak mampu berucap. Namun, jeritan keinginan kuat dalam hati Nilam untuk keselamatan mereka, membuatnya terus berusaha keras.
Di antara ombang-ambing tubuh lemahnya dan Hanif yang terus beristighfar, membuat gadis ini makin terpacu. Energi lebih terasa muncul, menguatkannya menghalau rasa nyeri. Nilam bertekad akan berusaha, agar teman-temannya tak ikut menjadi korban.
Batinnya terus mencoba. Alhasil, nama Tuhan yang menciptakannya itu bisa sekali terlafal di lidah Nilam, benar-benar terdesak keluar dari hati terdalam.
Hati Nilam semakin fokus berpasrah diri. Mengimani apa yang tersemat dari kata yang keluar dari bibirnya. Takjub, matanya terbuka saat kata Allah keluar lancar, berkali-kali tanpa keraguan. Semringah dan lega, gadis ini terus mengulangnya.
Di antara air mata muncul lengkung senyum dari garis bibir Nilam. Lega yang luar biasa.
Ia mengeratkan genggaman tangan Hanif. Mengingat semua tuntunan lelaki itu padanya, Nilam pun mulai menyebutkan beberapa nama-nama baik dari pencipta seluruh alam, yang masih melekat di ingatan.
Mendengar itu, Hanif terpacu karena semangatnya. Mereka berdua melafalkannya beriringan, semua yang pernah melekat dan tersimpan di otak, kembali tersemat dan lancar terucap. Subahanallah, sembilan puluh sembilan Asmaul Husna terucap berurutan, tanpa putus dipandu Hanif.
Rahmat terasa turun memberi ketenangan. Ada hangat yang menjalari pembuluh darah, terpompa ke seluruh tubuh, melenyapkan perlahan dingin yang membekukan raga dan pikiran.
Mobil kembali tenang. Juju dan Hwa yang acak-acakan, wajah pasi, mulut menganga dan kaki bertumpu di jok mobil tak saling melihat. Cepat Hwa menggapai kolong, mencari arah cahaya ponsel yang tertelungkup.
Setelah menemukan, ia segera menyorot arah belakang, arah sama yang ingin dilihat Juju. Mereka sangat ingin mengetahui kondisi Nilam.
Dalam sorotan cahaya putih itu, tampak Nilam dan Hanif tersenyum bersahutan menyebut asma Allah. Mereka seperti duet penyanyi yang memiliki chemistry kuat dan dalam. Rona bahagia terpancar meski wajah sang gadis pucat dan belepotan darah.
Nilam melempar senyum pada dua teman di depan, tanpa menghentikan kata yang terus terucap.
Juju menarik napas lega, terasa sudah lama ia merindukan senyum lepas gadis itu. Juju segera berbalik menghadap depan, bibirnya ikut membentuk lengkung ke atas, meski tak terlihat.
Hwa mengalihkan sorot ponselnya ke luar, menyebar ke sekitar, baginya melihat gadis itu sehat kembali, sudah lebih dari cukup. Hwa masih ingin melihat Nilam kikuk dan pipinya memerah saat berhadapan dengannya, jangan sampai mati sia-sia di tangan seorang yang mengandalkan kekuatan iblis.
Suara hujan berganti bunyi binatang malam yang bersahutan. Seolah turut menuturkan kata yang masih terucap dari Hanif dan Nilam.
__ADS_1
Berapa jam kemudian, suara ayam berkokok melengking, entah berasal dari arah mana di hutan ini.
Ketiga lelaki itu tertidur, tapi Nilam masih terjaga, bibirnya belum berhenti bertasbih. Suaranya pelan, tapi menggema di hati. Sebuah semangat besar melihat suasana kembali tenang.
Rasa iba ia pada tiga lelaki yang setia menjaganya itu tengah kelelahan. Suara dengkuran bersahutan dari mulut ketiganya.
Nilam berniat mengerjakan sholat subuh. Dalam gelap, sebab sorot senter ponsel Hwa tertutup telapak tangan di pangkuannya, menjadi kesempatan Nilam untuk berganti pakaian bersih.
Hanif selalu mengingatkan kalau mau ibadah harus dalam kondisi bersih dan berwudhu, supaya diterima. Nilam berusaha menjaga diri dengan menjalankan semua yang sudah ia ketahui.
“Bang,” katanya pelan menyentuh lengan Hanif.
“Hmm?” Lelaki berbadan tegap itu membuka mata perlahan. Yang terlihat hanya gelap, tapi suara gadis yang memanggil segera menyentak kesadarannya.
Hanif segera beringsut, menegakkan badan melafalkan doa setelah bangun tidur. Ia merasa canggung meski tak terlihat oleh Nilam.
“Apa ini sudah Subuh?” tanya Nilam padanya.
“Oh, sebentar.” Hanif mengambil ponsel dari pangkuan Hwa.
Melihat sudah masuk waktu subuh, Hanif membangunkan Juju. Setelah Nilam mengatakan sudah mengganti pakaian, Hanif memandunya cara bertayamum. Juju bertukar tempat ke belakang, karena Hanif lebih utama menjadi imam.
Hari makin terang, cahaya menyilaukan menembus sela dedaunan. Pohon-pohon menjulang tampak seperti lukisan di mata Hwa yang sudah bangun.
“Wow, hutan ini masih alami,” gumam Hwa pelan saat turun dari mobil.
Ia dan Juju kemudian mengecek kerusakan mobil yang masih tak mau hidup. Setelah diteliti mulai dari air regulator, busi, hingga kondisi mesinnya, mobil keluaran Jepang ini tak mengalami masalah. Sampai bannya diteliti pun dalam kondisi baik.
“Aneh.” Hwa mengelilingi sekitar badan mobil warna cerah itu.
Juju menjelaskan kalau mobil itu milik almarhun bapak yang diwariskan padanya. Belum dua tahun membeli mobil itu, bapaknya meninggal karena sakit. Juju sangatmenyayangi dan rutin merawatnya. Ia katakan, sengaja memakainya untuk mengantar Nilam karena menurutnya mobil itu masih kuat dan tangguh.
“Gak pernah tuh, rewel begini, Tuan,” jelas Juki.
“Walah, aku kayak tua aja kamu panggil Tuan terus, Ju. Sebut nama aja, umurku masih muda.” Hwa tertawa menepu bahunya.
"Suka gak enak panggil bos pake nama, kedengarannya kurang sopan," balas Juju.
"Terserahlah." Hwa melebarkan telapak tangan sambil mengangkat bahu.
Juju tersenyum melihat bos mudanya ini. Putih kulit Hwa itu melebihi perempuan, membuat penampilannya amat mencolok. Kalau kampung Nilam banyak gadisnya sudah pasti sosok Hwa bakal diserbu dikira artis ibu kota masuk kampung.
Sementara, Hanif meregangkan badan yang terasa kurang segar. Ia mau bertanya apa ada sungai atau kali di sekitar sini, yang bisa dipakai menyegarkan badan. Air mineral mereka tersisa sedikit. Sayang kalau dipakai mencuci muka.
Waktu Hanif melongok ke dalam mobil, ternyata Nilam tengah tertidur. Ia menunda bertanya sampai gadis itu bangun.
Juju mengatakan akan buang air kecil. Ia mencari tempat tak jauh dari mobil. Sebelum melegakan kantung urine, pemuda itu waspada melihat rimba asing di matanya ini. Rasa dingin yang merayapi tengkuk coba dialihkan. Pasti ada rasa takut kalau kita berada di hutan rimbun, selain hantu, kemungkinan ada binatang liar bisa muncul tiba-tiba.
Setelah selesai, Juju akan berbalik, tapi sesuatu terasa menahan gerakannya. Sebuah tangan menangkup mulut dan dengan gerakan melesat cepat menarik tubuh pemuda itu menjauh.
Dalam sekejap Juju lenyap di antara dedaunan dan rumput tinggi, tanpa sempat berteriak ataupun melawan.
__ADS_1
Bersambung ….