Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Bahagia Atau Duka


__ADS_3

Aldo terlihat menangis dan meraung seperti orang kesakitan, Arumi yang melihat kelakuan Aldo menjadi bingung dibuatnya.


Arumi mencoba untuk menenangkan Aldo, dia berjongkok dan memeluk tubuh suaminya yang sedang bergetar hebat itu.


Aldo yang merasakan pelukan hangat Arumi terlihat lebih baik, dia mulai berhenti menangis. Lalu, dia tatap wajah istrinya.


"Maaf, maafkan aku," kata Aldo.


Aldo terus aja mengucapkan kata maaf, Arumi semakin bingung dibuatnya. Maaf untuk apa, pikirnya.


Kenapa setelah terlihat lebih tenang, Aldo malah mengatakan kata maaf secara berulang-ulang?


Apa maksudnya dengan kata maaf yang Aldo katakan? Untuk apa kata itu diucapkan? Itulah yang Arumi ingin tanyakan.


"Maksudnya apa sih, Mas? Sebenarnya ada apa? Cerita sama aku kalau ada apa-apa, apa kamu mimpi buruk?" tanya Arumi.


Aldo bingung harus menjelaskan seperti apa, rasa-rasanya tidak mungkin kalau dia harus berkata jujur kepada Arumi.


Bisa-bisa Arumi bisa marah terhadap dirinya, bahkan bisa saja Arumi pergi dari hidupnya. Padahal baru saja mereka merasakan yang namanya berumah tangga, Aldo tidak mau.


Pada akhirnya, Aldo terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengiyakan pertanyaan dari istrinya.


"Sepertinya, tadi Mas ketiduran setelah menonton film horor. Mas bermimpi kalau kamu sedang hamil, tapi--"


Aldo tidak meneruskan ucapannya, dia malah menangis kembali. Lalu dia memeluk Arumi dengan erat, Arumi semakin bingung dibuatnya.


Dia membalas pelukan Aldo, lalu dia belai puncak kepala suaminya tersebut. Dia benar-benar merasa tidak tahu, harus menenangkan Aldo seperti apa.


Tidak lama kemudian, Aldo terlihat melerai pelukannya. Dia mengangkat tubuh Arumi dan membawanya ke dalam gendongannya.


"Mas tidak usah menggendong aku, aku bisa jalan sendiri," kata Arumi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Biar Mas gendong," kata Aldo.


Aldo memaksa, dia menggendong Arumi dan langsung mendudukkannya di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.


Aldo terlihat berjongkok, dia sandarkan kepalanya di kedua paha Arumi. Lalu, dia peluk pinggang istrinya.


Dia memeluk pinggang Arumi tidak terlalu erat, karena dia merasa takut akan menyakiti janin yang berada di dalam perut istrinya.

__ADS_1


Saat ini Aldo benar-benar merasa dilema, di satu sisi dia benar-benar merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa mempunyai keturunan dari Arumi.


Di satu sisi lainnya, dia merasa sangat sedih dan juga sakit hati. Karena dia tidak bisa memiliki anak tersebut, anak yang diminta oleh Nyai Ratu.


Arumi yang menyangka jika Aldo terbawa perasaan karena mimpi buruknya, langsung membelai kepala suaminya dengan lembut.


"Sudahlah, Sayang. Jangan menangis lagi, itu hanya mimpi," kata Arumi.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, Aldo terlihat mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah Arumi dengan lekat.


"Besok siang kita ke Rumah Sakit, ya, Sayang? Kita periksakan perutmu ini, siapa tahu kamu benar-benar hamil." Aldo membelai perut Arumi dengan lembut.


Sebenarnya Arumi ingin sekali menolak permintaan dari Aldo, mereka saja baru menikah lima minggu.


Rasanya masih sedikit kemungkinan untuk hamil, apalagi dia merasa tidak mengalami tanda-tanda kehamilan.


Namun, karena dia tidak mau mengecewakan suaminya, akhirnya Arumi terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya, Mas. Besok siang kita periksa, tapi Mas jangan sedih lagi. Sekarang kita tidur, ini masih malam," kata Arum.


"Iya, Sayang. Ayo kita tidur," jawab Aldo.


Aldo terlihat bangun, lalu dia menuntun Arumi untuk masuk ke dalam kamar utama. Di dalam kamar mereka terlihat merebahkan tubuh lelah mereka ke atas tempat tidur.


"Sudah, Mas. Sekarang kita tidur, jangan banyak pikiran," kata Arumi.


"Ya, Sayang. Terima kasih karena kamu mau menjadi istriku dan semoga kamu tidak akan pernah meninggalkan aku," kata Aldo.


Arumi tersenyum, lalu dia memeluk Aldo dan mengusakkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


"Tidak akan, Mas. Aku tidak akan meninggalkan kamu, sekarang tidurlah. Ini masih malam, wajah kamu terlihat sangat lelah," kata Arumi.


'Semoga saja kamu benar-benar tidak akan pernah meninggalkan aku, Arumi. Semoga setelah kamu tahu jika aku adalah pemuja Nyai Ratu, kamu tetap mau setia berada di sampingku,' kata Aldo dalam hati.


"Ya, kita tidur," jawab Aldo.


Sebenarnya Arumi masih merasa sangat kesal terhadap Aldo, bayang-bayang perempuan lain yang berada di bawah kuasa Aldo masih terlintas jelas di otaknya.


Namun, saat melihat keadaan Aldo yang seperti ini, dia merasa kasihan. Dia mengenyampingkan egonya, dia mementingkan baktinya sebagai istri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Aldo dan Arumi sudah terlelap dalam tidurnya. Mereka tidur dalam rasa lelah yang resah.


***


Sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan, pukul sepuluh Arumi dan Aldo pergi ke Rumah Sakit.


Tiba di Rumah Sakit Aldo terus saja menuntun Arumi, dia seolah takut jika istrinya itu akan terjatuh dan mengalami keguguran.


"Mas, jangan bersikap berlebihan, aku baik-baik saja," kata Arumi.


Sebenarnya Arumi merasa tidak nyaman dengan perlakuan Aldo, namun dia merasa begitu sulit untuk mengatakan hal tersebut.


Takutnya, Aldo akan merasa tersinggung. Atau bahkan dia akan marah terhadap dirinya.


"Tidak apa, Sayang. Kalau kamu beneran hamil, anggaplah jika aku sedang belajar untuk menjadi bapak yang baik," kata Aldo.


Arumi hanya bisa menghela napas berat, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya Arumi mengajak Aldo ke sebuah ruangan salah satu teman dokternya, ruang obgyn.


Sebelum dia ke Rumah Sakit, dia memang sudah menelpon dokter kandungan di sana. Tiba di dalam ruangan tersebut, Aldo terlihat begitu antusias menanyakan berbagai hal kepada dokter tersebut.


Arumi bahkan sampai mengheleng-gelengkan kepala dibuatnya, padahal pemeriksaannya saja belum dilakukan. Namun, Aldo terlihat begitu bersemangat sekali.


"Kalau begitu kita langsung lakukan pemeriksaan saja, biar lebih jelas. Karena sepertinya suami kamu sudah tidak sabar, Dok." Dokter Lena tertawa renyah, Arumi terlihat tersenyum canggung.


Akhirnya, serangkaian acara pemeriksaan pun dilakukan. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, tes urine, sampai malakukan USG.


Senyum Aldo terus saja mengembang, apalagi kala dia melihat layar monitor yang memperlihatkan janin sebesar biji kacang, calon buah hatinya.


Aldo terlihat meneteskan air matanya, dia bahagia. Karena kini dia bisa melihat benihnya yang mulai berkembang di dalam rahim Arumi.


Namun, dia juga merasa sedih. Karena Nyai Ratu sudah mengklaim jika janin yang ada di dalam perut Arumi, adalah milik Nyai Ratu.


"Jangan terlalu cape, ya, Dok. Janinnya masih lemah banget, soalnya. Jangan terlalu sering juga gencatan senjatanya," canda Dokter Lena.


"Tidak akan, Dok. Saya akan menjaga istri saya dengan baik," jawab Aldo antusias.


Arumi dan dokter Lena saling pandang, kemudian mereka tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


**//

__ADS_1


Masih berlanjut....


Selamat pagi, selamat neraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.


__ADS_2