Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Permintaan Reihan


__ADS_3

Di satu sisi pak Didi merasa sangat senang karena Reihan dan juga pak Ridwan datang menjenguk dirinya.


Dia juga merasa sangat senang karena Reihan masih bersikap biasa saja, baik dan selalu perhatian kepada dirinya.


Akan tetapi, di sisi lain dia juga merasa sangat sedih. Karena dia sudah mengecewakan Reihan, pak Didi yang meminta Reihan untuk menjadi menantunya.


Namun, Arumi malah mengecewakan Reihan dengan menikahi Aldo. Lelaki pujaan hatinya, lelaki yang dia sangat cintai.


Dia benar-benar merasa malu dan sangat bersalah terhadap Reihan, beruntung Reihan tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


Namun, pak Didi tetap saja merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf secara langsung kepada lelaki tampan dan gagah itu.


"Om, diminum dulu obatnya. Kenapa dari tadi malah melamun saja?" ucap Reihan.


"Eh? Iya, maaf. Ini Om mau minum obatnya," uca Pak Didi.


Pak Didi terlihat meminum obat yang diberikan oleh Reihan, setelah itu pak Didi mulai menyusun kata-kata yang ingin dia ucapkan kepada Reihan.


"Nak Reihan, sebenarnya Om ingin meminta maaf kepada kamu," kata Pak Didi dengan suara lemahnya.


Untuk sesaat Reihan terdiam, ini pasti akan membahas masalah Arumi pikirannya. Dia tersenyum, lalu dia pun bertanya.


"Meminta maaf untuk apa, Om? Om tidak pernah melakukan hal yang salah terhadap Reihan," kata Reihan.


"Tentu saja Om sangat bersalah, karena Om sudah mengajak kamu untuk ikut masuk ke kehidupan Arumi. Namun dengan mudahnya Arumi membuat kamu kecewa dan juga terluka, Om minta maaf. Ini salah, Om," kata Pak Didi.


Reihan tersenyum, lalu dia elus lengan lelaki paruh baya tersebut dan dia berkata.


"Sudahlah Om, aku tidak apa-apa. Sekarang Reihan punya permintaan, bisakah Om mengabulkannya?" tanya Reihan.


Pak Didi tersenyum, Reihan itu masih muda, pikirnya. Namun, justru cara dia dalam menghadapi masalah selalu bisa dengan santai dan terlihat tanpa beban.


"Apa itu? Katakanlah! Jika masih bisa dan sanggup, Om akan mengabulkannya," kata Pak Didi.

__ADS_1


Reihan terlihat lega saat mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, karena sebenarnya ini memang menyangkut dirinya dan juga Arumi.


"Jadi begini Om, Om sudah tahu kan kalau Arumi dan Aldo--"


Reihan tidak berani melanjutkan ucapannya, dia takut jika pak Didi belum tahu kalau Aldo dan juga Arumi sudah menikah.


Pak Didi seolah tahu dengan apa yang akan ditanyakan oleh Reihan, namun dia seperti sedang menjaga perasaan dirinya.


Dia juga sempat kaget jika memang benar Reihan mengetahui masalah pernikahan Arumi dan juga Aldo yang memang dirahasiakan, karena itu artinya Reihan sudah terluka sangat dalam.


"Maksud kamu, Om tahu kalau Arumi dan Aldo sudah menikah?" tanya Pak Didi.


Reihan terlihat menganggukan kepalanya, karena memang itu yang ingin dia tanyakan sejak kemarin-kemarin.


"Ya, jadi Om sudah tahu kalau mereka sudah menikah?" tanya Reihan.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Reihan, mata pak Didi langsung berkaca-kaca. Dia merasa benar-benar sangat sedih karena dialah yang terakhir mengetahui jika putrinya sudah menikah dengan Aldo.


"Om baru tahu dan Om sangat kecewa, Om juga merasa tidak enak hati sama kamu. Kamu juga pasti kecewa," kata Pak Didi lesu.


"Aku baik-baik saja, Om tidak usah khawatir. Sekarang Reihan mau bicara sama Om, tapi Om jangan marah," ucap Reihan.


"Bicara saja, Om akan mendengarkan," kata Pak Didi.


"Restuilah hubungan Arumi dan juga Aldo, nikahkan mereka secara resmi Om. Sebulan yang lalu aku melihat Arumi menikah dengan Aldo secara Siri, Arumi dinikahkan oleh seorang ustad yang berada di pusat kota. Aku hanya takut pernikahan mereka tidak sah di mata agama, kasihan Arumi Om, seumur hidup hanya akan melakukan zina dengan Aldo," ucap Reihan.


Untuk sesaat pak Didi terlihat terdiam, dia bingung dengan apa yang harus dia putuskan saat ini.


Di satu sisi dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Reihan, jika memang pernikahan Arumi dan juga Aldo tidak sah di mata agama maka selama ini Aldo dan Arumi sudah berbuat zina.


Namun, di sisi lain dia tidak ingin melihat Arumi dan juga Aldo berumah tangga. Dia merasa tidak ikhlas jika Aldo' lah yang menjadi menantunya.


Dia merasa tidak ikhlas jika Aldi yang menjadi suami dari Arumi, karena selama ini pak Didi menginginkan Reihan yang menjadi imam untuk Arumi.

__ADS_1


Karena sampai saat ini, di mata pak Didi masih tetap Reihan yang terbaik untuk menjadi menantunya.


Karena mau dilihat dari sisi manapun, dari segi apa pun tetap saja menurut pak Didi Reihan lebih baik segala-galanya dari Aldo.


Aldo memang sudah menjadi orang kaya, dia memiliki harta yang banyak. Namun, tetap saja dia tidak bisa berperilaku baik terhadap pak Didi.


Aldo masih dirasa kurang sopan oleh pak Didi karena bisa-bidanya bermesraan dengan Arumi di hadapan pak Didi.


Hal itu merupakan hal yang tidak sopan menurut pak Didi, dia merasa dirinya tidak dianggap sebagai seorang bapak dari Arumi. Dia seolah tidak dianggap ada oleh Aldo.


"Kenapa diam saja, apa Om tidak sayang terhadap diri sendiri?" tanya Reihan.


"Maksud kamu?" tanya Pak Didi.


"Bukankah anak perempuan itu bisa menjerumuskan bapaknya ke neraka? Jika Om membiarkan Arumi dan Aldo bersama tanpa ikatan pernikahan yang resmi, bukankah perbuatan itu bisa dengan mudah menceburkan Om ke dalam api neraka?" tanya Reihan.


Pak Didi masih terdiam, karena walau bagaimanapun juga dia tetap belum merasa ikhlas jika Aldo menjadi menantunya.


"Pikirkanlah baik-baik, Om. Jika Om memang sayang terhadap Arumi, jika Om sayang terhadap diri sendiri, maka nikahkan Aldo dan Arumi secara sah. Jadilah wali untuk Arumi yang menikahkannya dengan pria pilihannya, aku baik-baik saja." Reihan tersenyum.


Melihat senyum tulus di bibir Reihan membuat hati pak Didi semakin sakit, dia benar-benar merasa bersalah terhadap pria sebaik dirinya.


Terkadang pak Didi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah hati Arumi benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya Aldo sehingga dia tidak bisa melihat ketulusan dari Reihan?


Pak Didi menangis, dia benar-benar tidak kuat dengan apa yang dia dengar. Dia benar-benar tidak kuat dengan apa yang harus dia hadapi.


Jika benar-benar Aldo menikah dengan Arumi, dia benar-benar merasa belum siap untuk merestui hubungan keduanya dan menikahkan kembali Arumi dengan Aldo.


Pak Ridwan yang sedari tadi diam saja langsung menghampiri pak Didi, dia menepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan. Dia tersenyum hangat, lalu berkata.


"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kamu cepat mati." Pak Ridwan terkekeh. "Lebih baik pikirkan saja yang terbaik, walaupun kita tidak berbesan tapi tetap kita sahabatan," kata Pak Ridwan menyemangati.


***

__ADS_1


Masih Berlanjut.


Selamat pagi, selamat beraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak yes.


__ADS_2