Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Semakin Lemah


__ADS_3

Arumi benar-benar sangat sedih saat melihat keadaan Aldo, suaminya yang benar-benar terlihat menyedihkan.


Tubuh Aldo ini sangat lemah, bahkan untuk bergumam saja Aldo sudah tidak sanggup. Hanya matanya yang sesekali terlihat berkedip, hal itu membuat Arumi benar-benar sangat takut.


Arumi sangat takut jika Aldo tidak bisa bertahan lebih lama lagi, karena melihat kondisinya yang begitu menyedihkan.


Dia baru saja kehilangan janinnya, rasa sedihnya belum juga sirna. Lalu, bagaimana jika Aldo pergi pikirnya. Apakah dia akan sanggup?


"Mas harus kuat, Mas harus bertahan. Demi aku Mas, aku tidak mau kamu tinggalkan," kata Arumi seraya menangis sesenggukkan.


Aldo hanya tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia seolah berusaha untuk memberikan kekuatan kepada Arumi.


Melihat akan hal itu, Arumi ikut tersenyum. Kemudian, dia terlihat mengecupi setiap Inci wajah Aldo. Arumi juga terlihat mengecupi bibir Aldo, dia berharap dengan seperti itu Aldo akan lebih bersemangat lagi.


Arumi genggam tangan Aldo dengan lembut, Arumi terus berucap dan berusaha untuk memberikan kata-kata penyemangat untuk suaminya itu.


Tidak lama kemudian pak Didi terlihat datang bersama dengan beberapa perawat, pada akhirnya para perawat tersebut terlihat membawa Aldo untuk pergi ke rumah sakit menggunakan ambulance.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Arumi tidak hentinya menggenggam tangan Aldo. Walaupun dia tees saja menangis, tapi bibirnya selalu mengeluarkan kata-kata motivasi untuk Aldo.


Dengan seperti itu, Arumi berharap jika suaminya tersebut bisa bertahan dan bersemangat lagi untuk menjalani kehidupan.


Pak Didi tidak ikut masuk ke dalam ambulance, tapo dia terlihat mengikuti ambulance tersebut dengan menggunakan mobil miliknya.

__ADS_1


Setelah sampai di Rumah Sakit, Aldo langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan tindakan lanjutan.


Arumi dengan sabar menunggu di depan ruang IGD bersama dengan pak Didi, pak Didi yang melihat kekhawatiran di wajah putrinya, berusaha untuk menenangkannya.


Dia menarik lembut putrinya ke dalam pelukannya, lalu mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Dengan melakukan hal itu, pak Didi berharap Arumi akan merasa lebih tenang lagi.


"Sabar, Nak. Serahkan semuanya kepada Allah, jangan pernah berputus asa, kata Pak Didi.


Arumi terlihat mengangguk lemah di dalam pelukan bapaknya, dia benar-benar tidak menyangka jika Aldo akan mengalami hal seperti itu.


Sebenarnya Arumi saat ini merasa sangat syok, rasanya kejadian malang terlalu banyak datang menimpa dirinya.


Dari mulai menikah tanpa restu saja sudah menjadi beban dalam hidupnya, ditambah lagi dia harus kehilangan janinnya.


Kejadian ini benar-benar mengguncang hidupnya, rasanya semua yang terjadi benar-benar di luar nalar. Kini, rasa syok itu berubah menjadi rasa sedih dan juga kalut yang luar biasa.


Apalagi saat melihat keadaan Aldo yang benar-benar lemah, hal ini membuat Arumi benar-benar putus asa. Beruntung ada pak Didi yang selalu berusaha untuk menguatkan dirinya.


Padahal, pada awalnya Arumi sudah pasrah jika pak Didi tidak mau lagi menganggap dirinya sebagai putrinya.


Karena dia sangat sadar betul sudah menjadi anak yang pembangkang, dirinya sudah menjadi anak yang durhaka, dia sudah melawan kepada bapaknya tersebut.


Dia tidak mengindahkan apa yang diinginkan oleh bapaknya tersebut, Arumi jadi berpikir, mungkin ini adalah akibat dari sebab yang dia dapatkan, karena selama ini dia tidak menurut dengan apa yang dikatakan oleh pak Didi.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu ruang IGD nampak terbuka, seorang dokter lelaki terlihat tersenyum tipis. Dia berusaha untuk menguatkan Arumi, sahabat sekaligus teman satu propesinya.


Arumi terlihat langsung menghampiri dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan Aldo saat ini.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Arumi.


"Kondisi suami anda sangat lemah, Dok. Berdo'alah agar Tuhan memberikan keselamatan kepadanya," kata Dokter tersebut


Tubuh Arumi terlihat lemas sekali saat mendengarkan penuturan dokter, bahkan kalau pak Didi tidak memeluknya, sudah dapat dipastikan jika tubuh Arumi sudah ambruk ke lantai.


Namun, Arumi tetap berusaha untuk kuat dan tegar. Dia menatap dokter laki-laki tersebut dengan berderai air mata.


"Pasti, Dok. Pasti saya akan mendo'akan yang terbaik untuk suami saya," jawab Arumi.


Dokter lelaki tersebut nampak tersenyum, dia sangat tahu jika Arumi adalah perempuan yang sangat kuat dan gampang menyerah.


"Kalau begitu kami akan memindahkan Aldo ke ruang perawatan, Dokter Arumi bisa menemaninya. Saya harap, Dokter bisa lebih tegar agar memicu pasien untuk merasa ersemangat sembuh," pesan Dokter


"Iya, pak Dokter. Terima kasih," kata Arumi.


***

__ADS_1


Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.


__ADS_2