Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Moment Kebersamaan


__ADS_3

Suasana penuh haru kini dirasakan oleh Aldo dan juga mommynya, Liza. Aldo merasa sangat lega karena sudah mengungkapkan kata maafnya kepada mommynya tersebut.


Begitupun dengan Liza, dia begitu lega karena putranya mau memaafkan kesalahan yang telah dirinya lakukan.


Namun, satu hal yang harus Aldo tahu jika dirinya benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu.


Itu semua terjadi karena keadaannya yang sedang terdesak kala itu, Liza sungguh tidak berdaya.


Saat Aldo tiba, ternyata kedua putra dari Liza sudah bekerja di kota. Begitupun dengan suaminya, dia sedang bertugas keluar kota.


Hal itu membuat Liza kesepian dan mencari kegiatan, setiap hari dia akan menanam sayuran organik dan menjualnya ke pasar.


Hal itu dia lakukan agar dirinya tidak kesepian, karena suaminya hanya akan pulang seminggu sekali saja. Itu pun hanya di hari Sabtu dan juga Minggu.


Aldo merasa sangat senang sekali, karena kini mereka bisa saling mencurahkan rasa rindu antara Ibu dan juga putranya.


Arumi terlihat menitikan air mata saat Aldo melepas rindu bersama dengan ibundanya tersebut.


"Kamu mau menginap, kan, Sayang?" tanya Liza.


Aldo terlihat menatap wajah Arumi, tidak lama kemudian Aldo dan juga Arumi nampak menganggukkan kepala mereka.


Liza senang bukan main, karena di saat kesendiriannya ada anak dan menantunya yang akan menemani dirinya tidur malam ini.


"Aku akan menginap di rumah Ini," kata Aldo.


"Terima kasih," kata Liza seraya memeluk putranya tersebut.


Selama dua hari Aldo dan juga Arumi menghabiskan waktu bersama dengan Liza, dua hari itu benar-benar mereka lalui dengan penuh kasih.


Arumi merasa sangat senang karena suaminya telah berubah menjadi lelaki yang lebih baik.


Arumi sangat senang karena Aldo kini menjadi sosok anak yang penuh kasih terhadap ibunya.


"Jaga dirimu baik-baik, Mom do'akan semoga usaha kamu tambah lancar," kata Liza.


"Aamiin, Mom juga harus jaga diri. Jangan terlalu cape, kapan-kapan aku saka Arumi akan ke sini lagi," kata Aldo.

__ADS_1


"Ya, Mommy tunggu. Jaga istrimu dan jaga ibadahmu, jangan sampai lalai," pesan Liza.


"Insya Allah, Mom," kata Aldo.


Aldo ini sedang berpamitan kepada Momnya untuk pulang, dia merasa sangat sedih sekali. Bahkan, air matanya tanpa terasa menetes di pipinya.


Tentu saja Liza pun merasakan hal yang sama, dia bahkan sedari tadi tidak bisa membendung air matanya.


Arumi turut terharu melihat akan hal itu, Aldo terlihat melerai pelukannya. Kemudian, mengecup kening Liza dengan penuh kasih.


Arumi terlihat menghampiri Liza dan memeluknya dengan erat, Arumi juga mengucapkan salam perpisahannya kepada Ibu mertuanya tersebut.


Arumi mengatakan jika dirinya akan sering-sering berkunjung ke rumah Liza, tentu saja Liza sangat senang sekali mendengarnya.


Aldo dan Arumi kini sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil. Namun, Liza menghentikan langkah Aldo.


"Tunggu sebentar, Nak. Tadi pagi selepas subuh Brian telpon, adik kamu meminta kamu untuk menjadi pemasok tempe di Resto tempat dia bekerja," kata Liza.


Aldo nampak mengernyitkan dahinya, dia merasa bingung kenapa sebuah Resto meminta tempe untuk pasokannya di Resto tersebut.


Namun, Liza selalu beralasan jika mereka belum saatnya untuk bertemu. Suatu saat nanti pasti mereka akan bertemu jika Tuhan mengizinkan.


Sebenarnya, alasan yang tepat adalah Liza belum siap bertemu dengan Aldo. Karena, walau bagaimanapun juga dia masih mencintai lelaki yang menjadi ayah dari Aldo.


Namun, dia tidak bisa berkutik ketika dia kesusahan dan dibantu oleh ayah dari kedua putranya sekarang.


"Katanya yang punya Resto mau membuat tahu dan tempe kremes gitu untuk menu tambahan, kamu bersedia, Sayang?" tanya Liza.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Liza, Aldo sangat senang sekali. Karena itu artinya dia mempunyai peluang untuk mengembangkan usahanya.


Untuk modal dia bisa meminjam terlebih dahulu bukan, nanti dia akan membayar setelah mendapatkan keuntungan.


"Bisa, Mom. Insya Allah bisa," kata Aldo bersemangat.


"Syukurlah," kata Liza.


"Oh iya, Mom. Minta nomor Brian," kata Aldo.

__ADS_1


"Ya, Sayang," jawab Liza.


Setelah meminta nomor ponsel Brian, akhirnya Aldo dan juga Arumi memutuskan untuk segera pulang ke rumah pak Didi.


Selain besok Arumi harus bekerja, selepas ashar juga mereka harus menghadiri acara pernikahan dari Reihan.


Ya, Reihan seakan tidak sabar untuk menikahi suster Camelia. Padahal, sang ayah dari suster Camelia sudah berkata.


"Jangan terburu-buru untuk menikahi anak saya, takutnya nanti Reihan menyesal."


Namun, Reihan dengan mantap mengatakan.


"Aku sudah yakin dengan pilihan hatiku dan aku tidak akan pernah menyesali apa yang sudah aku putuskan."


Akhirnya ayahanda dari suster Camelia mengalah, mereka pun bersedia untuk menikahkan suster Camelia dengan Reihan esok hari Selasa setelah salat ashar.


Sepanjang perjalanan menuju rumah pak Didi, Aldo nampak berpikir, kepada siapa dia harus meminjam modal.


Arumi seakan paham, dia mengelus lengan suaminya. Lalu dia berkata.


"Kamu jangan khawatir, Mas. Nanti untuk modalnya pinjem sama aku aja," kata Arumi.


Dia sangat tahu jika Aldo tidak akan pernah meminta apa pun dari dirinya, maka dari itu Arum sengaja mengatakan hal itu.


"Tapi, Sayang. Rasanya aku malu jika harus meminjam uang kepadamu," kata Aldo.


"Tidak apa-apa, Mas. Kan, hanya meminjam. Nanti, kalau kamu sudah balik modal dan mendapatkan untung yang banyak, kamu bisa menggantinya kepadaku," kata Arumi.


"Ya, baiklah," jawab Aldo.


Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Namun, ada rasa malu sebagai lelaki yang menyeruak ke dalam dadanya.


****


Terima kasih untuk kelian yang selalu hadir untuk membaca dan memberikan koment positif, untuk yang tidak suka mohon jangan kasih koment negatif bahkan kasih rate rendah.


Saya cuma penulis amatir yang berpenghasilan tidak seberapa dari pf gratis ini, terima kasih untuk pengertian dan perhatiannya.

__ADS_1


__ADS_2