
Acara pernikahan yang sederhana, tapi dihadiri banyak orang tersebut sudah selesai. Semua tamu undangan sudah pulang, bahkan pak Didi, Arumi dan juga Aldo sudah tiba di rumahnya.
Begitupun dengan pak Ridwan, dia sudah pulang ke rumahnya. Sebelum pulang tentunya dia menitipkan Reihan kepada besannya.
Sebenarnya Reihan ingin sekali membawa suster Camelia ke rumahnya. Namun, suster Camelia beralasan jika dia hanya putri satu-satunya.
Tidak mungkin dirinya harus meninggalkan kedua orang tuanya. Reihan paham, walaupun pada kenyataannya dia juga hanya anak satu-satunya dari pak Ridwan.
Bahkan, kini pak Ridwan malah tinggal sendiri setelah dia menikah dengan suster Camelia. Namun, pak Ridwan berkata jika dirinya tidak apa-apa ditinggalkan sendiri, yang terpenting Ridwan dan juga suster Camelia sering mengunjungi dirinya.
Suster Camelia setuju, dia bahkan berkata akan menginap di kediaman pak Ridwan. Dia berjanji akan membagi waktu untuk kedua orang tuanya.
Karena bagi suster Camelia kini pak Ridwan juga sudah menjadi orang tuanya. Dia tidak mungkin mengabaikan pak Ridwan.
Dia berjanji akan menginap satu minggu di rumah ayah dan Ibunya. Satu minggu lagi akan menginap di rumah pak Ridwan.
Reihan tersenyum lega, karena ternyata istrinya sangat pengertian. Walaupun dia tidak mau diajak pindah.
Suster Camelia berkata, tidak pindah dari rumah kedua orang tuanya bukan berarti tidak bisa mandiri. Reihan paham.
Kini kedua insan berbeda jenis kelamin itu sedang duduk di atas tempat tidur. Reihan nampak mendekati wanita yang belum lama ini menjadi istrinya itu.
Baru sekitar lima jam mereka resmi menjadi pasangan halal, wajar jika masih ada rasa canggung di antara keduanya.
Bahkan Reihan terlihat begitu gugup, berbeda dengan suster Camelia yang terlihat lebih tenang, walaupun ada rasa canggung.
__ADS_1
"Ehm, Sayang. Aku--"
Reihan nampak merapatkan tubuhnya, kemudian dia memeluk suster Camelia dari belakang.
Baik Reihan ataupun suster Camelia terlihat sudah berganti baju. Mereka terlihat memakai piyama tidur dengan rwarna yang sama.
Suster Camelia bahkan sudah tidak memakai kerudung dan juga cadarnya, hal itu sengaja dia lakukan karena Reihan sudah sah menjadi suaminya.
Melihat akan hal itu, Reihan semakin kagum. Bahkan saat melihat kecantikan yang tersungguh di hadapannya, Rehan nampak tidak berkedip.
Saat melihat surai hitam milik suster Camelia yang begitu indah dipandang mata, Reihan langsung mengendusinya.
Aroma khas wangi sampo langsung menguar di hidungnya, jiwa kelelakian Reihan semakin tergelitik.
Dia semakin tidak sabar untuk segera menjadikan suster Camelia menjadi miliknya seutuhnya.
Dia elus dengan lembut perut rata istrinya, lalu tangannya merambat naik ke atas dan meremat dada suster Camelia.
Suster Camelia terlihat canggung, dia melepaskan tangan Reihan dari dadanyam Kemudian dia berbalik dan menatap mata Reihan dengan lekat.
Ada raut kekecewaan yang dia lihat dari wajah Reihan. Namun, suster Camelia berusaha untuk menenangkan suaminya tersebut dengan senyumannya.
Suster Camelia mengulurkan tangannya, lalu dia mengusap kedua punggung tangan Reihan dengan lembut.
Mata Reihan terus aja memandang wajah suster Camelia. Dia seakan begitu mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
"Mas!"
"Hem," jawab Reihan.
"Ini adalah malam pertama kita, sebelum kamu meminta hak kamu sebagai suami. Aku mau kita melaksanakan salat sunat 2 dua rakaat dulu," kata suster Camelia.
Wajah Reihan yang awalnya terlihat kecewa, kini berubah menjadi binar bahagia. Ternyata istrinya bukan tidak mau melayani dirinya.
Hanya saja, memang sebagai umat muslim sebelum melakukan malam pembobolan gawang harus melakukan salat sunnah dua rakaat terlebih dahulu.
Lalu, akan dilanjut dengan membaca do'a dan bersiap untuk mencetak gol. Reihan mendekatkan wajahnya, kemudian dia mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Ayo kita shalat, aku sudah siap mencetak gol," kata Reihan.
Suster Camelia nampak terkekeh saat mendengar penuturan dari Reihan, kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati Reihan langsung menautkan tangannya ke tangan suster Camelia.
Kemudian, mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sesekali mereka akan saling pandang, kemudian tersenyum malu-malu.
"Mas dulu gih yang wudhu, aku tunggu di luar," kata Suster Camelia.
"Oke," jawab Reihan bersemangat.
***
__ADS_1
Masih berlanjut, yuk ramein kolom kentar.