Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Menjalankan Misi


__ADS_3

Malam pun telah menjelang, Aldo terlihat begitu bersemangat untuk pergi dan melakukan tugasnya.


Dia ingin segera menyimpan telur busuk tersebut di belakang Resto milik Reihan, ya... untuk yang pertama kalinya, yang dia ingin lakukan adalah menghancurkan usaha milik Reihan.


Karena menurutnya, Reihan adalah ancaman terbesar untuk dirinya. Reihan harus terlebih dahulu mendapatkan kesusahan agar dia tidak bisa dan tidak berani mendekati Arumi lagi, itulah pikirnya.


''Aku harus segera pergi, agar semuanya bisa segera terlaksana." Aldo membungkus satu telur dan membawanya menggunakan pelastik hitam.


Aldo menyeringai licik, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju Resto milik Reihan.


Tiba di Resto milik Reihan, Aldo terlihat celingukan. Dia memperhatikan jalanan yang ada di sana, dia takut ada orang yang lewat dan mengetahui aksi yang dia lakukan.


Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam, Aldo merasa jika keadaan sudah sangat sepi. Dia mulai keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan menuju belakang Resto milik Reihan.


Dia berjalan mengendap-endap persis seperti seorang pencuri, sesekali dia menghentikan langkahnya kala melihat ada orang yang masih lewat.


Tiba di belakang Resto milik Reihan, Aldo terlihat menyimpan telur busuk tersebut di sela-sela barang-barang yang tidak terpakai.


Walaupun tugasnya hanya menyimpan benda tersebut, namun Aldo sangat berkeringat. Dia bahkan merasa jika sekujur tubuhnya terasa dingin, tentu saja dia merasa takut ketahuan dengan apa yang dia lakukan saat ini.


"Semoga saja ini berhasil," kata Aldo.


Aldo kembali celingukkan memperhatikan sekitarannya, setelah dia merasa aman, Aldo langsung pergi dari sana.


"Fyuh! Ternyata lumayan menegangkan," kata Aldo seraya tertawa dengan terbahak.


Aldo benar-benar sudah seperti orang gila, dia tertawa dengan apa yang dia lakukan. Padahal dia sangat tahu jika yang dia lakukan adalah hal yang salah.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran kamu, Reihan!" kata Aldo.


Kembali dia tertawa terbahak-bahak, dia merasa rencananya sudah sangat berhasil. Dia merasa jika Nyai Ratu pasti tidak akan membuat dirinya kecewa.


Aldo sangat percaya diri, jika mulai saat ini pak Didik tidak akan merangkul Reihan lagi. Apalagi Reihan sebentar lagi akan jatuh miskin.


"Besok giliran kamu, tua bangka!" kata Aldo pelan namun penuh penekanan.


Aldo begitu percaya diri jika dirinya pasti akan bisa menghancurkan Reihan dan juga pak Didi, Aldo sangat percaya diri.


Aldo begitu percaya diri jika Nyai Ratu bisa membantu dirinya, baik itu dalam hal kekayaan ataupun menghancurkan saingannya.

__ADS_1


Menghancurkan setiap orang yang dia rasa sudah menyakiti dirinya, menghancurkan usaha dari orang yang dia anggap saingannya.


Namun, satu hal yang Aldo lupa. Di atas langit masih ada langit, masih ada Tuhan sang pencipta.


Masih ada Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang, tentu maha segala-galanya. Tanpa ridhonya, apalah daya kita.


Tiba di rumahnya, Aldo langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia hempaskan tubuh lelahnya dan dia pejamkan matanya, dia ingin tidur.


Tidak lama kemudian Aldo benar-benar tertidur dengan lelap, tentu saja itu terjadi karena sudah beberapa hari ini Aldo memang kekurangan tidur.


Alasannya tentu saja karena dia terus saja bertempur dengan Nyai Ratu, bahkan di malam pertamanya pun dia bertempur dengan Nyai Ratu sampai pagi menjelang.


Hal itu membuat tubuhnya terasa lelah, dia butuh istirahat. Dia butuh tidur dalam waktu yang cukup lama.


*/*


Aldo merasa jika dirinya baru saja masuk ke dalam alam mimpinya, namun bunyi bel pintu benar-benar mengganggu Indra pendengarannya.


Dia berdetak sebal, kemudian dia bangun dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Saat pintu terbuka, nampaklah Arumi yang sedang tersenyum manis sambil menenteng sebuah kotak bekal di tangannya.


Aldo yang sempat merasa kesal langsung merubah raut wajahnya, dia tersenyum lalu mengajak Arumi untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Tumben, Yang. Kamu datang pagi-pagi sekali," kata Aldo.


Aldo melirik jam yang bertengger cantik di dinding, ternyata waktu baru menunjukkan pukul 06.30 pagi.


Dia merangkul Arumi, lalu mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Kok kamu bisa berangkat sepagi ini, Sayang? Bapak kamu tidak curiga?" tanya Aldo.


Arumi tersenyum, kemudian dia mengecup bibir Aldo sekilas.


"Tidak, Mas. Aku beralasan ada hal yang perlu aku lakukan di Rumah Sakit pagi-pagi sekali," jawab Arumi.


"Lalu, apa bapak tidak bertanya kamu berangkat kerja pake bawa kotak bekal segala?" tanya Aldo lagi.


"Tidak dong, aku berkata pada bapak jika aku tidak sempat sarapan di rumah. Makanya aku membawa bekal untuk sarapan di tempat aku bekerja," jawab Arumi.


"Terus, kamu ke sini naik apa? Masa iya diantar sama bapak?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Naik taksi," jawab Arumi.


"Memangnya bapak kamu tidak curiga?" tanya Aldo lagi.


"Tidak, udah ah. Kamu jangan nanya-nanya mulu, aku kangen," kata Arumi.


Arumi langsung menautkan bibirnya ke bibir Aldo, dia sudah benar-benar kangen dengan suaminya tersebut.


Dia juga sudah tidak tahan ingin merasakan yang namanya bercinta, karena saat malam pertamanya dia benar-benar tidak mengingat apa yang dia lakukan.


Bibir mereka saling bertaut, namun tangan Arumi dengan lincah membuka pakaian yang dia kenalkan.


Setelah Arumi polos tanpa sehelai benang pun, dia melepaskan tautan bibirnya. Kemudian, dia membuka kain yang menghalangi tubuh Aldo.


Arumi tersenyum karena melihat milik Aldo yang kini sudah berdiri dengan tegak, Arumi langsung memposisikan milik Aldo agar bisa masuk ke dalam liang kelembutan miliknya.


Aldo tersenyum saat melihat kabut gairah di dalam mata istriny, namun, sebelum Arumi menyatukan tubuhnya dia berkata.


"Bukankah kamu ingin sarapan bersama denganku, lalu apa ini maksudnya?" tanya Aldo dengan tersenyum nakal.


"Sarapannya bibir yang bawah dulu, bibir yang atas nanti saja," kata Arumi malu-malu.


Kemudian, tanpa ragu Arumi menyatukan tubuh mereka. Aldo langsung mengerang nikmat, kdua tangannya bahkan langsung meremat dada istrinya dengan cukup kencang.


Begitupun dengan Arumi, dia langsung mendessah dengan matanya yang terpejam. Rasa nikmat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Gerak, Sayang." Aldo meremat bokong istrinya.


Walaupun Arumi belum pernah melakukannya, dia menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.


Dia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun secara konstan, dia benar-benar bisa merasakan yang namanya nikmatnya bercinta.


"Iya, Sayang. Seperti itu, yang cepet." Aldo membantu Arumi menaik turunkan pinggulnya.


Bahkan tanpa ragu Aldo menghujam istrinya dari bawah, Arumi kelabakkan. Dia langsung mencengkram pundak Aldo dengan kuat.


*


*

__ADS_1


Masih berlanjut.


Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky.


__ADS_2