Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Buka Puasa


__ADS_3

Setelah melamar suster Camelia, Reihan dan juga pak Ridwan langsung pulang menuju kediamannya.


Begitupun dengan Aldo, Arumi dan juga pak Didi. Mereka Langsung pulang ke rumah pak Didi, karena waktu memang sudah larut malam.


Tiba di rumah pak Didi, Aldo dan juga Arumi langsung berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya.


Arumi langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi san menggosok gigi lalu cuci muka.


"Sayang!''


Aldo langsung memeluk Arumi dari belakang, Arumi tersenyum kemudian dia mengecup pipi Aldo.


"Kenapa, Mas?" tanya Arumi.


Sebenarnya tanpa bertanya pun Arumi sangat tahu apa yang diinginkan oleh suaminya tersebut, apalagi saat melihat tatapan Aldo yang diliputi kabut gairah. Sudah barang tentu Aldo menginginkan dirinya.


"Sudah hampir dua bulan kita ngga ngelakuin itu, aku pengen banget. Udah ngga tahan banget, masa nifas kamu sudah habis belum?" tanya Aldo.


Arumi tersenyum lalu dia terlihat mengusap-usap punggung tangan Aldo yang memeluk perut Arumi dengan erat.


Sudah sejak dua minggu yang lalu Arumi telah menyelesaikan masa nifasnya, dia juga wanita normal, tentu saja dia menginginkannya.


Namun, suasana hati Arumi belum stabil. Sehingga Arumi tidak pernah menunjukkan keinginannya kepada Aldo.


"Sudah, Mas,'' jawab Arumi.


"Beneran udah bersih?" tanya Aldo.


Arumi tersenyum, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia ingin sekali tertawa saat melihat wajah Aldo, Aldo terlihat begitu menginginkannya.


Namun, Aldo juga terlihat ragu untuk memintanya. Sepertinya Aldo begitu takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya tersebut.


"Iya, Mas," jawab Arumi.

__ADS_1


Senyum sumringah langsung terbit di bibir Aldo kala mendengar jawaban dari Arumi, dia benar-benar merasa senang.


"Jadi... Mas, udah boleh?" tanya Aldo lagi.


"Heem," jawab Arumi.


Aldo tersenyum senang, kemudian dia langsung mengangkat tubuh Arumi dan merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan.


"Mas kangen, Yang." Aldo langsung menunduk dan mulai menyesap bibir istrinya.


"Aku juga sangat rindu," kata Arumi di sela tautan bibir mereka.


Aldo yang sudah sangat lama tidak merasakan nikmatnya bercinta, terlihat berciuman dengan penuh gairah.


Jari tangan kirinya nampak menyelusup di sela rambut Aldo, sedangkan tangan kanannya terlihat mengelus lembut perut Aldo.


"Mas udah ngga tahan, kamu mau aku kaya gimana? Langsung masukin aja atau--"


Aldo terlihat begitu senang sekali saat mendengarkan apa yang Arumi katakan, dia sungguh sudah begitu mengharapkan penyatuan.


Dengan penuh semangat dia langsung melucuti setiap kain yang melekat di tubuhnya.


Begitupun dengan kain yang melekat di tubuh istrinya, dia lepaskan satu persatu dengan sangat lembut.


Tentu saja hal itu dilakukan karena dia tidak ingin menyakiti istrinya, dia ingin memberikn kesan terbaik setelah lama mereka berpuasa.


Aldo mulai menegakkan tubuhnya, dia berdiri di atas kedua lututnya. Dia memandangi tubuh istrinya dengan tatapan penuh puja, Arumi selalu saja cantik di matanya.


"Mas!" Arumi terlihat malu-malu saat Aldo menatap dirinya seperti itu, Aldo tersenyum kemudian dia menunduk dan mulai mengecupi dan mencumbu istrinya.


Malam ini mereka habiskan dengan bercinta yang penuh dengan gairah, dua bulan tidak melakukannya membuat mereka begitu menikmati percintaan panas yang mereka lakukan.


Selama menikah mereka seakan penuh beban, tapi kini beban itu sudah menguap jauh bersama terbakarnya semua harta yang Aldo dapatkan dari Nyai Ratu.

__ADS_1


Aldo kini berubah menjadi sosok yang begitu rajin dalam beribadah, dia tidak pernah tertinggal shalat lima waktu.


Dia merasa hidupnya kini terasa lebih sempurna, pak Didi juga kini terlihat sudah menerimanya dengan tangan terbuka.


Satu hal yang belum dia lakukan, Aldo belum menemui ibunya untuk meminta maaf. Aldo sudah berniat untuk menemui ibunya esok hari di kota tempat ayah sambungnya berada.


"Mas, aku udah mau sampe," kata Arumi.


"Keluarin aja, Yang," kata Aldo.


Tidak lama kemudian, tubuh Arumi nampak bergetar hebat. Aldo terlihat tersenyum karena akhirnya dia bisa memuaskan istrinya.


Untuk sejenak Aldo terdiam, dia ingin memberikan waktu untuk istrinya beristirahat. Napas Arumi terlihat tersenggal, rasa nikmat masih melekat di tubuhnya.


Matanya bahkan masih terpejam, dia seakan enggan untuk melepaskan nikmat dunia tersebut.


Aldo tersenyum, kemudian dia kembali menggerakkan pinggulnya. Arumi membuka matanya, lalu mencengkeram lengan Aldo dengan kuat.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia kembali merasakan nikmat yang sangat luar biasa, jiwanya seakan kembali melayang.


"Oh, Tuhan. Ini sangat nikmat, Mas!" racau Arumi.


Aldo tersenyum di sela kegiatan panasnya, dia suka saat melihat wajah Arumi ketika berada di bawah kuasanya.


Akhirnya, setelah dua jam memacu miliknya yang mengembang dan mengeras dengan sempurna, Aldo nampak mengeluarkan cairan lengket kental ke dalam rahim Arumi.


"Terima kasih, Sayang," kata Aldo seraya mengecup kening istrinya.


***


Selamat malam kesayangan, tadinya aku pengen kebut ceritanya biar cepet selesai. Ternyata kesibukan di dunia nyata tidak bisa terelakan.


Hampura, jadi molor ini ceritanya. Semoga kalian masih mau menunggu kelanjutan dari Babang Aldo sama Neng Arumi.

__ADS_1


__ADS_2