
Sepanjang jalan pulang di motor Juju dan Nilam tak saling bicara. Juju juga tidak lagi bertanya jawaban Nilam atas perasaannya. Pikiran justru masih selalu teringat bagaimana bos itu perlakukan gadis di belakang punggungnya ini tadi. Sementara Nilam, pikirannya tertuju pada perkataan Hwa yang akan menunggu jawaban, sama seperti yang Juju ucap padanya.
Ia mencari bagian mana dari sikapnya yang salah, hingga dua lelaki baik itu menaruh hati padanya.
Begitu sampai di depan rumah Babe, Nilam turun dari boncengan.
“Selamat, ya,” kata Juju tiba-tiba melambatkan gerakan Nilam yang tengah melepas helm.
"Selamat?" Nilam mengulangi kata itu penuh tanya, sedikit tertegun melihat raut wajah Juju yang menyiratkan kecewa.
“Tuan Hwa juga menyukai, loe. Kalian jadian 'kan tadi?” Juju melempar pandang ke sembarang arah, menghalau nyeri dan panas di pelupuk matanya. “Kalian serasi. Sangat cocok.”
“Ju-“ Nilam belum sempat lanjutkan, karena Juju langsung melaju meninggalkan ia yang mematung di tempat.
Nyeri merambat di hati Nilam. Inilah yang ia takutkan. Perasaan bisa merusak hubungan persahabatan mereka. Sorot mata Juju yang kecewa terasa bagai ratusan jarum menusuk hatinya.
Gadis itu masuk dengan langkah gontai. Saat akan menutup pagar, Mang Didin mendekatinya.
“Neng Nilam ini ada titipan Den Hanif, sebelum berangkat tadi sore.” Lelaki tinggi besar itu menyodorkan amplop putih.
Nilam terlihat ragu menerimanya.
“Terima kasih, Mang.”
"Iya, sama-sama, Neng."
Nilam memegang amplop bertuliskan dari Hanif itu, bertanya-tanya apa gerangan isinya sampai harus dilem juga.
Sepertinya penting.
Langkah kembali Nilam ayunkan pelan dengan pikiran tak menentu. Tanpa ia sadari sesosok hitam mengikuti, sampai di depan halaman kos yang sepi, sosok itu kemudian membekap dan menyeret tubuh Nilam ke sisi bangunan berbatasan tembok tetangga.
Surat dari Hanif terjatuh dari genggamannya.
***
“Kok jam segini Nilam belum pulang, ya?” Tri, Dara dan Dian saling bertanya saat malamnya mereka kumpul di kamar Nilam menemani Mak.
Waktu menunjukkan hampir setengah sepuluh malam, harusnya gadis itu pulang paling lambat sore, karena kerja tadi shift pagi.
“Coba gue tanya Juju, kalau aja mereka ada kegiatan di luar,” Dian menekan nomor kontak Juju Tamvan. Pada panggilan kedua baru terjawab.
"Ya." Tanpa membuka mata Juju menjawab.
"Ju, loe sama Nilam ke mana sampe jam gini?" Terhenti sejenak. "Apa loe baru bangun? Kalian enggak-" Dian menutup mulut menghentikan pikiran buruknya sendiri.
Di ujung sana Juju mengernyit dahi. "Enggak apa? Dia keluar kali sama cowoknya," sahut Juju malas-malasan.
"Cowok? Siapa? Kata maknya Nilam belum pulang dari tadi kerja. Gue yakin dia sama loe, sama siapa lagi coba?"
Juju terduduk sambil mengusap mata yang sembab.
"Pan tadi sore udah gue anter ke situ, masa pergi lagi gak bilang?"
"Ini beneran, Ju. Di dalam tuh maknya bingung Nilam ke mane?"
Spontan berdiri, jantung Juju berdetak cepat. Teringat laki-laki berpakaian hitam yang dilihat di pojok halaman kos waktu itu.
Cepat mengakhiri panggilan, Juju gegas menarik jaket di lemari. Perasaannya mengatakan sesuatu terjadi pada Nilam.
“Ya Allah, gue sampai lupa bilang ada lelaki tua itu di sana!” Ia memukul kepala sambil berlari keluar.
"Ke mane malam-malam?" Perempuan berperawakan sedang akan masuk kamar, urung melihat anak lelakinya berlari keluar.
"Assalamualaikum, Nyak. Juki ke rumah Babe sebentar."
"Ade ape emang, sampe larian gitu?" Ibunya mengikuti sampai keluar.
"Kagak kok Nyak ini mo ketemu Nilam," ujar Juju sambil keluarkan motornya dari garasi.
Mendengar jawaban Juju wanita itu menggeleng-geleng kepala, tak lupa teriakkan hati-hati pada putra satu-satunya itu sebelum melaju motornya di jalan. Beberapa hari ini nama Nilam sering disebut di rumah ini, sebagai alasan Juju menolak untuk melamar si Laila. Sebagai ibu, ia tak ingin memaksa takutnya membuat penyesalan kelak.
Nilam juga dikenal baik di matanya, selama berteman dengan Juju sudah lebih dari puluhan kali bertemu muka dengan gadis yang menurutnya sangat sopan itu.
__ADS_1
Di jalan, Juju bagai akan terbang membawa motornya, yang dipikirkan hanyalah cepat sampai. Motor dibawa meliuk, menyelip kendaraan yang menghalangi lajunya.
Begitu sampai di depan pagar, Mang Didin sudah membukakan pintu. Ada Dian juga di sana rupanya sudah bertanya pada Mang Didin yang tadi sore bertemu Nilam setelah pulang kerja.
"Sudah ketemu?"
"Belum, Ju, hapenya gak bisa dihubungi." Dian ceritakan ini belum diberitahu pada Mak makanya ia ke depan setelah telepon tadi.
Juju sempat ceritakan sosok lelaki yang sempat dilihatnya waktu itu, lalu langsung berlari ke belakang.
“Ni! Nilam?!” Berputar-putar di sekitar halaman Juju memanggil Nilam. Jika dilihat seperti orang kehilangan akal karena memanggil Nilam seperti mencari anak hilang.
Yang lain heran, mengira mana mungkin Nilam hilang di halaman kosnya sendiri. Kecuali nyasar di jalan.
“Gue sampai lupa bilang, di sini itu ada sosok yang ngintai kamar Nilam waktu itu. Arghh!” Juju geram, meninju tembok, karena egois dikuasai perasaan sampai terlupa mengingatkan gadis itu.
“Iya, tadi Neng Nilam memang sudah ke belakang, sehabis mamang kasih surat dari Den Hanif,” jelas Mang Didin, ia dan Pak Min mengikuti Juju yang mencari sampai ke sisi tembok.
“Kenapa Nilam?” Mak terlihat keluar dengan wajah sangat cemas, terlihat Tri dan Dara setia menenangkannya.
Dian mulai menangis teringat ucapan Nilam malam tadi, kalau ia dijadikan sasaran tumbal. Sudah terbersit pikiran buruk terjadi di kepalanya.
“Ya Allah … tolong Nilam,” isaknya sambil memungut amplop putih di paving sisi tembok.
Tangisnya menjadi-jadi saat tahu amplop itu milik Nilam, surat yang dikasih Mang Didin tadi.
Juju, Pak Min dan Mang Didin menyisir tanah kosong di belakang kos. Pemuda itu tak tertahan lagi kecemasannya, ia sambil berjalan meremas rambut yang kepalanya seakan terasa pecah.
“Astagfirullah! Apa itu?!” Mang Didin terkejut apa yang terlihat di depan mata, mengundang perhatian dari Juju dan Pak Min yang langsung lari mendekat.
Tong besar air penampung air hujan tutupnya terbuka, ada tubuh berdiri dengan setengah badan masuk ke dalam gentong.
“Ya Allah, selamatin Neng Nilam ….” Suara Pak Min dan Mang Didin penuh harap, gemetar ikut mendekat perlahan.
Juju pun gemetar, kalut melihat seragam Nilam yang amat hafal di luar kepala.
Itu memang Nilam ....
Langsung terasa lemas tulang belulang Juju, jika melihat kondisi Nilam itu menyatakan kemungkinan kecil masih hidup. Sambil berusaha mengontrol diri Juju paksakan sisa tenaga meraih tubuh Nilam, mengangkat badan lemas itu keluar. Untunglah, air di dalam tidak penuh yang basah hanya rambut dan kepala Nilam.
Masih hidup!
“Cepat siapkan mobil Babe bawa Nilam ke rumah sakit!!” pekiknya pada Pak Min dan Mang Didin yang langsung lari ke depan.
Juju setengah berlari sambil menggendong tubuh Nilam.
Dian hampir histeris kalau tidak segera menutup mulut, takut didengar Mak di dalam, ia gemetar meraih tas Nilam yang masih tersangkut di lengan gadis itu dalam gendongan Juju, lalu lari ke kamar Nilam memanggil Tri dan Dara.
“Lu semua jaga Mak, Nilam sudah ketemu.” Dian menyerahkan tas Niam pada Tri, setelah menarik kedua gadis itu keluar, menjauh dari pendengaran Mak.
Dian setengah berlari mengejar Juju mereka di depan. Ia sigap masuk saat tubuh Nilam akan dibaringkan ke kursi belakang.
"Ni, bangun, Ni." Tangan dan pipi Nilam yang dingin digosok-gosokkan dengan telapak berharap bisa sadar.
Juju menyetir dengan injakan gas dalam, tak bisa keluarkan sepatah kata pun. Pikirannya berkecamuk, tergurat ketegangan dan khawatir di wajahnya yang sesekali melirik spion belakang melihat Nilam tak berdaya.
Juju harus bisa tenang, merasa bertanggung jawab sendiri atas keadaan Nilam sekarang. Babe dan Maemunah sedang menyusul Hanif, ada kegiatan di pondok Kyai Hamid selepas Isya tadi. Mereka berangkat pakai mobil van tua kesayangan Babe, Hanif lebih suka naik motor, jadi Juju bisa pakai avanza yang nganggur di garasi.
Mungkin memang jalan-Nya di situasi sulit begini bisa dipermudah untuk menolong Nilam.
Rumah sakit yang sama tempat Nilam pernah dirawat kembali Juju pijaki.
Ia menangkup wajah, menguntai doa berulang berharap keselamatan saat gadis itu segera dalam proses tindakan di ruang UGD. Mereka pengantar hanya diperbolehkan menunggu di luar.
Dian berjalan mondar-mandir tanpa kata, yang ada di pikirannya hanya doa berharap Nilam baik-baik saja.
Saat melihat Juju, ia teringat sesuatu di saku. “Ju, ini punya Nilam.”
Juju mendongak, mengusap wajah sebelum melihat tulisan di amplop dari Hanif itu. Dipandangnya sejenak lalu dimasukkan ke saku jaket.
“Mbak, Mas, saudaranya sudah siuman,” kata seorang wanita berseragam putih.
Sontak mereka berdua bergegas masuk. Tampak Nilam memakai selang oksigen di hidung. Kata dokter, Nilam hanya pingsan lama, sebenarnya itu bisa membahayakan untuk kerja otak yang kekurangan oksigen, tapi kondisi Nilam dinyatakan baik.
__ADS_1
Juju dan Dian sangat bersyukur. Saat Nilam sudah bisa diajak bicara keduanya bertanya kenapa Nilam bisa ada di belakang kos.
Nilam hanya bisa mengingat kalau ia merasa diseret, lalu gelap dan lupa kemudian apa yang terjadi sampai bangun sudah di UGD ini.
Nilam melempar senyum kecil pada Dian yang terlihat cemas. "Nggak usah khawatir gitu, aku gak papa, kok, Di."
Matanya beralih pada Juju yang tengah memegang puncak kepalanya tanpa bicara. Ia bisa menangkap raut sesal di sana.
“Kenapa harus bawa aku ke sini? Gimana dengan Mak?” Nilam takut ibunya mengkhawatirkan keadaannya sekarang.
“Mak baik aja, Ni,” kata Dian sambil mengelus punggung tangannya.
Mata Dian pada jemari kiri Nilam yang memerah, sedikit bengkak. “Ini kenapa?”
“Nggak pa-pa, tadi kena kuah panas. Sudah gak sakit kok, Di.” Masih ada nyeri kalau terpegang, tapi Nilam tak mau temannya itu jadi makin khawatir.
Mata sayu Nilam kembali tertuju pada Juju yang masih berdiri di sisinya.
“Ju, maaf ya." Nilam ingat raut kecewa Juju padanya tadi sore.
"Maaf buat apa? Gue yang salah, Ni.”
Jari Juju menyentuh pipi selembut kapas itu.
Dian segera paham, ia pamit menunggu di luar, meninggalkan ruang berbatas gorden keliling antara dipan ini dengan pasien UGD lain.
“Persahabatan kita gak putus 'kan, Ju?” Nilam menatapnya penuh harap. Juju tercekat, tak sepenuhnya paham maksud Nilam, tapi kata itu terasa mengiris hatinya.
Apa ini artinya Nilam benar jadian dengan Tuan Hwa?
Sesaat Juju menunduk, menarik napas panjang, mengembuskan perlahan, lalu kembali menatap Nilam.
“Okey, gue ikhlas. Kita akan slalu berteman. Loe sahabat gue,” ucapnya bergetar.
Nilam tersenyum membalas genggaman tangan Juju erat.
Kamu memang sahabat terbaik, Ju ....
"Ah ya ini dari Bang Hanif, siapa tau penting. Dian tadi yang nemu.”
“Oh, paling petunjuk surah hafalanku, Ju.”
Obrolan mereka terhenti saat seorang perawat menghampiri, memeriksa kondisi Nilam. Wanita muda itu kemudian melepas oksigen di hidung Nilam, menyampaikan pesan kalau Nilam diperbolehkan pulang tanpa harus dirawat.
“Alhamdulillah, Mak pasti sudah khawatir,” ucap Nilam lega.
“Alhamdulillah loe nggak apa-apa. Ingat setelah ini jangan kosongkan pikiran lagi, ini semua penyebabnya sama gangguan itu belum lepas juga. Mungkin gue salah juga tadi ngerasa kesal sama loe, Ni."
“Kamu nggak salah, Ju.”
“Iya, deh. Eh sebelum pulang buka dulu tuh surat Bang Hanif. Gue penasaran apa isinya, nanti di rumah ada Mak lagi ketahuan banget gue kepo," ucap Juju sambil tertawa.
Nilam malah menyodorkan ke tangannya. “Bukain sendiri, coba baca untukku, ya."
“Manja.” Nilam tertawa mendengarnya. Bisa mengusili Juju ada kesenangan tersendiri untuknya.
Sampul surat itu dirobek Juju dalam gerak cepat, selembar tulisan rapi tak sampai satu halaman. Baru akan membuka mulut Juju langsung terhenti. Sempat mengira itu yang dikasih Hanif tulisan surah atau ayat Qur'an, ternyata bukan.
Itu surat pribadi, membawa mata Juju tertumbuk pada tulisan, Nilam, bersediakah jika aku mengkhitbahmu, sebagai istri dan ….’
Jemari Juju bergetar, raut santainya tadi berubah kaku. Senyum yang terkembang pun kembali mengatup.
“Kenapa?” Nilam bertanya seraya menarik kertas dari tangannya.
Gadis itu terdiam saat menyelesaikan kalimat terakhir yang tertulis. Ia berusaha tenang, melipat kembali kertas, memasukan ke dalam amplop yang sudah tersobek lebar.
Bibir Nilam terkunci seperti ada yang berat terpikir olehnya.
“Gue lebih setuju loe sama Bang Hanif. Dia bisa membimbing loe, Ni,” dukung Juju sepenuh hati.
Ia berusaha ikhlas mendukung yang terbaik untuk Nilam, walau belum mampu menutupi luka yang tersirat dari matanya.
Bersambung ....
__ADS_1