Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
SAH


__ADS_3

Aku jadi bertanya-tanya dalam hatiku, mungkinkah itu adalah ibu kandungku? Karena seingatku wajahnya terlihat seperti mommy Lizza saat sedang menggendongku.


Hanya saja wajahnya terlihat sudah menua, di bawah matanya terlihat kerutan. Walaupun kecantikannya tetap terlihat.


"Silakan duduk Nak Aldo," kata pak Penghulu.


"Iya," jawabku seraya duduk tepat di hadapan bapak mertuaku.


Setelah aku duduk di depan bapaknya Arumi, aku mengedarkan pandanganku. Aku berusaha untuk mencari sosok perempuan yang sebentar lagi akan aku nikahi kembali.


Namun, sayangnya aku tidak menemukan sosok wanita yang aku cari tersebut. Aku hanya bisa terdiam tanpa berani bertanya.


"Nak Aldo, tenang saja. Nak Arumi masih kita simpan dulu, nanti kalau Ijab kabulnya sudah selesai baru Nak Arumi keluar untuk segera menemui Naldo." Terdengar suara Pak Penghulu berkata seperti itu kepadaku.


Mungkin karena dia menyadari jika aku mencari sosok wanita yang begitu aku cintai itu, aku tersenyum ke arah pak Penghulu.


"Ah, iya Pak," jawabku.


"Baiklah kalau begitu, apakah acaranya sudah bisa dimulai?" tanya Pak penghulu.


"Sudah Pak, sudah bisa," jawabku.


Tentu saja aku sudah sangat siap untuk menikahi Arumi kembali, karena itulah yang memang aku harapkan sejak dulu. Bisa menikahi Arumi dan semua orang tahu jika Arumi adalah milikku.


Tidak seperti kemarin, menikah hanya sekedar menikah Siri. Alhasil tidak ada orang yang mengetahui hubungan kami.


Aku sempat melirik ke arah bapaknya Arumi, sayangnya dia malah memalingkan wajahnya. Dia benar-benar seolah tidak mau menatapku, dia benar-benar tidak menganggap keberadaanku.


Kalau saja dia bukan mertuaku, aku sudah meminta Nyai Ratu untuk melilit tubuhnya agar semua tulangnya remuk dan nyawanya langsung menghilang.


Sayangnya, dia adalah bapak dari wanita yang sangat aku cintai. Lelaki tua yang sangat disayangi dan dihormati oleh wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi istriku secara agama dan juga negara.


Tidak lama kemudian, nampaklah seorang panitia yang naik ke atas panggung. Dia mulai membacakan satu persatu susunan acara yang akan dilaksanakan saat pernikahanku dengan Arumi.


Tentunya dimulai dengan mengucapkan salam, kemudian mengucapkan basmalah. Tidak lama kemudian pembawa acara tersebut nampak mengatakan jika Ini sudah waktunya untuk pembacaan ayat suci Al Qur'an.


Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil handset dan memakainya. Lalu, aku memutarkan sebuah lagu dengan sangat kencang.


Hal itu aku lakukan, agar aku tidak bisa mendengar saat petugas acara membacakan lantunan ayat suci Al Qur'an.

__ADS_1


Semua orang yang hadir nampak menatap aneh ke arahku, mungkin karena melihat aku memakai headset.


Jujur saja aku merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu, namun apa boleh buat, ini adalah hal yang terbaik dari pada badanku hangus di acara yang paling penting dalam hidupku.


Paman Alan nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia menghampiriku. Dia menarik headset yang menempel di telinga kananku, kemudian dia berbisik tempat di telingaku.


"Kenapa malah memakai headset?" tanyanya kepadaku


Aku tersenyum kikuk seraya meremat kedua tanganku secara bergantian, aku bingung harus menjawab apa.


"Ehm, itu. Aku gugup, Paman. Makanya aku memakai headset, siapa tahu bisa menghilangkan kegugupanku," ucapku berbohong.


Paman Alan terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, semoga saja dia percaya dengan apa yang aku katakan.


"Oh, ya sudah. Asal jangan sampai lupa dalam melafalkan kalimat kabul," pesan Paman Alan kepadaku.


Setelah mengatakan hal itu, paman Alan terlihat kembali duduk. Aku langsung memakai headsetku kembali, karena lantunan ayat suci Al Qur'an sudah mulai terdengar.


Tubuhku sedikit meremang, bukan karena terangsangg, tapi karena merasa jika tubuhku mulai merasa panas saat mendengar bacaan ayat suci Al Qur'an tersebut.


Cukup lama aku terdiam seraya mendengarkan lagu dari ponselku, lumayan menenangkan dan menghibur. Hingga satu tepukan di pundakku, menyadarkanku.


"Sudah waktunya untuk Ijab kabul," kata Paman Alan kepadaku.


Aku terdiam memperhatikan apa yang dikatakan oleh pak Penghulu, walaupun aku memang pernah mengatakan kalimat kabul, namun aku tetap harus mendengarkan apa yang diinstruksikan oleh Pak penghulu.


Sesekali aku menatap ke arah bapak mertuaku, namun dia tetap diam datar tanpa ekspresi. Aku pasrah, terserah apa maunya. Yang penting dia mau menikahkanku dengan Arumi.


Tidak lama kemudian, bapak mertuaku nampak mengulurkan tangannya. Tentu saja dengan cepat aku menerima uluran tangan darinya, aku melihat dia menghela napas berat.


Kemudian, dia mulai mengucapkan kalimat Ijab. Setelah dia menghentakkan tangannya, aku membacakan kalimat kabul.


Dengan satu kali tarikan napas saja aku sudah berhasil mengatakan kalimat kabul tersebut, aku bisa bernapas dengan lega.


"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya Pak Penghulu.


SAH!


SAH!

__ADS_1


SAH!


Terdengar seruan para tamu yang hadir mengatakan sah, aku tersenyum senang. Begitupun dengan paman Alan dan lelaki paruh baya yang berada di sampingnya.


Juga wanita yang tidak jauh dari paman Alan, dia terlihat menangis sesenggukan. Aku tidak peduli akan hal itu, karena kini fokus mataku beralih kala Arumi terlihat menghampiriku.


Dia terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang sudah aku belikan untuknya gaun pengantin yang nampak elegan dan begitu cantik saat Arumi memakainya.


Bibirku bahkan sampai menganga lebar, karena Arumi benar-benar seperti seorang ratu hari ini.


"Kamu cantik, Sayang." Aku berbisik tepat di telinga Arumi.


Wajah Arumi terlihat memerah, entah karena malu atau karena senang dengan pujian yang aku lontarkan.


Namun, terus terang saja, kata yang aku ucapkan itu benar-benar keluar dari dalam lubuk hatiku.


"Terima kasih, Mas," ucapnya seraya duduk tepat di sampingku.


Tidak lama kemudian, pak penghulu memberikan dua buku nikah kepadaku dan juga Arumi untuk ditandatangani.


Tentu saja dengan sangat antusias aku menandatangani buku nikah tersebut, aku bahkan sampai mengacungkan buku nikah tersebut ke arah semua tamu yang hadir.


Mereka Langsung tertawa dan bersorak, entah menganggap ke norak atau seperti apa, aku tidak mempermasalahkan hal itu.


Arumi terlihat tersenyum kikuk, kemudian dia mencubit perutku. Terasa sedikit sakit, namun itu semua tidak berarti, karena rasanya kebahagiaanku lebih besar hari ini.


"sakit, Yang," kataku seraya memeluk pinggangnya dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku.


Dia sepertinya malu karena ku melakukan hal itu, dia bahkan langsung mendorong dadaku. Aku kecu bibirnya, lalu aku melepaskan pelukanku.


Setelah selesai, pak Penghulu memintaku untuk memasangkan cincin kawin kami, aku kembali melakukannya.


Bahkan, setelah aku memasangkan cincin kawin kami. Aku langsung mencium bibir Arumi tanpa ragu, persetan dengan orang yang akan berkata apa pun. Yang penting hatiku begitu senang.


Sorak sorai para tamu undangan kembali terdengar riuh, aku sempat melirik ke arah bapak mertuaku.


Dia terlihat memalingkan wajahnya, sepertinya dia memang benar-benar enggan untuk mengakui jika aku adalah menantunya.


Akan tetapi, aku benar-benar tidak peduli. Bodo amat, karena aku tidak akan membutukan bantuan dari dia.

__ADS_1


***


Selamat siang, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, see you next episode.


__ADS_2