
Karena merasa kesal, Aldo sampai tidak bisa tidur semalam suntuk. Dia hanya duduk di ruang tamu sambil menatap layar LED di hadapannya, namun pikirannya melayang entah kemana.
Dia sedang berpikir, kenapa apa pun yang dilakukan oleh dirinya selalu sia-sia? Dia bisa banyak harta dengan memuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Dia bisa membeli apa pun yang dia mau dengan uang yang dia dapatkan, dia juga bisa membeli makanan yang enak untuk memanjakan lidahnya.
Sayangnya, dengan uang itu tetap saja tidak merubah keadaan. Dia tetap tidak bisa memiliki Arumi dengan bebas, dia tidak bisa menikahi Arumi secara terang-terangan.
Dia benar-benar merasa sudah kalah dalam berperang, dia merasa menjadi seorang pecundang yang hanya mampu menusuk lawan dari belakang dan dalam keadaan tidak siap.
"Sial! Kenapa harus seperti ini?" tanya Aldo lirih.
Hari sudah beranjak sore, namun Aldo belum juga beranjak dari tempat duduknya. Dari semalam sampai pagi, hingga sore menjelang dia tetap saja duduk di depan televisi.
Sesekali dia ke dapur untuk mengambil air minum, lalu dia akan duduk kembali sambil menyalakan rokok.
Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, dia benar-benar kesal, kecewa dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan.
Dulu dia memang manusia miskin, namun dia merasa bangga dengan apa yang dia kerjakan. Dia merasa bangga dengan penghasilannya, biar kata sedikit namun hasil keringat sendiri.
Berbeda dengan saat ini, dia merasa gagal. Walaupun sudah mendapatkan banyak harta, namun semua yang dia inginkan tidak dapat digenggam oleh tangannya.
Aldo jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar Nyai Ratu itu bisa mengabulkan apa pun keinginannya Aldo?
Karena sampai saat ini semua keinginan Aldo tidak terlaksana, bahkan saat akan menumbalkan Yuni pun Aldo malah gagal.
Pada hakikatnya semuanya sudah diatur oleh semua Sang pemilik semesta, sekeras apa pun Aldo berusaha, jika niat Aldo adalah sebuah kejahatan, maka Tuhan tidak akan meridhoi.
"Ah, lebih baik aku bersiap. Aku akan menyimpan telur busuk yang satunya di belakang penginapan milik si tua bangka," kata Aldo.
Walaupun merasa kesal dan kecewa, Aldo tetap ingin membuktikannya sekali lagi. Mungkin Reihan memang manusia yang taat terhadap agamanya, namun dia ingin tahu dan penasaran.
Apakah pak Didi pun sama atau tidak? Jika melihat perangai pak Didi, Aldo yakin jika apa yang dilakukan oleh Aldo pasti akan berhasil.
Aldo pasti bisa menghancurkan usaha milik pak Didi itu, Aldo pasti bisa membuat pak Didi bersimpuh di kakinya. Aldo ingin sekali melihat pak Didi mengemis harta kepadanya.
"Kita lakukan sekarang, aku ingin segera tahu hasilnya," kata Aldo dengan menggebu.
__ADS_1
Aldo terlihat bangun dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya.
Tidak membutuhkan waktu lama dia sudah terlihat bersiap dengan baju santainya, tak lupa dia membawa telur busuk tersebut dengan plastik hitam yang sudah dibalut kain kafan.
Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin meletakkan benda tersebut, dia benar-benar sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran pak Didi.
Pukul 01.00 malam, Aldo terlihat sudah sampai di penginapan milik pak Didi yang tidak jauh letaknya dari pantai.
Dia berjalan dengan mengendap-ngendap, sesekali matanya terlihat celingkuhkan. Dia takut ada orang yang akan melihat aksinya.
Setelah dirasa aman, Aldo terlihat berjalan ke arah taman belakang penginapan milik pak Didi.
Aldo terlihat memperhatikan situasi dari taman belakang tersebut, dia bingung harus menyimpan telur busuk itu di mana.
Terbersit sebuah ide di otaknya, dia mengambil sebuah besi yang ada di pinggiran taman, kemudian dia menggali tanah dan mengubur telur busuk tersebut.
Dengan seperti itu, dia berharap jika penginapan milik pak Didi akan hancur dalam seketika.
"Sepertinya ini sudah aman, sebaiknya aku segera pergi," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal itu, dia langsung kembali pulang menuju rumahnya. Tiba di pekarangan rumahnya, Aldo langsung memarkirkan mobilnya.
"Mas, kamu pulang juga. Aku rindu, aku khawatir. Dua hari ini aku ngga sempat ke sini, karena bapak terus mengikuti aku," kata Arumi.
Terlihat dengan jelas raut kekhawatiran di wajah Arumi, dia masih sangat ingat jika seluruh permukaan tubuh Aldo terlihat melepuh.
Dia sangat khawatir, dia ingin sekali mengobati Aldo. Dia ingin menjaganya, namun entah kenapa pak Didi selalu saja menempel kepada dirinya.
Bahkan pria paruh baya itu selalu saja menemani kemanapun Arumi pergi, karena hal itulah Arumi tidak bisa menemui Aldo.
Malam ini dia mengendap-ngendap keluar dan segera pergi ke rumah Aldo, karena dia ingin melihat kondisi tubuh dari suaminya tersebut
"Aku baik-baik saja, kamu tidak usah seperti itu," kata Aldo.
"Tapi, Mas. Aku tetap saja merasa khawatir," kata Arumi seraya memperhatikan seluruh bagian tubuh Aldo.
"Loh, Mas. Kamu sudah sembuh?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Sudah, Arumi. Aku sudah berobat, sudah diberikan obat yang sangat bagus oleh dokter. Mas sengaja berobat ke pusat kota, ini Mas baru pulang," dusta Aldo.
"Oh," jawab Arumi.
Walaupun dia tidak percaya karena dalam dua hari seluruh tubuh Aldo sudah membaik seperti sedia kala.
Padahal Arumi sempat berpikir jika Aldo tidak akan bisa sembuh begitu saja, apalagi saat melihat luka Aldo yang begitu parah.
Namun ternyata, Arumi salah. Karena Aldo kini sudah tampan seperti sedia kala, dia bahkan sudah terlihat gagah seperti biasanya.
"Ya, sudah sekarang kita masuk. Kamu pasti kedinginan," kata Aldo.
Akhirnya Aldo mengajak Arumi untuk masuk ke dalam rumahnya, dia langsung menuntun Arumi agar segera masuk ke dalam kamarnya.
Dia tidak menyangka jika Arumi rela menemuinya saat malam tiba karena begitu merindukan dirinya, bagaimana jika pak Didi sadar jika Arumi telah pergi, tanyanya.
"Tidurlah, ini masih malam." Aldo terlihat merebahkan tubuh Arumi, lalu dia ikut merebahkan tubuhnya dan membawa Arumi ke dalam pelukannya.
"Tidurlah, Sayang. Mas ngantuk," kata Aldo.
"Iya," jawab Arumi seraya memeluk tubuh suaminya.
Arumi terlihat mengusakkan wajahnya, dia peluk tubuh kekar Aldo dengan erat. Dia telusupkan kedua tangannya pada bagian tubuh bawah Aldo.
"Dia bangun," kata Arumi.
"Hem, itu semua gara-gara kamu." Aldo mengecup puncak kepala Arumi.
"Aku akan bertanggung jawab," kata Arumi.
Setelah mengatakan hal itu, Arumi langsung bangun. Kemudian, dia langsung naik ke atas tubuh Aldo..
Dengan tidak sabarnya dia melucuti pakaiannya, dia juga melucuti pakaian Aldo. Setelah itu, dia langsung menyatukan tubuh mereka.
*
*
__ADS_1
Masih Berlanjut.