Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Keinginan Terakhir


__ADS_3

“Sorry baru bilang, gue juga syok,” kata Hanif pada Juju yang memerah mukanya begitu sampai di rumah


sakit. Ia kecewa baru dikabari keadaan Nilam pagi ini. Sebagai orang terdekat Nilam, Juju merasa bersalah tak bisa menjaga gadis itu lebih baik.


Hanif sejak selesai Subuh tadi mengisi heningnya ruang rawat dengan mengaji, duduk di kursi lipat tak jauh dari dipan Nilam. Pak Min dan Babe ketiduran lagi di sofa tunggu ruang kelas satu ini.


Juju duduk di sisi tempat tidur, Nilam masih memakai oksigen pembantu. Dadanya menyesak begitu tahu Nilam sempat kritis sulit bernapas karena ada darah terhirup saluran napasnya tadi malam.


Kalau ada apa-apa tanpa sepengetahuannya Juju akan merasa sangat bersalah.


“Apa ini karena si Suci?” tanya Juju datar.


“Temannya itu baru datang juga, saat Nilam ke belakang dia sempat sembunyi di balik bonsai, lalu ngikutin, makanya gue keluar juga. Sepertinya Nilam sudah tersungkur sebelum dia datang,” jelas Hanif.


Meskipun diam Juju yakin ini ada hubungannya dengan Suci. Bukannya dia sudah pergi, terus mau apa balik lagi? Pikirnya.


Juju baru beranjak dari tempat setelah akan berangkat kerja. Ini terakhir shift siang, mau izin tidak masuk saja kalau pikirkan kecemasannya melihat Nilam yang sebentar terbangun lalu tidur lagi tanpa komunikasi dengannya.


Hanif dan Maemunah datang bergantian menjaga Nilam. Ayat ruqyah diulang lagi oleh Hanif, dengan memakai sarung tangan menyentuh pucuk kepala Nilam.


Menjelang sore Nilam sudah bangun dan sadar sepenuhnya, hanya merasa gelisah dengan oksigen yang masih terpasang. Ia menarik masker oksigen yang menutupi hidung dan mulut.


“Nilam? Sebentar biar dokter saja.” Hanif menahan tangannya.


“Nggak enak pakai ini, malah sesak,” kata Nilam meletakkan sembarang alat plastik itu.


Hanif gegas memanggil petugas jaga.


“Tenang, Nilam. Biar cepat sehat.” Maemunah mengelus lengannya.


“Nyak, Nilam bosan baring. Kenapa masih di sini?” Nilam merasa sehat dan mau secepatnya keluar rumah sakit. Merasa malu sudah merepotkan keluarga Babe.


Dokter dan perawat datang, meminta Nilam berbaring tenang untuk diperiksa. Oksigen dilepas, hanya infus yang diminta tunggu habiskan sebagai pembantu memulihkan tenaga Nilam. Kondisinya memang jauh lebih baik sekarang.


***


Sejak hari mulai gelap tadi ada seorang perempuan muda duduk di kursi tunggu ruang rawat inap. Wajahnya tanpa ekspresi. Ia memandang lurus ke lorong, arah ruangan Nilam dirawat.


Ia terpaksa mengikuti Nilam ke sini. Batinnya berkecamuk, menyiapkan keberanian akan ke kamar itu. Ada hal penting yang harus dilakukan dan ini sangat mendesak.


Ekor matanya menangkap bayangan berpakaian serba hitam menyusuri lorong, ia memicingkan mata.


Perempuan muda itu adalah Suci dan sekarang sedikit berlari mengikuti bayangan tadi.


Terengah-engah napas Suci saat mendorong keras pintu kamar.


Tampak Nilam sedang menyuap makanan. Ada Juju juga yang tadi izin pulang cepat, Hwa di sebelahnya ikut datang menjenguk Nilam.


Babe tengah mengaji di pojok ruangan terhenti. Pun dengan Pak Min yang duduk di sofa terkejut melihat ke arah pintu.


Semua mata mengarah pada Suci.


Juju lalu maju menarik lengan Suci hendak membawanya keluar.


“Aku mau bicara sama Nilam.” Suci melawan berusaha melepas tangannya.


Tatapannya mengarah pada Nilam seolah meminta kesempatan pada gadis itu.


Juju mengeraskan rahang tetap meyeretnya tanpa bicara.


“Ju, biarkan ….”


Pemuda ini memejamkan mata mengatur napas. Rasa tak sanggup menolak permintaan Nilam. Ia melonggarkan tangan Suci, hingga perempuan itu segera berjalan ke arah Nilam.


Juju enggan berbalik badan, emosinya akan memuncak jika melihat Nilam masih memberi kesempatan pada temannya itu. Tangannya terkepal erat di sisi badan.


“Ni, aku minta maaf sudah salah …” Suci menahan tangis. “aku kembali bukan untuk dimaafkan. Aku nggak pantas, Ni-“


“Cepat katakan apa mau loe ke sini?!” Juju sontak membalik badan menegur Suci dengan nada tinggi.


Babe berdiri dari tempat duduk, mendekati Juju dan menyentuh pundaknya.


“Ni … mereka akan nyerang Mak. Mak dalam bahaya, Ni.” Suci berkata sambil tersedu.


Mata Nilam membulat. “Mak?”

__ADS_1


“Mereka siapa maksud, loe?! Loe sendiri, kan, yang mau nyakitin Nilam. Jang-“


“Ju!” Nilam kembali menghentikan ucapan Juju.


“Mak? Mak kenapa, Ci?” tanya gadis itu penuh nada khawatir.


“Mak akan diganggu kalau kamu nggak pulang, Ni ….” Suci mulai ceritakan suara-suara yang memerintahkannya berbuat jahat pada Nilam. Awalnya Suci juga mengira satu orang, tapi semakin ke sini ia mendengar ada suara yanga agak berbeda dari sebelumnya. Ia mengira Ki Arya itu berkelompok. Mereka tengah ribut mencari berbagai cara melenyapkan Nilam.


Nilam menopang tubuhnya dengan tangan, hampir terhenti napas mendengar pernyataan Suci.


‘Mak ….’ Batin Nilam mulai menjerit memanggil wanita yang dicintai itu.


Sakit jarum infus yang tertekan di vena-nya tak dihiraukan. Nilam menangis dengan suara pilu. Frustrasi


atas keadaan yang menimpa. Andai hanya dirinya yang merasakan Nilam Tak mengapa, asalkan jangan ibunya. Nilam mulai khawatirkan keadaan Mak Lumpit di kampung.


Juju meminta Nilam tenang. Jangan langsung percaya omongan Suci. Kemudian pemuda itu menarik tangan Suci keluar ruang.


Suci memberontak, menolak.


“Loe jelasin semua?!” geram Juju tertahan, tepat di depan mukanya.


“Biarkan die ngomong dulu, Juki. Elu tahan emosi, ini rumah sakit.” Babe menengahi.


Pemuda itu terdiam, melirik sekilas ke lelaki tua yang dihormatinya itu.


Masih menangis Suci menceritakan kejadian dari awal. Semua mata membulat ke arahnya, tak percaya


masih ada mistis kuat yang ingin orang kuasai untuk mendapatkan sebuah ambisi.


“Tanda di tengkuk Nilam … hanya akan hilang saat roh Nilam lepas ….” Suci menangis menangis tersedu. Rasa


sesal tampak dari sikap dan kata-katanya yang bergetar.


Babe kembali ke kursi dengan lunglai. Pak Min terpaku di tempat tanpa kata, tangannya berpegangan ke


dinding. Hwa dan juju menganga dengan wajah kaku.


Juju merasakan panas di pelupuk matanya. Ia kembali ke dipan, mendekati Nilam yang masih terisak.


Suci berdiri kaku di tempatnya terlihat penuh penyesalan.


“Sabar, Ni … insyaAllah loe nggak apa-apa ….”


Gadis itu ditariknya ke dada, mengusap kepala Nilam dengan perasaan nyeri menjalar di dada. Air bening


hangat yang keluar dari pelupuk mata sendiri segera dihapus Juju sambil mengatur napas panjang-pendek cepat. Berusaha tenang, meski ia tak dapat menahan rasa takutnya kehilangan gadis ini.


Setelah cukup menguasai keadaan Juju memberi jarak, memegang kedua bahu Nilam. “Loe kuat, loe bisa


melawan. Gue nggak akan jauh dari loe mulai dari sekarang, Ni,” janjinya pada gadis yang terus menangis.


Satu tetes darah jatuh ke seprei putih dari hidung Nilam.


“Assalamu’alaikum,” salam Hanif sebelum masuk, melihat semua orang berkumpul di sini.


“Wa’allaikumussalam,” jawab Babe dan Pak Min.


Lelaki yang mengenakan jaket kulit coklat itu mencium takzim tangan Babe. Kenalan dengan Hwa, kemudian melihat ke arah Nilam.


Gadis itu sedang ditenangkan oleh Juju di depannya. Dari bibir Nilam keluar beberapa kali kata


tentang Mak dan keinginannya untuk pulang.


Hanif mengatur napas sebelum mendekati dipan.


Hanya melihat kepala Nilam yang tertunduk, rambut panjang gadis itu menutupi wajahnya.


“Sstt, Nilam. Coba atur napas, tenangkan diri.” Suara tenang khas Hanif sontak membuat tangis Nilam


terhenti. Rupanya ia tadi tak menyadari kehadiran Hanif.


Wajah Nilam mendongak perlahan, mata sembab menyipit berganti tatapan mengibanya pada Hanif.


“Bang Hanif, tolong ... aku mau ketemu, Mak.” Nilam refleks menarik tangan Hanif, memohon dibantu agar cepat sehat dan ketemu ibunya.

__ADS_1


Wajah Nilam ditumpu pada punggung tangan Hanif.


Rasa dingin dari kulit lembut itu, membuat Hanif susah payah menenangkan diri. Istighfar terus terucap di hatinya, demi menenangkan jantung yang berpacu cepat.


Juju mematung di tempat menyaksikan Nilam lebih mengharap pertolongan Hanif dibanding dirinya. Juju segera permisi keluar kamar, disusul Hwa yang pamit pulang pada Babe. Pak Min juga keluar akan menunggu Babe di bangku depan ruang.


Nilam belum melepas tangan Hanif memohon, membuat jakun Babe naik turun, masih berdiri di tempatnya, lalu kembali duduk di bangku sambil perhatikan Nilam dan anak lelakinya itu.


Hanif ingin menarik tangannya yang terasa membasah, tapi ia tak tega, karena Nilam terus menangis.


Napas Hanif sedikit sesak, desir halus terus merayap hatinya. Rasa yang sama seperti ini pernah terjadi di saat masa SMA. Suka pada seorang gadis berlesung pipit, temansekelasnya, seperti ada gendang bertalu di dalam  rongga dada yang sulit ditenangkan.


Hanif segera menepis pikiran itu dengan istighfar berkali-kali.


“Kita akan berusaha bertemu Mak, tapi kamu tenangkan diri dulu,” ucapnya kemudian. Ia tak nyaman Nilam terus memeluk tangannya.


Nilam mengatur napas dari mulut, lalu mengangkat kepala. “Benarkah …?”


“Masya Allah,” Hanif tersentak, wajah gadis ini merah. Darah yang keluar dari hidungnya bercampur air mata mengenai pipi dan dahinya, tangan Hanif pun berwarna sama.


Lelaki ini refleks mengusap wajah Nilam dengan sapu tangan yang masih tergenggam tadi, ia mengerang kesal kembali terlupa.


“Tolong bersihkan,” pinta Hanif sambil membalik badan mengarah pada Suci.


Gadis yang terpaku menggigit jari di pojok ruang itu gelagapan. Suci pun mendekat juga. Mereka tak punya tisu di sana, jadi Hanif memintanya menunggu.


Lelaki itu ke kamar mandi mencuci saputangan kecilnya dan kembali berikan pada Suci.


“Bang, ketemu Mak anggap saja keinginan terakhirku,…” rintih Nilam berulang kembali memohon.


“Iya. Tenangkan dirimu, Nilam besok kita rembukkan lagi. Lagian umur itu Allah yang mengatur, bukan manusia,” ujar Hanif sambil menggulung lengan jaketnya.


Suci hanya terdiam sambil mengusap wajah Nilam dengan saputangan lembab itu sampai bersih.


“Babe boleh istirahat. Ada Hanif sama Juki nunggu di sini,” kata Hanif.


Babe mengangguk, lalu pulang bersama Pak Min.


Hanif juga keluar membersihkan diri dan mengambil wudu, kembali masuk dan duduk di kursi lipat tak jauh di sisi Nilam.


Hanif terlanjur berjanji besok mereka akan bicarakan tentang cara Nilam bertemu Mak, setelah kondisi Nilam membaik. Ia meminta Nilam hentikan pikiran buruk di kepalanya dan istirahat agar kembali tenang.


Saat Nilam terdiam Hanif mulai menarik napas dalam, lalu melantunkan ayat demi ayat surah Al-Baqarah. Sebagai seorang hafiz Hanif hafal 30 Juz Ayat Suci. Suara bening kembali mengisi ruang meskipun tak nyaring, tapi setiap katanya terdengar jelas dan menyayat.


Terlihat begitu menghayati surah panjang itu, Hanif sampai memejamkan mata, sambil menyentuh dadanya.


Rasa hangat pun mengaliri setiap darah Nilam, menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia yang tadi disuruh tidur, belum juga terlelap. Pemilik suara merdu itu seakan menarik hati dan matanya memandang.


Wajah tenang lelaki muda berahang kokoh itu tengah menikmati setiap kata yang meluncur oleh bibirnya. Nilam menatap Hanif takjub.


Suci yang tadi terpaku di tempat merasa gelisah, lalu segera keluar ruangan tanpa sepengetahuan Nilam.


Nilam masih melihat Hanif penuh keheranan, bagaimana suaranya bisa mengalun dalam tarikan napas sepanjang


itu? Dan, apa Hanif memahami kata yang ia ucapkan? Semua pertanyaan menari di benaknya ….


Ada kerinduan Nilam ingin bisa melantunkan kata yang sama, kelak. Ia pun membayangkan bagaimana reaksi


Mak, jika mendengarnya bisa mengaji. Selama ini buku yang diberi Hanif itu hanya dibaca huruf Latinnya saja karena Nilam belum pandai mengaji. Pernah tahu huruf Hijaiyah, tapi tidak lancar menyebutkannya.


Air mata Nilam mengalir dari pelupuk mata. Bibirnya bergumam menyatakan kerinduan sangat pada Mak.


Selain takut terjadi apa-apa pada Mak, ia juga merasa mungkin hidupnya tak akan lama lagi. Bertemu Mak menjadi keinginan terakhir.


Samar kalimat Nilam memanggil ibunya terdengar oleh Hanif, lelaki yang tengah mengalunkan ayat terakhir itu


sambil menoleh pada gadis yang tampak terlelap. Ternyata, Nilam mengigau.


Juju sudah kembali masuk, langsung berbaring di sofa. Sudah tengah malam, matanya belum menutup sempurna. Indra pendengarnya menghayati suara kakak sepupunya itu sekarang melantunkan Surah Ar-Rahman.


Terasa menyayat jiwa Juju yang sering terlupa bersyukur. Juju merasakan kalbunya menyejuk. Mengganti kata


kecewa hatinya tadi berubah menjadi pinta, semoga gadis yang ia sayangi bisa berumur panjang dan menemukan orang yang lebih bisa membahagiakannya.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2