Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Nasehat Pak Ustadz


__ADS_3

Semua yang dikatakan oleh pak ustadz Aldo turuti, Aldo terus saja berzikir seraya merebahkan tubuhnya.


Karena walaupun tubuhnya terasa nyeri, tapi bibirnya masih bisa berucap. Aldo masih bersyukur akan hal itu, pak ustadz juga membimbing Aldo untuk melakukan shalat.


Walaupun hanya dengan kedipan mata saja, tetap shalat yang Aldo lakukan sah. Karena Allah tidak pernah memberatkan hambanya.


Jika makhluknya dalam keadaan sehat, maka shalatlah seperti biasanya. Jika kaki kamu lumpuh atau susah digerakkan, maka duduklah.


Jika seluruh badan kamu terasa sakit, maka boleh berbaring dengan hanya menggerakkan tangan dan kaki saja.


Namun, jika manusia sudah benar-benar tidak berdaya, maka boleh dengan hanya mengedipkan mata saja. Membaca bacaan shalat pun boleh di dalam hati saja.


"Bagaimana, apa sudah lebih tenang?" tanya Pak Ustadz setelah mereka menunaikan ibadah shalat maghrib.


"Sudah merasa lebih baik," jawab Aldo.


Aldo merasa kini keadaannya lebih baik, bahkan hatinya merasa lebih tenang setelah dia shalat.


Sudah sangat lama dia tidak pernah melaksanakan shalat wajib. Apalagi melqksanakan salat sunah.


"Syukurlah, beristirahatlah. Jangan lupa untuk terus berdzikir dan membaca istighfar dalam hati, mintalah terus ampunan dari Sang maha pencipta," kata Pak Ustadz.


Aldo terlihat mengangguk lemah, dia sadar jika kini dia benar-benar ingin bertaubat. Sayangnya, kini kondisi tubuhnya benar-benar mengenaskan.


"Iya," jawab Aldo.


"Saya permisi dulu," kata Pak Ustadz.


Setelah berpamitan kepada Aldo, pak ustadz terlihat keluar dari dalam kamar Aldo. Kemudian, dia bergabung dengan Rehan, pak Ridwan, pak Didi dan juga Arumi yang sedang duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Arumi dan juga pak Didi yang terlihat begitu penasaran, langsung bertanya kepada pak ustadz tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Aldo.


Sebenarnya mereka sudah sangat ingin menanyakan tentang keadaan Aldo, mereka juga sudah sangat ingin menanyakan apa yang dimaksud oleh Aldo tentang ingin terlepas dari Nyai Ratu sedari tadi.


Namun, pak Didi dan juga Arumi masih memberikan waktu untuk Aldo dan pak ustadz untuk berbicara terlebih dahulu.


"Ehm, maaf Pak Ustadz. Saya mau bertanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Aldo?" tanya Pak Didi.


Pak Didi dan juga Arumi terlihat harap-harap cemas dengan apa yang nanti akan dikatakan oleh pak ustadz.


"Jadi begini, sebenarnya Aldo sudah beberapa bulan ini melakukan pesugihan, dia melakukan perjanjian dengan Nyai Ratu. Siluman ular hutan terlarang, oleh karena itu, kini Aldo menjadi orang yang sangat kaya dan uangnya juga begitu melimpah ruah," jawab Pak Ustad.


Baik Arumi ataupun pak Didi, mereka terlihat begitu syok saat mengetahui kebenarannya. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka, jika Aldo mampu melakukan hal sekeji itu.


Namun, tidak lama kemudian pak Didi merasa jika dirinya juga ikut andil dengan apa yang dilakukan oleh Aldo.


Pak Didi jadi berpikir, mungkin saja Aldo nekat untuk melakukan pesugihan karena ingin segera mendapatkan harta untuk menikahi Arumi kala itu.


Karena Aldo tidak memiliki harta yang melimpah, karena Aldo saat itu hanyalah penjual tempe dengan penghasilan pas-pasan.


"Maksud Pak Ustadz, suami saya menjadi seorang budak dari siluman ular?" tanya Arumi.


"Ya, seperti itulah. Karena itu Aldo memiliki banyak harta yang seakan tiada habisnya," jawab Pak Ustad.


Arumi menelan ludahnya kasar, dia benar-benar masih belum percaya jika suaminya itu adalah seorang budak.


"Lalu, apakah suami saya masih bisa kembali ke jalan yang benar?" tanya Arumi.


"Tentu, tentu saja dia masih bisa bertaubat. Saya lihat keinginan Aldo sangat kuat untuk bertaubat, dia begitu Ingin terhindar dari jerat Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang itu," jawab Pak Ustad.

__ADS_1


"Tapi Pak Ustadz, apakah tidak berbahaya? Apakah nyawa suami saya tidak terancam?" tanya Arum lagi.


Pak ustadz tersenyum, dia paham dengan ketakutan yang dialami oleh Arumi. Namun, ini adalah resiko yang harus Aldo ambil karena dia sudah berani melakukan pesugihan.


Dia sudah berani menduakan sang pencipta dengan makhluk ciptaan dari Tuhan sendiri, itu adalah resiko yang harus ditempuh oleh Aldo.


Namun, Aldo benar-benar bertekad untuk taubat. Maka, sekuat apa pun siluman ular itu, tetap dia tidak akan bisa lagi mendekati Aldo.


"Semua perbuatan yang kita lakukan akan ada akibatnya, perlakuan yang baik pasti akan mengakibatkan sesuatu hal yang baik. Begitupun dengan perbuatan jahat, maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik," kata Pak ustaz.


"Lalu, kami harus bagaimana agar terhindar dari jerat Nyai Ratu tersebut?" tanya Arumi.


"Perbanyaklah dzikir dan bershalawat, kerjakan shalat lima waktu dengan tepat waktu. Jangan lupa untuk menyempatkan shalat sunah," jawab Pak Ustad


Arumi terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju, selama menikah dengan Aldo Arumi memang jarang sekali beribadah.


Jangankan untuk shalat, saat suara Adzan berkumandang pun Arumi seakan tidak mendengarnya.


"Baiklah, saya mengerti," kata Arumi.


"Kalau begitu saya permisi," kata Pak Ustadz.


Selepas pak ustadz berpamitan, dia langsung meninggalkan kediaman pak Didi. Begitupun juga dengan Rehan dan juga pak Ridwan, karena hari memang sudah mulai larut malam.


Setelah itu, Arumi dan pak Didi nampak berbicara berdua. Mereka terlihat serius sekali saat membicarakan masalah Aldo.


"Heh! Sepertinya Bapak juga harus meminta maaf kepada Aldo." Pak Didi terlihat menghela napas berat.


Arumi hanya terdiam menanggapi ucapan bapaknya, karena dia juga tidak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


***


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak, yes. Untuk beberapa hari ini Othor sibuk banget ngurusin dunia nyata, kalau sudah selesai pasti Othor akan rajin up.


__ADS_2