
Yuni terlihat enggan untuk melanjutkan pembicaraannya, dia malah terlihat menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Arumi.
"Hanya saja apa, Yuni? Katakan saja!" kata Arumi.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya ingin berpesan, jauhi kak Aldo. Karena dia bukan lelaki yang baik, Maaf kalau aku sudah lancang. Permisi," kata Yuni.
Setelah mengatakan hal itu, Yuni terlihat mencegat sebuah Bajaj dan langsung pergi dari sana. Arumi menatap bingung kepergian Yuni dan juga ibunya, dia benar-benar tidak paham kenapa Yuni bisa mengatakan hal tersebut.
"Ah, lebih baik aku segera ke rumah mas Aldo." Arumi kembali memesan ojek online, setelah itu dia langsung meminta ojek online tersebut Untuk mengantarkan dirinya ke rumah Aldo.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Aldo, Arumi terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Yuni. Sungguh dia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Yuni tersebut.
Namun, dia juga tidak bisa menuduh Aldo sembarangan. Karena selama dia mengenal Aldo, Aldo merupakan lelaki baik. Dia perhatian, pengertian sabar dan juga selalu berusaha untuk membahagiakan Arumi dengan cara-cara yang sangat manis.
Walaupun memang pada kenyataannya Aldo tidak pernah membelikan Arumi barang-barang yang mewah, karena dia mempunyai penghasilan yang hanya sedikit.
"Sudah sampe, Neng," kata Kang Ojek.
"Eh, iya, Bang. Bayarnya sudah pakai aplikasi, ya?" kata Arumi.
"Iya, Neng," jawab Kang Ojek.
Arumi terlihat berjalan menuju pintu rumah Aldo, saat Arumi memutar handle pintunya, ternyata pintunya tidak terkunci. Dia pun mendorong pintu itu dengan perlahan.
"Mas!" panggil Arumi.
Tidak ada sahutan, Arumi berjalan menuju dapur, dia menyimpan makanan dan juga jus mangga yang sudah dia pesan di atas meja makan.
Kemudian, dia mencari Aldo di dalam kamarnya. Ternyata suaminya itu sedang tertidur dengan pulas, Arumi tersenyum. Dia menghampiri Aldo dan duduk tepat di tepi ranjang.
Aldo tertidur dengan hanya menggunakan celana pendek tanpa menggunakan baju, dia terlihat bertelanjang dada.
Arumi elus dada suaminya dengan lembut, lalu dia menunduk dan mengecup bibir Aldo beberapa kali.
"Mas! Kamu kok ceroboh banget, tidur tapi pintunya nggak dikunci. Bagaimana kalau nanti ada maling yang masuk?" kata Arumi lirih.
Tentu saja Aldo yang sedang tertidur tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, lagi pula siapa yang akan berani masuk ke dalam rumahnya dan mencuri isi dari rumah tersebut. Yang ada, orang itu tidak akan bisa kembali dengan nyawa yang utuh.
Arumi terlihat gemas karena suaminya itu tak kunjung bangun, dia langsung menautkan bibirnya dan menyesapnya cukup kuat.
Aldo langsung terbangun, dia langsung menarik tubuh Arumi dan membalikkan tubuh istrinya tersebut.
__ADS_1
"Nakal!" kata Aldo seraya menggigit gemas hidung Arumi.
"Aww! Sakit," keluh Arumi.
"Ish! Kami tuh kaya lagi diperawanin aja, pake ngerintih begitu. Mas jadi pengen," kata Aldo.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, Arumi nampak mencebikkan bibirnya. Dia memukul dada Aldo, lalu berusaha untuk bangun.
"Aku ke sini mau ngajakin kamu makan siang, Mas. Bukan mau ngajakin anu-anu, aku sudah sangat lapar. Ayo kita makan siang dulu," ajak Arumi.
Aldo langsung terkekeh mendengar nada protes dari istrinya tersebut, dia mengecup bibir Arumi memakai kaosnya lalu menggendong istrinya dengan penuh kasih.
Arumi tersenyum, dia memeluk Aldo dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Aldo sangat senang dengan keadaan seperti ini, dia langsung membawa Arumi ke ruang makan dan langsung mendudukkan Arumi di salah satu bangku yang ada di sana.
"Eh, kamu bawa apa, Sayang?" tanya Aldo ketika melihat bungkusan yang berada di atas meja makan.
"Aku membawakan dua bungkus nasi Padang sama dua jus mangga, kamu suka, kan, Mas?" tanya Arumi.
"Suka dong, Sayang. Tolong disiapin dong, Masnya udah lapar," kata Aldo seraya mengelus perutnya.
"Dimakan, Mas. Kamu pasti suka," kata Arumi.
Arumi sengaja membeli nasi dengan ayam bakar dan juga sambel beserta lalapan daun singkong, karena itu adalah makanan kesukaan dari Aldo.
"Iya, Sayang. Mas pasti makan, Mas suka. Terima kasih, ya?" kata Aldo.
"Iya, Mas," jawab Arumi.
Aldo mulai menyuapkan makanan yang Arumi beli ke mulutnya, namun, baru saja dia mengunyahnya, tiba-tiba Aldo terlihat menggeliatkan tubuhnya.
Dia langsung menyimpan sendoknya dan mulai mengusap-usap lengan dan seluruh bagian kulit tubuhnya.
Arumi yang sedang makan langsung menghentikan aktivitasnya, dia mengernyitkan dahinya karena heran melihat kelakuan Aldo.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Arumi.
"Entahlah, Sayang. Tapi, rasanya badan Mas panas semua," kata Aldo.
Arumi terlihat bangun, lalu dia memperhatikan kulit Aldo yang terlihat memerah. Kulitnya terlihat seperti bekas kecipratan minyak panas, merah dan nampak sedikit berair.
__ADS_1
"Ya ampun, ini kenapa? Kenapa seperti kena cipratan minyak panas?" tanya Arumi.
"Ngga tahu, Yang. Panas banget ini," keluh Aldo.
Tentu saja kulit Aldo kini terasa panas, bahkan terasa terbakar dan mulai melepuh. Karena Reihan dan seluruh karyawannya kini sedang mengadakan tadarusan di Resto miliknya.
Walaupun dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yoga, namun tetap saja dia melakukan apa pun yang diinstruksikan oleh pemuda yang usianya masih di bawah Reihan itu.
Apa salahnya menuruti keinginan dari Yoga, karena menurutnya Yoga hanya meminta dirinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Aldo terlihat kelabakan, karena semakin lama kulitnya semakin terasa perih dan panas. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya pun mulai memerah.
Arumi terlihat panik, dia bingung harus melakukan apa. Jujur saja ini pertama kalinya Arumi melihat hal yang menurutnya tidak masuk akal.
Tidak kena air panas, tidak kena minyak panas dan tidak juga terbakar. Namun, kulit Aldo tiba-tiba saja memerah. Bahkan terlihat melepuh.
"Mas, Mas kenapa? Aku harus bagaimana ini?" tanya Arumi.
"Entahlah, Sayang. Mas juga ngga tahu, tolongin Mas. Panas banget ini, panas banget!" keluh Aldo.
"Sabar, Mas!" pinta Arumi.
"Rasanya Mas mau berendam di dalam buthup menggunakan air dingin, Yang. Ngga kuat kalau kaya gini terus, PANAS!" keluh Aldo.
"Ya sudah, mungkin itu akan lebih baik. Ayo buka bajunya, sekarang Mas masuk ke kamar mandi. Masnya berendam pakai air es," usul Arumi.
Tanpa berkata apa pun lagi, Aldo terlihat berlari ke dalam kamarnya. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan menuangkan air di dalam bathtub hingga penuh.
Berbeda dengan Arumi yang langsung membuka lemari pendingin, dia mengambil bongkahan es batu dan langsung berlari untuk menyusul Aldo.
Dia langsung memasukkan bongkahan es batu tersebut ke dalam bathtub, sehingga air yang dipakai Aldo kini terasa sangat dingin.
Aldo langsung merendam tubuhnya di dalam air es tersebut, akan tetapi walaupun seperti itu Aldo tetap saja merasa kepanasan dan kesakitan.
Dia bahkan terus saja merintih di sela aktivitasnya, wajah Arumi bahkan sampai pias saat melihat wajah Aldo yang seperti itu.
"Mas tenang ya, aku akan menelpon temanku untuk mengantarkan obat ke sini," kata Arumi.
Arumi langsung mengambil ponselnya, dia menghubungi salah satu suster di sana agar mengantarkan obat untuk Aldo.
"Sakit, Yang. Panas!"
__ADS_1