
Arumi terlihat mengerjapkan matanya, dia merasa jika tenggorokannya sangat kering. Terasa sangat haus sekali, dia ingin segera minum.
Karena memang dari semenjak dia datang, dia sama sekali tidak minum. Dia langsung mengantar pak Didi ke dalam kamarnya, lalu dia segera beristirahat.
Arumi terlihat bangun dengan sangat perlahan, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Lalu, dia mengambil ponsel yang berada di atas nakas.
"Baru pukul satu malam," kata Arumi lirih.
Sebenarnya, Arumi sangat malas sekali untuk turun dari tempat tidurnya. Dia juga begitu malas untuk mengambil air ke dapur.
Namun, karena tenggorokannya benar-benar terasa sangat kering, akhirnya Arumi memutuskan untuk pergi ke dapur.
"Haus, ya, Sayang." Arumi berjalan seraya mengelusi perut ratanya.
Tiba di dapur, Arumi langsung membuka lemari pendingin. Lalu, mengambil sebotol air mineral. Dia duduk di salah satu bangku yang ada di sana dan segera menenggak air mineral tersebut.
"Ah, segernya." Arumi mengusap tenggorokannya yang terasa basah.
Untuk sesaat Arumi terdiam, dia memikirkan keadaan Aldo yang kini tengah jauh dari dirinya.
Apakah Aldo bisa tidur lelap tanpa ada dirinya? Atau, dia malah merasa bebas karena tidak ada dirinya?
Banyak pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya, tapi ada juga rasa bersalah yang menyeruak di dalam hatinya.
Namun, dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Karena pak Didi begitu bersikukuh untuk tidak mengizinkan Aldo untuk tinggal bersama dengan mereka.
"Semoga saja bapak bisa secepatnya menerima keberadaan kamu, Mas. Semoga bapak bisa segera memganggap kamu sebagai menantu di rumah ini," kata Arumi.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan berasal dari pintu belakang, pintu yang biasa digunakan untuk keluar dari dapur menuju taman belakang.
Untuk sesaat Arumi terdiam, siapa pikirnya yang tengah malam seperti ini mengetuk pintu?
Karena seingat Arumi, di luar tidak ada siapa pun. Bi Nani juga hanya datang di pagi hari dan akan pulang sore hari setelah selesai bekerja.
Arumi jadi berpikir, mungkin Arumi hanya sedang berhalusinasi. Karena dia terlalu asik dengan lamunannya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Kembali terdengar suara ketukan pintu, Arumi sampai tersentak kaget dibuatnya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan mengelus-ngelus dadanya.
Setelah merasa cukup tenang, Arumi langsung melangkahkan kakinya menuju pintu belakang. Cukup lama dia terdiam di sana menatap pintu tersebut.
"Siapa?" tanya Arumi.
"Bi Inah, Nyonya." Terdengar jawaban dari luar.
Dahi Arumi terlihat mengernyit kala mendengar nama bi Inah, bukankah bi Inah berada di rumah Aldo?
Lalu, kenapa dia mengetuk pintu di rumah pak Didi? Apalagi ini tengah malam, kenapa juga bi Inah datang ke sana dan datang Lewat pintu belakang?
"Kenapa Bibi datang malam-malam?" tanya Arumi terheran-heran.
"Saya disuruh tuan Aldo, saya disuruh memberikan makanan kepada Nyonya. Takutnya Nyonya lapar tengah malam," kata Bi Inah.
Kembali Arumi terdiam, dia sedang berpikir. Apakah benar itu bi Inah? Atau, maling yang mencoba untuk masuk tapi berpura-pura sebagai bi Inah?
Namun, Arumi kembali berpikir. Mana mungkin ada maling yang berpura-pura menjadi bi Inah, ini di kediaman pak Didi. Bukan di kediaman Aldo, pikirnya.
Tanpa berpikiran buruk, akhirnya Arumi membuka pintu belakang tersebut. Benar saja, ketika pintu dibuka, nampak bi Inah sedang berdiri dengan membawa rantang di tangannya.
Dia merasa sangat heran, kenapa wanita itu berpenampilan seperti itu. Padahal, saat sedang di rumah Aldo, dia selalu memakai daster seperti ibu-ibu pada umumnya.
"Kenapa Nyonya? Kenapa Nyonya malah lihat saya seperti itu?" tanya Bi Inah.
Arumi terlihat mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin dan juga merinding, lalu dia tersenyum canggung ke arah bi Inah.
"Ah, tidak apa-apa, Bi. Hanya heran saja, kenapa Bibi memakai kebaya seperti itu?" tanya Arumi.
Bi Inah terlihat tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Arumi, raut wajahnya berubah menjadi sendu.
Arumi menjadi tidak enak hati dibuatnya, dia merasa kalau ucapannya sudah menyinggung perasaan dari bi Inah.
"Hanya sedang ingin, Nyonya. Soalnya malam ini adalah tepat di mana dulu suami saya meninggal, ini adalah kebaya pengantin saya," kata Bi Inah.
"Oh, maaf, Bi. Kalau saya menyinggung perasaan Bibi," kata Arumi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Dari tidak kita berdiri terus, kaki saya pegel," kata Bi Inah.
__ADS_1
"Oh! Maaf, Bi. Mari masuk," ajak Arumi.
"Bagaimana kalau kita duduknya di bangku taman belakang saja? Rasanya kalau di dalam gerah, Nyonya. Enakan di luar, ayo!" ajak Bii Inah.
Untuk sejenak Arumi terdiam, haruskah malam-malam seperti ini duduk di bangku taman, pikirnya.
"Memangnya kenapa nggak di dalam saja, Bi? Kan, ada ac-nya," kata Arumi mencoba bernegosiasi.
"Ac tidak bagus untuk kesehatan, Nyonya. Kalau di luar kan enak, kena angin. Ayo," ajak Bi Inah lagi.
Padahal, menurut Arumi terkena angin malam itu lebih tidak sehat lagi. Karena bisa menyebabkan masuk angin, meriang dan pilek juga batuk.
Berbeda dengan hanya terkena Ac saja, hanya kulit yang akan terlihat lebih keriput. Lagi pula kalau di dalam rumah lebih aman pikirnya.
Namun, karena tidak enak hati terhadap bi Inah, akhirnya Arumi menurut. Mereka berdua duduk di bangku taman belakang, lalu bi Inah terlihat membuka rantang yang dia bawa.
Nampklah mie Jawa kuah pedas yang terlihat begitu menggugah selera. Arumi bahkan sampai menelan ludahnya, karena merasa ingin segera mencicipi mie tersebut.
"Wah, mie jawa kuah peda. Aku sangat suka, Mas Aldo masih inget aja kalau lagi pacaran dulu kami sering beli ini. Boleh aku cicipi?" tanya Arumi.
"Langsung di makan juga boleh," jawab Bi Inah.
Arumi tersenyum, kemudian dia mengambil rantang beriisikan mie Jawa kuah pedas dari tangan bi Inah, dengan tidak sabarnya Arumi langsung melahap mie tersebut.
Bi Inah tersenyum menyeringai, tidak lama kemudian wajah bi Inah berubah menjadi wajahnya Nyai Ratu.
Arumi tidak menyadari hal itu, karena dia terlalu asik memakan mie yang menurutnya adalah mie Jawa kuah pedas, padahal yang ada di rantang tersebut bukan mie.
Namun, cacing yang terlihat menggeliat-geliat karena cacing-cacing tersebut masih hidup. Cacing segar yang berlumuran kuah lumpur yang terlihat menjijikan.
****
Masih berlanjut....
Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Selamat menikmati hari libur kalian juga.
Sebenarnya, Othor pengen banget bab ini tadi malam di up. Namun, Othor merinding sendiri saat mengetik bab ini. Jadi, Othor baru up bab ini sekarang.
Hehe, Othor ini sebenarnya penakut. Tapi merasa tertantang untuk membuat genre horor, kebetulan kisah ini juga pernah terjadi di kampung sebelah. Jadi, ngga halu-halu banget.
__ADS_1