Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Hasad Tersembunyi


__ADS_3

Brukk!


Pintu terdorong keras, Juju langsung melangkah ke kamar Nilam. Terdorong perasaan tidak enak ia tadi kembali ke sini. Segera terlihat olehnya Suci duduk di samping Nilam, menepuk pelan pipi gadis itu.


Juju mendekat melihat Nilam tegak di tempatnya dengan mata membulat, lalu memegang perut terbungkuk seperti menahan mual.


“Loe kenapa, Ni?” Juju mendorong Suci yang tergeragap bingung melihat keadaan Nilam, agar menjauh.


“Hoekk!”


Nilam terbungkuk menekan perut yang terasa bergelombang, ada sesuatu bergerak naik ke dada. Juju membuka plastik yang diambil dari meja dipasang ke pangkuan Nilam. Dengan sabar menepuk-nepuk punggung, sembari memijit ringan bahunya berharap mual Nilam berkurang.


“Kalau ada apa-apa sama Nilam elo harus tanggungjawab!” ancam Juju pada Suci, yang ia tahu ada di belakangnya.


Suci memang berdiri di sudut, merapat pada dinding. Pisau kecil yang sempat disembunyikan di dalam baju tadi kembali diambil, tubuhnya gemetar menahan ada yang panas masuk ke gendang telinga. Merasa ada suara yang


mengalir dari kejauhan, bukan suara lelaki tua itu. Bukan. Suci merasa ini seperti api di dekat telinga.


Lekas ia beranjak ke dapur, merasakan panas makin merambat ke seluruh tubuh. Setelah menyimpan pisuu di meja dapur, ia makin gelisah, mondar-mandir tak jelas sambil menutup telinga.


Beberapa menit lalu ….


Juju yang sedang patah hati melangkah gontai menahan panas di wajah. Selain malu ia juga merasa tak menarik jadi laki-laki, sudah lama berusaha mengambil hati Nilam, tetap saja dianggap sebagai teman oleh gadis itu.


Ia masuk ke halaman rumah Babe. Di luar tumben sepi, biasanya ada Mang Didin, Pak Min atau Babe duduk-duduk menanti Dzuhur yang sebentar lagi tiba. Juju putuskan masuk akan meminta minum demi membasahi


tenggorokan yang kering akibat kekecewaan mendalam.


Ternyata begitu rasanya katakan cinta tapi tak ditanggapi. Nyeri, sesak. Juju pun baru merasakan.


Lamat-lamat Juju mendengar suara dari ruang belakang yang dijadikan mushola untuk keluarga dan para pekerja di rumah Babe salat, juga kadang jadi tempat mengaji bersama. Ruangan ukuran lima kali empat meter, di dekat kolam ikan mini berbatasan dengan tembok penghalang dengan kos belakang.


Rupanya semua orang berkumpul di sana, juju mendekat. Makin mendengar jelas ada suara bening begitu syahdu mengalunkan ayat suci. Suara itu begitu fasih, seperti murottal yang sering didengarnya. Sanggup membuat hati bergetar.


Tampak semua yang berkumpul di situ hening dalam khidmat mendengarkan.


Siapa itu? tanya hati Juju melihat punggung lebar seorang berbaju koko coklat muda, duduk bersisian dengan Babe.


Mang Didin yang duduk di sebelah Juju segera membisiki, kalau itu adalah abangnya Hanif Fakhri baru datang tadi pagi dari Kairo. Mereka bercerita banyak tentang kejadian yang menimpa Nilam, makanya sejak tadi Hanif mengaji, dan tanpa diundang mereka berkerumun mendekat, karena suara pemuda itu terasa enak didengar, kata Mang Didin. Juju mengangguk-angguk setuju, suara Hanif memang sangat bening mendayu, napasnya bisa panjang tanpa terdengar tersendat.


Ia baru tahu kalau sepupunya itu sudah kembali.


Mungkin ini jalan untuk membantu Nilam, pikirnya. Begitu ingat nama Nilam, ada perasaan tak enak menelusup.


Ada Suci di kamar Nilam … bodoh kenapa tadi pergi?! Rutuknya pada diri sendiri. Sontak Juju segera berbalik kembali ke belakang.


Benar saja, di sini Nilam belum aman. Sekarang gadis itu semakin tak bisa menahan sesuatu yang mendesak akan keluar dari mulutnya. Juju sigap memasang plastik di depan mulut gadis itu. keluarlah semua bersama tetesan keringat berjatuhan dari pelipis Nilam.


Juju membelalak begitu melihat benda apa yang keluar dari mulut Nilam. Seperti nasi bercampur ulat hitam cukup besar. Bergidik pemuda itu segera mengikat mulut plastik.


Nilam terlihat lega, tak ada lagi yang bergejolak di dalam sana. Kembali ia menyandarkan punggungnya pada bantal.


“Haus …," gumamnya lemah.


Juju segera bangun, membuang plastik itu ke tong sampah depan kamar, lalu kembali membawakan Nilam segelas air.  Segera Nilam habiskan.


Juju mengusap pelipis si gadis yang berkeringat dengan tisu.

__ADS_1


“Apa ada yang sakit?”


“Gak ada, Ju. Kenapa belum berangkat?” Rupanya sudah kembali seperti semula, ini nada suara lembut khas Nilam. Juju merasa lega.


“Nanti aja tunggu mepet jam ganti shift …” Berjongkok lebih dekat menyamakan tinggi dengan Nilam, Juju berkata lagi, “Maaf tadi ninggalin loe, gue sudah gak pa-pa, kok. Kita masih teman baik ‘kan?


Nilam mengangguk dengan senyum di bibir. “Kamu teman terbaikku, Ju," ucap Nilam. Lalu seperti teringat sesuatu gadis bermata bulat itu menyapu pandang ke sekitar. “Eh, Suci mana?”


“Di belakang paling,” jawab Juju asal. Padahal tadi pas ke dapur ia tak melihat Suci di sana.


Biarin pergi tu orang, kalau perlu hilang sekalian! umpatnya dalam hati.


“Tapi kamu gak apa-apain dia ‘kan, Ju? Suci itu kawanku dari kecil.” Mata Nilam melihat pada Juju dengan raut memohon.


“Iya, gak gue apa-apain. Udah mau azan, tuh, gue ke depan dulu. Loe kalau kuat bangun salat juga, ya.”


Juju keluar akan ke rumah Babe, jamaah dengan yang lain.


Sementara itu, Suci merasakan panas yang belum reda. Ia sejak tadi masuk ke kamar mandi sesekali mengusap permukaan kulit di sekitar telinganya dengan air bak.


Terlebih saat Nilam memaksakan diri salat dengan bertayamum karena masih merasa lemah untuk berdiri. Suci merasa kian tersiksa telah ada di ruangan itu.


Kamu harus selesaikan tugasmu!


Suara itu terus menggema bercampur panas yang dirasakan telinga Suci.


Tak lama, Juju kembali ke kamar Nilam selepas salat. Ia membawa makanan dari Maemunah dan kertas berisi bacaan ayat ruqyah yang diberi Hanif tadi. Nilam harus bisa membentengi dirinya sendiri, menguatkan iman, begitu pesan abangnya itu untuk disampaikan.


Setelah memberikan pada Nilam dan pamit akan berangkat ke restoran, Juju sempatkan ke belakang. Penasaran di mana keberadaan Suci yang seolah menghilang.


Pemuda itu mengendap, mendekatkan mata ke celah pintu.


Tampak rambut panjang mengapung di dalam bak air setinggi lebih dari satu meter itu. Mata Juju membelalak,


jantungnya berpacu cepat.


Rasa takut disalahkan Nilam kalau tahu temannya itu sampai mati tercebur. Bisa-bisa dikira Nilam ia yang membunuh.


Pemuda itu mengatur napas panjang-pendek, semua seperti mimpi dalam pandangannya.


Ia melangkah maju perlahan, memastikan penglihatan.


Detik yang sama wajah tertutup rambut itu mendadak muncul ke permukaan.


“AAAAAA!!”


Juju terkesiap sampai jatuh ke lantai setelah munubruk pintu kamar mandi.


 Suara hempasan daun pintu dan tubuh Juju yang menghentak, mengagetkan seseorang berambut panjang di dalam bak. Tangan menyibak rambut yang menutupi wajah, melihat pemuda tampan memandangnya ketakutan.


“Astaghfirullah, gue kira loe mati. Sial!” Juju mengumpat sambil kembali berdiri.


Ia mundur keluar kamar mandi.


“Ada apa?” Nilam muncul dengan langkah pelan menyusuri dinding.


Dua orang itu mengkaku belum siap menjawab. Suci kemudian berdiri, berusaha keluar dari dalam bak. Kulitnya mengkerut dan memucat akibat terlalu lama berendam.

__ADS_1


Melihat itu, Nilam membulatkan mata pada Juju.


“Juju, kamu apain Suci?!” tanyanya sambil melotot.


“Dia sendiri tuh yang masuk di situ. Hati-hati, Ni, kawan loe ini aneh!” kata Juju dengan nada tak suka. Matanya mendelik melihat Suci yang menggetar memeluk badan. Perempuan itu terlihat kedinginan.


“Suci?” Nilam melangkah maju, meraih handuk miliknya digantungan, untuk dipakai Suci.


Ia meminta sahabatnya itu cepat berganti dan akan mengambilkan pakaian ganti untuknya.


“Weleh, paling cuma pura-pura. Biar loe kasian itu, Ni,” Juju mengejek cara Suci yang terlihat tak menyimpan rasa bersalah.


Ia yakin makanan berulat yang dimuntahkan Nilam tadi itu pasti pemberian Suci. Kalau jadi suami Nilam sudah ia perintahkan perempuan itu segera pergi dari sini.


Sayangnya, Juju bukan siapa-siapa selain teman.


Nilam tak mengubris ocehan Juju, ia ke kamar mencari pakaian dalam tas Suci untuk berganti. Sekilas gerakannya terhenti, tertegun pada isi tas itu.


Urung mengambil pakaian Suci, kemudian Nilam membuka lemarinya, mengambil kaus berlengan panjang dan celana kain, membawanya ke kamar mandi.


“Ganti pakai ini aja, Ci,” gumamnya pelan sembari menyodorkan ke tangan Suci yang membuka sedikit pintu.


Langkah terseret Nilam lemah kembali ke kamar. Juju tanpa kata siaga berada di sisinya.


“Sudah, Ju. Kamu berangkat aja. Nanti terlambat gak enak sama Tuan Hwa.”


Juju menahan lengan Nilam, mengarahkan gadis itu menghadapnya. “Gue khawatirin loe, Ni. Kayaknya gue


nggak bisa berangkat sebelum loe suruh perempuan itu pergi. Loe-“


“Ju, tenang aja, aku nggak akan pa-pa,” Nilam menyela, mata sayunya mengarah lurus pada Juju. “Pesan


Bang Hanif akan aku lakukan sebisa mungkin. Aku nggak mau kamu ikutan sakit gara-gara khawatirin keadaanku.”


Beberapa saat mereka  bersitatap tanpa kata.


“Loe, yakin?” tanya Juju setengah berbisik.


Selain rasa sayang, juju juga merasa sesal tak bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Nilam dari jeratan ilmu hitam di tubuhnya. Meski kalung itu sudah dibuang, Nilam belum akan lepas dengan kehadiran temannya itu di sini. Entah apa lagi yang akan terjadi, karena sesuatu yang tak terlihat sulit untuk dibuktikan.


Telapak tangan lebar Juju merangkum pipi Nilam. “Jaga diri loe baik-baik, Ni.”


Anggukan dan senyum kecil Nilam sedikit menenangkannya. Juju pamit setelah mengusap pucuk kepala gadis itu.


Setelah berganti pakaian tadi, diam-diam mata Suci mengawasi mereka dari balik tembok.


Terlihat sekali betapa mudahnya Nilam disayangi ....


Sempat mengira Juju akan marah dan membenci gadis itu atas penolakan cintanya, ternyata Suci salah. Dadanya menyesak menyimpan hasad.


Tugasku harus selesai! Pekik hatinya.


Bersambung ….


Maaf kalau banyak kesalahan tulisan ya, ini lagi kurang fit. Mohon dukungan like, atau vote kalau berkenan biar aku makin semangat up tiap hari.


Makasiih *\,*

__ADS_1


__ADS_2