
Hwa menahan tubuh Nilam yang ditarik oleh seseorang dengan sekuat tenaga, sambil berteriak-teriak mengusir siapapun yang melakukannya.
Saat bersamaan muncul sebuah nyala lampu dari kejauhan, bertepatan dengan terlepasnya Nilam dari cengkeraman. Hwa mendekap Nilam yang ketakutan sambil menanti cahaya itu mendekat.
“Tenang … kamu nggak apa-apa,” kata Hwa berulang.
***
Lelaki tua yang terkurung dalam gelap sekitar pohon rimbun itu telah tampak tak berdaya. Ia merasa tak sanggup menguasai gadis itu, tubuhnya terbungkuk menopang tangan di tanah.
Sebuah bayangan cepat kembali muncul di hadapannya. “Hanya itu kemampuanmu? Hahahaa, terima saja akibatnya!” Bayangan itu pergi tak menghiraukan erangan kesakitan dan panas dari lelaki tua yang duduk di antara akar besar.
Dari pemilik tubuh yang bisa menghilang dan muncul tiba-tiba itu keluar serapah penuh amarah. Ungkapan sesal memakai lelaki tua yang dianggapnya tak becus itu. Awalnya ia berharap kemampuan gaib yang dimiliki lelaki tak berdaya itu bisa menarik jiwa korban semudah seperti sebelumnya.
Kali ini ia memilih menggunakan caranya sendiri. Selama tanda itu belum hilang, target masih tak akan bisa lepas.
Tawanya membahana membelah hutan. Para binatang malam yang masih terjaga mengeluarkan pekik terkejut dan burung-burung spontan beterbangan menjauh.
***
Ini malam kedua di rumah Babe diadakan doa bersama, dan khatam Qur'an bersama dua puluh anak pondok pesantren Hafiz Qur'an milik Kyai Hamid, gurunya Hanif. Khusus diniatkan untuk keselamatan perjalanan Hanif dan teman-teman.
Ide berawal dari kekhawatiran Babe dan istri saat keberangkatan putranya mengantar Nilam ke kampung. Kondisi Nilam yang masih terpengaruh gangguan makhluk tak kasat mata membuat Babe segera menghubungi Kyai Hamid, meminta tolong bisa hadir memimpin doa. Berharap permohonan yang mereka panjat bersama itu terkabul, Hanif dan teman-temannya kembali pulang dengan selamat.
***
Di sebuah rumah papan seorang perempuan berambut panjang meringkuk di lantai. Ia terisak di sana sejak semalam sampai pagi ini. Mata basahnya memandang buram pada dua tas gemuk di depannya. Tak ada cahaya di sana, batinnya sedang bertarung melawan sesal dan ambisi.
Gagal. Kamu yang akan mati!
Teringat kalimat lelaki tua itu memenuhi kepalanya, sebuah ancaman jika ia tak segera membantu menyerahkan korban.
Gema suara itu telah melemah di telinganya, tak seperti kemarin. Mungkin ini karena ia bisa membawa Nilam pulang kembali ke kampung ini.
Atau … mungkinkah karena Nilam sudah …?
Suci tak berani melanjutkan perkiraannya. Sekarang apa yang sudah ia dapat tak sebanding dengan kebaikan temannya itu.
Matanya kembali menatap dua tas penuh miliknya.
“Ni … maafin aku ….”
Air mata Suci belum berhenti mengalir, kebahagiaan yang sejak kecil ingin diraihnya ternyata sulit tergapai dan … terpaksa harus mengorbankan temannya sendiri.
Belum pernah ia rasakan perhatian tulus sejak masa kecil, kecuali dari Nilam dan Mak Lumpit. Kini, teman terbaik yang ia punya itu telah dikorbankan. Mata perempuan ini terpejam kuat, merasakan diri sebagai manusia paling jahat di bumi.
Tangan kasar dan kering itu menggapai tas ransel lusuh yang dibawanya ke kota. Ia merogoh dalamnya, sebuah batu hitam tertuliskan nama Ki Arya Diraja. Itulah yang membuat Nilam tahu ia bagian dari semuanya.
Suci meremas benda itu, giginya gemeretuk merasakan kesal mendalam. Merutuki diri dan pertemuannya dengan dua lelaki tua itu.
Penuh rasa sesal ia melempar batu itu sembarang.
”Aww!” Suci terkejut mendengar suara orang lain di rumahnya.
Perempuan itu terbeliak, tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.
“Ni-Nilam??” Suaranya tertahan. Batu yang ia lempar tadi mengenai sedikit lengan gadis di depan pintu biliknya. Gadis itu tampak kusut, mata sembab dan wajahnya pucat.
Suci segera bangkit berdiri. Serta merta ia hendak menyentuh dan memeluk Nilam, tapi ditepis gadis itu dengan roman datar.
Wajah Nilam kaku, sorot mata sembab itu menyala. “Nggak nyangka kamu tega, ya, Ci.” Ia mencengkeram
lengan temannya itu. “Kamu sengaja bawa nama Mak supaya aku ke sini, kan?! Sekarang Bang Hanif sama Juju menghilang. Itu semua gara-gara kamu!” Di sela kalimatnya air mata Nilam mengalir.
“Hilang?! Ni, ak-“
“Kamu harus tanggung jawab, di mana Juju dan Bang Hanif?!” ketus Nilam mengguncang badannya. Suci hanya bisa menganga.
“Iya, di mana mereka?” Tambah Hwa yang baru muncul di belakang Nilam. Ia tadi diam-diam menyusul, gadis ini pergi sebelum makan sarapan yang Mak siapkan.
Ia dan Hwa selamat dari penculikan, saat Supri dan temannya lewat. Para pemuda itu pulang dari kecamatan. Mereka tahu ada mobil yang mogok di tengah jalan dan tak ada orang di sekitarnya.
Sesampainya Nilam di rumah, ternyata Mak sehat tanpa kurang suatu apa pun, Nilam bersyukur. Hanya semalaman ia kurang bisa tidur, meski kelelahan. Waktu diisi untuk mendoakan keselamatan bagi Hanif dan Juju yang belum diketahui kondisinya. Tak sanggup ia membayangkan kalau dua temannya itu menghilang selamanya.
Supri dan teman-teman membantu mereka melaporkan kehilangan pada warga lain. Semua akan membantu melakukan pencarian mulai pagi ini.
Gadis ini menahan kecewa yang sangat atas kebohongan Suci mengenai Mak. Jebakan temannya itu membuat dua orang terdekat ikut menjadi korban.
“Aku boleh kamu sakiti, Ci, tapi jangan teman-temanku. Mereka nggak salah,” sergah Nilam.
Suci menggeleng. “Nggak, Ni. Aku hanya tau dari bisikan lelaki itu. Dia yang bilang mau nyerang, Mak. Selebihnya aku nggak-“
“Lelaki siapa?” Hwa melangkah maju.
Suci terlihat ragu akan bercerita, sebelum membuka mulut ia memandangi Nilam sejenak. Tak menampik ada rasa lapang di hatinya melihat Nilam baik-baik saja. Walau ia tahu, nyawa gadis itu masih akan terus terancam.
__ADS_1
Ia katakan tentang dua lelaki yang memperdalam ilmu penghilang raga. Namun Suci tak mengenal jelas siapa saja, sebab ia ditemui hanya saat malam hari. Akibat janji ikut membantu mereka, ia mendapat
petunjuk melalui bisikan. Hanya nama Ki Arya yang diketahuinya, tapi Suci juga belum bisa pastikan, karena tak mengenal langsung.
Nilam tak percaya atas apa yang didengarnya. Matanya membulat, tak menyangka sahabat kecilnya itu
memiliki rahasia semengerikan begini. Terlibat mencari tumbal! Nilam bergidik ngeri.
“Ikuti aku!” ajak Suci cepat bergegas keluar.
Ia tak peduli lagi, Nilam harus tahu semua dan sekarang saat bantuannya diperlukan, meski kemungkinan kecil bisa menolong.
Sebelum mengikuti perempuan itu, Nilam dan Hwa berpandangan, antara harus percaya atau tidak pada Suci.
Rambut Suci yang kusut masai bergerak-gerak terkena terpaan angin, saat berlari ke arah telaga. Begitu sampai, ia menyapu pandang ke sekitar, seakan mencari seseorang di sana.
“Kami mencari Hanif dan Juju. Kenapa ke sini? Mereka hilangnya di hutan,” terang Hwa kebingungan melihat Suci gelisah tak menemukan siapa pun.
“Orang yang menyuruhku itu biasa di sini,” jawab Suci kembali berlari akan memasuki hutan. Saat Nilam akan mengikuti, Hwa menahan tangannya.
“Biarkan saja, dia kayaknya aneh. Bisa-bisa ini jebakan lagi,” cetus Hwa membuat Nilam menahan diri.
Keduanya memutuskan kembali pulang ke rumah. Nilam terus berharap warga yang mencari Hanif dan Juju segera membawa kabar baik.
***
Suci terus berlari ke arah hutan, seseorang yang ia cari belum juga ditemui. Ia pernah dibawa ke hutan ini saat purnama kala itu.
Lelaki tua itu pasti ada di sekitar sini, pikirnya.
Mata kecilnya awas menyapu ke sekitar. Sebuah bayangan hitam melesat, mengitari tubuhnya beberapa kali baru berhenti. Lelaki berpakaian hitam dengan kumis dan jenggot tipis itu berdiri membelakanginya.
“Kamu juga payah! Kalian sama saja!!” ejek suara berat itu. Suci hanya menatap punggungnya dengan mata menyipit.
“Mana teman-teman Nilam?!” Lelaki jahat ini yang Suci tahu menjadi akar kejadian ini.
“Hahahaa. Apa urusanmu? Kalian tinggal menyerahkan satu nyawa dan semua beres!” Tatapan lelaki itu
tajam berkilat ke arah belantara. “Kamu ndak akan bisa menikmati semua, sebelum temanmu itu lenyap. Ingat itu!!”
Baru Suci membuka mulut, dalam sekali putaran angin lelaki itu melesat pergi dan menghilang.
Suci terpaku berdiri di tempatnya. Perasaannya berkecamuk, penuh tekanan dan rasa penyesalan mendalam. Betapa mengikat janji dengan manusia setengah iblis itu telah membawanya hidup dalam belenggu. Rasa bersalah dan ketidaktenangan justru selalu mengejar.
Air mata mengalir kemudian semakin deras dan menyesakkan dada. Napas Suci tersengal dalam isak.
Bumi yang dipijaknya serasa melayang, pepohonan sekitar seolah berputar cepat mengitari tubuhnya, membuat perempuan muda itu pusing dan limbung.
Suci terduduk, air matanya membasahi tanah dan daun kering yang ia remas penuh amarah.
Kembali terbayang dosa yang pernah ia lakukan, tergambar jelas, meski matanya terpejam. Seperti layar
besar film yang membuatnya melihat jelas perbuatan diri sendiri.
“Ayolah, manis. Kemari.” Lelaki tua itu bisa tiba-tiba hadir dan membawa raganya berpindah dalam gelap. Jemari kaku dan kasar itu menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuan.
Seperti dalam pengaruh yang tak bisa terlepas ia begitu patuh. Tangan itu mendekapnya dari belakang.
Suara seraknya lemah, sangat dekat. Bulu pendek dari kumisnya menempel di telinga perempuan itu.
“Kau akan mendapat semua yang kau mau ….”
Tangan lelaki itu meraih cermin bergagang kayu coklat tua. Segera saja perempuan muda itu memandang pantulannya. Ia sempat merasa aneh, bagaimana dalam kondisi gelap bisa melihat jelas dirinya. Akan tetapi itu segera ditepis.
Ia terlena menikmati wajah rupawan itu. Bintik hitam yang membuat wajahnya menua telah hilang, berganti kulit putih mulus, bercahaya. Kerut di bawah mata yang cekung itu pun terlihat kencang dengan matanya bersinar.
Suci merayapi perlahan setiap bagian wajahnya. Senyum puas mendapatkan apa yang ia damba.
“Yang di dalam peti itu juga untukmu ….” Kembali lelaki tua berbisik dengan mulut sedikit menyentuh pipi perempuan yang belum puas mematut diri itu.
“Apa itu?” tanyanya tanpa memalingkan wajah dari kaca.
“Lihat saja.” Diberi kata semacam teka-teki, Suci segera mengalih pandang. Sebuah peti kayu tergeletak
di depannya, samar terlihat karena ada cahaya dari isinya menembus keluar. Sejak tadi ia tak menyadari adanya benda itu.
Suci turun dari pangkuan lelaki tua. Setelah membuka peti matanya membulat dengan mulut menganga sempurna.
Apa yang tampak di depan mata menggiurkan nafsu dunianya. Sejak lama ia mendamba bahagia. Harta dan kecantikan, dalam bayangannya kesemua itu pasti membahagiakan.
Ia menahan pekik girang dengan menangkup mulut sendiri, sebab sebentar lagi akan memiliki segalanya. Hatinya meloncat tak terkira.
Namun, sejenak terhenti, saat lelaki tua kembali merapat ke tubuhnya dari belakang. “Cuma, kamu harus setujui syaratnya ….”
Suci menganga setelah syarat yang diberikan sungguh berat. Akan tetapi, sebab termakan bujuk rayu lelaki tua itu, ia mengangguk pelan. Prosesi pengikatan perjanjian itu yang sekarang membelenggunya.
__ADS_1
Air mata berlinang perempuan ini sekarang menyesali nafsu yang menjerat. Ia tersungkur di tanah, pipinya menempel pada rumput dan dedaunan kering, kukunya mencakar semua yang tersentuh jemari. Amarah dan sesal yang terlambat.
Bukan kebahagiaan yang didapat, justru ia merasa telah menjadi manusia paling kotor dan tak berguna yang hidup di bumi.
Menjelang sore, perempuan itu melangkah gontai kembali ke rumah. Ia tak bisa melakukan apa-apa untuk membatalkan semua. Nilam, sahabat kecilnya telah tertanda ….
Sesampai di depan rumah sederhana peninggalan ibunya, seseorang yang sangat dikenal telah menunggu. Tatapannya masih sama, tajam dan kaku. Hati Suci teriris, ia akan benar-benar kehilangan cinta akibat semua ini.
“Bang Hanif dan Juju belum ditemukan. Di mana mereka?!” Nilam menarik lengan Suci yang berjalan seolah boneka hidup, melewatinya tanpa kata.
“Suci?!”
“Jangan panggil aku dengan nama itu!!” Suci membalas tatapan temannya itu tajam. Bola matanya basah. “Aku nggak pantas, Ni. Nggak pantas ….” Bibirnya gemetar meski ia gigit keras. Darah yang keluar dari bibir mengalir, tak dihiraukannya.
“Aku hancur, nggak pantas hidup lagi,” sedunya setelah masuk, seraya melangkah ke bilik. Nilam terpaku di
tempat berdiri, tangannya berpegangan pada pintu.
Suci keluar kamar, dua buah tas tangan berbahan kain ia seret ke depan Nilam. Ditumpahkan semua isinya
ke lantai.
Mulut Nilam menganga lebar, tampak emas dan perhiasan berwarna kuning menyala. Dahinya berkerut
mencoba memindai kebenaran penglihatannya.
“Aku nggak mau semua ini, Ni. Nggak mau! Aku ingin bahagia … hanya itu!” raung Suci kembali tersungkur di lantai. “Mengapa hidupku nggak adil, kenapa begini?!” Perempuan muda itu berkata sendiri sambil menarik-narik rambut panjangnya yang kusut. Ia mengerang pilu tak henti, menyatakan sesal terdalam pada Nilam.
“Ci?” Nilam berjongkok menyentuh pundaknya pelan. Suci terus menangis, ia menjambak rambutnya. Nilam terdiam, menarik napas panjang-pendek memikirkan kata yang hendak diucap.
“Sesalmu nggak penting, Ci. Aku hanya mau teman-temanku kembali,” ucap Nilam datar, berusaha menahan iba. Ia takut ini hanya akal-akalan temannya itu lagi.
“Aku coba pahami kamu yang berubah sejak lama, menganggap kita masih sama, berharap kamu masih
seseorang yang dulu kukenal. Nyatanya, semua berubah, aku nggak paham pikiranmu, Ci. Kamu mau aku mati gara-gara harta itu?”
Nilam duduk di sampingnya. Menyapu pandang pada isi rumah sederhana itu. Dulu, ia cukup sering bermain bersama di ruang ini.
“Aku hancur, Ni … suami ibuklah membuatku begini ….” Nilam cepat memaling pandang, ditatapnya Suci
dengan saksama. Perempuan bertubuh tinggi itu terus bicara sambil menangkup wajahnya.
Mengalir cerita tentang orang tua Suci, yang tak pernah Nilam ketahui.
“Mereka mati di tangan ini ….” Suci membuka dua telapak tangan di depan dadanya. “Sa-saat 'setan' itu kembali menggauliku ….”
Nilam tak percaya akan apa yang didengar, matanya membulat berkaca-kaca. Tak ada kata yang bisa ia katakan atas apa yang telah terjadi pada sahabatnya ini.
“Paman?”
Suci menceritakan kalau lelaki yang biasa Nilam panggil paman itu bukanlan bapak kandung. Lelaki bertubuh
tambun itu menikahi ibunya, saat masih tinggal di kampung lain. Ia anak dari benih lelaki yang tak jelas.
Setelah Suci semakin besar, lelaki itu tega merusak hidupnya. Ibuk yang tak terima, menyebabkan pertengkaran dan kekerasan menjadi hal biasa di mata Suci kecil. Hingga saat remaja dan dilarang lanjut bersekolah, Suci mulai berpikir untuk melawan.
Di malam terakhir itu, lelaki juga wanita yang melahirkannya tanpa sengaja menjadi korban setan yang meledak di dalam dirinya. Sebuah rahasia yang tak satu warga pun tahu dan curiga padanya.
Nilam terisak, tangan temannya itu ia pegang erat. Telapak kasar milik Suci basah berkeringat.
“Maaf, aku nggak tahu ….” Suara Nilam tersendat.
Suci tak menjawab tangannya lemah tak membalas genggaman tangan Nilam. Ia merasa tak pantas lagi,
kesalahannya tak termaafkan. Ia melanjutkan, kalau semua itu awalnya terjerumus rayuan lelaki tua yang juga tertarik pada tubuhnya.
Sesaat kemudian, hidung Nilam menangkap bau sesuatu yang terbakar. Dari arah belakang tampak api mulai
melahap dinding, naik hingga ke atap. Sempat tertangkap sebuah bayangan hitam melesat, lalu menghilang menembus keluar.
“Astaghfirullah! Kebakaran?!” Nilam terpekik.
Suci melihat ke arah yang sama. Nilam terpaku kebingungan. Suci menarik lengannya berlari keluar.
Rumah berbahan kayu itu segera saja habis, meski warga berdatangan ingin mencoba memadamkannya.
Suci memejamkan mata, merelakan semua hangus dalam sekejap mata. Perempuan itu terus berlari sambil berurai
air mata, menuju arah telaga berair keruh, tanpa sempat Nilam hentikan.
Bersambung ....
__ADS_1