
Sepulang bekerja, Juju mampir di sebuah toko bunga, ia memilih buket Lily putih berpita merah muda. Setelah membayar, kembali ia pandangi buket itu, menurutnya sama cantik dengan seseorang yang akan diberinya nanti.
Senyum tak hilang dari garis bibirnya, sepanjang perjalanan. Rasa berdesir, mengaduk-aduk isi dadanya, bercampur cemas. Akankah setelah mengulang menyatakan perasaan lagi hubungannya dengan Nilam akan rusak? Namun, ia juga tak bisa menahan rasa yang semakin membesar itu.
Semakin mendekati pagar Babe, kian kencang degup jantungnya. Juju melewati Pak Min dan Mang Didin permisi langsung ke belakang. Sesampai di depan pintu Nilam, ia mendengar suara gadis itu meniru murottal, beberapakali tersendat, tapi terdengar berusaha sangat keras menyebutkan ulang. Juju merasa tersentuh, ia terpacu akan semangat belajar agama lagi seperti Nilam.
Pemuda itu tak ingin mengganggu, ia memilih duduk di selasar, menunggu Nilam selesai. Bunga di tangannya dipandangi, desir halus itu kian menghangatkan hati. Juju makin yakin gadis seperti Nilam itu sangat pantas dicintai.
Juju melempar pandang ke arah lain, di pojok sisi tembok hitam terlihat seseorang asing berdiri mematung, melotot tepat ke arahnya. Jarak lebih dari sepuluh meter dan hari masih senja, ia bisa melihat jelas wujud orang itu.
“Astaghfirullahal’adzhim.” Nyali Juju seperti menciut, setiap beralih pandang matanya kembali bertemu sosok itu.
Juju tak tahu harus apa, ia beranjak, melangkah cepat ke rumah Babe.
“Di mana Bang Hanif, Be?”
“Tadi kembali ke pondok, dipanggil lagi buat ngisi acara anak santri ba’da Magrib.”
“Hei, ke mana lagi, lu?” Juju seperti orang bingung, mendengar pertanyaan Babe langkahnya terhenti di pintu.
“Sebentar, Be,” jawabnya singkat, lalu terburu keluar.
Juju kembali ke belakang, ia berharap apa yang terlihat tadi sudah lenyap. Begitu matanya tertuju ke arah yang sama, sosok itu masih tetap ada di sana, sekali terlihat lenyap kemudian bisa tampak lagi. Bulu kuduk Juju meremang. Ia kembali duduk di selasar Nilam, suara gadis itu masih terdengar seakan tak pernah lelah walau sudah sedikit serak.
Setelah mengatur napas dalam istighfar berkali-kali, ia membuka applikasi My Quran di ponselnya. Berucap isti’adzah dan basmalah, Juju mulai membaca ayat mana saja yang terbuka oleh jarinya. Begitu selesai ia meneruskan ke surah lain hingga terdengar azan.
Saat berhenti matanya kembali pada tempat tadi, sosok lelaki berpakaian hitam itu sudah tak terlihat.
“Ya Allah, siapa itu tadi?” gumam Juju menyimpan kembali ponsel ke saku celana.
“Juju?” Suara Nilam dari pintu membuat ia gelagapan.
“Eh, Ni. Gue ….”
“Kok nggak manggil, udah lama, ya, di sini?” Nilam keluar masih mengenakan mukena pemberiannya. Juju terpana sejenak.
“Eh, Magrib, Ni. Gue salat di rumah Babe dulu.” Juju berdiri, terlupa bunga yang tergeletak di teras.
‘Itu-“ Belum sempat Nilam bertanya, Juju segera mengambil buket tiga pucuk Lily itu, menyerahkan ke tangan Nilam.
“Buat, loe.” Nilam mengambil dengan senyum tertahan, ada geli yang ia rasa Juju tiba-tiba memberi bunga begini. Gadis itu bergantian memandang, antara bunga dan Juju.
Terdengar azan akan selesai Juju harus bergegas sebelum komat.
“Bunga ini tanda cinta gue masih banyak buat loe, gue masih harapin loe mau jadi istri gua, Ni!” Juju berkata cepat, lalu berbalik setengah berlari ke rumah depan.
Mulut Nilam membulat sempurna, tangkai bunga itu digenggamnye erat, jantungnya berpacu cepat. Ia terpaku sesaat, seperti tersihir oleh kalimat Juju. Lagi, Juju ternyata masih mengharap cintanya dibalas.
“Kenapa?” Mak memegang pundak Nilam.
__ADS_1
“Eh, anu Juju, Mak.” Nilam tergagap, lekas membawa bunga itu ke kamar, menaruhnya di meja.
Sejenak linglung, efek kalimat sakti Juju barusan, Nilam malahkembali wudu dan bersegera mengerjakan Magrib.
Di rumah depan, Juju yang menjadi makmum Babe sulit berkonsentrasi. Masih terselip lega bercampur cemas setelah ungkapan perasaannya tadi kembali terucap. Ia hampir menertawakan diri sendiri, yang begitu gugup, terburu-buru, dan dalam kondisi tidak tepat. Rasa cemas juga muncul kalau-kalau Nilam marah dan memutuskan pertemanan karena merasa dipaksa olehnya.
Perasaan Juju benar-benar tak karuan, sangat jelas terlihat di wajah dan gerak-geriknya.
“Kenape lu? Kagak kesambet juga 'kan?” Babe menegur Juju setelah mencium punggung tangannya.
“Hee. Enggak, Be ..." Juju menggaruk kepala yang tak gatal. "Be ... Juki tadi sudah bilang lagi, tapi buru-buru. Bantu doa jawabannye 'iya' ye, Be," pintanya jujur.
“Kapan? Barusan?” Babe cepat tanggap maksud ponakannya ini, pantas Juju tampak aneh, pikirnya.
“Iya, barusan, Be.”
“Nekad juga, lu. Udah ditolak main tembak lagi. Kalah tuh si Hanif mikirnya kelamaan,” kata Babe membuat Maemunah dan Juju serentak mengerut alis.
"Maksudnye apa, Be?" Juju bertanya dengan raut heran.
Jangan-jangan ....
“Bahas Hanif apaan, nih?” tanya Maemunah ikut nimbrung, membuat Babe yang keceplosan bisa mengalihkan perhatian Juju.
“Kagak, Munah. Ini urusan laki-laki. Ape mau gue bilang cinte juge ke elu?”
"Laila itu urusannye ame Nyaknye Juki. Udah sono."
Maemunah pergi dengan manyun karena lagi merasa diusir. Babe terkekeh, sementara Juju menahan senyum geli.
Babe dan Juju melanjutkan obrolan dari hati ke hati. Setelah merasa plong Juju memutuskan langsung pulang, ia belum berani bertemu Nilam dulu. Akan menunggu sampai besok lagi apa jawaban dan tanggapan gadis itu, saat menjemput Nilam yang akan mulai masuk kerja besok.
***
Tengah malam ....
“Nilaaaam, Nilaaaam. Keluuuaaar ….” Suara dari arah jendela kembali membuat tidur Nilam menggelisah.
Tak lama matanya terbuka mendengar suara itu semakin keras dan dekat.
Ia tidak tega membangunkan Mak. Nilam mendekati Dian yang numpang tidur di kamarnya malam ini, gadis berisi itu baring di kasur lantai.
“Di, Di …,” panggil Nilam menepuk lengan Dian.
“Hmm, sudah pagi, ya, Ni?” Setelah bertanya Dian kembali merasa akan lelap lagi.
“Belum. Kamu dengar nggak suara itu?” Lelaki tua di luar terus memanggil Nilam.
Dian membuka mata, mengerjap melihat Nilam. Telinganya dipasang awas. Terperanjat ia spontan terduduk.
__ADS_1
“Iya dengar, suara siapa, Ni?”
Nilam menggeleng.
Dian mengajaknya mengintip, mereka mengendap ke ruang tengah yang lampunya dimatikan. Perlahan Nilam menyingkap sedikit gorden, matanya mendekat ke celah, dagu Dian akan bertumpu di atas kepalanya.
Tampaklah lelaki tua berpakaian hitam tengah melotot ke arah jendela kamar. Untuk masuk ke ruangan itu si lelaki tua sudah tidak bisa, ibadah rutin Nilam di dalam rumah mampu menjadi tameng dari hal gaib yang mengganggu. Penganut ilmu hitam itu hanya mampu meneror Nilam dari luar, menunggu saat gadis itu lengah.
Saat mata besar milik si lelaki tua yang nyaris keluar dari rongganya itu berpindah melihat ke arah kaca tengah, Nilam terkejut, mundur dan menubruk tubuh Dian yang menghalanginya.
“Aww! Siapa??” Dian mendesis, penasaran belum sempat melihat. Gadis itu akan mengintip, sementara Nilam kembali ke kamar.
Begitu membuka gorden, pandangan Dian langsung bertemu pandang
dengan lelaki tua yang melihat ke arahnya.
Dian terpaku di tempat. “Astaghfirullah … audzubillah …astaghfirullah.” Spontan mulutnya berucap apa
saja yang ada di kepala seperti orang latah. Berat kaki Dian perlahan mundur, begitu mendekat pintu kamar ia berlari ke kasur, tempat Nilam yang kembali berbaring menutupi muka dengan selimut.
Dian ikut menyelinap. Kini keduanya gemetar di dalam selimut lebar Dian.
“Ya Allah … siape itu, Ni? Gimana bisa masuk pagar depan?”
Wajah Nilam pun tegang. Baru sekarang ia melihat jelas wajah itu lebih menyeramkan dari lelaki tua yang pernah menemuinya di kampung waktu itu.
Bagaimana orang tua itu ada di sini? Apa karena menganut ilmu gaib sampai bisa lewatin Mang Didin yang jaga?
Nilam pun ceritakan pada Dian kalau mungkin lelaki itu termasuk kelompok orang pemuja set*n di dusunnya yang ngikut ke sini. Mengganggu ia dengan teror dan kekuatan gaib selama ini. Nilam bilang dari kemarin panggilan itu orang itu juga mengganggu tidurnya.
“Jadi ... maksudnya loe semacam diguna-guna gitu?”
“Nggak tau, Di. Kayaknya dia mau aku celaka, kata Suci akan dijadikan tumbal gitu.”
“Ihh! Tumbal apaan?! Gila ya jaman moderen gini kok pake tumbal-tumbalan!” Dian bicara dengan nada geram.
Nilam menjelaskan semua yang terjadi sejak ia di kampung waktu itu, sikap temannya yang pernah berubah hingga beberapa kejadian membuatnya hampir kehilangan nyawa. Dian bergidik, kedua teman itu bicara berbisik dari balik selimut.
“Iye, sih, abis makan wajik pemberian kawan loe waktu itu memang rasa ngambang, Ni. Yang lainnya nggak inget. Apa karna loe sekarang ibadah kekuatannya jadi ilang, ya?”
Ucapan Dian serasa menjewer Nilam. Ia segera membuka selimut mengajak Dian salat malam.
Gegas mereka dua mengambil wudu, lalu memilih salat di ruang tengah. Setelah selesai mengimami dan doa sejenak Dian merasa hilang dari takutnya kembali akan tidur, sementara Nilam melanjutkan memutar
dengan nada rendah murottal pinjaman Hanif.
Surah-surah pendek yang terdengar mulai tersimpan di otak, diikuti oleh Nilam hingga kantuk kembali menghampiri.
Bersambung ....
__ADS_1