Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Ungkapan Reihan


__ADS_3

Untuk sesaat pandanganku bertemu dengan kak Reihan, aku tersenyum lalu menganggukkan kepalaku.


Namun, entah kenapa kak Reihan terlihat berekspresi datar. Tidak seperti biasanya, bahkan dia terlihat memutus pandangannya dan mengalihkan tatapannya kepada bapak.


Aku terdiam menyaksikan hal itu, tidak seperti biasanya kak Rehan bersikap acuh seperti itu. Biasanya pria itu terlihat begitu ramah dan juga selalu tersenyum manis saat bertemu denganku.


Bapak yang menyadari kehadiranku, langsung menolehkan wajahnya. Kemudian, dia menyapaku


"Kamu sudah siap? Sini, Nak. Sarapan bersama, kebetulan Nak Reihan katanya belum sarapan. Setelah itu kalian bisa berangkat bersama," kata Bapak.


Wajah bapak nampak sumringah, dia memang begitu menyukai kak Reihan. Menurutnya kak Reihan adalah lelaki yang sangat baik.


Aku menganggukkan kepalaku, kemudian langsung duduk tepat di samping bapak. Aku sarapan dalam diam, berbeda dengan bapak dan juga kak Riehan.


Mereka terlihat asyik mengobrol di sela sarapan pagi yang kami lakukan, sesekali bahkan mereka membahas usaha kuliner yang sedang dijalani oleh kak Reihan.


Benar-benar pemandangan yang tidak pernah aku lihat di antara bapak dan juga mas Aldo, mereka terlihat sangat dekat san cocok.


Sampai sarapan selesai dan kami siap untuk berangkat untuk kerja pun bapak terlihat begitu akrab dengan kak Reihan.


"Hati-hati berangkatnya, jangan ngebut-ngebut," pesan Bapak saat kami hendak berangkat.


Kak Reihan terlihat tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Iya, Om."


Aku juga langsung menghampiri bapak, berpamitan kepadanya. Lalu, aku mencium punggung tangannya dengan khidmat.


Tak lama kemudian, kak Reihan terlihat melajukan mobilnya. Tentu saja tujuan utamanya adalah mengantarkan diriku menuju Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, kami hanya terdiam. Kak Reihan terlihat fokus dalam menyetir, sedangkan aku begitu sibuk memikirkan segala hal yang terjadi saat ini dalam hidupku.


Mulai dari memikirkan pekerjaanku, bapakku, hingga aku memikirkan pernikahanku yang baru saja terjadi. Pernikahan sakral tanpa hadirnya bapak.


Sesekali aku menolehkan wajah ke arah kak Reihan, dia nampak benar-benar berbeda. Dia begitu diam, acuh dan sama sekali tak ingin berniat membuka suara.


Aku sampai bingung dibuatnya, kenapa ini? Ada apa? Kenapa kak Reihan seolah sedang menahan sesuatu?


Mungkinkah aku sudah melakukan sesuatu? Atau mungkin juga aku telah membuatnya tersinggung?

__ADS_1


"Kak!" panggilku pada akhirnya.


Aku tidak tahan lama-lama berdiam diri seperti ini, suasana yang benar-benar terasa tidak nyaman.


"Hem," jawab Kak Reihan tanpa menoleh. Dia begitu fokus, atau bisa juga karena menghindari tatapan mataku.


Untuk sesaat aku terdiam, aku ragu untuk melanjutkan perkataanku. Apakah aku harus berbicara dengannya atau tidak?


Karena dilihat dari sisi mana pun, kak Reihan terlihat sangat malas untuk berbicara dengan diriku. Tapi, kalau diam saja aku penasaran.


"Apa aku membuat keslahan, Kak? Kenapa Kakak diam saja padaku?" tanyaku padanya.


Kak Rehan terlihat tersenyum tipis, dia menolehkan wajahnya ke arahku sebentar. Lalu, dia fokus kembali dalam mengemudi.


Dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang tertahan di dalam pikirannya, di dalam hatinya dan di dalam isi kepalanya.


"Tidak ada, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun kepadaku. Justru aku yang salah, karena sudah masuk ke dalam kehidupan kamu. Seharusnya aku sadar bahwa kamu dan juga Aldo saling mencintai."


Kak Reihan terlihat menghela napas panjang, kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan.


Dia seolah sedang menyusun kata-kata yang pantas untuk diucapkan, tak lama kemudian dia kembali bersuara.


Sontak aku membulatkan kedua mataku, aku benar-benar kaget mendengarnya. Aku tidak menyangka jika kak Reihan ternyata sudah mengetahui jika aku sudah menikah.


Lalu, kenapa dia tidak memberitahukannya kepada bapak? Apakah dia ingin menjaga privasiku?


"Tidak usah kaget seperti itu, berbahagialah dengannya. Mungkin aku memang memiliki perasaan yang spesial untuk kamu, akan tetapi Tuhan tidak menakdirkan kita untuk bersama. Kamu bukan jodohku," kata Kak Rehan lagi.


Sebenarnya aku merasa tidak enak hati saat kak Rehan mengatakan hal itu, jujur saja aku memang tidak mencintainya.


Tak sedikitpun ada rasa untuknya, aku memang melihat kak Rehan begitu baik. Dia perhatian dan juga termasuk pengusaha yang sangat sukses di usianya yang masih sangat muda.


Namun, tetap saja di hatiku hanya ada mas Aldo. Rasa cintaku hanya untuknya, tidak ada perasaan untuk kak Rehan.


"Tapi, Kak. Bagaimana dengan bapak ?" tanyaku.


Kak Reihan terlihat terkekeh saat mendengar pertanyaanku, kemudian dia bersuara kembali.

__ADS_1


"Tidak usah memikirkan bapak kamu, itu adalah urusanku dengan bapakmu." Kak Reihan tersenyum, namun di matanya aku melihat luka yang dalam.


"Maaf," kataku.


"Tidak apa," jawabnya.


Setelah beberapa lama kami melakukan perjalanan, akhirnya mobil yang kak Reihan kemudian kini sudah sampai di depan Rumah Sakit.


"Sudah sampai, bekerjalah dengan benar. Rawat dan sembuhkan orang sakit lewat tanganmu dengan izin Tuhan, aku mencintai kamu." Kak Reihan langsung memalingkan wajahnya setelah mengucapkan hal itu.


Aku menjadi serba salah dibuatnya, aku benar-benar merasa tak enak hati. Apalagi saat melihat sorot mata kak Reihan yang begitu tulus terhadap diriku.


Karena tak ingin berada lama-lama di antara kecanggungan Ini, akhirnya aku pun memutuskan untuk keluar dari mobil milik kak Reihan.


Lalu, aku segera melangkahkan kakiku menuju ruanganku dengan cepat. Aku tidak menoleh sama sekali, takut hati ini merasa tidak tega.


POV Author.


Di Lain tempat.


Aldo terlihat sedang menyeringai licik, kini dia sedang berada di kamar Nyai Ratu. Dia melihat ada dua buah telur busuk di atas tempat tidur yang biasa dia pakai untuk bercinta.


Dia masih sangat ingat dengan jelas saat Nyai Ratu berkata tadi malam, mereka memang sibuk bercinta.


Namun, dia masih ingat jika Nyai Ratu berkata 'ambillah dua buah telor busuk di atas tempat tidur kita, simpan di belakang Resto milik Reihan. Jangan lupa bungkus dengan kain putih, yang satunya disimpan di belakang penginapan milik si tua bangka.'


Aldo tersenyum, dia sudah tidak sabar ingin segera menghancurkan bisnis dari kedua lelaki yang sudah membuat dirinya kesal.


"Lihatlah! Nanti malam aku akan mulai bertindak," kata Aldo dengan tawa jahatnya.


Setelah puas tertawa, Aldo terlihat menyusun rencana. Dia tidak mungkin selamanya akan menganggur, dia juga harus mencari usaha.


Mungkin dengan membeli tanah dan menyewakan kost-kostan, atau mungkin dengan membangun sebuah Resto yang bisa menghasilkan banyak uang.


Namun, sayangnya Ado tidak memiliki kenalan dalam berbisnis. Dia harus mulai berkenalan dengan pengusaha, pikirnya.


*

__ADS_1


Masih berlanjut.


Terima kasih karena selalu mendukung karya Othor ini.


__ADS_2