
Selepas kepergian Reihan, Aldo terlihat masih sangat kesal karena kini kulitnya terlihat kemerahan. Aldo sangat yakin jika ini pasti karena perbuatan Reihan, Reihan sudah melantunkan ayat suci Al Qur'an yang membuat kulitnya terasa panas dan juga perih.
"Kenapa setiap kali aku berdekatan dengan orang yang sedang shalat atau mengaji selalu seperti ini? Selalu terasa panas sampai kulitnya terlihat melepuh," ucap Aldo lirih.
Untuk sesaat Aldo terdiam, dia sedang merenungkan apa yang selama ini dia lakukan dan dia alami. Aldo tersenyum kecut kala mengingat dirinya kini sudah menjadi pengabdi siluman ular hutan terlarang.
Mungkin sekarang dirinya sudah tidak bisa lagi mendekatkan diri kepada Tuhan, atau mungkin dirinya sudah tidak bisa lagi berdekatan dengan orang-orang yang beriman.
Karena kini dirinya sudah terjerembab ke dalam lumpur dosa, dosa syirik yang tidak bisa diampuni oleh Tuhan.
'Ini semua karena si tua bangka itu, kalau saja dia tidak menghinaku, aku tidak akan putus asa dan mengabdi kepada Nyai Ratu.' Aldo mengumpat kasar di dalam hatinya.
Saat sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja pintu ruangan perawatan milik pak Didi terbuka. Nampaklah Arumi yang sedang tersenyum kepada dirinya.
Aldo membalas senyuman dari Arumi, lalu dia bangun dari bangku tunggu yang dia tempati. Dia menghampiri Arumi dan menggenggam tangannya.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya Aldo.
"Sudah lebih baik, Mas. Oh iya, kenapa Mas tadi terburu-buru keluar?" tanya Arumi.
"Tidak apa-apa, hanya kurang nyaman saja. Lihatlah ini, Mas merasa jika kulit Mas kayak terbakar gitu. Kamu ada obatnya ngga?" tanya Aldo.
Arumi lantas memperhatikan seluruh tubuh Aldo dan ternyata kulit Aldo terlihat memerah, bahkan kini kulit Aldo sudah mulai melepuh
Arumi terlihat khawatir, lalu dia mengajak Aldo untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Arumi langsung mengambilkan obat untuk diminum dan juga salep agar bisa dioleskan ke permukaan kulit Aldo.
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Mas? Sudah dua kali loh, kamu mengalami hal ini. Padahal dulu kamu tidak pernah mengalami hal seperti ini, atau mungkin kamu alergi makanan," kata Arumi.
Arumi berkata seperti itu karena dia merasa aneh dengan apa yang terjadi terhadap Aldo, dari dulu Aldo tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Menurutnya ini sangat aneh, apalagi duluan juga Aldo pernah mengalami hal yang lebih parah dari itu. Namun, dalam satu hari saja dia tidak menemui suaminya itu, suaminya sudah sembuh.
Bahkan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun di dalam tubuhnya, dia jadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebenarnya apa yang terjadi terhadap suaminya? Apa yang dilakukan oleh suaminya terhadap Arumi?
__ADS_1
Arumi merasa jika Aldo kini bukanlah Aldo yang dulu, Arumi berasa jika dia tidak mengenali lagi sosok Aldo yang sekarang.
"Duduk dulu, Mas. Aku akan mengobati luka kamu," kata Arumi.
Aldo menurut, dia terlihat duduk di sofa yang Arumi tunjuk. Dengan cepat Arumi mengoleskan salep di seluruh bagian kulit Aldo, setelah selesai dia meminta Aldo untuk meminum obatnya agar Aldo bisa cepat sembuh.
"Diminum Mas, obatnya. Biar cepet sembuh, biar tidak terasa panas dan sakit juga," kata Arumi.
"Ya, terima kasih," jawab Aldo seraya mengambil obat yang diberikan oleh Arumi.
Setelah Aldo meminum obat yang diberikan oleh Arumi, dia terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa tersebut.
Arumi terlihat duduk di samping Aldo, kemudian dia bertanya kepada suaminya tersebut.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, Mas? Kenapa kulit kamu bisa seperti ini?" tanya Arumi.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Mungkin benar seperti yang kamu katakan, ini alergi makanan," jawab Aldo.
Arumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun jawaban dari Aldo terasa sangat janggal. Tapi, Arumi berusaha untuk percaya.
"Ya sudah kalau begitu, Mas tunggu di sini saja. Biar aku yang nemenin bapak," kata Arumi.
Mendengar Arumi yang akan pergi, Aldo langsung menegakkan tubuhnya. Tentu saja dia tidak ingin ditinggalkan sendirian di ruangan tersebut, Aldo lebih baik ikut Arumi dan menemani pak Didi.
"Tidak, Sayang. Aku juga ingin ketemu sama bapak. Aku ingin bicara dengan bapak, aku ingin lebih mendekatkan diri lagi kepada bapak," kata Aldo.
"Ya sudah kalau begitu, ayo!" jawab Arumi.
Walaupun Arumi merasa tidak yakin jika bapaknya akan menerima kehadiran Aldo, namun setidaknya Aldo mau menemui bapaknya dan berusaha untuk mendekatkan diri.
Akhirnya Arumi dan Aldo berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Arumi, kemudian mereka masuk ke dalam ruang perawatan milik pak Didi.
Saat melihat Aldo dan Arumi yang datang, pak Didi langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa setiap kali melihat wajah Aldo, pak Didi merasa tidak suka.
__ADS_1
Bahkan semakin Aldo mendekat, pak Didi merasa bulu kuduknya berdiri begitu saja. Hawanya juga terasa mencekam dan mengerikan.
Walaupun Aldo dan Arumi melihat raut ketidaksukaan dari pak Didi, mereka tetap menghampiri pak Didi Didi. Arumi terlihat duduk di samping pak Didi, sedangkan Aldo duduk di bangku tunggu.
"Maaf, karena Arumi semalam meninggalkan Bapak. Arumi hanya ingin memberikan waktu kepada Bapak agar--"
Ucapan Arumi langsung terhenti karena pak Didi langsung menyelak ucapan dari putrinya tersebut.
"Sudahlah! Tidak usah banyak bicara, Bapak tidak mau mendengar apa pun," kata Pak Didi tanpa menolehkan wajahnya ke arah Arumi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, Arumi hanya bisa menghela napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia tahu jika dirinya sampai saat ini belum dimaafkan, bahkan belum diberikan restu.
Tak terdengar lagi ucapan dari mulut Arumi, ataupun pak Didi. Mereka saling diam, saling sibuk dalam pikiran masing-masing.
"Pak, Aldo mohon maaf. Aldo salah, Aldo lancang. Aldo tahu Bapak pasti sakit hati dan juga kesal, Aldo mohon agar Bapak mau merestui pernikahan kami," kata Aldo membuka pembicaraan.
Pak Didi memang tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Aldo, namun dia terlihat menghela napas dalam dan berat.
Dia memang tidak suka kepada Aldo, dia tidak suka dengan cara Aldo menikahi Arumi. Tapi, walau bagaimanapun juga ucapan pak Ridwan tidak bisa diabaikan.
Dia takut jika Arumi dan Aldo hanya menjalankan pernikahannya yang tidak sah, dia takut jika Arumi hanya melakukan dosa besar saja selama pernikahan mereka.
"Setelah Bapak keluar dari Rumah Sakit, bersiaplah untuk menikah secara resmi di KUA. Setelah kalian menikah, bangunlah rumah tangga kalian sendiri. Jangan tinggal di rumah Bapak, tinggallah di rumah kalian sendiri." Pak Didi berucap tanpa menolehkan wajahnya ke arah Arumi dan juga Aldo.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya, Arumi terlihat saling pandang dengan Aldo. Tidak lama kemudian, mereka terlihat tersenyum senang.
Walaupun pak Didi tidak melihat ke arah mereka, namun setidaknya mereka bisa mendengar keputusan yang baik dari mulut bapaknya tersebut.
***
Masih berlanjut....
Selamat malam kesayangan, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
__ADS_1