
Suci berlari ke arah kerumunan beberapa orang di tepi hutan.
Begitu mendengar Ki Arya meninggal ia segera menuju ke sini. Mayat yang ditemukan ada di antara akar pohon tua itu akan langsung dimakamkan warga di hutan saja.
Ia menerobos orang-orang untuk melihat mayat dari dekat. Tubuh yang meringkuk kaku itu tertutup kain jarik usang milik seorang warga. Sepertinya telah siap dimasukkan ke liang kubur, ada lubang persegi cukup lebar di dekat mayat.
Warga sudah berusaha meluruskan tubuh mayat itu agar terbujur normal, tetap tidak bisa, jika terpaksa akan dimakamkan dalam kondisi seadanya.
Suci berjongkok, rasa penasaran yang sangat membuatnya menyibak kain bagian muka mayat dengan gerakan cepat. Pekik terkejut dari beberapa orang, bersamaan dengan mulut Suci menganga yang segera dibekapnya sendiri.
Tampilan jenazah itu membuat isi perut bergelombang, seluruh kulit wajahnya dimakan ulat kecil yang jumlahnya ribuan. Bola mata hampir keluar dari rongga, dipenuhi binatang yang sedang rebutan menyantap dagingnya.
Suci bertahan demi meyakinkan diri, tapi ia melihat ada lain yang membuat dahinya berkerut.
“A-apa ini benar K-Ki Arya?” Lemah dan bergetar suara Suci bertanya pada orang di sampingnya.
“Iya, ini Ki Arya. Liat, tuh, baju hitam-hitam, rambut panjang.” Lelaki itu menyingkap bagian tubuh mayat.
Beberapa orang lainnya juga menyebutkan ciri lelaki yang hidup terasing itu. Sejak mengenal dokter dan mantri warga mulai jarang ‘berobat’ padanya. Bahkan akhir-akhir ini, ia menjadi sosok yang menakutkan.
Nada senang dari sebagian orang keluar, karena setelah ini mereka akan merasa aman_anak gadis yang merantau bisa pulang tanpa cemas lagi.
Suci kembali mengamati tubuh kaku di depannya. Wajahnya lalu memucat, ia berdiri kemudian melangkah mundur. Wajahnya yang tadi penuh harap, kembali menegang.
Perempuan berpakaian lusuh itu kemudian berlari lagi akan menuju rumah Nilam.
“Ni, Nilam!”
Sesampai di serambi ia langsung masuk, karena pintu rumah terbuka lebar.
Langkah Mak yang sedang bersiap akan memetik sayur di kebun terhenti.
“Ada apa, Nak Suci?” Mak Lumpit memperhatikan keadaan Suci yang tampak kotor. “Tinggal di mana sekarang? Kenapa sampai begini?”
__ADS_1
Badan, rambut, pakaian serta bau dari perempuan muda itu menggambarkan kalau sejak beberapa hari tak mandi juga berganti pakaian.
“Mak … Nilam mana, Mak?” tanya Suci gugup.
“Oh, Nilam sama Hwa itu lagi ikut Supri, mencari kawannya yang masih belum ketemu.”
Mak menyimpan bakul di bangku, menawarkan Suci menunggu saja di rumah, membersihkan diri dan ia akan mengambilkan pakaian Nilam untuknya berganti. Mak katakan, akan ke kebun sebab sayur di rumah tinggal sekali masak lagi.
Suci menolak. Ia menyela Mak, bicara dengan wajah kalut. “Mak, Nilam harus cepat pergi, ia masih dalam bahaya, Mak.”
Kalimatnya membuat wanita tua itu bingung.
Belum sempat bertanya, Suci sudah tersungkur, bersujud mencium kaki Mak Lumpit. Ucapan permohonan maaf terlontar pada wanita yang pernah begitu menyayanginya itu.
Ia tuturkan semua tentang Ki Arya, hubungan dengan dirinya, juga apa yang sudah terjadi pada Nilam sampai kembali ke sini karena perintah suara itu padanya. Suci meminta maaf atas segala kesalahan, membuat Mak terpaku tak percaya.
Suci lalu cepat katakan sosok meninggal yang ia lihat tadi bukanlah lelaki tua itu. Tubuh kurus kaku tadi hanya menyerupai, mungkin warga mengiranya sebagai Ki Arya, padahal suara itu masih terdengar menggaung di telinga Suci. Menandakan lelaki tua itu masih ada.
“Kekuatan Ki Arya itu hampir sempurna, Mak, bisa muncul dan hilang tiba-tiba. Nggak mungkin meninggal semudah itu ….”
Bagaimana Nilam tidak cerita sama sekali kalau sedang dalam bahaya? Mak terdiam, tubuhnya limbung segera berpegangan pada dinding.
“Maaf, Mak. Maafkan Suci ….”
Suci terus menangis, permintaan yang tak mungkin terkabulkan. Bagaimana pun ia telah membawa anak dari wanita berurai air mata ini masuk ke gerbang kematian.
Begitu mendengar panggilan menyeru namanya, Suci gegas berlari meninggalkan Mak Lumpit. Suara itu semakin keras dan penuh amarah menariknya masuk ke dalam hutan.
***
Nilam dan Hwa bersama delapan warga lain menyusuri rimba, mereka membentuk tiga grup terpisah. Dalam rencana akan bertemu kembali di titik tengah, sekitar tempat teman Nilam menghilang. Mengulangi lagi area pencarian kemarin, karena di sekitar itulah ditemukannya jaket Hanif.
Sejak pagi hingga siang mereka hanya berhenti untuk makan siang. Masakan itu Mak buat dan dibagi untuk semua warga yang membantu mencari keberadaan Hanif dan Juju..
__ADS_1
Nilam mencari tempat yang tak berumput tinggi untuk mengerjakan ibadah Dzuhur. Dapatlah tempat tak jauh dari sisi sungai. Ia berwudu di air jernih yang terasa dingin saat tersentuh kulit itu.
Saat mulai membasahi wajah, ujung mata Nilam melihat sesuatu bergerak mendekat. Seekor ular bersisik hitam berenang cepat ke arahnya. Nilam sejenak terpaku.
“Ular lagi …?” gumamnya pada diri sendiri.
Semakin dekat binatang itu membuat Nilam refleks berdoa apa saja yang tersebut di mulut. Rasa takut menjadikan ia tak bisa bergerak, juga takut kalau gerak sedikit saja bisa-bisa binatang itu meloncat dan mematuk. Pikiran itu meneror benak Nilam membuatnya hanya bisa mengepal tangan dengan mata terpejam kuat.
Bibir Nilam mengatup rapat, berharap setelah buka mata binatang itu segera menghilang.
Setelah beberapa saat merasa tak ada yang terjadi, Nilam membuka mata perlahan, melihat ke air yang setinggi lutut dasarnya itu.
"Hufshh." Ia bisa melepas napas lega saat melihat binatang paling menggelikan untuknya itu sudah tidak ada.
Tanpa ia tahu, setelah mendekat belum satu meter darinya tadi gerakan ular itu melambat, kemudian berbalik lalu hilang masuk ke dalam air.
Begitu memastikan kondisi sekitar aman gadis itu lanjut berwudu hingga selesai.
Kembali ke atas, ia memakai mukena dan menggelar sajadah di atas rerumputan pendek yang kering. Mulai mengerjakan ibadah dengan mukena pemberian Juju_diberi saat pertama mereka mulai akrab dan waktu itu Juju memintanya belajar salat.
Sesuatu yang awam ia ketahui saat itu, karena terbiasa dengan kehidupan di dukuh ini yang menjalani hari tanpa bimbingan agama. Pagi ke siang lalu malam, dilalui dengan kerja dan urusan dunia saja. Meski hati mereka tetap mengakui adanya Tuhan, hanya tak punya ilmu mengamalkannya.
Memperpanjang doa untuk Juju dan Hanif, Nilam belum jua beranjak dari tempat, sampai Hwa datang dengan setengah berlari mendekat.
“Nilam, Hanif-Juju ketemu!” pekik lelaki itu dengan napas ngos-ngosan.
Mendengar itu Nilam segera mengakhiri doa dengan hamdalah. Memasukkan asal saja sajadah ke dalam tas, lalu berlari dalam perasaan harap cemas. Atasan mukena Bali berbahan katun rayon masih melekat di badan saat Nilam sampai area yang ditunjukkan oleh Hwa.
Langkah kaki Nilam terhenti dengan mata tertuju pada kerumunan bapak-bapak yang tengah mengelilingi seorang pemuda terbaring di tanah. Masih tampak kakinya saja, tertutup tubuh bapak-bapak di sekitarnya.
Nilam mendekat sambil meremas ujung mukenanya dengan perasaan cemas.
Bersambung ....
__ADS_1