
Pagi-pagi Juju sudah datang menjemput Nilam.
Sambil duduk di serambi kaki Juju bergoyang, tanda gelisah.
“Lu kayak cacing kepanasan aje.” Babe tiba-tiba berdiri di dekatnya.
“Iya, nih, Be. Pesan Juki belum dibalas. Tadi skalian nanya, jadi nggaknya Nilam masuk hari ini. Mau ditelpon ntar dikira ngebet banget nanya.”
“Emang bener lu udah ngebet, kan? Doa aje, mane nyang terbaik, jan maksa."
“Iye. Doa dan usaha, ya, Be.”
“Hehehee, dasar anak mude zaman sekarang ….” Babe menggeleng-geleng kepala sembari lanjut mengurus tanaman dengan siraman segar air di pagi hari.
Sambil menunggu sesekali Juju menjawab pertanyaan Babe tentang kabar ibunya, yang memang sudah beberapa lama belum tidak bertemu.
“Sory, Ju. Keasyikan ngobrol sama Mak, sampe lupa liat chat-mu. Nih, baru mbuka.” Tak lama Nilam muncul dengan seragam berwarna paduan pink dan putih, rambut dikuncir satu, dan dandanan tipis, sedikit perona pipi membuat Juju bergeming di tempat melihatnya.
Babe juga melihat pada Nilam.
“Noh, nyang ditunggu dateng.” Babe memanyunkan bibir ke arah Nilam. Juju menggaruk dahi yang tak gatal.
“Iye, Be pamit dulu.”
Juju mencium tangan Babe takzim, mengucap salam, lalu duduk di motornya.
Sebelum Nilam naik ia bertanya, “Kok biasa aja?”
Nilam urung naik, mengerut dahi memandang wajah Juju, jarak tak sampai satu meter itu membuat mereka leluasa memandangi detil wajah masing-masing. “Emang harus gimana?” tanya Nilam polos.
Juju menepuk dahi cukup keras. “Udeh, buruan naik!” perintahnya. Nilam tersenyum tipis, lalu naik ke motor tinggi itu, duduk dan memegang pundak Juju.
“Jalan, Bang,” katanya menepuk punggung Juju sambil tertawa.
“Abang ojek?!”
“Hahaa.” Semburan tawa Nilam tak tertahan.
Juju mengarahkan spion ke belakang. Gadis yang duduk di boncengan tak sadar wajahnya sedang diamati.
Senyum tertahan di bibir Juju kemudian mengembang lepas. Syukur terucap, menyaksikan pemilik wajah jelita itu telah kembali ceria.
Shift siang belum mulai,
Juju masih penasaran belum sempat menanyakan jawaban Nilam, keburu gadis itu dipanggil Hwa ke ruangan.
Di ruangan Hwa ....
“Kamu benaran sudah siap kerja?” tanya Hwa berdiri begitu Nilam masuk ruangannya.
“Alhamdulillah, ini sudah siap kerja, Tu-“
“Aku pecat kalau panggil Tuan.” Hwa mengatup bibir rapat, dengan mata dibuat melebar. Nilam menutup mulut karena akan tertawa.
“Baiklah, Hw-Hwa. Aku sehat, siap kerja lagi," ulang Nilam gagap.
“Okey, mulai sekarang kamu bisa lebih banya gantikan Mia. Dia sudah melahirkan, sekarang kamu akan lebih bantu aku di admin daripada operasional. Aku yang akan membimbing sampai kamu bisa dilepas bertanggung jawab penuh.”
“Siap, Tu, eh, Hwa.”
“Bagus, biasakan lidah menyebut namaku itu, ya.”
Nilam kembali tersenyum.
Mereka lalu duduk berhadapan, terhalang meja kerja Hwa. Nilam mendengarkan saksama penjelasan bosnya itu. Kalau urusan pekerjaan Hwa terlihat sangat serius, senyum dan canda yang tadi dilempar sudah tak terlihat, semua yang disampaikannya bisa cepat dipahami oleh Nilam.
__ADS_1
Setelah kembali bekerja beberapa jam, Nilam mulai penat diam, hanya duduk berkutat dengan layar laptop menyala di depannya. Gadis itu memutuskan untuk keluar ruang melihat keadaan di ruang operasional, lalu ke ruang karyawan. Tanpa sengaja melihat salah satu waitress tengah memijat kening sambil berjalan pelan ke kursi plastik.
"Leli? Kamu kenapa, Li?" Nilam melihat Leli hampir terjatuh saat menggapai kursi akan duduk.
Temannya itu mengeluh sakit kepala, sampai keringat dingin terasa di permukaan kulitnya. Leli segera Nilam bawa istirahat ke sofa ruang admin_bekas Mia yang sekarang jadi ruang Nilam.
Setelah diberi obat dan teh hangat Leli diminta istirahat saja dulu, sambil menunggu shift selesai.
Karena pengunjung sedang ramai, Nilam yang telah mendapat izin dari Hwa langsung ikut sibuk turun melayani pelanggan. Ia berada di sisi ruang yang bagian tempat duduknya lesehan. Membantu menyajikan Kimchi pedas berkuah, dimasak pada kompor mini yang ada di meja. Panas uap mengebulkan dan menguarkan aroma khas.
Setelah selesai Nilam kembali ke pantry\, di lorong ia berpapasan dengan seorang yang mengangkat nampan membawa semangkuk sup sayuran laut_Miyeokguk_berkuah panas.
Miyeokguk
Tiba-tiba mangkuk itu dalam gerak cepat tertumpah ke arah Nilam, beruntung cepat ditangkis. Nampan dan mangkuk besar itu tumpah berserakan di lantai. Nilam sangat gugup karena terkejut, beberapa detik kemudian baru ia merasakan panas menyengat hingga ke tulang jemarinya. Ternyata sebagian kuah tadi mengenai tangannya.
Nilam berlari ke aliran air keran di tempat pencucian, menadah jari kirinya sambil meringis, panas dari kuah yang baru diangkat dari kompor itu terasa membakar jemarinya.
Sementara dua karyawan lelaki berusaha mengejar bayangan orang asing yang menyamar sebagai karyawan tadi, terlihat sengaja melakukan itu pada Nilam. Namun, sampai ke halaman mereka tak melihat lagi orang itu, Satpam pun mengatakan tak melihat orang kabur.
Suasana jadi sedikit gaduh di belakang, beberapa orang yang terlihat berlarian di luar tadi sempat membuat pengunjung resah.
Hwa pun turun tangan, setelah mendapat penjelasan apa yang terjadi dari karyawan, bos muda itu menenangkan pengunjung, dan menjamin keadaan tetap aman.
Setelah pengunjung kembali tenang, Hwa melangkah cepat ke belakang akan melihat kondisi Nilam.
Gadis itu sudah berlinang air mata menahan denyut terasa terpanggang di tulang-tulang jarinya, seorang temannya ikut bingung karena obat oles luka bakar di kotak P3K tak mampu meredam rasa sakit Nilam. Setelah dioles, gadis itu kembali tadahkan jari di bawah aliran air.
Nilam terbungkuk meringis dengan sikut menopang pada kitchen sets.
Juju sedang sibuk di depan, tadi diminta Hwa membantu menangani pengunjung yang masih banyak. Ia tak tahu apa yang membuat dua karyawan lelaki berlari tadi, hanya fokus pada tugasnya membuat pemuda itu tak sempat ke belakang.
Dua karyawan diminta Hwa memapah Nilam ke ruangnya. Nilam kemudian didudukkan di sofa merah hati, tempat Hwa biasa menerima tamu.
Krim bening yang Hwa oleskan memberi rasa dingin di jemari Nilam, tertinggal hanya sedikit denyut yang terasa.
“Terima kasih, Hwa ….” Suara Nilam pelan. Ia baru kali ini merasa tulang jemarinya bagai direbus.
Hwa masih mengulangi olesan krim itu ke jarinya, membuat Nilam risi.
“Sudah, sudah mendingan,kok, aku bisa kerja lagi." Berusaha memaksa senyum, ia menegakkan posisi duduk, akan bangkit. Makin merasa tidak enak Hwa perlakukannya begitu, sampai berjongkok di depan kakinya begini.
“Sudah, kamu istirahat aja.” Hwa menahan lengannya agar Nilam tetap duduk.
“Aku nggak enak Hwa jongkok di situ.” Nilam tetap kembali mau berdiri, tapi Hwa menarik lengan kanannya, tubuh Nilam terhuyung kembali terduduk, membuat wajah mereka menjadi sangat dekat.
Pandangan mereka terkunci dalam lima detik, lalu tanpa Nilam duga Hwa meraih tangan kanannya dan tempelkan ke dada.
Degup jantung cepat Hwa sangat terasa di telapak tangan Nilam, membuatnya terpaku dengan bibir sedikit terbuka.
Merasa tengah bermimpi diperlakuan Hwa seperti ini. Mata Nilam beralih, dari dada Hwa ke wajah bersih bening, berpuluh senti di depannya ini, bertemu manik bening milik Hwa yang menatapnya lurus.
“Nilam, aku jatuh cinta sama kamu, sejak lama ….” Kata-kata Hwa keluar lancar, menekan tangan gadis itu untuk terus merasakan debaran jantungnya.
Tenggorokkan Nilam tercekat, susah payah ia menelan saliva yang tiba-tiba mengering, jantungnya pun ikut berpacu cepat.
“Kau merasakannya? Ia selalu berdetak kencang kalau di dekatmu?” lanjut Hwa dengan suara setengah berbisik. Nilam bisa merasakan napas harum, berpadu wangi parfum maskulin dari tubuh Hwa.
Mungkin di saat normal ia bisa tertawa mendengar apa yang diucap lelaki itu, tapi kondisi ini justru membuat napas Nilam menyesak. Merasa bingung, sesal bercampur rasa antara percaya dan tidak kalau ini benar-benar terjadi.
“Bagaimana, apa kamu juga suka padaku?” Hwa menurunkan tangan Nilam perlahan, menaruh kembali ke pangkuan gadis itu, tapi tak melepaskannya.
Nilam masih tampak bingung, menatap lelaki di depannya itu tanpa kedip, detil wajah putih bersih, alis tebal dan bibir tipis merah milik Hwa mampu membuat siapa pun tersihir, jauh di lubuk hatinya meloncat setiap melihat Hwa sejak bekerja di sini. Dan ... sekarang lelaki ini menyatakan cinta.
“Kenapa?” Tidak mendapat jawaban, Hwa memandangi Nilam saksama. “Apa aku membuatmu takut??” tanya Hwa lagi membuat Nilam tersadar, langsung memutuskan pandang ke arah lain.
__ADS_1
Nilam merasa wajahnya sangat panas sekarang.
Bagaimana tidak, lelaki tampan di depannya ini adalah bos, sampai berlutut begini di depannya. Nilam merasa sebagian hatinya sedang terbang, sampai terlupa akan rasa sakit tadi di jemari.
“Eng-enggak, hanya aneh aja, kenapa aku, Hwa?” .
Hwa cepat menangkup kedua pipi gadis itu. “Kenapa? Apa aku nggak boleh jatuh cinta padamu? Rasa itu alami, datang sendiri,” jelas Hwa masih dengan mata tak lepas dari wajah gadis di depannya.
Nilam tak memiliki jawaban apa pun untuk ini sekarang, hanya matanya terasa tiba-tiba mengabur, bulir hangat itu jatuh tanpa disadari. Melihat kesungguhan Hwa, menerbitkan rasa bersalah amat menyesak dalam rongga napasnya.
Kenapa Hwa harus menyukaiku? Bagaimana dengan Juju? Ya Tuhan ... apa sikapku sudah salah selama ini?
Melihat Nilam tiba-tiba terisak, Hwa menghapus air matanya dengan gerakan lembut, lalu menarik gadis itu ke dada.
Nilam tidak bisa menahan tangis dan memilih menumpahkan sesaknya di dada Hwa beberapa saat.
"Kamu tak perlu merasa terbebani, Nilam ... kamu tahu saja aku sudah lega. Sekarang bebanku terasa lepas," bisik Hwa membuat Nilam makin tergugu.
Entah apa yang ada di hatinya ia pun tidak bisa mengerti. Hanya sesak dan rasa bersalah yang jelas dirasakan lebih besar. Juju dan Hwa adalah dua orang yang mempunyai arti tersendiri dalam hidupnya selama merantau di ibu kota ini. Nilam berharap tak akan menyakiti siapa pun.
Juju yang tadi baru tahu kalau Nilam tertumpah air panas segera akan menemuinya di ruang Hwa, tapi urung masuk saat melihat pemandangan dua orang di dalam. Ia hanya bisa mengusap keringat yang menetes di dahi sambil bersandar pada dinding dekat pintu ruang Hwa, hatinya merasakan nyeri kuat menjalar di dalam sana
Nilam, Tuan Hwa ...??
Kepala Juju terasa penuh dengan dugaan.
***
Dukuh Gelap ....
Di rumah papan itu dua orang bertengkar hebat.
“Kamu jadi milikku itu balasannya!” Lelaki tua yang tampak frustrasi mencengkeram dagu Suci.
“Percuma, sebentar lagi kamu mati!” teriak Suci melawan. Baju lusuhnya telah sebagian terkoyak, beberapa helai rambut gimbalnya juga tercerabut akibat kegilaan si lelaki tua.
“Kita akan mati bersama. Semua belum usai ….” Wajah Ki Arya hampir menempel pada pipi Suci yang semakin dekil, mata cekungnya membeliak menantang.
“Kamu orangtua yang tak tahu diri! Masih bersikeras mau membunuh Nilam? Percuma!! Hahaa.” Suci tertawa mengejek.
“Plakk!”
Dua kali tamparan keras itu tercetak panas di pipinya. Suci tetap berusaha kuat, ia mendelik, mengatakan tak akan pergi walau apa pun yang dilakukan lelaki itu padanya, sampai melihat orang berhati jahat itu meregang nyawa, ia sangat yakin itu akan terjadi.
“Tidak semudah itu, hehee. Kaulah yang akan mati lebih dulu!"
Lelaki itu menarik baju Suci, hingga robek terbelah. “Ini semua karna kamu yang salah pilih orang!” lanjut lelaki tua terus berceracau, mengiringi perbuatan laknatnya kembali beringas menodai Suci.
Bersambung ....
Maafkan aku belum semua react coment'nya, juga belum mampir ke semua jejak teman author. Setelah selesai aku cicil satu-satu, ya ....
Makasiih buat pembaca setia yang masih mau mendukung. Kita sudah hampir di ujung, mo selesaikan satu-satu dulu urusan hati yang rumit ini ya, hee. Semoga endingnya nanti gak mengecewakan.
Jangan lupa terus dukung like, coment, n vote.
Sehat slalu. Love U All *\,*
__ADS_1