Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Rencana Aldo


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hari-hari yang Aldo lalui terasa lebih baik, kondisi tubuhnya kini sudah semakin kuat. Arumi juga sudah selesai dengan masa nifasnya.


Mereka berdua kini lebih sering beribadah bersama, begitupun dengan pak Didi. Dia selalu mengajak Aldo dan juga Arumi untuk salat berjamaah bersama, mengaji bersama dan juga berbagi dengan anak-anak yang kurang mampu.


Aldo yang kesehariannya hanya diam saja di rumah, merasa mulai bosan. Malam ini selepas shalat Isya Aldo mengajak istrinya untuk berbicara dari hati ke hati.


Dia ingin membicarakan masalah dirinya yang sampai saat ini masih menganggur, dia merasa sangat malu sebagai kepala keluarga. Namun, hanya diam saja di rumah.


"Sayang, Mas mau bicara. Boleh?" tanya Aldo.


"Boleh, Mas. Tentu saja boleh, Mas mau ngomong apa?" tanya Arumi.


"Jadi begini, Sayang. Selama satu ini Mas hanya menganggur, rasanya Mas tidak betah. Mas ingin bekerja," kata Aldo membuka pembicaraan.


Arumi nampak terdiam, selama ini Aldo memang diam saja di rumah. Namun, bukan tanpa alasan.


Itu semua terjadi karena Aldo memang harus memulihkan kondisi tubuhnya yang lemah dan juga penuh dengan luka.


Arumi merasa bersyukur, karena kini kondisi kesehatan Aldo sudah benar-benar sangat baik, bahkan luka di sekujur tubuh Aldo pun sudah mengering.


"Memangnya Mas mau bekerja apa?" tanya Arumi.


Bukannya meremehkan, hanya saja pada kenyataannya Aldo hanya lulusan SMA. Lalu, mau bekerja apa, pikir Arumi.


Aldo tersenyum, kemudian dia merangkul Arumi dan membawa istrinya tersebut ke dalam pelukannya.


Dia peluk dan dia kecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu dia berkata.


"Mas mau jualan tempe kembali, apa boleh? Apa kamu tidak malu jika Mas nanti menjadi pedagang tempe lagi?" tanya Aldo.


Arumi terlihat melerai pelukannya, lalu dia menatap mata Aldo dengan lekat.


"Arumi tidak malu, Mas. Dari dulu juga Arumi tidak pernah malu, justru Arumi sangat bangga karena Mas mempunyai usaha sendiri," jawab Arumi.


Aldo terlihat begitu senang dengan jawaban dari bibir Arumi, tapi tetap saja dia merasa khawatir jika pak Didi tahu dengan niatnya kali ini.

__ADS_1


"Tapi, Sayang. Bagaimana dengan bapak? Apakah bapak akan setuju?" tanya Aldo.


"Nanti kita bicarakan sama bapak, memangnya Mas punya modal untuk dagang tempe lagi?" tanya Arumi.


Arumi sangat tahu jika Aldo sudah mengalami kebakaran hebat dan Aldo tidak mempunyai apa-apa.


Sampai saat ini, itulah yang dia tahu. Aldo tersenyum, kemudian dia mengecupi bibir istrinya beberapa kali.


"Sebelum Mas menikah sama kamu, Mas mempunyai tabungan. Uangnya tidak seberapa, hanya lima belas juta saja. Dulu Mas ingin menikahi kamu dengan uang tabungan Mas sendiri, tapi sampai saat ini uang tabungannya belum Mas ambil sama sekali. Boleh, kan jika uang itu Mas pakai untuk modal berjualan tempe?" tanya Aldo.


"Boleh, Mas. Tentu saja boleh, aku sangat setuju. Lagi pula dengan uang itu Mas bisa mengajak beberapa orang untuk membantu Mas membuat tempe, jadi Mas tidak usah bekerja sendiri,"kata Arumi.


Aldo nampak terdiam, dia berpikir jika apa yang diucapkan oleh Arumi adalah benar adanya.


"Ya, kamu bener, Sayang. Kalau begitu temani Mas untuk berbicara dengan bapak, Mas mau minta izin kepada bapak," kata Aldo.


Arumi sangat senang sekali, karena kini suaminya sudah kembali seperti dulu lagi. Walaupun sempat beberapa kali Nyai Ratu berusaha untuk mengganggu ketenangan rumah tangga mereka.


Namun, Aldo selalu bisa menghindar. Karena kini Aldo sudah menjadi manusia yang lebih baik lagi, Aldo tidak pernah ketinggalan salat lima waktu.


"Ayo, Mas," Ajak Arumi.


Arumi terlihat memeluk lengan Aldo, lalu mereka melangkahkan kaki mereka menuju ruang keluarga di mana di sana ada pak Didi yang sedang asyik menonton serial drama kesukaannya.


Walaupun pak Didi adalah seorang lelaki, tapi dia begitu menyukai acara drama-drama yang selalu wara-wiri di layar televisi.


"Pak, Arumi mau bicara. Boleh?" tanya Arumi seraya duduk tepat di samping bapaknya tersebut.


Aldo pun turut melakukan hal yang sama, dia duduk tepat di samping istrinya.


"Boleh, tentu saja boleh. Bicara saja," kata Pak Didi.


Aldo dan Arumi terlihat saling pandang, kemudian mereka tersenyum. Lalu, Aldo mulai bersuara.


"Jadi begini, Pak. Kalau Bapak tidak keberatan, Aldo ingin berjualan tempe kembali. Aldo tidak punya pekerjaan, rasanya tidak enak kalau berdiam diri di rumah saja," kata Aldo.


Awalnya pak Didi terlihat diam saja, tapi beberapa saat kemudian dia terlihat menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


Dia merasa bersyukur karena walaupun Aldo ingin memulai usahanya dengan berjualan tempe, itu terasa lebih baik dari pada harus memuja siluman seperti yang pernah dia lakukan.


"Ya, lakukan saja. Bapak merestui kamu, mau jualan tempe di mana?" tanya Pak Didi.


Aldo dan Arumi terlihat sangat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, mereka langsung tersenyum sumringah.


"Alhamdulillah!" kata mereka bersamaan.


"Jadi begini, Pak. Aldo, kan masih punya rumah walaupun jelek. Nanti rumah Aldo mau Aldo jadikan tempat usaha untuk pembuatan tempe," jelas Aldo.


"Memangnya kamu mau membuat pabrik tempe, Do?" tanya Pak Didi.


Aldo tersenyum, modalnya cuman ada lima belas juta. Apakah bisa membuat pabrik tempe, pikirannya.


"Nggak begitu juga, Pak. Nanti disesuaikan dengan uang yang Aldo punya saja," jawab Aldo.


"Ya, itu lebih baik," kata Pak Didi.


"Beneran, Bapak merestui? Bapak ngga malu kalau Mas Aldo hanya menjadi penjual tempe?" tanya Arumi.


"Tidak, Sayang. Bapak tidak keberatan, justru itu akan lebih baik rasanya dari pada Aldo menjadi seorang pemuja setan," kata Pak Didi lirih.


Aldo langsung tertunduk lesu, dia sadar dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini adalah hal yang salah.


"Maaf, Pak. Maafan Aldo, karena perbuatan Aldo Bapak dan juga Arumi jadi ikut susah," kata Aldo.


"Tidak apa-apa, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita buka lembaran baru, jangan pernah mengungkit hal itu lagi," kata Pak Didi.


"Iya, Pak," jawab Aldo.


Dia benar-benar merasa lega, karena akhirnya pak Didi merestui dirinya untuk berjualan tempe lagi.


Rasanya, walaupun penghasilannya tidak besar. Akan tetapi itu adalah pekerjaan yang halal dan bisa dibanggakan daripada memuja siluman ular, tapi berakhir penyesalan dan juga penderitaan.


***


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2