Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Pengakuan Aldo


__ADS_3

Aldo benar-benar merasa tersiksa, karena setiap hari Nyai Ratu selalu saja menerornya. Setiap malam dia akan datang merubah wujudnya menjadi ular, lalu dia akan tidur melingkari tubuh Arumi.


Aldo sangat stres melihat akan hal itu, Aldo takut Nyai Ratu akan membuat Arumi kaget dan benar-benar terganggu kejiwaannya.


Padahal mereka masih tinggal di rumah pak Didi, herannya Nyai Ratu masih saja bisa masuk ke dalam kamar Arumi.


Aldo jadi berpikir, mungkin karena dia yang memang tidak pernah beribadah. Begitupun dengan Arumi, dia masih belum bisa shalat karena masih mengeluarkan darah kotor setelah mengalami keguguran.


"Arrgh!"


Aldo kini sedang berada di pinggir Danau, dia sedang menenangkan diri. Dia sedang berusaha berpikir, apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Aku harus berhenti menyembah Nyai Ratu, aku tidak mungkin terus seperti ini. Aku tidak bahagia, aku sengsara jika terus seperti ini."


Aldo menjambak rambutnya dengan kasar, dia benar-benar frustasi dengan masalah yang terus saja datang.


"Arrgh!"


Kembali Aldo berteriak, dia berusaha meluapkan rasa sesak di dalam dadanya. Setelah merasa puas, Aldo langsung masuk ke dalam mobilnya.


Lalu, dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Beruntung hari sudah sangat larut, sehingga sedikit kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan.


***


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengagetkan Reihan yang terbangun karena merasa haus, Reihan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Reihan mengintip di balik gorden, dia penasaran dengan siapa yang bertamu tengah malam seperti ini.


Ya, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Tentunya Reihan takut, jika yang ada di luar adalah maling yang berpura-pura menjadi tamu.


"Astagfirullah, Aldo! Kenapa malam-malam seperti ini dia ke sini? Kenapa penampilannya terlihat sangat kacau?" tanya Reihan.


Karena mengetahui jika yang datang adalah Aldo, Reihan membukakan pintu rumahnya untuk Aldo.


Ceklek!


Pintu Reihan buka, Aldo langsung menubrukkan tubuhnya kepada Reihan. Sebenarnya Reihan merasa risih, karena Aldo adalah seorang pria.


Namun, dia merasa ragu untuk melepaskan pelukan dari Aldo. Karena Reihan kini merasakan jika pundaknya terasa sangat basah.


Bahkan Reihan juga bisa merasakan jika kini tubuh Aldo bergetar dengan hebat, Reihan paham. Dia berpikir jika Aldo kini sedang terluka karena kehilangan calon buah hatinya.


Mungkin saja Aldo datang untuk mencurahkan isi hatinya kepada dirinya, karena yang dia tahu jika Aldo memang tidak mempunyai saudara.


"Kita bicara di dalam saja, rasanya tidak enak jika kamu menangis seperti ini di luar rumah," kata Reihan.

__ADS_1


"Hem," jawab Aldo.


Aldo terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menyusut air matanya dengan punggung tangannya. Lucu sekaligus kasihan yang Reihan rasakan kini.


"Mari," ajak Reihan.


Aldo dan Reihan berjalan beriringan menuju rumah pak Ridwan, lalu mereka terlihat duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.


"Ehm, mau kopi?" tawar Reihan.


Dia merasa sangat bingung harus berkata apa, akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Reihan.


"Tidak usah, aku... aku ke sini mau minta tolong, aku... aku juga mau minta maaf," kata Aldo tertunduk lesu.


Reihan merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Aldo, jujur saja dia tidak paham.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Reihan.


"Aku--aku, aku--"


Aldo langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia memeluk kaki Reihan dengan erat. Reihan kaget bukan kepalang, dia bahkan langsung berusaha untuk melepaskan tangan Aldo dari kakinya.


"Jangan seperti ini, ku mohon. Aku bukan Tuhan yang wajib di sembah, bangunlah!" titah Reihan.


Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bahkan malah mempererat pelukannya. Reihan semakin tidak enak dibuatnya.


"Maaf, maafkan aku." Aldo menangis tersedu.


Reihan benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aldo, kenapa dia meminta maaf? Salah apa Aldo terhadap dirinya?


"Minta maaf untuk apa?" tanya Reihan.


Aldo merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari Reihan, haruskah dia jujur saat ini? Haruskah dia berkata jika dirinya adalah orang yang pernah dua kali mengerjai usaha dari Reihan?


"Maaf karena aku'lah yang dulu pernah mengarjai usahamu," kata Aldo.


Akhirnya Aldo bisa berkata jujur terhadap Reihan, dia merasa lega sekaligus takut. Dia takut jika Reihan akan marah terhadap dirinya.


Mendengar apa ya dikatakan oleh Aldo, Reihan terlihat syok. Bahkan dia hanya diam saja, tanpa berkata apa pun.


Aldo melonggarkan pelukannya, lalu dia mendongakkan kepalanya. Dia tahu jika Reihan saat ini pasti sedang syok sekaligus tidak percaya.


"Ku mohon maafkan aku, tolong batu aku," kata Aldo.


Walaupun Aldo tidak yakin jika Reihan akan memaafkan dirinya, bahkan belum tentu Reihan mau membantunya, tapi Aldo tetap akan berusaha.


Karena menurut Aldo, Reihan adalah orang yang sangat tepat. Reihan pasti paham bagaimana cara Aldo bisa terlepas dari Nyai Ratu.

__ADS_1


Cukup lama terjadi keheningan di antara mereka, Reihan masih kebingungan. Namun, Aldo tetap berharap banyak kepada Reihan.


"Bangunlah! Duduk yang benar, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" kata Reihan dengan wajah datarnya.


Aldo memberanikan diri untuk bangun, lalu dia duduk tepat di samping Reihan. Untuk sesaat dia terdiam, tangannya terlihat saling meremat.


Bahkan keringat di dahinya terlihat mengucur dengan deras, walaupun badannya terasa sangat dingin.


"Ceritakan! Katakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan," kata Reihan.


"Sebenarnya aku--"


Tanpa ragi dan malu, akhirnya Aldo menceritakan semuanya kepada Reihan. Mulai dari hinaan yang pak Didi lontarkan kepada dirinya.


Mulai dari kekecewaan yang dia alami, mulai dari dia memutuskan untuk bersekutu dengan Nyai Ratu dan semuanya.


Semuanya Aldo ceritakan tanpa ada yang terlewat, bahkan saat Aldo mengerjai Reihan dan pak Didi juga dia ceritakan.


Reihan hanya diam dan mendengarkan, dia tidak berkomentar apa pun. Aldo terlihat bisa bernapas dengan lega setelah menceritakan semuanya.


Namun, dia begitu was-was saat melihat wajah Reihan yang masih terlihat datar tanpa ekspresi.


"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" tanya Aldo takut-takut.


"Bertaubatlah!" kata Reihan tanpa memandang Aldo.


"Aku ingin bertaubat, tapi bagaimana caranya?" tanya Aldo.


"Aku akan mengantarkanmu kepada ustadz, karena dia lebih paham. Aku hanya manusia biasa yang tidak berilmu," kata Reihan.


"Terima kasih," kata Aldo.


"Sama-sama, sekarang pulanglah dulu. Karena ini masih malam. Tidak mungkin kita menggagu orang lain di malam buta seperti ini," kata Reihan.


Aldo merasa tersindir, dia langsung berpamitan kepada Reihan.


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Besok siang aku akan kembali ke sini lagi," kata Aldo.


"Datanglah selepas dzuhur, aku menunggu," kata Reihan.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi," Kata Aldo.


Setelah berpamitan, Aldo langsung pulang menuju rumah pak Didi. Dia harus beristirahat terlebih dahulu sebelum dia bertemu dengan ustadz dan bertanya tentang bagaimana caranya untuk bertaubat.


***


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak. Aldo otewe bertaubat ya, guyz. Akankah dia bisa dengan mudah lepas dari Nyai Ratu?

__ADS_1


__ADS_2