
Selama satu minggu ini Aldo begitu sibuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan Arumi, berbeda dengan Arumi yang begitu sibuk mengurusi bapaknya di Rumah Sakit.
Beruntungnya pak Didi hanya mengalami stroke ringan, jadinya setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit akhirnya pak Didi bisa pulang ke rumahnya.
Tentu saja karena Kondisinya sudah sangat baik, namun tetap saja pak Didi tidak boleh melakukan banyak aktivitas terlebih dahulu.
Karena itu takut mengganggu kesehatannya kembali, jadinya Arumi menyewa seirang perawat untuk terus merawat bapaknya di rumah.
Bukannya Arumi yang tidak mau merawat bapaknya, namun dia juga masih harus terus bekerja di Rumah Sakit tempat dia bertugas .
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya Aldo.
Setelah satu minggu tidak bertemu, akhirnya kini Aldo mempunyai waktu untuk bertemu dengan Arumi saat makan siang tiba.
Kini mereka sedang berada di sebuah Restoran untuk membicarakan masalah pernikahan mereka.
"Keadaan bapak sudah sangat baik, hanya saja dia tidak boleh beraktivitas terlalu banyak, jawab Arumi.
Aldo tersenyum senang saat mendengar jawaban dari Arumi, itu artinya pernikahan mereka akan segera dilaksanakan tanpa ada hambatan.
Bahkan, Aldo sudah merencanakan pernikahannya tanpa berkompromi terlebih dahulu dengan pak Didi ataupun Arumi.
"Baguslah kalau begitu, karena tiga hari lagi kita akan melangsungkan pernikahan sekaligus resepsinya di gedung A. Aku tidak mau sampai terhambat karena bapak yang belum sembuh," jelas Aldo.
Arumi langsung berkerut kening mendengar ucapan dari Aldo, karena mereka belum berkompromi untuk pernikahan mereka. Tapi, Aldo sudah menentukan di mana mereka akan menikah dan kapan waktunya.
"Tapi, Mas. Kenapa kamu tidak membicarakannya kepada bapak atau aku terlebih dahulu?" tanya Arumi.
"Bukankah bapak sendiri yang menyuruh kita untuk mempersiapkan pernikahan kita setelah dia sembuh, jadi... aku sengaja mempersiapkan semuanya agar tidak repot lagi,'' jawab Aldo.
"Heh!"
Hanya helaan napas panjang yang keluar dari bibir Arumi, dia tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi terhadap Aldo, suaminya itu.
Karena walau bagaimanapun juga apa yang dia katakan oleh Aldo adalah benar, namun Arumi ingin Aldo datang kembali ke rumahnya dan membicarakan semuanya dengan bapaknya.
Namun ternyata, Aldo dan juga pak Didi sama-sama keras kepala dan mempunyai keinginannya sendiri-sendiri yang ingin mereka wujudkan tanpa gangguan dari orang lain.
__ADS_1
"Ya sudah terserah Mas saja, tapi nanti Mas harus ke rumah untuk membicarakan semuanya sama bapak," kata Arumi.
"Ya, nanti malam aku akan ke rumah bapak. Sekarang makan aja dulu, aku sudah lapar," kata Aldo seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya," jawab Arumi.
Mereka terlihat makan siang bersama, tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Arumi juga sudah pasrah mau kapan pernikahannya dilaksanakan, semuanya terserah Aldo saja.
Hanya satu yang Arumi rasakan saat ini, entah mengapa dia merasa kurang bahagia. Entah karena dia akan meninggalkan bapaknya sendirian di rumah, atau entah karena apa.
Arumi hanya merasakan dia tidak begitu senang dengan acara pernikahan yang akan dia laksanakan dengan Aldo sebentar lagi, hambar.
Padahal pada awalnya dia sendiri yang menggebu-gebu ingin menikah dengan Aldo, dia sendiri yang memaksakan kehendaknya untuk menikah dengan Aldo.
Namun, saat ini dia merasa bingung sendiri. Semuanya terasa membingungkan setelah apa yang dikatakan oleh pak Didi satu minggu yang lalu.
Di satu sisi, dia merasa senang karena akhirnya pak Didi mau mengizinkan dirinya untuk menikah dengan Aldo.
Namun, di sisi yang lain dia merasa sedih karena dia harus meninggalkan pak Didi sendirian di rumahnya.
Membangun rumah tangga dengan Aldo memanglah impian yang sangat dia harapkan, namun jika harus meninggalkan bapaknya, Arumi merasa sedih.
"Eh? Iya udaan, ayo!" kata Arumi.
"Kamu tunggu di mobil, aku ke kasir dulu." Aldo memberikan kunci mobil kepada Arumi.
"ya, baiklah. Aku akan menunggu kamu di mobil, Mas." Arumi menerima kunci mobil dari Aldo.
Aldo terlihat melangkahkan kakinya menuju kasir, sedangkan Arumi terlihat keluar dari Resto tersebut menuju parkiran.
Tiba di parkiran, Arumi langsung masuk ke dalam mobil Aldo. Dia duduk sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan agar bapaknya bisa luluh.
Karena walau bagaimanapun juga, Arumi tidak mau jika setelah dia menikah dengan Aldo hubungannya dengan bapaknya akan terasa lebih rumit.
Saat sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba saja mata Arumi tertuju pada sebuah benda yang berkilau yang berada di dekat kaki Arumi.
Arumi menunduk dan mengambil benda tersebut, sebuah benda yang terlihat berwarna emas, berbentuk bulat, sedikit cekung dan sangat berkilau karena terkena cahaya matahari.
__ADS_1
Dahinya terlihat mengkerut dalam, dia bertanya-tanya tentang benda apa yang dia temukan itu.
"Apa ini? Apa mungkin ini emas? Tapi, kenapa bentuknya seperti ini? Aneh," gumam Arumi.
"Yang, kamu kenapa bengong?" tanya Aldo yang baru saja membuka pintu dan langsung duduk.
Arumi terlihat sangat kaget karena tiba-tiba saja Aldo langsung bertanya kepada dirinya, sedangkan dirinya kini sedang asyik dalam pertanyaan dipikirannya.
"Ya Allah, Mas. Kamu ngagetin aku, aku hnya sedang mengamati benda ini saja," kata Arumi seraya menunjukkan benda yang dia temukan.
Aldo terlihat gelagaan, dia langsung mengambil benda tersebut dari tangan Arumi lalu menyimpannya ke dalam saku kemeja yang dia pakai.
Arumi terlihat mengernyit heran karena Aldo terlihat ketakutan saat melihat benda tersebut, bahkan wajah dia bahkan terlihat pucat saat ini.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kenapa wajah kamu berubah jadi pucat begitu? Memangnya ini benda apaan, Mas? Kamu jangan bikin aku bertanya-tanya," kata Arumi.
Aldo terlihat bingung harus menjelaskan apa, masa iya dia harus bilang jika itu adalah sisik milik Nyai Ratu yang tertinggal dalam mobilnya.
Aldo benar-benar terlihat bingung untuk mencari alasan yang tepat, dia terlihat sangat gugup sekali.
"Mas, katakan kepadaku sebenarnya ada apa? Jangan buat aku berpikir yang tidak-tidak terhadap kamu, jelaskan Mas." Arumi terlihat menepuk pundak Aldo.
Aldo bahkan sempat terjingkat kaget, Arumi semakin heran dibuatnya. Rasa penasarannya kini semakin di ubun-ubun, karena tingkah Aldo yang seperti itu.
"Jangan membuat aku penasaran, Mas. Katakan yang sebenarnya!" kata Arumi.
"Emm, itu. Anu, hanya aksesoris. Ya, hanya aksesoris," kata Aldo beralasan.
"Tapi, kenapa kamu terlihat ketakutan begitu? Kamu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari aku, kalau memang itu hanya aksesoris, kenapa kamu langsung menyembunyikannya dariku?" tanya Arumi lagi.
"Ngga kok, Yang. Aku ngga menyembunyikannya, takut hilang saja. Karena Mas sedang ingin merintis usaha baru, Mas mau membuka toko aksesoris. Ya, mau buka toko aksesoris." Aldo terus saja mencari Alasan.
Hal itu semakin membuat Arumi merasa curiga, karena tingkah Aldo kini dia rasa sangat aneh.
Namun, untuk saat ini Arumi memilih untuk mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan lelaki yang dia cintai itu.
***
__ADS_1
Masih berlanjut....
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan jejak ya.