Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Nilam Mulai Menyadari Teror


__ADS_3

Kenapa dengan gadis itu?


Ada apa dengan Nilam?


Benak Hwa terus bertanya sambil sesekali melihat spion belakang da suasana depan padat belum bisa membuat mobilnya bergerak.


Juju yang tadi melaju lebih dulu di depan sana terlihat kembali berlari ke sini, menyelip di antara padatnya roda dua dan empat yang berhenti.


 “Di depan ada kecelakaan. Biar Nilam ikut motor aja,” saran Juju pada Hwa setelah kaca mobil diturunkan


 “Tidak bisa, Ju, lihat dia menggigil,” jawab Bon Hwa. Rahangnya menegang, menekan klakson berkali-kali. Usahanya sia-sia.


 “Darah lagi?!” Leli kaget menyadari cairan merah yang tadi cuma menetes kini mengucur keluar dari hidung Nilam.


Buru-buru ia lagi menyambar tisu, mengusap cepat bawah hidung Nilam. Dibantu Juju menegakkan duduk gadis di pangkuannya, agar darah tak kembali menyumbat saluran napas.


Perempuan berkulit kuning langsat ini ketakutan sambil memanggil-manggil nama Nilam, agar temannya itu tetap sadar.


Melihat kondisi Nilam itu Juju dan Hwa makin kalut.


Juju kembali berlari ke depan. Seratus meter di sana, beberapa orang sudah turun dari mobil. Ada yang hanya berdiri saja tanpa berani membantu korban yang tidak utuh sebagian badan, sepertinya akibat terlindas.


Sebelumnya, sebuah mobil box menyenggol sepeda motor hingga oleng. Pengemudi motor dan kendaraannya jatuh ke tengah jalan tak dapat dihindari kendaraan lain yang melaju di belakang.


Mobil box berisi barang dagangan sembako itu makin oleng, mengenai beberapa kendaraan lain, karena supir banting setir mendadak, kendaraan itu terguling. Bak belakang terbuka mengeluarkan isinya hingga berserakan di jalanan.


Suara sirene nyaring mendekat, satu mobil terbuka dengan empat orang polisi datang, bergegas cepat ke depan sana membantu meminggirkan korban dan mengurai lalu lintas yang terhenti.


Setelah kendaraan depan mulai bisa bergerak, Juju ikut mengarahkan mobil lain agar cepat memberi jalan pada mobil Hwa.


Teriakan darurat yang ia pekikan, membuat para pengemudi buru-buru melaju. Hwa bergerak bersamaan dengan datangnya dua lagi rombongan polisi lalu lintas dan ambulans.


Juju kembali berlari ke motornya di tepi jalan, melaju dahului Hwa untuk mengarahkan ke kos Nilam.


Hwa berkeringat dingin, menginjak gas dengan tidak sabar. Kecemasan sangat juga terlihat dari Leli di kursi belakang.


 “Ni? Nilam??” panggil gadis berambut sebahu itu di selah tangisnya, berusaha menenang tubuh Nilam yang terasa mengejang. Mimisan dari hidungnya masih mengucur tak henti. Darah di tangan dan dada Nilam membuatnya ketakutan.


“Cepat, Tuan Hwa. Cepaaat,” pekiknya dalam sedu pada Bon Hwa yang tak tahu harus apa.


Tangan Leli terus mengusap cairan merah amis dari hidung Nilam, sudah menghabiskan sebungkus tisu mobil yang berubah merah, berhamburan di sekitarnya.


Lelaki di belakang kemudi itu semakin menegang, deru napasnya berpacu cepat. Ia berharap tak terlambat. Penyakit apa yang dikatakan Juju itu, juga pernah terjadi pada saudari perempuannya dulu.


Menurut cerita Appa dan Amma, adiknya terkena sihir. Perilakunya aneh, hingga meninggal mendadak dengan tubuh membiru.


Hwa tak ingin itu terjadi pada salah satu karyawan terbaiknya ini.


Setibanya di depan rumah Babe, pagar sudah terbuka lebar. Juju yang sudah sampai lebih dulu mengabarkan Babe dan Maemunah. Mereka semua jadi terlihat tegang.


Dibantu Mang Didin dan Pak Min mereka saling membahu membawa Nilam turun.


“Astaghfirullah, kalung itu?!” Juju baru tersadar sesuatu, kalung yang dipakai Nilam belum juga dilepas.


Dalam kegeraman pemuda itu melepasnya. Tampak Nilam tersentak sesaat. Juju meminta Mang Didin segera

__ADS_1


membuang benda itu ke sungai, yang ada di bawah jembatan tak jauh dari tempat ini.


Malam yang biasanya sunyi, jadi geger karena teman-teman Nilam terbangun. Tunggang langgang membantu Nilam masuk ke kamar.


Pak Min, tak lama datang bersama seseorang berbaju koko putih dan sarung kotak-kotak. Kedatangannya


sudah ditunggu Babe, mereka segera menuju kamar Nilam bersama Maemunah juga.


Lelaki berjenggot tipis itu adalah ustaz di lingkungan rumah Babe ini, berdiam di belakang Masjid takk sampai dua ratus meter dari sini.


Sesampai di kamar Nilam mereka dipandu ustaz membaca ayat suci. Para lelaki duduk di ruang depan kamar,


sementara teman-teman Nilam dan Maemunah di dalam kamar tidur Nilam. Hwa ikut duduk menyaksikan, sambil berharap gadis itu tidak kenapa-kenapa.


Darah di hidung Nilam berhenti, tapi gadis itu terlihat layu, sulit membuka mata. Dalam posisi setengah duduk


disangga tumpukan bantal dan tubuh Dian di belakangnya Nilam merasa dihinggapi kantuk berat.


Sambil meredam rasa takut Dian keluarkan suara jelas, melafalkan ayat tepat di dekat telinga Nilam. Penuh keyakinan.


Di tempat lain lelaki tua merasakan panas menusuk dari gendang telinga, membuyarkan konsentrasinya yang tengah menghadap sesaji dalam nampan bulat. Tubuh kurus itu terdorong ke belakang. Matanya seketika membeliak lebar..


Dari mulutnya keluar umpatan kasar, sumpah serapah atas kekalahan terhadap perlawanan gadis itu.


Ugh! Ini bukan main-main, sepertinya perang harus segera dimulai, pikirnya.


Berbagai cara telah dicoba hingga yang lebih keras memanaskan isi tubuh target. Namun, belum juga berhasil.


Lelaki berpakaian gelap itu kembali bersemedi, tak lama muncul satu, lalu dua, kemudian tiga orang persis berwajah sepertinya. Duduk melingkar di sekitar sesajen.


kesepakatan menyerang gadis itu secara nyata.


Kerlingan mata jahat lelaki tua pertama tadi merasa kali ini target tak bisa lepas dari genggaman.


***


Malam tadi setelah Nilam membaik, semua membubarkan diri pulang, termasuk Juju, Hwa, dan Leli. Nilam dijaga oleh tiga teman kos yang tidur bersamanya sekamar.


Ada perkembangan dari keanehan Nilam ini, setelah terbangun dan sadar sepenuhnya, ia merasakan sisa nyeri di kepala dan dadanya. Tayangan kejadian tadi malam sedikit berputar dalam rekaman ingatan.


Darah. Rasa panas, tapi menggigil, juga nyeri di kepala dan tengkuk masih terasa bekasnya.


Apa yang Juju katakan itu benar ....


Ada rasa takut merayap di benaknya.


 “Eh, sudah bangun, Ni?” Tri terjaga, segera duduk menegur Nilam. Tadi tangan Nilam bergerak terkena badannya yang tidur di sebelah gadis itu.


“Iya, aku haus, Tri ….”


Sejenak Tri memandangi wajah pasi Nilam saat bicara sambil memegang tenggorokan.


Tri segera menyodorkan sebotol air mineral di meja kecil dekatnya. Nilam duduk, segera dihabiskan separuh isi botol.


Dian dan Dara tergeragap bangun, setengah sadar karena merasa baru saja tidur, kompak keduanya memandangi Nilam lekat.

__ADS_1


Kenapa Nilam kelihatan biasa saja? Bukannya tadi malam sekarat? Isi pikiran keduanya sama.


Mungkin betul apa yang Juju jelaskan tadi malam. Keanehan-keanehan Nilam itu karena gangguan jin yang dibawanya dari kampung.


“Kalian kenapa, sih?” tanya Nilam memicingkan mata melihat dua gadis yang melongo ke arahnya.


“Ah, enggak,” Dian menggaruk kepala yang tak gatal. Dara berpura-pura mengusap muka sambil menguap.


“Lo udah seger, Ni? Apa ada yang sakit?” tanya Dian lagi memastikan, serentak diangguki dua gadis lain.


“Gak papa cuman lemas aja," jawab Nilam kemudian kembali membaringkan badan.


Setelah sesaat melihat langit-langit kamar, gadis berwajah bening itu menoleh pada tiga temannya.


“Apa tadi malam mimisan dari hidungku banyak, ya?”


“Iya, Ni, kayak air keran, ngeri, deh,” Dara cepat menyahut, mengangkat bahu bergidik, “kami suruh elo dibawa ke rumah sakit malah dilarang Juju. Bersikeras kalau elo cuma butuh doa bukan medis, ternyata beneran. Darah berhenti habis tu lo bilang ngantuk trus tidur,” jelas gadis manis itu panjang lebar.


Nilam menyimak sambil mengingat-ingat sesuatu terasa menyedot darahnya semalam, sampai ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


Tri gesit bangun ke pintu depan. Seorang gadis berdiri bersama Pak Min di luar.


“Iya, Pak Min?” Kepala tri melongok di sela pintu yang terbuka.


“Ini, Neng, temannya Neng Nilam datang dari kampung.” Pak Min menunjuk gadis berambut panjang dengan jempol, memindahkan arah tatapan Tri.


Gadis asing di matanya itu terlihat cantik alami khas kampung, senyumnya tertahan malu-malu.


“Oh, sebentar, ya.” Tri menahan mereka tak masuk dulu sebelum bertanya pada Nilam, takut saja gadis di luar itu orang salah alamat. Mengingat selama ini Nilam tak pernah dikunjungi siapa pun dari kampung.


“Ada temennya dari kampung, Ni. Rambut panjang, wajah manis, ada bitnik-bintik di pipi kayak orang bule,” lapor Tri berdiri di garis pintu kamar.


Tak lama Nilam bisa menebak siapa yang dimaksud.


“Suruh masuk, Tri. Itu sahabat kecilku, Suci,” jawab Nilam bersemangat.


Suci masuk, berpelukan sebentar dengan Nilam, segera ia diperkenalkan pada yang lain. Nilam sempat


khawatir mengira ada kabar buruk dari Mak karena Suci sebelumnya tak pernah datang ke Jakarta dan tau alamatnya. Apalagi sampai rela ikut bus malam hari.


“Gampang, Ni. Alamat yang pernah kamu kasih ‘kan mudah dicari, nanya orang sudah langsung tau,” jawab Suci saat Nilam heran ia tahu alamat tinggalnya.


Meski sempat ragu, dan lupa kapan memberi alamat pada temannya itu, perhatian Nilam kembali teralihkan karena Mak Lumpit mengirim makanan kesukaannya, yaitu wajik ketan berbungkus daun pisang bentuk kerucut buatan tangan Mak.


Segera gadis itu melahapnya bersama tiga teman lain sebagai menu sarapan. Satu besek habis sekejap mata.


“Uhmm, enak banget, Ni. Mak loe pinter bikinnya, beda rasa dari yang pernah gue makan," puji Dian sambil mengunyah nikmat makanan dimulut. Pujiannya serempak diamini yang lain.


Nilam tersenyum lebar terasa melambung, bangga sekaligus merindukan sosok ibunya.


Tak mereka sadari, Suci yang ada di ruangan itu ikut tersenyum tipis. Sinar matanya mengkilat, gelap, dan dingin ....


Bersambung ....


 

__ADS_1


__ADS_2