Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Namanya Juga Hidup


__ADS_3

Namanya juga hidup, sudah pasti ada yang namanya di atas dan ada yang namanya di bawag. Ada yang dalam keadaan susah dan ada juga yang mendapatkan harta melimpah.


Ada juga orang yang selama hidupnya diberikan kekayaan yang melimpah, padahal dia selalu saja melakukan dosa besar.


Bahkan dia selalu menyakiti hati orang lain, orang yang kurang mampu dan tidak beruang terkadang merasa iri kepada mereka.


Terkadang orang merasa Tuhan tidak adil, karena orang yang tidak baik saja selalu diberi harta yang melimpah.


Padahal, harta yang melimpah belum tentu berkah. Bisa saja semasa hidupnya dia diuji dengan hartanya, karena orang yang memiliki harta banyak tanggung jawabnya.


Tentu saja dia harus bisa mengolah uang tersebut dengan cara yang baik, dia juga harus bisa berbagi dengan sesama umat manusia dengan uang dan kekayaan yang dia miliki.


Tidak jarang orang yang berharta tidak bisa mengolah hartanya tersebut dengan baik. Bahkan mereka mati dalam keadaan miskin iman.


Banyak juga dari kita manusia yang diuji dengan kemiskinan, sakit atau bahkan sering merasa kehilangan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang yang kita cinta dan kita sayang dengan sangat cepat.


Hidup memang penuh liku, banyak sekali rintangannya. Namun, percayalah. Jika semua masalah itu sudah Tuhan ciptakan komplit dengan penyelesaiannya.


Hanya saja kita harus pandai memilah mana jalan yang baik dan yang buruk, jangan sampai seperti Aldo. Karena merasa tersakiti, merasa tidak punya harta yang banyak dan merasa kecewa dengan penolakan yang kasar dari pak Didi membuat dia gelap mata.


Dia rela menjual ke perjakanya dan menjadi pemuja Nyai Ratu, pada kenyataannya Aldo hanya mendapatkan nikmat sesaat.


Tidak ada keberkahan, tidak ada rasa bahagia. Hanya rasa takut, sombong dan juga hidupnya selalu saja tegang dan diliputi oleh amarah.


Aldo juga rugi besar, karena dia kehilangan janin yang begitu diharapkan dari rahim istrinya. Hanya akan ada penyesalan di akhir, karena Aldo juga malah menumbalkan orang lain yang tidak berdosa demi harta sesaat yang dia dapat.

__ADS_1


Namun, lihatlah! Ketika dia berniat untuk taubat, harta itu hilang dalam sekejap mata. Padahal, pengorbanan yang sudah dia lakukan tidak sedikit.


Enam bulan sudah Aldo mengelola pabrik tempenya, pabrik tempe yang awalnya kecil kini menjadi pabrik yang besar.


Bahkan, Aldo mempekerjakan warga-warga yang tidak mampu di pabrik tempe miliknya. Pesanan tempe pun membludak dalam setiap harinya.


Sungguh Aldo merasa sangat bersyukur karena ternyata Tuhan begitu baik terhadap dirinya,dia banyak melakukan dosa.


Namun Tuhan masih memberikan dirinya kesempatan untuk bertaubat dan memulai usahanya di jalan yang baik.


Kini Aldo dan juga Arumi sedang duduk di atas sofa di dalam kamar mereka, setelah seharian bekerja Aldo merasa sangat senang jika bisa berduaan dengan istrinya.


Begitupun dengan Arumi, setelah seharian bekerja di Rumah Sakit dia merasa senang karena bisa berduaan dengan suaminya.


Rasa lelah dan juga cape setelah seharian bekerja, terasa menguap entah ke mana ketika mereka saling menumpahkan rasa rindu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, Aldo merasa sangat senang. Karena itu artinya ada konsumen baru lagi.


"Mau ngambilnya mulai kapan?" tanya Aldo.


"Kalau Mas sanggup, lusa dia akan mengambil tempe dalam jumlah yang banyak," jawab Arumi.


"Tentu saja bisa, Mas akan berusaha melakukan yang terbaik," jawab Aldo seraya merangkul istrinya.


"Alhamdulillah, aku percaya sama kamu, Mas," kata Arumi seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


Aldo terlihat memperhatikan wajah Arumi, sudah seminggu ini wajah Arumi sering terlihat memucat. Aldo jadi khawatir dibuatnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aldo.


"Tidak apa-apa, Mas. Kepalaku hanya sering sakit saja, mungkin karena kecapean," kata Arumi.


"Tapi, Sayang. Apa tidak sebaiknya kita periksakan saja? Mas khawatir," kata Aldo.


"Ya ampun, Mas. Aku ini dokter loh, apa kamu lupa? Lagian aku merasa hanya kurang enak badan saja, mungkin besok aku akan mengambil cuti saja," kata Arumi.


"Ya, sepertinya itu akan lebih baik," jawab Aldo.


Aldo terlihat memeluk istrinya, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya tersebut. Dia kecup leher jenjang istrinya dengan lembut.


"Ehem, Sayang. Bolehkah Mas bertanya," kata Aldo.


"Bertanya apa?" tanya Arumi.


"Ini sudah enam bulan setelah kamu mengalami keguguran, apa kamu tidak merasakan tanda-tanda?" tanya Aldo seraya mengelus lembut perut rata Arumi.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Aldo, Arumi terlihat membulatkan matanya dengan sempurna. Sudah dua bulan ini dia tidak mengalami haid, tidak lama kemudian dia nampak melebarkan senyumannya.


"Belum tahu, Mas. Gini aja, besok aku akan memeriksakannya," kata Arumi.


"Ya, aku setuju," kata Aldo.

__ADS_1


***


Masih berlanjut, kuy ramein dengan like dan komentar yang positif.


__ADS_2