
Pagi ini aku terbangun dari tidurku, saat aku melihat jam yang berada di atas nakas ternyata waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Aku segera turun dari ranjang dan melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, aku melakukan ritual mandiku menggunakan air hangat yang langsung mengucur dari atas shower.
Hangat dan terasa menenangkan, membuat badanku yang masih terasa pegal bisa lebih baik lagi.
Sebenarnya aku masih merasa bingung sampai saat ini, bagaimana bisa aku melewati malam pertamaku dengan tidak sadar.
Hanya badanku saja yang terasa sakit, bahkan tulangku seperti remuk redam. Aku sudah seperti korban lilitan ular piton namun masih selamat dari kematian.
Namun, aku tidak ingin mempermasalahkan itu lagi. Mungkin karena ini akibat dari aku yang menikah tanpa restu
Dengan perlahan aku menggosok tubuhku menggunakan spon yang sudah dituang sabun cair di atasnya, seketika Ingatanku beralih kepada mas Aldo.
Aku bertanya-tanya dalam hatiku, sedang apa dia sekarang? Apakah masih tidur atau sudah bangun?
Aku jadi merasa berdosa sekali karena sudah mengabaikan suamiku, dengan tidak sabarnya aku memintanya untuk menikahiku.
Namun, dengan teganya aku meninggalkan dia sendirian di rumahnya tanpa mengurusinya sama sekali.
Namun, semua ini terjadi bukan semata-mata karena aku ingin menjadi istri yang durhaka. Tapi, aku sangat takut jika bapak nanti akan marah dan berusaha memisahkan kami kembali.
Bahkan aku sangat takut jika bapak akan mengurungku dan tidak memperbolehkan aku untuk bertemu kembali dengan mas Aldo.
"Maaf, Mas. Maafkan Arumi," ucapku lirih.
Semoga saja mas Aldo bisa memahami diriku, aku terburu-buru seperti ini karena begitu mencintai dirinya.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja aku sudah menyelesaikan ritual mandiku, aku segera keluar dari kamar mandi, memakai pakaian lengkap dan segera bersiap untuk shalat subuh.
Sudah sangat lama sekali aku tidak melaksanakan shalat subuh berjamaah, aku pun berinisiatif untuk segera memakai mukena dan keluar dari kamarku.
Aku ingin shalat berjamaah bersama dengan bapak, semoga saja bapak sudah bangun, pikirku.
Tok! Tok! Tok!
Ku ketuk pintu kamar bapak dengan perlahan, aku sungguh berharap jika bapak sudah terbangun dari tidurnya.
Karena aku benar-benar ingin melaksanakan shalat berjamaah bersama dengan bapak, sungguh aku sangat berharap.
"Pak!" panggilku perlahan.
__ADS_1
"Ya, tunggu!" terdengar suara bapak menyahut dari dalam.
Tak lama kemudian, bapak nampak membukakan pintu kamarnya. Dia terlihat sudah sangat tampan menggunakan baju koko lengkap dengan sarungnya.
Bahkan dia juga menggunakan peci berwarna putih di kepalanya, sangat tampan sekali.
"Loh, kok tumben kamu ke kamar bapak pagi-pagi sekali?" tanya Bapak seraya memperhatikan penampilanku, dia tersenyum saat melihat aku yang sudah memakai mukena.
"Pengen shalat berjamaah sama Bapak," kataku.
Bapak tersenyum, kemudian dia mengajak aku untuk shalat berjamaah di mushola yang ada di belakang rumah.
"Kita shalat di mushola aja kalau begitu, biar bisa sekalian tadarusan bareng," kata Bapak.
"Ya, Pak," jawabku.
Aku merasa jika dengan sikap aku yang seperti ini, bisa membuat aku dekat kembali dengan bapak.
Walaupun tidak bisa menurut dengan keinginannya untuk menikah dengan kak Reihan, lelaki yang menurut bapak sangat baik untukku.
Sebenarnya, aku pun bisa melihat jika kak Reihan adalah lelaki baik, perhatian dan juga pengertian.
Sayangnya sikapnya tidak bisa menyentuh hatiku, entah kenapa aku pun tidak tahu. Aku hanya bisa menganggap dirinya sebagai seorang kakak, tidak lebih.
Aku berusaha untuk melupakan kesalahan yang telah kau buat terhadap bapak, yaitu menikah tanpa restu dengan mas Aldo.
Pukul 05.30 pagi kami baru keluar dari dalam mushola, tentu saja setelah shalat kami melakukan tadarus bersama.
Aku benar-benar merasa senang karena bisa melihat keceriaan bapak kembali, selama berada di dalam mushola bapak tak hentinya mengembangkan senyumnya.
Hal itu benar-benar membuat aku bangga dan bahagia, setidaknya aku tidak merasa bersalah banget jika melihat senyum bapak yang dihiasi ketulusan.
"Bapak mau dibuatin teh atau kopi?" tanyaku kepada bapak.
"Ngga usah, Nak. Bapak mau ke kamar saja, mau nyiapin kerjaan," kata Bapak.
"Ya sudah kalau begitu, aku ke dapur mau bikinin sarapan buat Bapak dan juga aku," kataku.
Bapak terlihat tersenyum mendengar ucapanku, tidak lama kemudian dia terlihat menganggukkan kepalanya.
"Ya, masaklah nasi goreng yang spesial untuk Bapak. Buatkan juga acar dan ceplok telornya," kata Bapak.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa bahagia karena bapak kini tersenyum hangat seraya meminta dibuatkan nasi goreng kesukaannya.
"Baiklah, Pak. Aku akan membuatkan nasi goreng yang sangat spesial untuk Bapak," jawabku.
Bapak tersenyum, kemudian dia mengacak pelan puncak rambutku. Lalu, dia kembali berkata.
"Ya, buatlah nasi goreng yang paling enak."
"Siap, Pak!" jawabku seraya memberi hormat, Bapak langsung tertawa dibuatnya.
Setelah mengobrol denganku, bapak memilih untuk berjalan ke dalam kamarnya. Karena memang masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan.
Berbeda dengan aku yang langsung berjalan menuju dapur, karena aku harus segera membuatkan nasi goreng spesial untuk bapak.
Hanya memerlukan waktu kurang dari tiga puluh menit saja, masakan spesial yang aku buat untuk bapak sudah matang.
Aku segera menata masakanku di atas meja, nasi goreng spesial, telur ceplok dan juga acar yang sudah aku buat kini terlihat begitu menggugah selera saat tertata rapi di atas meja.
"Sudah siap! Sepertinya aku harus bersiap terlebih dulu, agar bisa menikmati makananku dengan tenang. Setelah sarapan aku bisa langsung berangkat bekerja," ucapku lirih.
Aku langsung masuk ke dalam kamarku, memakai baju setelan kerja seperti biasanya. Lalu, aku mematut diri di depan cermin sebentar.
Aku hanya memoleskan bedak tipis, menguncir kuda rambut panjangku dan memoleskan gincu berwarna nude di bibirku.
Untuk sesaat aku memandang bibirku dari pantulan cermin, ku usap dengan lembut. Aku merindukan ciuman dari mas Aldo, aku rindu ciuman penuh hasrat dan juga menggairahkan dari mas Aldo.
Mas Aldo selalu lihai dalam memancing hasratku ketika memberikan ciumannya. Kembali aku teringat akan malam pertamaku, namun aku segera menggelengkan kepalaku.
"Sudahlah, tidak perlu mengingat hal yang tidak penting Arumi." Aku berusaha untuk menyemangati diriku sendiri.
Karena tidak mau ambil pusing, aku segera mengambil tas jinjing milikku kemudian keluar dari dalam kamar menuju ruang makan.
Sampai di sana aku tertegun, karena melihat bapak dan juga kak Reihan yang sedang bercengkrama. Mereka terlihat sedang asyik sekali, entah membicarakan masalah apa.
Untuk sesaat pandanganku bertemu dengan kak Reihan, aku tersenyum lalu menganggukkan kepalaku.
Namun, entah kenapa kak Reihan terlihat berekspresi datar. Tidak seperti biasanya, bahkan dia terlihat memutus pandangannya dan mengalihkan tatapannya kepada bapak.
*
*
__ADS_1
Masih Berlanjut.
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak ya....