
“Senang lihat Abang pulang,” kata Juju pada Hanif saat ngobrol sebentar sebelum naik ke motornya. “Nilam butuh Abang di sini, Juki curiga temannya itu punya niat jahat, Bang.”
Lelaki berahang tegas itu mendengarkan Juju saksama. “Banyak doa aja, kita gak bisa juga suudzon, semoga aja temanmu itu bisa mawas diri, yang penting dari dirinya dulu, keyakinan hatinya, baru kita bantu semampu yang kita bisa.”
“Iye, Bang. Juki agak tenang nih, titip die ya,” ujar Juju.
“Wah, kayaknya istimewa tuh. Kita cuma bermohon pada Allah yang bisa menjaga sebaik-baiknya penjaga.”
“Iye, Bang. Juki percaya itu. Yuk, Bang Hanif, berangkat dulu.”
“Iye hati-hati, jangan lupa doa sebelum jalan.”
Juju berkomat-kamit sebelum menutup kaca helm.
“Dari awal gue curiga Juki itu demen sama si Nilam.” Babe sama Maemunah rupanya tadi diam-diam mendengar pembicaraan Juju sama putranya.
Hanif menoleh dengan senyum manis. “Suka itu normal, Be.”
“Kagak bisa. Si Nurmi udah jodohin Juki sama Laela anak Haji Dudung, nunggu si Laela lulus sekolah kebidanannye aje baru lamaran,” timpal Maemunah sambil duduk di sebelah Babe, menyebutkan nama ibunya Juju.
Hanif juga mendudukkan diri di kursi lain yang terbuat dari anyaman rotan bulat, di sebelah Babe.
“Alaah, zaman gini main jodoh-jodohan segale, ya biarin aje kalau mereka suka.” Babe terkekeh dibalas bibir Maemunah mengerucut.
"Ya, kagak ade salahnye kalau Laela juga demen sama Juki," balas Maemunah.
“Kalau gue, pas si Hanif udeh dapet yang disenengin Babe ya setuju-setuju aje. Kagak ade persyaratan, nyang penting agamenya baik, sudah. ” Kembali Babe bicara sambil melirik Hanif yang senyam-senyum.
“Doain aje, Be,” jawab Hanif tulus.
“Nyak juge setuju, yang penting anak Nyak ini bahagia dunia akhirat,” tipal Maemunah tak mau kalah.
“Babe ngerasa kagak pengen ape-ape lagi. Dua akan Babe sudah bahagia dengan keluargenye. Sementara jagoan Babe satu ini sudah kembali …” Babe menegakkan duduk condong mengarah duduk ke pemuda berwajah bersih di
dekatnya. “Subahanallah, Nif. Babe terharu tiap denger suara elu, rasanya pengen nangis,” lanjut lelaki paruh baya itu bergetar sambil menepuk punggung anak lelakinya.
“Alhamdulillah, Be. Ini anugerah dari Allah,” jawab anak muda itu tenang.
Hanif adalah anak ketiga Babe. Selepas kuliah di Al-Azhar Jakarta, ia mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir.
Selesai studi, lelaki berusian dua puluh tujuh tahun ini tetap di sana, sebagai pengurus sebuah organisasi pemuda
dan mahasiswa Indonesia.
Rentang usia Juju dan Hanif empat tahun, tapi hubungan mereka cukup dekat. Meski Hanif sejak kuliah sibuk dengan kegiatan sosial dan agama—bidang yang sangat ia cintai, lelaki itu juga suka menyambung silaturahmi. Semua keluarga mengenal baik pribadinya.
Visualisasi Hanif**Fakhri**
i
***
Malam ini, tak seperti biasa. Teman-teman Nilam masing-masing tak keluar dari kamarnya. Biasanya sepulang kerja mereka akan berkumpul di kamar Nilam seperti sebelumnya.
Saat Nilam tadi mengetuk pintu Tri, Dian atau pun Dara tak ada sahutan dari dalam.
Mungkin kehadiran Suci membuat mereka segan ke sini, pikir Nilam.
__ADS_1
Dian tertidur setelah Magrib. Rasa malas beranjak dari tempat tidur pun di rasakan Tri juga Dara.
Tri masih bisa memaksakan diri mengerjakan sholat Isya, meski beberapa kali menguap.
Sementara Nilam terlupa ibadah Isya, malah asyik baring bersama Suci di kasur busa ukuran double size miliknya. Mereka baring bersisian dengan mata kompak mengarah ke langit-langit kamar, tapi bibir keduanya tanpa jeda saling menyambung kata.
Nilam mencairkan suasana dengan mengenang masa lalu, melihat tadi Suci begitu kaku menghadapinya, mungkin
akibat kecurigaan Juju atau ada hal lain. Nilam tak ingin berpikiran buruk. Ia merasa amat mengenal temannya itu.
Nilam senang, Suci ini rela datang jauh-jauh hanya untuk menyampaikan rindu dari maknya. Cerita tentang kampung terasa mengobati kerinduan Nilam.
Kisah seru masa kecil di kampung juga membuat Nilam tertawa-tawa. Kadang mereka saling mengejek saat
mengingat bagian yang lucu.
“Aku paling ingat hebatnya kamu sama Neni main egrang. Yang tinggi lebih dari dua meter sekalipun kalian bisa, sampai manjat pohon dulu biar bisa naik, hehee.”
Nilam mengangkat tangannya, sambil mengingat tingginya dulu mainan tradisional yang mereka buat dari kayu bulat. Ukuran tingginya sesuka hati, karena bahannya berlimpah di hutan sekitar. Apalagi milik anak-anak lelaki, berani dan bisa naik egrang yang tinggi seolah tanda keberanian mereka.
“Kamu, sih nggak berani nyoba.”
Nilam kembali tertawa, godaan Suci mengingatkannya yang takut ketinggian. Ia hanya berani manjat pohon
jambu biji, yang pendek tak lebih dari dua meter, lalu buru-buru turun.
Cerita berlanjut tentang kesukaan mereka memancing di telaga yang dulu banyak ikannya, tapi sekarang tempat itu malah dijauhi warga.
Ada khawatir dan sedih tertangkap dari pernyataan Nilam tentang kampungnya sekarang. Penduduk yang makin sedikit dan … telaga yang dikeramatkan.
“Menurutmu, apa benar Ki Arya menganut ilmu hitam, Ci? Soalnya, aku sering ngalamin mimpi dan kejadian aneh. Sebagian keingat sebagian juga kayak mimpi. Teman-teman bilang aku juga agak aneh sepulang dari kampung, tapi aku gak begitu ingat detail.”
Nilam terhenti bicara saat menoleh ke samping. Rupanya Suci sudah tertidur.
Ia pandang sejenak wajah Suci, iba tersirat di sana.
Kedua orangtua Suci meninggal mendadak waktu Nilam kelas tiga SMP. Kabar itu ia tahu saat pulang ke kampung. Sejak itu di mata Nilam, temannya ini terlihat lebih pendiam. Tawanya berganti senyum tertahan.
Nilam menarik napas dalam dan kembali terlentang. Tangannya menarik selimut, bersiap tidur. Meskipun ada pikiran buruk tentang Suci ia mencoba kubur dalam dan berarap itu tidak benar terjadi.
Sebelum memejamkan mata, Nilam melirik jam berbentuk kepala Hello Kitty di dinding. Jarum pendek tepat mengenai angka sebelas. Ia merasa ada sesuatu yang kurang, mungkin karena teman-teman tak menemuinya seperti biasa.
Tangannya menggapai ponsel di meja. Panggilan pada kontak tiga temannya itu tak mendapat respon.
Jari Nilam kemudian menelusuri layar. Dua puluhan chat dari Juju Comel, mengingatkannya untuk sholat dan berhati-hati pada Suci.
Pesan itu ia baca sekelebat, rasa malas mendengar kecurigaan Juju pada temannya ini. Selain itu matanya juga semakin terasa berat.
***
Jarum jam tepat di angka dua belas. Gadis di sebelah Nilam membuka mata, membulat mengarah ke langit-langit.
Suara seseorang memanggil-manggilnya semakin dekat. Sangat jelas. Hingga terasa bibir berkumis
tebal menyentuh daun telinganya. Suara gaib yang memerintahkannya melakukan tugas ketiga. Tugas pertama sukses dimakan Nilam dan teman-teman, tapi gagal untuk Nilam yang memuntahkan semuanya.
Tugas kedua gagal dan rentan menjadikannya sebagai tersangka oleh orang di sekitar Nilam. Jika membunuh tentu ia akan menjadi orang yang paling disalahkan, bisa dipukul massa sampai meninggal juga. Itu yang membuat Suci meragu kembali melakukannya.
Mata kecil milik Suci beralih arah ke Nilam. Gadis itu tengah tidur tenang.
Suci sudah duduk dengan mata tak lepas dari gadis berwajah bening itu.
Hari yang dijanjikan oleh lelaki tua makin dekat dan ia tak punya pilihan. Nilam di kelilingi aura positif hingga apa yang diinginkan lelaki tua itu tak mudah tercapai.
__ADS_1
Hati yang bersih, telah cukup menjaga gadis itu beberapa lama ini. Suci tahu sejak kecil Nilam selalu dicintai banyak orang.
Keluarganya, walaupun sederhana tapi sangat sering memeluknya. Begitupun almarhum bapak Nilam juga sangat memanjakan anak gadisnya ini. Segalanya terlihat mudah Nilam raih.
Degup jantung Suci bertalu, ia bangkit dari tempat tidur. Saatnya ia mengakhiri rasa yang terpendam. Perempuan ini merasa hidup telah tak adil padanya.
“Aku juga berhak hidup bahagia, Ni,” ucapnya bergumam.
Tas yang dibawa dari kampung hanya berisi tiga potong pakaian. Satu baju kaos itu membungkus sebuah kendi.
Suci membawanya ke dapur, menebar bubuk hitam di dalamnya mulai dari sudut dapur.
Menurut lelaki itu, bubuk ini disebar setiap sudut ruang, akan membantunya memudahkan mendapatkan gadis itu. Suci tak sepenuhnya tahu, yang ia mau adalah mendapatkan apa yang sudah lama diinginkan, seperti yang dijanjikan si lelaki tua.
Keringat sebesar bulir jagung mengucur dari pelipis Suci, sampai beberapa menetes di lantai. Perang antara dua sisi hatinya berkecamuk atas apa yang dilakukan.
Saat akan menabur ke sudut depan, tubuh Suci terpental ke belakang. Gucinya jatuh berkeping, menghamburkan bubuk tanah hitam di ubin.
Ia terduduk di lantai sambil menutup telinga. Peluh Suci makin menjadi, suara yang menggema dari arah rumah depan kembali terasa panas membakar tubuhnya.
Tak mau menyerah perempuan ini merangkak, menyapu bubuk itu dengan telapak tangan hingga mengenai sudut tembok.
Satu sudut lagi tersisa di ujung sana. Suci tak mampu berdiri, deru di telinganya mengganggu keseimbangan. Ia merayap hingga sampai di sudut terakhir ruang.
Namun, bubuk itu belum sempat ia seret saat Nilam keluar kamar.
“Ci, kamu kenapa?!” Nilam segera meraih tubuh Suci yang menelungkup di lantai.
Temannya itu lemah dan basah berpeluh.
“Ng-nggak pa-pa ….”
Nilam menepuk-nepuk pipi Suci yang terlihat lemah, lalu menarik tubuh temannya itu ke pangkuan, sembari terus menanyakan ada apa.
Mata Nilam memandang guci tua yang hancur di lantai. Apa yang terpikir olehnya ternyata benar, tapi Nilam mencoba menahan diri.
“Ci … sebentar aku minta bantuan yang lain.”
Nilam hendak meletakannya di lantai, urung saat Suci menggeleng kepala, melarangnya.
“Aku nggak pa-pa, Ni.” Suci hanya meminta tolong dibawa ke kamar.
Nilam berusaha mengangkat badannya. Tak ia sadari, di saat yang sama kaki sahabatnya itu mendorong sisa bubuk hingga sampai ke pojokan terakhir.
Angin dingin mulai terasa di tengkuk Nilam, menembus rambut tebalnya. Tangannya memegang kuat tengkuk yang
mendingin.
Dari kejauhan, lelaki tua itu sejak tadi tegang menanti untuk prosesi. Melihat kesempatannya kembali menguasai gadis itu tercapai. Kekeh girang keluar dari bibirnya melihat Suci si kaki-tangannya itu berhasil melaksanakan tugas.
Nilam kembali merasakan sakit di setiap belulangnya. Susah payah ia menyeret Suci yang makin berkeringat ke kamar.
Sesampainya di garis pintu, gadis itu tak punya kekuatan lagi, tubuhnya makin ngilu mendingin. Lemah yang ia rasa makin melumpuhkan tulangnya, hingga tumbang. Nilam tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Sedang Suci yang merasa panas, makin berpeluh. Ia merasakan haus yang sangat.
Suara asing dari sana terus menggema seakan membakar tubuhnya.
Ia pun mulai melemah, tenggorokannya kering tercekat. Bagai ada yang menyumbat saluran napasnya.
Tak butuh waktu lama perempuan muda ini pun tak sadarkan diri.
Ruangan hening.
__ADS_1
Di antara dua tubuh yang tergeletak di lantai ada dua warna bertarung sengit. Bayangan hitam dan putih saling beradu. Hitam dari lelaki tua yang mengikat Nilam dengan kekuatan gelapnya, dan putih dari suara alunan ayat suci oleh Hanif yang tengah melaksanakan salat malam.
Bersambung ….