
Kini pak Didi, pak Ridwan dan juga Reihan sudah berada di dalam ruang perawatannya Arumi. Mereka bertiga terlihat duduk di atas sofa tunggu.
Berbeda dengan Arumi yang terlihat terbaring lemah di atas bad pasien, baju yang tadinya berlumuran darah sudah diganti oleh suster jaga.
Aldo terlihat duduk di samping Arumi, dia terus saja menangis seraya menggenggam tangan istrinya, Arumi.
Sejak tadi, pak Didi sudah bertanya kepada Aldo tentang apa sebenarnya yang terjadi. Namun, Aldo masih tetap diam saja.
Dia terlihat masih meluapkan kesedihannya dengan menangis di samping istrinya, ingin sekali pak Didi memaksa Aldo untuk membuka mulutnya.
Dia ingin membuat Aldo untuk mengatakan apa yang menimpa Arumi, putrinya. Namun, Aldo seperti masih begitu larut dalam kesedihannya.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk duduk tenang sambil menunggu Aldo mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, Aldo tetap saja tak kunjung mengatakan apa pun.
Pada akhirnya Reihan dan juga pak Ridwan memutuskan untuk pulang saja, mereka berkata jika esok hari akan datang kembali untuk menemani pak Didi.
Pak Dedi hanya bisa mengiyakan dan berterima kasih, karena pak Ridwan dan juga Reihan sudah mau menemani dirinya. Dia juga berterima kasih, karena mereka berdua sudah mau peduli dengan keadaan Arumi.
"Berserah dirilah kepada yang kuasa, jangan terlalu dibuat pusing. Nanti kamu bisa sakit sendiri," kata Pak Ridwan.
"Ya, aku akan menjaga kesehatanku," kata Pak Didi.
Reihan terlihat menatap wajah Arumi yang terlihat begitu pucat, dia benar-benar merasa tidak tega.
Bahkan Reihan merasa ada yang sakit di dalam sudut hatinya, tapi dia sadar jika Arumi kini sudah menjadi istri dari Aldo.
Reihan hanya bisa mendo'akan, semoga Arumi cepat sembuh. Semoga Arumi bisa tenang dalam menghadapi kenyataan jika janinnya kini telah tiada.
Setelah puas memandang wajah Arumi, Reihan tersenyum. Kemudian, pandangan Reihan beralih kepada pak Didi.
"Kami pamit, Om," ucap Reihan.
"Iya, pergilah dan hati-hati!" jawab Pak Didi.
Setelah berpamitan, akhirnya Reihan dan juga pak Ridwan terlihat pergi dari Rumah Sakit tersebut. Mereka juga butuh beristirahat.
Setelah kepergian pak Ridwan dan juga Reihan, pak Didi nampak kembali duduk di atas sofa.
Mata tuanya yang terasa lelah lama-kelamaan terlihat terpejam, sebelum masuk ke alam mimpinya pak Didi berdo'a dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, semoga putriku cepat diberikan kesembuhan."
Hanya itu do'a yang dia ucapkan sebelum dia menggapai alam mimpinya, walau bagaimanapun juga Arumi adalah putrinya.
Tidak mungkin dia akan membiarkan Arumi bersedih dan menahan rasa sakitnya sendirian, dia akan tetap berada di sana menemani putrinya.
Aldo sempat melirik ke arah pak Didi yang sudah terlelap dalam tidurnya, dia terlihat menatap wajah tua pak Didi dengan lekat.
Rasa bersalah benar-benar menyeruak di dalam hatinya, rasa sesak seakan menghambat proses bernapasnya.
Dia menyesal karena sudah menjadi Pengabdi siluman ular hutan terlarang, rasanya dia benar-benar ingin mengakhiri semuanya saat ini juga.
Namun, rasanya dia juga belum siap untuk jatuh miskin. Karena walau bagaimanapun juga, dengan adanya harta yang melimpah Aldo merasa jadi lebih berharga.
Tidak ada lagi orang yang menghina Aldo, tidak ada lagi orang yang memandang Aldo sebelah mata.
Semuanya terlihat tertundak hormat, entah karena takut atau memang mengagumi semua harta yang Aldo punya.
"Maafkan Aldo, Pak. Aldo sudah membuat calon cucu Bapak tiada," kata Aldo.
Air mata Aldo berurai dengan deras, dia benar-benar merasa sakit hati. Dia merasa bersalah, dia merasa hidupnya seakan mengambang.
"Aldo!"
Seluruh bagian hatinya memanas, bahkan detak jantungnya berirama dengan cepat dan seolah sedang berdangdut ria.
"Aldo!"
Kembali bisikan itu datang, Aldo langsung mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Bahkan buku-buku tangannya sampai terlihat memerah.
"Aldo, Sayang. Terima kasih untuk janinnya, sangat enak dan manis. Tapi, malam satu suro nanti aku tetap ingin tumbal perawan. Aku ingin wajahku cantik, aku ingin kulitku mulus. Hihihihihihi, jangan lupa Aldo, Sayang."
Nyai Ratu kembali tertawa setelah mengatakan hal itu, dia tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini.
Aldo tidak menjawabnya, dia hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir dan dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
****
Adzan subuh telah berkumandang, pak Didi terbangun dari tidurnya. Dia sempat menatap wajah Arumi yang masih terlihat pucat, dia menghampiri Arumi dan mengecup keningnya.
''Cepatlah sembuh, Bapak rindu celotehan kamu, Nak." Pak Didi mengusap matanya yang mulai berair.
__ADS_1
Pak Didi terlihat mengedarkan pandangannya, tidak ada Aldo di sana. Pak Didi tidak berpikir buruk, dia hanya berpikir jika Aldo sedang melaksanakan shalat subuh di Mushola.
"Bapak shalat subuh dulu ya, Rumi. Bapak ngga kemana-mana, shalatnya juga di sini," kata Pak Didi.
Setelah mengatakan hal itu, pak Didi terlihat melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Setelah itu, dia melaksanakan shalat subuh tepat di samping ranjang pasien yang Arumi tiduri.
Selepas selesai salat subuh, pak Didi terlihat menengadahkan kedua tangannya. Kepalanya terlihat tertunduk, dia berdo'a kepada Sang Khalik untuk kesembuhan putrinya dengan begitu khusyuk.
"Ya Allah, berilah kesembuhan kepada putri hamba. Berilah dia ketabahan dan kesabaran karena sudah kehilangan hal yang paling berharga di dalam dirinya, ampuni segala dosa dan kesalahannya. Berikanlah dia kebahagiaan ya Allah, hamba mohon. Aamiin."
Pak Didi terlihat mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sungguh dia berharap yang terbaik untuk putrinya Arumi.
Ceklek!
Pintu nampak terbuka, muncullah Aldo dengan wajah kusutnya. Rambutnya bahkan terlihat acak-acakan, pak Didi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Pak Didi yang awalnya menyangka jika Aldo pergi karena melaksanakan shalat subuh, menjadi ragu kala melihat penampilan Aldo saat ini.
"Nak Aldo, habis dari mana?" tanya Pak Didi.
Aldo yang terlihat sedang berjalan sambil melamun langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap wajah pak Didi.
"Ngerokok," jawab Aldo.
"Sudah shalat subuh?" tanya Pak Didi.
"Be--belum," jawab Aldo.
"Shalatlah dulu, berdo'alah kepada Sang Khalik untuk kesembuhan istrimu," kata Pak Didi.
Untuk sesaat dia terdiam, dia berpikir kalau dia shalat di hadapan pak Didi bisa kacau nanti, pikirnya.
Tubuhnya pasti akan terasa terbakar dan dia tidak mau hal itu terjadi, Aldo jadi berpikir untuk pura-pura shalat di luar saja.
"Iya saya akan shalat," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal itu, Aldo memilih segera keluar kembali dari ruangan Arumi. Dia tidak akan membiarkan kulitnya terbakar oleh ayat-ayat suci.
Pak Didi yang melihat kepergian Aldo hanya bisa menggelengkan kepalanya, dalam hati dia berharap semoga Aldo bisa menjadi suami yang baik untuk putrinya.
****
__ADS_1
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.