
Walaupun pada awalnya dia begitu enggan untuk melayani Nyai Ratu, namun pada akhirnya Aldo terlihat bersemangat.
Apalagi saat Nyai Ratu memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Aldo bergairah, Aldo semakin menggila.
Bahkan dia kerap kali merasa tidak sadar saat menggauli Nyai Ratu, hanya nikmat yang tidak berkesudahan yang dia rasakan.
Setiap bercinta dengan Nyai Ratu tenaga dia selalu terasa lebih kuat, dia merasa jika gairahnya sangat besar dan sulit untuk dikendalikan.
Berbeda pada saat dia berhubungan badan dengan istrinya, selalu nikmat walaupun dengan batas waktu yang normal.
Terkadang dia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar jika dirinya sanggup menggauli Nyai Ratu sampai semalam suntuk? Ataukah mungkin dia berada di bawah kuasa Nyai Ratu?
Entahlah, Aldo tidak mau ambil pusing. Yang perlu dia lakukan saat ini hanyalah melayani napsu Nyai Ratu yang selalu terlihat menggebu.
"Ya, Sayang. Seperti itu, ah... lagi. Heem, enak banget." Nyai Ratu terus saja meracau tidak jelas saat mendapatkan hujaman dari milik Aldo.
Aldo tidak bisa menolak, dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika menolak keinginan dari Nyai Ratu, siluman ular yang dia puja.
Namun, terkadang Aldo merasa jijik saat sudah melakukan pelepasannya di atas tubuh Nyai Ratu.
Berbeda pada saat dia melakukannya dengan Arumi, selalu rasa sayang dan juga cinta kasih yang lebih besar yang dia rasa. Karena Arumi mau menyalurkan rasa cintanya lewat penyatuan tubuh mereka.
****
Di lain tempat.
Arumi terdiam saat memandangi wajah pak Didi yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya. Setelah seharian dia tinggalkan untuk bekerja, akhirnya malam ini setelah selesai bekerja dia langsung masuk ke dalam ruang perawatan pak Didi.
Pria paruh baya itu terlihat tidur dengan pulasnya, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
Arumi duduk di tepian ranjang, dia usap lengan bapaknya dengan lembut. Dia pandang raut wajah bapaknya yang sudah mulai keriput.
"Maafkan Arumi, Pak. Jika Arumi tidak berbuat nekat, mungkin Bapak tidak akan seperti ini," kata Arumi dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
Di satu sisi dia merasa bersalah terhadap bapaknya, namun di sisi yang lain dia juga merasa bersalah karena sudah mengabaikan suaminya.
Bahkan seharian ini Arumi tidak menghubungi Aldo sama sekali, karena sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya Arumi memutuskan untuk pergi saja ke rumah Aldo. Walaupun hari memang sudah sangat malam, namun dia merasa perlu untuk menemui suaminya itu.
Arumi segera mengambil ponselnya, lalu memesan ojek online untuk pergi ke rumah Aldo.
Dia memutuskan untuk menginap di rumah Aldo saja, agar bisa menebus kesalahannya terhadap suaminya tersebut.
Tak lupa sebelum dia pergi, dia meminta seorang perawat untuk menjaga pak Didi, bapaknya yang sedang sakit itu.
"Sudah sampai, Bu Dokter," ucap Kang ojek yang melihat Arumi memakai jubah dokternya.
"Eh? Iya, Pak. Terima kasih," kata Arumi.
Arumi terlihat turun dari ojek online yang dia tumpangi, lalu dia melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Untuk sesaat Arumi terdiam, dia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah keputusan yang dia ambil sudah benar atau malah sebaliknya?
__ADS_1
Arumi terlihat menghela napas panjang, lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan. Hal itu dia lakukan beberapa kali untuk mengurangi rasa resah di dalam hatinya.
"Mas Aldo sudah tidur belum, ya?" tanya Arumi seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.09 malam, jika dia memencet bel takutnya bunyi bel tersebut hanya akan mengagetkan Aldo yang sudah tertidur dengan pulas.
Arumi memutuskan untuk mengetuk pintu saja, namun setelah beberapa kali Arumi mengetuk pintunya, tidak ada sahutan dari dalam.
Arumi berinisiatif Untuk mencoba membuka pintu tersebut, ternyata pintu rumah Aldo tidak terkunci.
Arumi hanya menggelengkan kepalanya seraya masuk ke dalam rumah Aldo, dia menutup pintu rumah tersebut lalu menguncinya dari dalam.
"Mas Aldo itu suka kebiasaan, ceroboh!" kata Arumi lirih.
Dengan langkah gontai Arumi terlihat masuk ke dalam kamar Aldo, namun sayangnya dia tidak menemukan Aldo di sana.
Dia hanya melihat selimut yang teronggok di lantai, Arumi jadi bertanya-tanya dalam hatinya, ke mana sebenarnya Aldo.
"Ke mana sih, Mas Aldo? Kenapa tidak ada? Apa mungkin sedang di kamar mandi?" tanya Arumi kepada dirinya sendiri.
Arumi terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun sayangnya di sana juga terlihat kosong. Hanya terlihat baju basah yang ada di atas keranjang cucian.
"Ke mana sih, Mas Aldo sebenarnya? Apa mungkin di dapur? Mungkin Mas Aldo kehausan, jadi dia mengambil minum," kata Arumi kembali.
Arumi terlihat keluar dari dalam kamar Aldo, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sayangnya Arumi tidak menemukan Aldo di sana, Arumi benar-benar merasa bingung. Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaan Aldo di sana, begitu pikirnya.
Akhirnya Arumi memutuskan untuk mencari Aldo di tempat lain, mungkin saja Aldo sedang berada di kamar lain atau mungkin sedang di ruang gym.
Tubuh Arumi langsung membeku, otot-otot sarafnya terasa menegang. Arumi sangat mengenal suara dari pria yang ada di dalam kamar tersebut, suara suami tercintanya.
Arumi juga sangat yakin jika di dalam kamar tersebut sedang terjadi pergulatan yang sangat hebat, karena dia bisa mendengar suara wanita yang berteriak sambil mengeram kenikmatan.
Tanpa terasa lelehan air mata jatuh dari kedua matanya. Dia menyangka jika Aldo telah menghianati dirinya, Aldo pasti membawa perempuan ke dalam rumahnya dan mereka melakukan hubungan terlarang tersebut di dalam kamar itu, pikirnya.
Cukup lama Arumi terdiam, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut.
Bahkan, Arumi bukan hanya mengetuk kamar tersebut. Namun, Arumi menggebrak-gebrak pintu tersebut dengan Kedua telapak tangannya.
Brak! Brak! Brak!
"Mas! Mas Aldo kamu sedang apa di dalam? Kamu sama siapa, Mas? Buka pintunya!" teriak Arumi seraya menggebrak-gebrak pintu kamar tersebut
Tidak lama kemudian suara dessahan tersebut tidak terdengar lagi di telinga Arumi, Arumi semakin yakin jika Aldo telah berbuat tidak senonoh dengan perempuan lain di dalam kamar tersebut.
Kembali Arumi menggedor-gedor pintu kamar tersebut, namun tidak juga segera dibuka. Hingga pada menit ke- 19, pintu kamar tersebut nampak terbuka.
Muncullah Aldo yang hanya menggunakan kimono mandi saja, wajah Aldo terlihat sangat lelah. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat, persis seperti habis bercinta.
Arumi semakin curiga dibuatnya, dia langsung mendorong tubuh Aldo lalu masuk ke dalam kamar tersebut.
Arumi terlihat mengedarkan pandangannya, namun di sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan tempat tidur yang ada di kamar tersebut terlihat sangat rapi, tidak terlihat acak-acakan sama sekali.
__ADS_1
Arumi jadi bertanya-tanya, mungkinkah dia berhalusinasi saking takutnya ditinggalkan oleh sang suami?
"Mas, sebenarnya kamu sedang apa sih? Kenapa kamu berada di dalam kamar ini? Terus tadi aku dengar--"
Arumi tidak melanjutkan kata-katanya, karena dia tidak sanggup untuk mengatakan hal tersebut.
Aldo terlihat menghampiri Arumi, dia memeluk Arumi dari belakang lalu mengecupi tengkuk leher istrinya tersebut.
Dia sedang berusaha umtuk memancing gairah Arumi. Hal itu sengaja dia lakukan agar perhatian Arumi teralihkan.
"Mas!" Arumi mendorong wajah Aldo.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Aldo dengan tatapan tajamnya
"Katakan dengan jujur, Mas. Sedang apa kamu di kamar ini, Mas?" tanya Arumi penuh selidik.
Arumi benar-benar merasa takut jika Aldo berselingkuh di belakangnya, Arumi sangat takut jika Aldo membawa perempuan lain ke dalam kamar tersebut.
"Sedang istirahat," kata Aldo.
"Tapi, Mas. Badan kamu penuh dengan peluh, kamu seperti habis melakukan--"
"Sudahlah, Sayang. Jangan beranggapan yang tidak-tidak, di sini tidak ada siapa-siapa. Kamu boleh menggeledah kamar ini," kata Aldo.
Aldo menuntun Arumi untuk menggeledah kamar tersebut dan ternyata di sana tidak ada sosok perempuan seperti yang ada di dalam pikiran Arumi.
Hati Arumi yang sedang memanas perlahan mulai luluh, dia berusaha untuk tersenyum. Dia berusaha untuk percaya kepada Aldo, walaupun dia tidak percaya jika Aldo tidak melakukan apa-apa dengan wanita lain.
"Tapi, Mas. Tadi aku dengan jelas mendengar jika di kamar ini ada suara dessahan seorang perempuan," kata Arumi.
Aldo kembali memeluk Arumi, lalu dia mengecupi bibir istrinya tersebut dengan penuh cinta kasih.
"Kamu salah dengar kali ya? Kamu terlalu takut aku tinggalkan, makanya kamu berpikiran yang tidak-tidak tentang aku?" kata Aldo.
"Tapi, Mas. Rasanya itu tidak mungkin, aku bisa mendengar dengan jelas suara dessahan itu sangat nyata di telingaku. Bahkan aku mendengar seorang perempuan meracau di kamar ini," kata Arumi lagi.
Untuk sesaat Aldo terdiam, dia jadi bertanya-tanya kenapa Arumi bisa masuk ke dalam rumahnya?
Apakah mungkin dia lupa mengunci pintu rumah seperti biasanya? tanyanya dalam hati.
"Sayang, kok kamu bisa ada di rumah aku kamu punya kunci cadangan?" tanya Aldo .
Arumi terlihat menggelengkan kepalanya, karena pada kenyataannya memang dia masuk tanpa menggunakan kunci cadangan.
"Tentu saja aku tidak punya kunci cadangan, Mas. Tapi kamu seperti biasanya, lupa untuk mengunci pintu," kata Arumi.
"Oh iya, Mas lupa. Mas selalu saja lupa maaf," kata Aldo.
Aldo langsung mengangkat tubuh Arumi, lalu dia menggendongnya dan membawanya keluar dari dalam kamar tempat dia menghabiskan malam bersama dengan Nyai Ratu.
**
Masih Berlanjut.
__ADS_1
Selamat siang kesayangan, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.