Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Buah Simalakama


__ADS_3

Arumi terlihat begitu asik saat menikmati makanan yang dia lihat mie Jawa kuah pedas tersebut, bahkan Arumi sampai lupa membaca bismillah karena terlihat seperti orang kelaparan saat melihat makanan tersebut.


Semenjak menikah dengan Aldo dan semenjak tinggal di rumah Aldo, Arumi memang sudah jarang melakukan shalat dan mengaji.


Entah karena apa, dia pun tidak tahu. Karena setiap dia berada di rumah Aldo, adzan berkumandang pun dia seakan tidak mendengarnya.


"Ini enak, Bi. Enak, sekali." Arumi berkata dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Arumi merasa aneh karena tidak mendengar sahutan dari bi Inah, akhirnya Arumi menghentikan kunyahannya.


Lalu, dia menatap sekelilingnya dan ternyata di sana tidak ada siapa pun. Hanya ada dia seorang diri yang sedang asyik menikmati makanannya.


Arumi terlihat sangat ketakutan, dia bahkan sampai mencengkram rantang yang sejak tadi dia pegang.


Dia mengedarkan pandangannya, dia berusaha untuk mencari sosok bi Inah. Namun, dia tidak melihat siapa pun di sana.


"Ke mana, bi Inah? Ke mana dia pergi? Kenapa dia pergi tidak bilang-bilang?" tanya Arumi.


Tidak lama kemudian, hawa di sekitarnya terasa begitu dingin. Bahkan bulu kuduknya terasa berdiri, Arumi menatap rantang yang sedang dia pegang.


Alangkah kagetnya saat Arumi melihat banyaknya cacing di sana, karena kaget dia bahkan sampai melemparkan rantang tersebut.


"Ya Tuhan, apa itu?" tanya Arumi.


Arumi tiba-tiba saja merasa sangat mual, dia bahkan terlihat mengusap bibirnya berkali-kali. Dia tidak menyangka jika apa yang dia nikmati adalah cacing, bukan mie Jawa sesuai yang pertama dia lihat.


Arumi Jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang datang? Apakah benar itu bi Inah? Kenapa dia bisa membawa cacing yang terlihat sangat menjijikan?


"Uegh! Uegh!"


Berkali-kali Arumi meluah, namun dia tidak kunjung memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


Dia benar-benar merasa jijik, dia ingin apa yang sudah dia makan benar-benar bersih dari perutnya.


"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arumi dengan tubuh gemetaran, bahkan kakinya kini mulai terasa lemas.


Arumi begitu sibuk bertanya dalam hatinya, dia benar-benar merasa sangat aneh dengan yang dia alami saat ini.


Tiba-tiba saja, nampak seberkah cahaya yang menyilaukan. Namun, terlihat begitu hitam dan mendekat ke arah Arumi.


Arumi yang begitu kaget langsung berteriak, dia bahkan berusaha untuk berlari. Namun, kakinya malah tersandung kaki bangku taman sehingga dia terjatuh.


Bahkan kepalanya terbentur sebuah batu yang berada di pinggiran kolam ikan milik pak Didi, Arumi menegaskan tatapannya.


Samar-samar dia melihat wanita memakai baju kebaya, wajahnya terlihat begitu mengerikan dan dipenuhi dengan sisik berwarna keemasan.


Tidak lama kemudian, pandangan Arumi mengabur hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. Arumi pingsan, Nyai Ratu langsung tertawa.

__ADS_1


"Hahahaha!" tawa Nyai Ratu menggema.


Dia begitu bahagia karena ternyata dia bisa dengan mudah membuat Arumi tidak sadarkan diri.


"Kamu lemah, Sayang. Tunggullah kejutan dariku besok, jangan menangis." Nyai Ratu langsung pergi, menghilang begitu saja.


****


Aldo terlihat menangis seraya menggenggam tangan Arumi, dia sungguh tidak menyangka jika kondisi Arumi dan janin yang dia kandung begitu lemah.


Pak Didi menghampiri Aldo, lalu dia menepuk pundak lelaki yang sudah menjadi menantunya tersebut.


"Berserah dirilah pada yang kuasa, shalat dhuha sana. Biar Bapak yang menemani Arumi."


Aldo langsung mengalihkan pandangannya ke arah pak Didi, baru kali pak Didi mau berbicara dengan dirinya.


Setidaknya hatinya merasa terhibur di sela rasa duka yang menggerogoti hatinya.


"Iya, Pak," jawab Aldo.


Arumi ditemukan tergeletak dengan kondisi mengenaskan, keningnya berdarah, kakinya bengkak dan dari area intinya mengeluarkan cairan berwarna merah.


Pak Didi yang terbangun karena hendak melaksanakan shalat tahajud merasa sangat kaget karena mendengar suara jeritan dari Arumi.


Pak Didi berlari mengikuti arah suara jeritan Arumi, sungguh dia sangat kaget saat melihat banyaknya cacing yang memggeliat di kaki Arumi.


Cacing-cacing itu terlihat merayap, lalu cacing-cacing itu terlihat berkumpul di atas perut Arumi. Pak Didi langsung berteriak minta tolong.


Aldo terlihat mengusap air matanya, kemudian dia berpamitan untuk pergi. Pak Didi mengiyakan.


Keluar dari ruangan Arumi, tentu saja Aldo bukannya pergi ke mushola. Namun, dia malah pergi ke taman Rumah Sakit.


Tiba di taman Rumah Sakit, Aldo langsung duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana.


Aldo terlihat merenungkan nasibnya saat ini, dia benar-benar tidak menyangka jika Arumi akan mengalami nasib naas.


Sebenarnya Aldo merasa tidak tenang sejak semalam, pikirannya terus saja teringat akan Arumi. Setiap dia memejamkan mata, selalu saja ada bayangan Arumi yang sedang menjerit ketakutan dengan tubuh berlumur darah.


"Ini pasti ulah Nyai Ratu," kata Aldo lirih.


Aldo terlihat mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar sangat kesal terhadap Nyai Ratu. Padahal perjanjiannya Aldo harus menumbalkan perawan setiap malam satu suro.


Namun, kenapa Nyai Ratu malah mengincar janin yang ada di dalam kandungan Arumi? Bahkan Arumi pun hampir saja celaka karena ulahnya.


Saat Aldo tengah asik bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba dia mendengar suara cekikikan di telinga kanan dan kirinya.


Semakin lama, suara itu terdengar semakin menjauh. Bahkan, kini bulu kuduk Aldo terasa berdiri. Badannya juga tiba-tiba saja terasa dingin.

__ADS_1


"Aldo!"


Terdengar bisikan di telinga kanannya, Aldo menoleh. Namun, tidak ada siapa pun di sana.


"Aldo, aku akan mengambil apa yang paling berharga dari dirimu!"


Kembali bisikkan itu terdengar, kali ini terdengar di telinga sebelah kirinya. Aldo terlihat kembali mengepalkan kedua tangannya begitu kencang, bahkan buku-buku tangannya terlihat sampai memerah.


"Jangan sakiti calon anak dan istriku, Nyai. Ku mohon," kata Aldo dengan suara lirih.


"Kikikikikikkik!"


Terdengar suara cekikikan di kedua telinganya, begitu nyaring dan memekikkan tekinga.


Aldo langsung menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya, kedua telinganya terasa sangat sakit. Bahkan dia memejamkan matanya dengan kuat.


"Tuan!"


"Tuan Aldo!"


"Hah?"


Aldo terlihat begitu kaget saat seorang suster menepuk-nepuk lengannya, dia langsung memundurkan tubuhnya lalu bertanya.


"Ada apa, Sus?" tanya Aldo.


"Istri anda kritis, detak jantung baby yang berada di dalam kandungannya juga sangat lemah. Bahkan nyaris tidak terdengar lagi detak jantungnya, kami membutuhkan persetujuan anda," kata Suster.


"Persetujuan? Persetujuan apa?" tanya Aldo gelisah.


Aldo sudah merasakan ada hal yang tidak baik yang akan terjadi saat ini, apalagi saat melihat wajah suster yang terlihat begitu panik.


"Kami membutuhkan persetujuan anda untuk menandatangani berkas ini," kata Suster seraya menyodorkan berkasnya kepada Aldo.


Aldo segera mengambil berkas tersebut dari tangan suster, dia membaca berkas tersebut dengan terburu-buru.


Air mata Aldo langsung turun membanjiri kedua pipinya ketika membaca bekas tersebut, bahkan tubuh Aldo langsung luruh ke tanah.


Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang kini menimpa dirinya dan juga Arumi, Aldo mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah suster dengan lekat.


"Anda tidak sedang bercanda, kan, Sus?" tanya Aldo.


Aldo berharap jika saat ini dia sedang bermimpi dan saat dia terbangun dari tidurnya, keadaan akan kembali normal kembali.


Suster tersebut nampak menggelengkan kepalanya, dia terlihat iba saat melihat kondisi Aldo. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tolong disegerakan, nyawa istri anda sedang dalam bahaya," kata Suster.

__ADS_1


**


Selamat malam, selamat beristirahat. Satu Bab untuk menemani waktu istirahat kalian, jangan lupa tinggalkan jejak, yes.


__ADS_2