Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Asisten Rumah Tangga


__ADS_3

Aldo langsung mengantarkan Arumi untuk masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia menyuruh istrinya tersebut untuk beristirahat.


Dia tidak ingin Arumi dan juga bayinya kenapa-kenapa, walaupun dia tahu kini Arumi sedang dalam bahaya.


Lebih tepatnya, janin yang berada di dalam kandungan Arumi yang kini sedang dalam kondisi berbahaya.


Aldo sangat yakin, jika Nyai Ratu pasti akan terus mengincar janin yang berada di dalam perut Arumi. Padahal Nyai Ratu berkata jika dirinya harus menumbalkan janin tersebut dua bulan lagi.


Tepatnya pada saat malam satu suro datang, namun herannya Nyai Ratu sudah mulai mengincar janin yang berada di dalam perut Arumi tersebut.


"Beristirahatlah! Mas akan membuatkan makan siang untuk kalian," kata Aldo seraya mengelus lembut perut Arumi.


Arumi tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Dia sangat senang sekali karena Aldo begitu perhatian kepada dirinya.


Padahal, tanpa Arumi tahu, Aldo sangat perhatian karena dia takut sewaktu-waktu Nyai Ratu datang dan mengambil janin yang ada di dalam kandungannya.


Sebelum Aldo pergi meninggalkan Arumi, dia mengecup kening Arumi dengan penuh kasih. Lalu Aldo melangkahkan kakinya menuju dapur.


Tiba di dapur, Aldo langsung memasak-masakan yang sehat untuk Arumi. Aldo sengaja membuat makanan yang tidak pedas, karena khawatir janinnya akan kenapa-napa.


Hampir satu jam Aldo berkutat di dapur, hingga pada akhirnya semua masakan yang Aldo buat telah tertata rapi di atas meja.


"Sudah selesai," kata Aldo seraya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya secara bergantian.


Aldo terlihat puas dengan masakan yang dia buat, dengan senyum yang menggembang di bibirnya dia langsung melekahkan kakinya menuju kamar utama.


Namun, belum sempat Aldo masuk ke dalam kamarnya. Bel pintu rumahnya terdengar berbunyi dengan nyaring.


Aldo tidak jadi masuk ke dalam kamar utama, namun dia terlihat melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Saat pintu terbuka, nampaklah pak Paijo yang sedang berdiri seraya tersenyum bersama dengan dua wanita paruh baya di sampingnya.


"Selamat siang,Pak Aldo. Saya membawakan dua orang asisten rumah tangga yang anda pesan," kata Pak Paijo.


Aldo tersenyum senang karena ternyata pak Paijo bisa diandalkan, bahkan dalam waktu singkat saja dia sudah bisa membawakan dua orang asisten rumah tangga yang dia minta.


"Wah, grecep sekali. Padahal baru satu jam lebih loh saya minta tolong sama Pak Paijo," kata Aldo.

__ADS_1


Pak Paijo nampak tersenyum malu-malu saat Aldo mengatakan hal tersebut, tentu saja dia bergerak dengan cepat, karena uang yang Aldo berikan kepada dirinya sangatlah besar untuk seorang security seperti dirinya.


"Iya dong, kan, ada ininya," kata Pak Paijo seraya menggesekkan jari jempol dan juga jari telunjuknya.


Aldo terkekeh, karena ternyata kekuatan uang memanglah sangat luar biasa, pikirnya. Aldo menatap kedua wanita paruh baya yang berada di hadapannya, kemudian dia bertanya.


"Boleh perkenalkan siapa nama kalian?" pinta Aldo.


"Saya Sri, Tuan."


"Saya Inah, Tuan."


"Yayaya, oiya, Pak Paijo dapat dari mana kedua asisten rumah tangga ini?" tanya Aldo.


Dari yayasan, Pak Aldo. Kebetulan tidak jauh dari sini ada yayasan yang menyalurkan asisten rumah tangga," jelas Pak Paijo.


"Oh baguslah, kalau begitu silakan masuk," kata Aldo.


Setelah dipersilakan untuk masuk, bi Inah, bi Sri dan pak Paijo langsung masuk ke dalam rumah Aldo. Mereka mengikuti langkah Aldo menuju ruang tamu.


Saat tiba di ruang tamu, Aldo terlihat membalikkan tubuhnya. dia nampak mengernyitkan dahinya karena pak Paijo mengikuti langkah mereka ke dalam ruang keluarga.


"Eh iya ya, kenapa saya malah ikut? Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Pak Paijo.


"Ya," jawab aldo.


Setelah berpamitan, pak Paijo nampak keluar dari dalam rumah Aldo. Tentu saja dia harus pergi untuk berjaga kembali, meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


Setelah kepergian pak Paijo, bi Inah dan juga bi Sri terlihat dipersilakan untuk duduk di ruang tamu tersebut.


"Jadi begini, saya sengaja mempekerjakan dua asisten rumah tangga sekaligus karena saya ingin ada yang merapikan rumah dan memasak, satu orang lagi khusus untuk melayani istri saya serta menemani kemana pun dia pergi tanpa adanya saya," kata Aldo.


"Kami mengerti, Tuan," jawab Bi Sri dan Bi Inah secara bersamaan.


Aldo bernapas dengan lega, karena ternyata kedua wanita paruh baya itu sangat gampang untuk diajak bicara.


Ternyata pak Paijo tidak salah dalam memilih, karena yang berumur memang yang lebih pengalaman dan lebih mengerti, pikirnya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau mengerti, sekarang saya tanya. Di antara kalian siapa yang paling pandai memasak?" tanya Aldo.


Bi Sri Dan bi Inah terlihat saling pandang, kemudian mereka berbisik seperti sedang berdiskusi. Aldo hanya diam menyimak, karena mungkin saja memang mereka membutuhkan waktu untuk berbicara berdua.


"Jadi begini, Tuan. Bagaimana kalau Bi Sri saja yang memasak di dapur, karena saya tidak begitu menguasai banyak masakan," kata Bi Inah.


Padahal Aldo belum menjelaskan tentang maksud dari pertanyaannya, namun ternyata kedua wanita paruh baya itu benar-benar seperti sangat mengerti dengan apa yang Aldo ingin sampaikan.


"Oke, terserah kalian saja. Saya menurut, kalau begitu mari saya antarkan ke kamar kalian," kata Aldo.


Aldo menyuruh kedua asisten rumah tangga barunya itu untuk masuk ke dalam kamar tidurnya, kamar yang tidak jauh dari kamar tamu.


Karena dia tidak mungkin membiarkan kedua orang itu untuk tidur di kamar belakang, kamar yang dekat kamar milik Nyai Ratu.


"Kalian istirahat saja dulu, saya mau makan siang dulu. Nanti kalau saya butuh, saya akan memanggil kalian," kata Aldo.


"Ya, Tuan," jawab keduanya.


Setelah mengatakan hal tersebut,Aldo nampak pergi dari sana. Dia naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamar utama, kamar di mana dirinya selalu tidur bersama dengan istrinya, Arumi.


Namun, saat dia membuka pintu, lagi-lagi dia dibuat kaget karena Arumi tertidur pulas. Namun, Nyai Ratu terlihat tertidur di samping Arumi.


Dia terus saja membelai perut Arumi dengan tatapan mata lapar, Aldo langsung menghampiri Nyai Ratu dan menepis tangan Nyai Ratu.


Bukannya marah, tapi dia malah menyeringai. Dia sangat suka membuat Aldo marah, apalagi saat melihat raut kekesalan di wajah Aldo.


"Kamu sudah berkali-kali membuatku kecewa, Aldo. Jadi, jangan salahkan aku jika aku mempercepat waktunya," kata Nyai Ratu.


Setelah mengatakan hal itu, dia nampak pergi dari kamar Aldo, menghilang entah ke mana. Ingin rasanya Alda berteriak, mencaci dan memaki Nyai Ratu.


Namun, dia tidak bisa. Kata-kata umpatan yang ingin dia sampaikan seakan tercekat di tenggorokan, dia duduk di samping Arumi lalu dia usap perut istrinya tersebut.


Harapannya kini semakin tipis untuk segera menimang keturunan,karena rasa-rasanya ucapan Nyai Ratu tidak akan bohong.


"Maaf," kata Aldo.


****

__ADS_1


Selamat siang kesayangan, jangan lupa tinggalkan jejak, yes. Untuk yang tidak suka dengan ceritanya Othor minta maaf dan terima kasih sudahmampir.


Buatyang selalu baca dan selalu meninggalkan jejak, Othor juga ucapin terima kasih. Love sekebon Rambutan.


__ADS_2