Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Mencari Tahu


__ADS_3

Sesaat setelah kepergian pak Didi dari Rumah Sakit, pak Didi tidak langsung pulang ke rumahnya.


Pria paruh baya itu nampak mencegat taksi, kemudian dia namita sopir taksi tersebut untuk mengantarkan dirinya menuju tempat penginapan yang sudah beberapa minggu ini dia tutup.


Sampai di tempat penginapan, pak Didi langsung saja masuk dan melihat Damar yang sedang duduk sambil melamun.


Pak Didi menyapa Damar dengan mengucapkan salam, namun berkali-kali dia mengucapkan salam, Damar tetap tidak menyahuti. Dia begitu asyik dengan lamunannya.


Pak Didi langsung menepuk pundak Damar, Damar yang sedang asyik melamun sampai terlonjak kaget.


"Eh? Tuan, Tuan sudah sembuh?" tanya Damar.


"Sudah, saya sudah sembuh. Kenapa malah melamun?" tanya Pak Didi.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pak Didi, Damar terlihat menggaruk pelipisnya yang terasa tidak gatal.


Dia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada pak Didi, karena semenjak hari itu, tempat penginapan pak Didi tetap saja mengeluarkan bau yang tidak sedap.


Jangankan ada orang yang ingin menginap di sana, yang berkunjung pun tidak mau. Mereka seakan begitu jijik ketika melihat tempat penginapan milik pak Didi.


"Jawab jujur saja, jangan ragu. Saya akan menerimanya dengan ikhlas," kata Pak Didi.


Damar terlihat menghela napas panjang, kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan. Lalu, dia mulai bersuara.


"penginapan Tuan semakin kacau, bau busuk tetap tercium. Saya sudah berkali-kali membersihkan penginapan ini, Tuan. Sayangnya, bau busuk itu tetap tercium. Jadinya, saya meliburkan semua karyawan yang ada di sini. Setiap hari saya berjaga di sini, takutnya ada maling yang masuk," kata Damar.


Pak Didi tersenyum, karena ternyata Damar sangatlah cerdas, pikirnya. Dia menepuk pundak Damar beberapa kali. Lalu, dia berkata.


"Terima kasih, karena kamu sangat baik. Terima kasih karena kamu sudah menjaga penginapan saya," kata Pak Didi.


"Sama-sama, Tuan. Tuan, bolehkah saya mengusulkan sesuatu?" tanya Damar.


"Usul apa? Katakan saja! Nanti, kalau misalkan usul kamu bagus, saya akan kerjakan," kata Pak Didi.


Damar tersenyum, kemudian dia berkata.


"Saya rasa bau busuk itu bukan bau busuk sembarangan, Tuan. Sepertinya ada orang yang benci terhadap Tuan dan mengirimkan santet atau teluh," kata Damar.


Untuk sesaat pak Didi nampak terdiam, mungkinkah ada orang yang berniat jahat kepada dirinya?


Mungkinkah ada orang yang setega itu dan rela mengirim santet atau teluh kepada pria paruh baya seperti dirinya?

__ADS_1


"Apakah itu mungkin, Damar?" tanya Pak Didi.


"Mungkin saja, Tuan. Karena saya tidak pernah menemukan bangkai atau apa pun di penginapan Tuan," jelas Damar.


Pak Didi terlihat mulai berpikir, mungkinkah dia harus memercayai ucapan Damar? Mungkinkah dia harus mencari solusi yang tepat atau bagaimana?


"Apakah kamu mempunyai solusi Damar?" tanya Pak Didi.


"Bagaimana kalau Bapak menemui Ustadz saja? Mungkin Ustadz bisa membantu," kata Damar mengusulkan.


Pak Didi terlihat manggut-manggut, mungkin saja apa yang dikatakan oleh Damar benar pikirnya. Sepertinya dia harus menemui ustadz dan menanyakan tentang perihal usahanya.


"Kamu benar, Damar. Sepertinya saya harus pergi ke tempat ustadz," kata Pak Didi.


Setelah mengatakan hal itu, pak Didi nampak merogoh saku celananya. Kemudian, dia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan kepada sahabatnya, pak Ridwan.


Setahunya di dekat rumah pak Ridwan ada ustadz, dia ingin bertanya terlebih dahulu, mungkinkah pak Didi bisa menemui ustadz tersebut sekarang ini?


<"Assalamualaikum, Wan. Apa kabar?" tanya Pak Didi.


Satu pesan chat dia kirimkan ke pada teman dekatnya, pak Ridwan. Ternyata, tidak perlu menunggu lama.


<"Waalaikum salam, aku baik. Tumben kamu kirim pesan, kangen nongkrong bareng?" tanya Pak Ridwan.


Mendapatkan balasan pesan dari pak Ridwan, pak Didik nampak terkekeh.


<"Kangen iya, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan. Penginapan milikku selalu tercium bau busuk, sudah hampir satu bulan tutup. Herannya tidak ada bangkai atau apa pun," adu Pak Didi.


<"Lalu?"


<"Bukankah di dekat rumah kamu ada ustadz, apa sebaiknya aku bertanya kepada beliau ya? Soalnya ini sangat aneh, tidak masuk di akal."


<"Sepertinya hal yang kamu alami sama seperti yang pernah Reihan alami, kamu tunggullah sebentar. Aku dan Reihan akan mengajak Reihan untuk datang ke tempatmu," balas Pak Ridwan.


<"Ya, aku tunggu. Assalamualaikum."


<"Waalaikum salam."


Setelah berbalas pesan dengan sahabatnya, pak Didi nampak duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Kemudian, dia terlihat melamun. Damar seakan kasihan melihat pria paruh baya itu, dia mengambil air mineral dan menyodorkannya kepada pak Didi.

__ADS_1


"Diminum dulu, Tuan. Biar lebih tenang," kata Damar.


Pak Didi tersenyum, kemudian mengambil air mineral yang diberikan oleh damar dan meminumnya hingga tandas.


"Terima kasih," kata Pak Didi.


"Sama-sama," jawab Damar.


Damar tidak berani bertanya apa pun, dia hanya diam menunggu apa yang akan dilakukan oleh pak Didi selanjutnya.


Tiga puluh menit kemudian.


Pak Ridwan nampak datang bersama dengan Reihan mereka langsung menghampiri pak Didi yang sedang berada di penginapan miliknya tersebut.


"Assalamualaikum, Om," sapa Reihan.


"Waalaikum salam," jawab Pak Didi.


Jujur saja pak Ridwan merasa sangat gelisah setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh pak Didi, karena Reihan pun pernah mengalami hal tersebut.


"Didi, sebenarnya ada apa?" tanya Pak Ridwan.


"Seperti yang sudah kuceritakan tadi, di penginapanku tercium bau busuk. Cobalah kamu endus," kata Pak Didi.


Pak Ridwan dan juga Reihan terlihat mengendus-endus ruangan tersebut, ternyata benar saja, di sana tercium bau busuk yang sangat menyengat.


"Ini sama persis seperti yang pernah terjadi di Resto milik aku, Om," kata Reihan.


"Benarkah?" tanya Pak Didi.


"Iya, Om. Dulu ada yang nyimpen telor busuk di belakang Resto aku, Om," jawab Reihan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Reihan, pak Didi jadi berinisiatif untuk segera pergi menuju belakang penginapan.


Mungkin saja ada orang yang menyimpan telur busuk juga di sana, ternyata Damar pun satu pikiran dengan pak Didi. Dia langsung bangun dan berkata.


***


Masih berlanjut....


Dua bab langsung meluncur, semoga kalian masih setia untuk mampir dan membaca karya Othor.

__ADS_1


__ADS_2