
Saat pulang dari rumah sakit Mak menyambut anak gadisnya penuh haru.
“Nilam nggak pa-pa, Mak.” Ia melepas pelukan Mak. “Nilam akan senang kalau Mak senyum, nangis gini Nilam jadi sedih.”
Seketika tangis senyum Mak terkembang lalu kembali memeluk Nilam. Semua teman Nilam merasa senang melihat gadis itu bisa segar secepat ini. Mengingat tadi saat ditemukan kondisinya seperti tidak hidup.
“Gue pulang, ya Ni.” Juju meraih tangan Mak. “Juki pamit, Mak.” Mencium punggung tangan wanita itu takzim.
“Iya, hati-hati. Terima kasih banyak Nak Juki. Kalau kamu tidak ada, Mak-“ kata Mak Lumpit terputus karena langsung memeluk Juju erat, sebagai ungkapan rasa senangnya.
Juju sempat gelagapan, lalu kemudian menyentuh punggung Mak sambil menahan senyum ke arah Nilam.
Nilam dan tiga temannya menahan tawa mendengar Mak terus mendoakan Juju sehat bahagia.
“Udah, Mak. Juju capek. Kasihan belum tidur gara-gara Nilam.”
Juju pun pulang dengan hati membuncah. Bisa kembali sebagai teman akrab Nilam saja sudah membuat hidupnya berwarna. Ia tak menyesali mengenal gadis itu, meski mereka tidak menjadi pasangan hidup nantinya.
***
Mendengar kejadian semalam, Kyai Hamid menyatakan siap datang sekitar jam 10 pagi ini ke rumah Babe. Nilam juga kebetulan tidak masuk kerja karena merasa masih kurang segar, jadi ia dan Mak diundang keluarga Babe untuk bertemu guru Hanif itu.
Kyai yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun tapi masih tegap dan tampak sehat itu datang bersama empat santrinya. Setelah berkenalan singkat dengan Nilam dan Mak, santri yang usianya masih remaja itu mulai membacakan ayat Al-Qur'an.
Meski tanpa toa atau mikrofon suara para tahfiz muda yang bening itu terasa menembus relung hati. Nilam langsung berurai air mata, Mak di sebelahnya juga terlihat mengusap air mata dengan ujung kerudungnya.
Mak dipakaikan jilbab hitam instan milik Maemunah. Sedangkan Nilam juga menggunakan kerudung pashmina putih oleh ibunya Hanif tadi sebelum bertemu Kyai.
Suasana hati Nilam makin tenang saat ia didoakan langsung oleh Kyai Hamid, diamini semua yang berkumpul di situ. Meski sempat menangis Nilam merasa pikirannya lega tanpa beban.
Setelah selesai ia mendapat nasihat untuk mendekatkan diri lebih berpasrah pada Allah.
"Dalam semua kegiatan, apa pun itu usahakan dimulai dengan basmalah. Hati tetap tawakkal, insya Allah selalu akan terjaga. Sihir itu termasuk penyakit dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Dengan ibadah berserah diri, mendekat pada Al-Qur'an setiap hari, dan lakukan sunah yang dicontohkan Nabi, insya Allah bisa sembuh, atas ijin Allah," pungkas Kyai itu mengakhiri.
Gadis itu sampai bergetar merasa tersentuh, mengucapkan terima kasih banyak atas kedatangan Kyai yang sangat membantunya. Belum lepas haru Nilam, Mak tiba-tiba menyela.
“Bisa tolong Mak mau bertobat, Kyai ... selama di kampung banyak memberi sesajen, Mak kira Tuhan butuh dikirim makanan seperti yang orang tua dulu lakukan … tolong Mak, Kyai …," mohon Mak sambil mengusap air mata.
Hati Nilam berdesir hangat saat Mak diajarkan kalimat syahadat untuk diucapkan. Suara bergetar dan air mata mengiringi bibir Mak berucap lancar.
“Alhamdulillah, Nilam sayang Mak.” Wanita berpipi keriput itu dipeluk Nilam lama setelah selesai doa syukur terpanjat untuk Mak.
Waktu Dzuhur tiba mereka jamaah bersama. Setelahnya Maemunah persilakan semua menikmati suguhan makan siang sebelum pulang.
Saat mencicipi hidangan, Kyai menyampaikan lagi secara pribadi keinginannya mengambil Hanif sebagai pengajar tetap di pondok. Hanif dianggap bisa menginspirasi generasi muda di pondok untuk semangat memperdalam ilmu agama.
“Aye menerima dengan senang hati, Kyai. Alhamdulillah, asal Hanif sendiri bersedia,” jawab Babe gembira.
__ADS_1
Rombongan Kyai kemudian pamit pulang di antar oleh keluarga Babe, Nilam juga Mak sampai halaman.
Semua hati yang tertinggal di rumah ini merasakan damai dan lapang. Pun Nilam dan Mak yang mempunyai keinginan kuat tertanam di hati. Setelah ini akan giat belajar ilmu agama, karena itulah yang sempurna mengatur keseharian agar tak keluar jauh dari ridho-Nya.
***
Sepulang bekerja Juju mampir sebentar ke rumah Babe bertemu Hanif.
“Juki, baru pulang?”
"Iye nih, Bang. Mampir bentar."
Hanif kebetulan sedang akan keluar rumah saat Juju mengarahkan motor masuk pagar. Setelah melepas helm ia menghampiri Hanif, menyalaminya dan mengucapkan selamat.
“Selamat untuk apa ini?” Hanif bingung.
“Maaf, surat Abang untuk Nilam, Juki ikut baca.”
Wajah Hanif langsung terlihat memerah, ia menarik tangan Juju untuk duduk sebentar di teras.
“Oya? trus, gimana tanggapannya?” tanya lelaki berwajah bersih itu semringah.
Juju menunduk lalu menarik napas sebelum menjawab.
“Juki enggak tau, Bang. Hanya menurut Juki, Nilam memang butuh Bang Hanif di sampingnya.” Ia menuturkan kekhawatirannya pada Nilam yang belum juga lepas dari pengganggunya. Takut kalau lengah lagi Nilam masih dalam bahaya.
“Eh, iya, bener, Bang. Juki juga setuju itu."
Kedua saudara sepupu itu ngobrol sebentar sampai Hanif harus berangkat untuk mengisi tausyah bapak-bapak di Masjid kompleks selepas Isya.
***
Hutan di Dusun Gelap
Di rumah berlantai papan, tampak darah berserakan di lantai. Lelaki tua itu semakin melemah. Panas semakin terasa membakar tubuhnya tak terlawankan lagi.
Ia kira sejak semalam sudah mendapatkan nyawa Nilam, saat kepala gadis dalam kondisi tak sadar itu cepat dimasukan ke tong air. Tapi saat bersamaan ia tak mampu melanjutkan aksi, panas sangat terasa membakar dalam tubuh, membuatnya segera melesat kembali ke sini. Tubuh yang selalu dipakainya selama ini.
Namun sampai sekarang panas itu justru menjadi-jadi, sangat menyiksanya yang merasa semua organ terbakar di dalam sana.
Sementara lelaki tua itu menahan sakit, ada perempuan di ujung ruang memeluk lutut, memandanginya tanpa kedip. Rambut yang tergerai di antara wajahnya, kusut masai. Pakaian rombeng yang membuat terlihat sebagian tubuhnya tak dipedulikan lagi. Ia bagai manusia yang tak bersemangat menyambut hari.
“Aku Ki Arya … tidak boleh kalah ….” Suara serak keluar di antara tetesan merah segar yang mengalir dari mulut lelaki tua. Semakin ringkih organ dalam manusia yang ditumpangi bayangan gelap itu.
“Kalian memang tidak berguna, kalian salah pilih orang!” Kali ini suara menggelegar yang keluar.
Mata lelaki tua melotot pada Suci yang bergeming di tempat, tak terlihat takut lagi, mata itu malah berkilat tanpa ekspresi menantangnya.
__ADS_1
“Kalau gitu bunuh aku saja, bunuh!” pinta Suci keras.
“Hehehee, Uhukk!” Tersedak lelaki tua itu menyemburkan darah hingga semeter dari depan wajahnya.
Dada ia cakar kuat, merasakan sesuatu akan lepas dari tubuhnya yang panas membara. Ilmu yang diharap sebagai
pengumpul harta, mencuri saat raga tak terlihat belum jua bisa dinikmati sempurna. Ilmu itu masih tidak bisa dipakai sepenuhnya. Masih ada tumbal terakhir yang tak kunjung didapat.
Ialah lelaki pertama yang mengumpulkan teman untuk perdalam ilmu rogoh sukma. Mereka membuat kelompok di hutan ini, meminta kekuatan dari bayangan hitam yang menjanjikan kekayaan singkat dan ilmu tak tertandingi oleh siapa pun. Tentu setelah mendapat beberapa tumbal sesuai perjanjian.
Hasilnya memang mulai terlihat. Wanita mana pun yang mereka inginkan sulit menolak digauli, harta mereka tumpuk pun sudah terlihat, tapi akan menjadi petaka jika dipakai sebelum tumbal sempurna sembilan.
Tanda pada Nilam terlanjur tersemat dan sekarang justru semua tidak sanggup mendapatkan nyawanya. Kembali muda dan gagah pun hanya akan menjadi mimpi.
Tubuh lemah itu tersungkur, tak mampu lagi mengangkat badan dari lantai.
Melihat itu, Suci seketika bangkit, ia mengambil sebuah balok di belakang pintu, saat lelaki itu tersungkur lemah ia menghantamnya membabi buta sekuat mungkin. Entah bagian tubuh mana saja yang terkena, Suci segera berlari keluar.
Dalam terang cahaya bulan Suci terus berlari ke mana arah kaki membawa. Ia tidak ingin menoleh lagi ke belakang.
Tanpa ia tahu rumah itu seketika lenyap dari pandangan. Sesosok gelap melesat lepas dari lelaki tua yang meregang nyawa. Terbang tak tentu arah di dalam hutan.
Sembilan ... sembilan ... sembilan ....
Angka yang telah gagal didapat akan menurunkan keampuhan ajiannya. Set*n hitam yang menyebut namanya Ki Arya itu benar-benar dalam kondisi putus asa. Jika begini ia akan hanya menjadi set*an biasa tak berguna.
Untuk mengembalikan kekuatan tugas berat akan membebani punggungnya berpuluh kali lipat.
Bayangan itu terus melesat, berputar-putar tanpa arah. Suara amarah dan kecewa diluapkan dengan pekik garang, menggema di seluruh penjuru hutan.
Sementara itu Suci terus berlari hingga akan kehabisan tenaga. Terhuyung sudah langkahnya ketika sampai di tempat yang sangat ia kenal. Tepi telaga.
Suci terhenti, berdiri di sana, tatapannya kosong terlempar pada isi telaga yang gelap, entah makhluk apa di dalam air itu yang akan menyambut tubuhnya.
Suci memejamkan mata, menarik napas panjang, mengaturnya berulang walau sesak itu belumlah hilang. Ia merasa sendiri dan akan menjemput kesendirian abadinya. Langkahnya maju, semakin mendekati sisi. Terbayang
olehnya, tepi yang menjorok ke dalam itu akan cepat membawanya ke dasar telaga.
Terus melangkah maju, perlahan. Jantungnya berdebar, mata kembali terpejam, sudah dibulatkan tekad akan melepas semua jiwanya, menemui hukuman lain di sana atas semua dosa.
Jejak berikutnya, kaki tanpa alas itu merasakan tanah yang terpijak luruh dan jatuh. Gemetar badannya membuat ia mundur selangkah. Sejenak meragu, tapi kemudian membuat ancang-ancang, meloncat cepat.
Dalam sekejap raganya membentur permukaan air, menimbulkan suara dan riak besar, lalu tenang saat tubuhnya telah ditelan air keruh itu.
Bersambung ....
__ADS_1