Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Tinggal Di Rumah Mertua


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Arumi dirawat di Rumah Sakit, keadaan fisiknya sudah sangat sehat. Namun, kondisi kejiwaannya terlihat terguncang.


Arumi terlihat lebih sering diam, dia tidak pernah berbicara sama sekali. Jika ada yang bertanya, dia hanya akan mengangguk, menggeleng dan mengedipkan matanya beberapa kali.


Aldo sungguh sangat stress menghadapi kenyataan ini, begitupun dengan pak Didi. Dia terlihat begitu sedih saat mengetahui kondisi kejiwaan putrinya tersebut.


"Sayang, kata dokter besok kamu sudah boleh pulang. Mau pulang ke rumah kita atau mau pulang ke rumah bapak?" tanya Aldo.


Arumi yang sedang terbaring seraya menatap langit-langit kamar Rumah Sakit tersebut, terlihat mengalihkan pandangannya kepada Aldo.


Lalu, tidak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada pak Didi yang terlihat sedang duduk di atas sofa.


Arumi menatap pak Didi cukup lama, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Aldo tersenyum, Aldo paham jika Arumi ingin pulang ke rumah orang tuanya.


Aldo langsung menetap pak Didi, lalu dia bertanya kepada mertuanya tersebut.


"Arumi ingin pulang ke rumah Bapak, apakah boleh?" tanya Aldo.


Pak Didi tersenyum, kemudian dia menjawab dengan cepat.


"Boleh, tentu saja boleh," jawab Pak Didi.


Aldo tersenyum lega saat mendengar jawaban dari pak Didi, satu hal yang masih mengganjal di dalam hatinya.


Apakah mungkin dia diizinkan untuk menginap di rumah mertuanya untuk menemani istrinya? Karena penasaran Aldo lalu bertanya.


"Lalu, apakah aku boleh tinggal sama Bapak juga? Aku ingin merawat istriku," kata Aldo.


"Ya, kamu boleh tinggal bersama Bapak," kata Pak Didi.


Aldo tersenyum, dia terlihat sangat senang sekali karena akhirnya pak Didi memperbolehkan dirinya untuk tinggal bersama dengan istrinya di rumah mertuanya tersebut.


Sebenarnya pak Didi masih belum ikhlas jika Aldo menginap di rumahnya, namun demi kesehatan Arumi, dia rela.


***


Keesokan harinya.


Sesuai dengan yang sudah dibicarakan kemarin malam, akhirnya hari ini Arumi diperbolehkan untuk pulang.


Aldo langsung membawa istrinya tersebut pulang ke rumah mertuanya, beruntung Arumi meminta untuk pulang ke rumah mertuanya. Karena dia merasa itu akan lebih baik dan juga lebih aman.


Aldo sering melihat kecemburuan di mata Nyai Ratu, dia hanya takut istrinya akan disakiti oleh siluman ular tersebut.


Karena Nyai Ratu terlihat sangat sulit ditebak baik dalam perkataan dan juga perbuatannya, dia benar-benar takut jika istrinya akan celaka jika tetap tinggal di rumahnya.


"Kamu mau langsung bobo apa mau duduk santai dulu sambil nonton tv?" tawar Aldo.


Arumi terdiam, Aldo menjadi bingung dibuatnya. Aldo terlihat mencoba untuk bersabar dan dia menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita beristirahat saja, mau?" tanya Aldo.


Arumi terlihat menggelengkan kepalanya, Aldo jadi berpikir mungkin Arumi ingin menghabiskan waktu di taman belakang.


"Kamu mau duduk di taman belakang?" tanya Aldo.


Arumi terlihat menganggukkan kepalanya, Aldo langsung menggendongnya dan membawa Arumi menuju taman belakang.


Aldo mendudukkan Arumi di salah satu bangku taman, Arumi tersenyum. Namun tidak lama kemudian dia menangis.


Aldo mulai takut saat melihat hal itu, apa lagi kini Arumi mulai menepuk-nepuk dadanya. Dia sepertinya sedang merasakan sesak yang luar biasa.


Aldo segera membawa Arumi ke dalam pelukannya, dia kecup puncak kepala istrinya beberapa kali.


"Jangan menangis, maaf karena Mas tidak bisa menjaga kalian. Maaf, semuanya karena Mas." Aldo turut menangis.


"Ini semua karena wanita jahat itu, Mas. Ini semua karena wanita ular itu," kata Arumi.


Deg!


Aldo benar-benar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, hatinya benar-benar resah saat ini. Apakah mungkin Arumi sudah tahu dan bahkan sudah menyadari akan keberadaan tentang Nyai Ratu?


Disatu sisi Aldo senang karena Arumi mau berbicara kembali, namun di sisi lain dia merasa takut kalau Arumi mengetahui kenyataan yang lainnya.


"Maksud kamu, Sayang?" tanya Aldo.


"Malam itu, di sini. Aku--"


Aldo mendengarkan, namun hatinya benar-benar menjerit. Antara takut dan juga kecewa, itulah yang Aldo rasakan.


Aldo bisa menyimpulkan, jika terus seperti ini Arumi bisa gila. Bahkan Arumi juga bisa turut jadi korban.


Dia kesal, dia marah. Tapi, Aldo merasa bingung harus melakukan apa. Dia merasa bingung harus berbuat apa.


'Sepertinya aku harus mencari cara agar bisa terlepas dari Nyai Ratu, tapi bagaimana?'


Aldo mulai berpikir untuk lepas dari Nyai Ratu, rasa-rasanya calon anak dan juga istrinya dirasa lebih berharga dari apa pun.


Arumi terlihat melerai pelukannya, dia tatap wajah Aldo dengan lekat. Dia tatap wajah suaminya dengan penuh kesedihan, Aldo merasa semakin bersalah.


"Mas percaya sama aku, kan? Mas paham dengan apa yang aku bicarakan, kan?" tanya Arumi.


"Iya, Sayang. Mas percaya," kata Aldo.


"Kalau begitu Mas harus cari tahu di mana dia tinggal, dia harus mengembalikan anak aku, Mas. Dia mengambil anak aku," kata Arumi di sela tangisnya.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi, nanti kita akan cari tahu di mana wanita itu," kata Aldo.


Arumi benar-benar terlihat terguncang, Aldo benar-benar tidak tega melihat keadaan istrinya yang seperti ini.

__ADS_1


Berulang kali Aldo berusaha untuk menenangkan hati istrinya, tetapi Arumi seakan begitu mengalami kepedihan yang mendalam.


"Kita istirahat saja, kamu harus tidur biar bisa rileks," kata Aldo.


Arumi tidak merespon, dia tetap saja menangis sambil memeluk Aldo. Aldo langsung mengangkat tubuh Arumi dan membawanya ke dalam kamarnya.


Pak Didi yang melihat pasangan suami istri tersebut turut merasa sedih, tetapi dia tidak bisa berkata apa pun.


Namun, pak Didi percaya jika semua kemalangan yang terjadi itu adalah teguran dari Allah.


Mungkin, ini ada acara Allah menegur Arumi dan juga Aldo karena sudah melakukan kesalahan.


Tiba di dalam kamarnya, Aldo merebahkan tubuh Arumi dengan sangat perlahan. Aldo pun sama, dia turut merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya dengan erat.


Dia kecup kening istrinya dengan lembut, lalu dia tepuk-tepuk punggung istrinya. Dia berharap dengan seperti itu Arumi akan terlihat lebih tenang.


Aldo juga berharap Arumi akan tidur, agar dia tidak terlalu lelah setelah menangis harus cukup lama.


Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu nampak terlelap dalam tidurnya.


"Aldo!"


"Aldo!"


Panggilan demi panggilan terus saja terngiang-ngiang di telinga Aldo, Aldo langsung terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Saat matanya terbuka dengan sempurna, dia melihat ular yang begitu besar sedang melilit tubuh Arumi, istrinya.


Aldo menjerit histeris, dia ketakutan. Dia menangis sesenggukan, Aldo benar-benar takut luar biasa.


"Istrimu akan mati Aldo, kamu akan menerima kenyataan pahit. Kamu sudah berani mengabaikan aku, aku sedang marah padamu Aldo."


"Arumi! Arumi, Sayang! Jangan! Ku mohon jangan! Jangan lakukan ini pada istriku!" teriak Aldo.


"Aldo! Bangun Aldo!"


"Mas! Bangun!"


"Arrgh!"


Aldo berteriak dengan sangat kencang, dia langsung bangun dan sangat kaget kala melihat pak Didi dan juga Arumi sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Huh! Huh! Huh!"


Aldo terlihat bernapas dengan tersenggal-senggal, Arumi dan pak Didi sampai bertanya-tanya tentang apa yang sudah Aldo impikan.


"Kamu kenapa, Mas? Mimpi Apa?" tanya Arumi.


***

__ADS_1


Masih berlanjut....


Yuk ramaikan kolom komentar, jika ada saran dan kritik boleh disampaikan.


__ADS_2