
Pagi-pagi sekali Aldo sudah terbangun dari tidurnya, setelah melakukan shalat subuh Aldo langsung bersiap untuk pergi ke rumah lamanya yang kini sudah dijadikan sebagai pabrik tempe.
Pabrik kecil-kecilan dengan modal yang Aldo punya, beruntung paman Alan mau membantu Aldo. Sehingga Aldo kini bisa mempunyai sepuluh karyawan di pabrik kecilnya.
Sebenarnya pak Didi ingin memberikan Aldo modal untuk membangun usahanya tersebut. Namun, Aldo berkata jika dia ingin merintis usahanya dari awal dengan modal uang sendiri.
Dia tidak mau merepotkan siapa pun termasuk bapak mertuanya atau bahkan Arumi, Aldo menerima bantuan dari paman Alan pun karena dia hanya meminjam, tidak meminta.
Aldo berjanji, jika suatu saat nanti dia akan membayar uang dari paman Alan. Walaupun paman Alan memang ikhlas membantu dirinya, tidak mengharapkan uangnya dikembalikan.
Bahkan dia membantu dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dia justru ingin mendukung Aldo sepenuhnya.
Selama satu hari penuh Aldo benar-benar bekerja dengan baik, dia membuat tempe untuk besok berjualan.
Sore harinya, Aldo menjemput Arumi dengan menggunakan motor butut yang dia punya. Tentu saja motor itu sudah dia servis sehingga terlihat lebih baik, walaupun tidak baru.
Beruntung Arumi merasa tidak malu saat Aldo menjemput dirinya, karena menurutnya inilah Aldo. Inilah suaminya, dia tidak perlu malu. Justru Arumi merasa bangga, karena Aldo mencintainya begitu besar.
"Selamat sore, Sayang," sapa Aldo.
"Selamat sore, Mas," balas Arumi.
"Mau langsung pulang atau mau jajan di luar dulu?" tanya Aldo.
Arumi terlihat berpikir sebentar, rasanya mereka memang sudah lama tidak makan di luar atau hanya sekedar jajan di pinggir jalan.
__ADS_1
Karena selama ini masalah yang mereka hadapi terasa begitu rumit, akhirnya Arumi pun menganggukan kepalanya.
Menurutnya, tidak ada salahnya menikmati waktu untuk sekedar menikmati kebersamaan di antara dirinya dan juga suaminya.
"Aku mau jajan bakso di taman, boleh?" tanya Arumi.
"Boleh, Sayang," jawab Aldo.
Akhirnya Arumi terlihat memakai helm di atas kepalanya, lalu dia naik ke atas motor Aldo. Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Aldo.
Aldo tersenyum senang, kemudian dia mulai melajukan motornya menuju taman sesuai dengan permintaan istrinya.
Tiba di taman, Aldo langsung memarkirkan motornya. Kemudian, dia menuntun Arumi menuju tempat di mana banyak para pedagang menjajakan makanan yang hendak mereka jual.
"Di sana ada tukang bakso yang katanya rasanya sangat enak, kamu mau?" tanya Aldo seraya menunjuk tukang bakso yang berada tidak jauh dari dirinya dan juga Arumi.
Aldo tersenyum, kemudian dia mengajak istrinya untuk makan bakso di tempat yang dia tunjukkan kepada istrinya tersebut.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Aldo terlihat mengajak Arumi untuk duduk di bangku taman, kemudian dia mulai berbicara kepada istrinya.
"Sayang, kamu tahu, kan bahwa mommy aku masih hidup? Dia sudah menikah dengan lelaki lain dan sudah mempunyai dua orang anak," kata Aldo.
Arumi terdiam, dia seolah sedang menyimak apa yang disampaikan oleh suaminya tersebut. Aldo tersenyum, kemudian dia kembali berkata.
"Aku ingin menemui mommy, aku ingin meminta maaf kepada dirinya karena aku sudah melakukan kesalahan. Aku juga sudah salah karena bersikap tidak baik terhadap mommy," kata Aldo lagi.
__ADS_1
"Lalu, Mas ingin aku bagaimana?" tanya Arumi.
"Aku ingin kamu temanin Mas ke kota B untuk bertemu dengan mommy," jawab Aldo.
Arumi tersenyum karena ternyata Aldo hanya menginginkan dirinya untuk mengantarkan Aldo menuju tempat di mana ibunya berada.
"Kebetulan mulai besok aku tidak bekerja selama dua hari, bagaimana kalau kita pergunakan waktu libur tersebut untuk berkunjung ke rumah mommy?" ajak Arumi.
Aldo tersenyum karena ternyata Arumi langsung mengajak dirinya untuk pergi, padahal dia sempat menyangka Arumi tidak bisa pergi karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah, Mas setuju," kata Aldo.
Tidak lama kemudian, bakso yang dipesan oleh mereka telah datang. Arumi nampak langsung menikmati bakso tersebut bersama dengan Aldo.
Sesekali terjadi obrolan di anatara mereka, terkadang terdengar canda tawa dari bibir keduanya. Mereka terlihat begitu bahagia, bahkan lebih bahagia dari saat pertama mereka menikah secara diam-diam.
Rasanya kini hidupnya terasa lebih tenang, terasa lebih baik dan terasa lebih sempurna. Walaupun Aldo harus hidup dalam kesederhanaan.
Aldo ingin memulai semuanya dengan baik, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang fatal seperti yang pernah dia lakukan.
Sungguh Sang Pencipta masih memberikan kesempatan kedua untuk dirinya bertaubat, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya meninggal dalam keadaan penuh dengan dosa
Sudah barang pasti dia akan langsung diceburkan ke dalam api neraka, api yang pasti akan dengan cepat ******* tubuhnya sampai tak tersisa.
****
__ADS_1
Masih berlanjut.