
Tubuh Aldo benar-benar terasa sangat lemas, dia tidak menyangka jika Nyai Ratu masih saja terus berusaha untuk membunuh dirinya.
Aldo tahu jika dirinya sudah salah langkah, Aldo tahu karena dirinya telah terjerumus ke dalam kubangan lumpur dosa.
Namun, sungguh Aldo ingin bertaubat. Aldo sungguh ingin merubah kehidupannya, Aldo tidak ingin terikat lagi dengan Nyai Ratu.
Tubuh Aldo yang lemas langsung merosot ke atas lantai, dia benar-benar merasa takut, sedih, dan dia benar-benar merasa bersalah.
Dia benar-benar merasa jika dirinya adalah makhluk yang paling berdosa, mahluk ciptaan Tuhan yang tidak pantas mendapatkan kebaikan.
"Ya, Tuhan. Maafkan hambamu ini, maafkan atas kesalahan hamba. Hamba berjanji akan melakukan taubatan nasuha," kata Aldo dengan bibir bergetar.
Aldo menahan rasa sesak di dalam hatinya, antara takut dan juga senang kini Aldo rasakan.
Senang karena Nyai Ratu tidak bisa mendekati dirinya, sedih karena dirinya merupakan manusia syirik.
Andai saja dari awal dia tahu jika menyembah siluman itu hanya akan menyesatkan dirinya, Aldo tidak akan pernah mau melakukannya.
Apalagi jika mengingat akan pertama kali dia bertemu dengan Nyai Ratu, saat itu dia harus merelakan keperjakaannya.
Aldo harus menjadi pemuas napsu dari Nyai Ratu, itu benar-benar sangat memalukan menurut dirinya.
Saat Aldo sedang meratapi nasibnya, Arumi terlihat datang ke kamarnya. Dia terlihat begitu kaget saat melihat Aldo yang sedang duduk di lantai dengan berurai air mata.
"Ada apa, Mas? Mas kenapa seperti ini?" tanya Arumi seraya melangkahkan kakinya menghampiri Aldo.
Arumi terlihat memeluk Aldo dan mengelusi puncak kepala pria itu, pria yang sudah menjadi suaminya.
"Maafkan Mas, Sayang. Maafkan atas semua kesalahan yang telah Mas perbuat selama ini, Mas tahu jika Mas sudah mengambil jalan yang sesat. Tadi Nyai Ratu datang lagi, dia seolah menginginkan nyawa Mas," kata Aldo.
Arumi terlihat ketakutan, tapi di balik hal itu Arumi yakin jika Allah akan memberikan perlindungan kepada dirinya dan juga Aldo.
Asalkan Aldo benar-benar ingin bertaubat, Allah itu maha pengampun, maha pengasih dan penyayang.
"Ngga usah takut, Mas. Kalau Mas memang benar-benar mau bertaubat, kalau Mas benar-benar mau terlepas dari Nyai Ratu. Aku yakin Mas bisa selamat dari teror Nyai Ratu, karena ada Allah yang akan melindungi," kata Arumi.
Arumi terlihat menyemangati suaminya, Aldo tersenyum. Kemudian dia membalas pelukan istrinya, dia merasa bersyukur karena walaupun Arumi sudah tahu kenyataan apa yang menimpa dirinya, Arumi tidak meninggalkan Aldo.
Dia masih setia berada di samping Aldo, bahkan Arumi tidak menuntut cerai terhadap dirinya.
Arumi tidak menatap Aldo penuh benci atau pun menuntut cerai, itulah yang membuat Aldo semakin mencintai Arumi.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawab Aldo.
"Kalau begitu kita ke ruang keluarga saja, kita makan kue sambil nonton tv, mau?" tanya Arumi.
"Mau, Yang. Mau banget," kata Aldo.
Arumi tersenyum, kemudian dia membantu Aldo untuk berdiri. Arumi bahkan membantu Aldo untuk berjalan sampai di ruang keluarga.
Tiba di ruang keluarga, Arumi membantu Aldo untuk duduk. Kemudian, dia mengambil kue yang sudah dia buat.
Tidak lama kemudian, pak Didi juga nampak datang, akhirnya mereka pun bercengkrama bersama.
"Kuenya enak, Mas suka," kata Aldo.
"Terima kasih pujiannya, makanlah yang banyak," kata Arumi.
"Ya," jawab Aldo.
Di lain tempat.
selepas ashar Reihan terlihat melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit, setelah sampai dia langsung menepikan mobilnya dan turun untuk menemui suster Camelia.
Setelah beberapa hari ini melakukan shalat istikharah, selalu saja suster Camelia yang hadir dalam mimpinya.
"Ehm, maaf mengganggu, Pak. Suster Camelia ada?" tanya Reihan pada security yang berjaga.
"Oh, sebentar lagi dia akan pulang. Ada apa, ya?" tanya Security tersebut.
"Oh, hanya ingin berbicara saja," jawab Reihan.
"Anda bisa langsung menemui dirinya di dalam, biasanya kalau sudah mau pulang dia sedang ada di ruang Pak Sholeh," kata Security tersebut.
"Tidak usah, saya menunggu di sini saja," jawab Reihan.
Reihan sama sekali belum berkenalan dengan suster Camelia, Reihan sama sekali belum pernah berinteraksi secara langsung dengan dirinya.
Rasanya akan sangat malu jika tiba-tiba dia datang untuk menemui suster Camelia di dalam Rumah Sakit.
Apalagi kini suster Camelia sedang berada di dalam ruangan ayahnya, sang pemilik dari Rumah Sakit tersebut.
Reihan terlihat berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada body mobil, sesekali dia menatap ke arah gerbang Rumah Sakit.
__ADS_1
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Suster Camelia terlihat sedang berjalan dan keluar dari lobi Rumah Sakit.
Dia terlihat hendak berjalan menuju parkiran, tapi dengan cepat Reihan menghampirinya. Reihan langsung berdiri tepat di hadapannya.
Suster Camelia sempat menatap Reihan, tapi beberapa detik kemudian dia menurunkan pandangannya.
"Anda siapa? Kenapa anda menghalangi jalan saya?" tanya Suster Camelia.
"Aku, aku ingin kita bicara sebentar saja. Bisa tidak?" tanya Reihan.
"Maaf, tapi aku harus segera pulang," jawab Suster Camelia.
Suster Camelia terlihat berjalan ingin meninggalkan Reihan, tapi dengan cepat Reihan mencekal pergelangan tangan suster Camelia.
Suster Camelia nampak menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap pergelangan lengannya yang dicekal oleh Reihan.
"Maaf, kita bukan mahram," kata Suster Camelia.
"Oh, maaf. Maafkan aku," kata Reihan seraya melepaskan cekalan tangannya.
"Tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi," kata Suster Camelia.
Reihan yang merasa tidak ikhlas melihat suster Camelia pergi begitu saja langsung kembali menghalangi jalan dari wanita itu.
Suster Camelia nampak mengelus dadanya, dia seolah sedang meminta dilapangkan dadanya kepada Sang Khalik.
"Oh ya Tuhan, aku mohon kepadamu. Aku mau pulang, jangan menggangguku," kata Suster Camelia.
Reihan tersenyum saat melihat sorot mata tajam dari suster Camelia, kemudian dia berkata.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu, ku mohon. Hanya sebentar saja, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku," kata Reihan.
Untuk sesaat suster Camelia terdiam, dia sempat menatap Reihan kembali. Lalu, kembali menundukkan pandangannya.
Dia melihat sorot mata Reihan yang tulus, tidak ada niat jahat sama sekali dari sorot mata yang dia lihat.
"Baiklah, kalau begitu kita berbicara di Cafe depan," kata Suster Camelia.
Setelah mengatakan hal itu, suster Camelia nampak melangkahkan kakinya menuju Cafe yang berada di depan Rumah Sakit.
Rehan tersenyum, kemudian mengekori langkah dari suster Camelia. Sungguh dia berharap jika suster Camelia mau menerima maksud dari Reihan.
__ADS_1
***
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar. Selamat sore, selamat menikmati weekend.