
Aldo benar-benar tidak menyangka jika janin yang berada di dalam rahim Arumi tidak bisa dipertahankan, kini Arumi harus melakukan proses kuretase.
Padahal dia sengaja mengungsikan Arumi ke rumah mertuanya, agar janinnya bisa selamat. Sayangnya, Aldo hanya manusia biasa yang tidak bisa melanggar perjanjiannya dengan Nyai Ratu.
Setelah menandatangani surat persetujuan, Aldo masuk ke dalam ruang perawatan Arumi. Arumi terlihat sedang duduk seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran bad pasien.
Wajah Arumi terlihat sangat pucat, dia seperti sedang menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Aldo merasa sangat kasihan melihat keadaan istrinya tersebut.
Di samping Arumi terlihat pak Didi yang sedang duduk seraya mengelus-elus lengan istrinya dengan lembut.
Aldo segera menghampiri istrinya, dia duduk di bangku tunggu kemudian menggenggam tangan Arumi dengan erat.
"Semuanya akan baik-baik saja," kata Aldo.
Mendengarkan kalimat dukungan dari suaminya, bukannya merasa senang justru Arumi malah menangis.
Dokter Lena sudah menjelaskan, jika janin yang ada di rahimnya tidak bisa dipertahankan karena benturan yang Arumi alami di perutnya sangatlah keras.
Sudah barang tentu Arumi sangat sedih dan semuanya tidak akan baik-baik saja, dia sangat sedih.
Apalagi Arumi mengalami pendarahan saat terjatuh, dokter Lena berkata akibat dari kejadian tersebut, janin yang sedang Arumi kandung mengalami pelepasan sebanyak dua puluh persen.
Jika Arumi nekat mempertahankannya, maka janin itu tidak bisa berkembang dengan baik.
Arumi terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya mengalir semakin deras. Aldo yang merasa tidak tega melihat keadaan Arumi, langsung memeluk istrinya tersebut dengan erat.
"Sabar ya, Sayang. Mungkin ini ujian untuk kita, bersabarlah. Jangan menangis lagi, Mas juga tidak tahu harus berbuat apa," kata Aldo.
Dalam hati Aldo merutuki ucapannya sendiri, tentunya semua ini karena ulahnya sendiri, dia harus membayar semua harta yang sudah dia dapatkan dengan cara mengorbankan janin yang ada di dalam perut istrinya tersebut.
Jika saja Nyai Ratu bisa diajak bernegosiasi, sudah pasti dia lebih baik mencari banyak perawan untuk ditumbalkan, bukan mengorbankan anaknya sendiri.
Pak Didi ikut meneteskan air matanya, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga sama, dia merasa sedih saat melihat putri tercintanya begitu tersiksa.
Dia memang masih belum bisa menerima Aldo sepenuhnya, namun kehilangan calon cucunya membuat dia ikut terluka.
"Oiya, Sayang. Kamu di suruh puasa selama enam jam," sambung Aldo.
"Iya, Mas," jawab Arumi.
Pak Didi merasa jika kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan lagi di sana, sepertinya Arumi lebih membutuhkan Aldo untuk menyemangati dirinya.
Lagi pula pak Didi masih mempunyai pekerjaan yang harus dia selesaikan, pekerjaan yang sudah tertunda karena dia malah sakit.
"Ehm, Bapak pergi dulu saja. Nanti sore kalau proses kuretsenya mau di mulai, Bapak ke sini lagi," kata Pak Didi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, Arumi merasa tidak senang. Dirinya kini sedang berada dalam kemalangan.
Akan tetapi bapaknya malah berpamitan untuk pergi, padahal dirinya sangat ingin ditemani oleh pak Didi dan juga Aldo.
Rasanya saat ini dia begitu membutuhkan dukungan dari setiap orang yang dia sayang, dia tidak ingin sendirian.
"Bapak kenapa pulang? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Arumi.
Arumi terlihat menekuk wajahnya, dia merasa kecewa.
Pak Didi juga sebenarnya tidak tega meninggalkan Arumi, namun masih ada hal yang harus dia selesaikan.
__ADS_1
"Sebenarnya Bapak masih ingin menemani kamu, Sayang. Hanya saja Bapak juga ada urusan yang harus dikerjakan," kata Pak Didi.
Arumi jadi bertanya-tanya dalam hatinya urusan apa pikirannya karena selama ini semua usaha yang dia rintis diserahkan kepada Damar.
"Urusan apa sih? Bapak sedang sakit, jangan melakukan hal yang berat-berat dulu. Lagian ada Damar juga," kata Arumi.
Pak Didi terlihat menghela napas berat, dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya, Bapak tahu. Bapak hanya mau mengecek kondisi penginapan Bapak yang sudah lama Bapak tutup, Bapak merasa penasaran, kenapa penginapan Bapak bisa menimbulkan bau busuk seperti itu? Bahkan sampai sekarang tidak ada orang yang mau menginap di sana," kata Pak Didi.
Mata pak Didi terlihat menerangwang jauh jika mengingat akan hal yang terasa sangat janggal menurutnya. Dia benar-benar merasa bingung kenapa hal itu bisa menimpa dirinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Didi, Aldo sempat merasa gelisah. Ini semua karena ulah dirinya, namun itu dia lakukan karena merasa kesal terhadap pak Didi.
Andai saja pak Didi tidak melarang dirinya untuk menikahi Arumi, mungkin saja Aldo tidak akan melakukan hal itu, pikirannya.
"Ya sudah, kalau begitu Bapak boleh pulang. Tapi, jangan terlalu capek ya, Pak?" kata Arumi.
"Ya, Bapak juga butuh istirahat. Bapak akan mengunjunginya sebentar lalu pulang lagi," kata Pak Didi.
"Iya, Pak. Hati-hati," kata Arumi.
"Ya, kalau begitu Bapak pergi," pamit Pak Didi. Tatapan mata pak Didi beralih kepada Aldo, "titip Arumi."
"Ya, Pak," jawab Aldo.
Setelah berpamitan, akhirnya pak Didi langsung pergi ke tempat usahanya. Dia tidak mungkin berlama-lama membiarkan usahanya tutup.
Setelah kepergian pak Didi, Aldo tidak pergi barang sebentar pun dari samping Arumi. Jika dia lapar, dia hanya akan memakan roti dan minuman kaleng yang sudah dibeli dari kantin Rumah Sakit.
*****
Waktu berjalan dengan cepat, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Arumi sudah mengantuk, namun dia masih menunggu dokter Lena datang.
Aldo terlihat duduk seraya memeluk Arumi dan membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Permisi, sudah waktunya melakukan proses kuretase," kata Dokter Lena.
Dokter Lena datang bersama dua orang perawat, dua perawat itu datang membawa meja dorong dengan berbagai alat yang dibutuhkan oleh dokter Lena untuk melakukan proses kuretase.
Aldo terlihat melerai pelukannya, karena melihat dokter Lena dan dua orang suster masuk ke dalam ruang perawatan Arumi tersebut.
"Maaf mengganggu," kata Dokter Lena seraya terkekeh.
"Tidak apa," jawab Aldo.
"Ekhm, Dok. Bolehkah saya menemani istri saya di sini?" tanya Aldo penuh harap.
Arumi dan dokter Lena saling tatap mata, karena merasa tidak tega, akhirnya dokter Lena mengganggukkan kepalanya.
"Ya, boleh. Siapa tahu dengan adanya Mas Aldo, arumi akan merasa lebih baik," kata dokter Lena.
"Terima kasih banyak," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal tersebut, akhirnya dokter Lena dan kedua suster tersebut memulai tugasnya.
Dokter Lena mulai mengambil suntikan berisikan obat bius regional (obat bius setengah badan).
__ADS_1
Arumi terlihat memejamkan matanya saat dokter Lena mulai menyuntikan obat bius tersebut.
Hawa di dalam ruangan tersebut tiba-tiba saja terasa panas, wajah dokter Lena dan kedua suster tersebut berubah menyeramkan.
Matanya terlihat memerah, permukaan kulitnya terlihat bersisik. Senyum di bibir ketiga orang itu terlihat mengerikan.
Arumi ketakutan, dia langsung mencengkram tangan Aldo dengan kuat. Aldo terlihat marah, kesal dan juga sedih.
Karena satu hal yang Aldo sadari, wajah dokter Lena berubah menjadi wajah Nyai Ratu. Hanya saja wajahnya terlihat keriput, banyak luka di sekujur tubuhnya.
"M--mas, ma--mahluk apa itu?" tanya Arumi dengan tubuh bergetar hebat.
"Jangan macam-macam, Dok! Berhenti membuat Lelucon!" teriak Aldo.
Aldo tidak mungkin bukan menyebut Nyai Ratu, karena bisa-bisa Arumi curiga dan mempertanyakan siapa Nyai Ratu tersebut.
"Kikikikiik!"
Bukannya menjawab, Nyai Ratu malah cekikikan. Hal itu membuat Arumi ketakutan, sialnya obat biusnya sudah mulai bekerja.
Setengah badan Arumi sudah terasa sangat kaku, bertambah dengan rasa takut yang luar biasa membuat Arumi tidak sadarkan diri. Aldo panik, dia menepuk-nepuk wajah Arumi.
Aldo mencoba untuk berteriak, namun herannya seolah tidak ada yang mendengarnya. Bahkan, suaranya terasa menggema di dalam ruangan tersebut saja.
"Yang, bangun. Sayang, jangan bikin Mas takut. Bangun," kata Aldo.
Nyai Ratu terlihat tertawa dengan terbahak-bahak, suaranya terasa begitu memekikan telinga.
Tanpa Aldo duga, Nyai Ratu langsung mendorong kedua kaki Arumi hingga terbuka dengan lebar.
Lalu, tangan Nyai Ratu terlihat masuk ke dalam area inti Arumi dan merogoh janin yang masih ada di dalam rahim Arumi.
Aldo membelalakkan matanya melihat hal tersebut, dia benar-benar tidak percaya jika Nyai Ratu akan melakukan hal tersebut.
Ingin sekali Aldo memaki, namun suaranya benar-benar tercekat di tenggorokan. Dia benar-benar syok melihat akan hal itu, sedangkan Arumi kini sudah benar-benar tidak sadarkan diri.
"Hahaha...."
Nyai Ratu tertawa dengan terbahak-bahak, dia menggenggam segumpal janin yang masih berbentuk daging dan berlumuran darah tersebut.
"Manis sekali, Aldo. Ini sangat manis," kata Nyai Ratu seraya mengendus janin tersebut.
"Kenapa kamu tega sekali Nyai? Kenapa?!" tanya Aldo dengan wajah yang berurai air mata.
Tubuhnya terlihat gemetar, bahkan dia sampai terjatuh di lantai. Bukannya merasa iba, Nyai Ratu malah kembali tertawa dengan terbahak-bahak.
"Hahahahaha, inilah yang aku inginkan Aldo. Ini, karena dengan ini aku bisa menjadi cantik kembali. Kamu tahu? Gara-gara si Anang sialan aku hampir kehilangan wajah cantikku, dia ceroboh. Dia tidak sepertimu bisa menyembunyikan diriku dengan sangat rapi, pada akhirnya ada orang yang memergoki diriku hingga wajahku menjadi buruk rupa seperti ini," kata Nyai Ratu mengadu.
Setelah mengatakan hal itu, Nyai Ratu langsung memasukkan gumpalan janin tersebut ke dalam mulutnya dalam sekali hap.
Aldo benar-benar merasa mual, jijik, sakit hati dan juga sedih. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu, kalau saja bisa dia ingin sekali marah.
"Hihihi, akhirnya aku cantik lagi," kata Nyai Ratu seraya mengusap wajahnya.
**//
Selamat malam, selamat beristirahat.
__ADS_1