Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kembali


__ADS_3

Telah dibantu dua orang pun lelaki tua ini kesulitan mendapatkan gadis yang aura positif diri dan orang di sekitarnya sulit ditembus. Tangan kanan yang bernafsu menguasai ilmu seperti dirinya pun sampai kehilangan nyawa.


Sekarang hanya ia yang akan mengakhiri. Diam sejenak, sosok itu berpikir apa yang akan dilakukan. Setiap mendekat seperti ini seolah buyar semua rencananya.


Guling yang ada di bawah kaki gadis itu ia ambil, dibekapnya sekuat tenaga ke wajah Nilam. Terperanjat, Nilam refleks mendorong guling yang menghalangi napas, kakinya menendang-nendang, tapi tak mengenai siapa pun yang melakukan ini padanya.


Wajah gadis itu memanas, terasa tak ada lagi oksigen di kepala. Nilam hanya bisa bermohon dalam kelemahan. Berpasrah, Nilam ikhlas jika waktunya habis paling tidak ia meninggal di dekat ibunya.


Dalam sesak yang sangat Nilam merasa tak sanggup lagi bertahan. Tiba-tiba Mak tersedak lalu batuk mendadak. Lelaki tua dalam bentuk bayangan gelap itu tersentak, melesat cepat ke atas. Angin dari tubuhnya membuat langit-langit bilik dari anyaman bambu itu terlepas, menimpa tubuh Nilam dan Mak. Merasakan sesuatu jatuh mata Mak seketika terbuka lebar.


Lembaran anyaman cukup berat itu ada di atas mereka, hanya tidak mengenai langsung karena terganjal guling di wajah Nilam.


Lemah tangan Nilam menggeser guling, mencari napas dengan memiringkan wajah ke sisi kanan.


“Astagfirullahalazhiim …,” gumamnya hampir tak terdengar.


Sementara Mak gemetar ketakutan.


Hanif, Juju dan Hwa yang terbangun mendengar suara di bilik ini tadi bergegas masuk, segera memindahkan lembaran persegi itu dari atas Mak dan Nilam.


“Nilam, kamu dan Mak nggak apa-apa?” Hwa memeriksa keadaan mereka.


Nilam belum bisa menjawab, nyawanya terasa belum terkumpul sempurna. Seandainya anyaman itu jatuh terkena lampu teplok di dinding ujung itu, mungkin rumah ini sudah dilahap api, pikirnya. Beruntung Nilam dan Mak tak mengalami luka.


“Cepat kita harus pergi sekarang juga,” kata Mak saat sudah duduk dengan badan menahan gemetar. “Mak ikut … Mak harus bersama Nilam …,” lanjutnya lagi seperti orang kebingungan. Ia tahu ini pasti ulah orang yang dikatakan Suci itu dan Mak ingin melihat Nilam sampai sembuh.


Setelah berembuk ketiga pemuda itu memutuskan mengikuti saran Mak. Tepat pukul 01.30 mereka berangkat. Mak duduk di tengah, antara Hanif dan Nilam. Juju beristirahat di samping Hwa yang mengemudi.


Semua lega setelah keluar jauh dari kampung, melewati kecamatan hingga masuk ke kota kecil walau masih melewati beberapa tanah kosong dan hutan lindung.


Mereka beristirahat sejenak di rest area untuk menunaikan salat subuh, Mak mengikuti gerakan Nilam sebagai makmum. Setelah selesai, gadis itu segera memeluk ibunya, haru mendalam terasa. Ia berharap Mak tak kembali menyajikan sesajen untuk Tuhan yang disebutnya Gusti itu. Salat adalah cara beribadah yang sesuai dengan tuntunan-Nya. Nilam berjanji dalam hati, jika diberi kesempatan ia akan banyak belajar lagi untuk bisa berbagi ilmu dengan Mak.


Mobil kembali melaju, Juju merasa lebih segar bisa mengemudi menggantikan Hwa. Setelah keluar tol Cikampek, mereka memasuki kota Jakarta.


Melihat lagi kota ini seperti mimpi bagi Juju, tersesat di rimba sempat membuatnya putus harapan bisa kembali pulang.


Hanif yang tampak lebih segar terlihat mengawasi Nilam. Gadis itu beberapa kali terantuk kaca, karena tak bisa menahan kantuk. Sementara Mak di sampingnya tidur tenang, bersandar pada jok mobil.


Juju merasa kuduknya meremang, ia melirik spion belakang, melihat Nilam sedang memperbaiki posisi, lalu kembali tidur. Tubuh gadis itu bersandar penuh pada pintu. Hanif menegakkan badan, entah kenapa ia merasa waspada ingin pebaiki posisi Nilam yang terlihat rawan di matanya.


Benar saja. Kunci pintu mobil tiba-tiba berbunyi serentak terangkat.


Tepat saat mobil meliuk di tikungan, pintu yang Nilam sandari terbuka lebar. Hanif terpekik, Juju terkejut spontan menekan klakson panjang dan menginjak rem. Mak terbangun merasakan sesuatu terhempas ke pangkuannya, itu tubuh Nilam yang ditarik cepat oleh Hanif.


Gadis yang tertelungkup di pangkuan Mak itu bangun, mengerjap mata kebingungan. Klakson bersahutan di belakang karena Juju melambat. Nilam baru sadar apa yang terjadi saat melihat ke samping. Pintu mobil terkuak lebar ada banyak kendaraan dari belakang yang marah, mengira pengemudi ceroboh sampai hampir menjatuhkan penumpangnya.


Hanif dan Mak syok memandang tegang ke arah Nilam, lalu Mak lekas merangkul gadis itu ke dada melepas kecemasan yang menjadi-jadi. Tangan keriputnya mengusap punggung Nilam.


Saat mobil semakin pelan Hwa bergerak merapatkan kembali pintu di sisi Nilam.


Suasana hening sesaat menyelimuti, tak terbayang jika saja gadis itu terjatuh ke luar dihantam banyak kendaraan di belakang tadi ….


Tak habis ucapan terima kasih Mak pada Hanif dan teman-teman berulang-ulang. Kehadiran mereka sedikit mengurangi momok menakutkan bagi Mak Lumpit. Putri yang kehadirannya dulu di dunia telah dinanti selama 15 tahun, sekarang harus hidup dalam teror gaib.


Gusti ... kapan ini berakhir?


Tangan keriput Mak mengusap bahu Nilam penuh sayang.

__ADS_1


***


Setelah berlari tanpa arah ke hutan, mengikuti panggilan yang terus menggema penuha amarah di telinganya, Suci terhenti pada sebuah rumah papan tanpa warna. Ia sendiri tak jelas ini bagian hutan mana dari dukuhnya.


Perempuan itu melangkah perlahan, masuk. Tepat saat seorang lelaki tua berteriak berang. Membuat Suci mundur.


“Kalian tidak berguna! Percuma!!” Sumpah serapah dari mulut tertutup kumis itu menggetarkan tubuh Suci. Terbaca olehnya kalau usaha lelaki tua itu kembali gagal.


Suci kembali maju, netranya bertemu mata besar yang memelototi. Baru sekarang ia bertemu muka langsung dengan orang yang mengikatnya dalam perjanjian laknat itu saat terang, terlihat jelas wajah hitam legam dengan mata besar. Orang yang sering menculiknya dalam gelap dan sekejap bisa masuk ke ruang ini.


Suci amat hafal suaranya.


“Aku menyerah, jadikan tubuh ini tumbalmu. Kita akan habis kalau terus melawan Nilam,” ujar Suci datar.


Tangan itu terkepal di lantai. “Bisa apa dengan tubuhmu?! Tandanya masih terkurung di sana!”


Lelaki tua itu berceracau kalau hampir mati kepanasan saat ada di kamar Nilam sekarang. Lelaki tua yang tewas


tak bisa lagi membantunya menyusup, melemahkan tubuh Nilam. Sekarang, ia harus bertarung nyawa di saat angka itu terus menagih janji.


"Kita lihat saja ... dia atau aku yang mati ...."


Suci tersungkur saat berusaha mendekat, tubuhnya didorong kasar. “Kamu bisa apa?! Diam di situ sampai giliranmu tiba!”


Suci mengepal telapak kuat, ia bertekad akan tetap di sini. Ingin menyaksikan jelas sampai lelaki itu sekarat saat terus berusaha akan mendapatkan Nilam.


***


Sekitar jam dua siang Nilam dan teman-teman tiba di rumah, disambut Babe dan Maemunah yang sedang duduk di


“Alhamdulillah … baru aje diomongin orangnya nongol.” Suara khas Maemunah menyambut, Hanif meraih tangan, mencium dan memeluk ibunya penuh haru, Babe pun diperlakukan sama. Sebuah syukur besar pemuda itu masih diberi kesempatan bertemu orang tercinta kembali.


Setelah ikut ngobrol sebentar, Hwa pamit pulang, membawa Corolla-nya yang terparkir di garasi Babe.


“Terima kasih banyak, Tuan Huwa. Eh, Hwa.” Nilam mengangguk kecil saat lelaki itu akan masuk mobil.


Hwa urung masuk, tangannya menopang pada pintu, melemparkan senyum termanisnya sesaat. Ia baru masuk lagi saat Juju berdeham, seakan memberi kode.


Sesudah duduk di depan kemudi, Hwa kembali mengeluarkan kepala, melihat Nilam dalam beberapa detik, lalu berkata, “Selalu sehat, jaga dirimu. Jangan masuk kerja dulu sebelum Fit,” pesannya sambil mengedipkan mata sebelah. Senyum tersipu Nilam membuatnya tertawa kecil.


Tak lama Juju juga pamit pulang setelah menumpang mandi di rumah Babe, sebelumnya ia sempatkan menemui Nilam dan Mak di belakang.


“Loe baik-baik, ya, Ni.” Ia mengacak rambut pada pucuk kepala gadis itu, saat mereka berdiri di depan pintu. Walau terlihat pucat dan kurang bersemangat, di matanya Nilam tetap menarik.


“Makasih buat semuanya, Ju. Jangan lupa istirahat dan minum vitaminnya," balas Nilam menyentuh punggung tangan Juju.


“Awas, kalau lupa ibadah!”


“Iya, Bos!” Nilam memberi hormat, balik menggoda, membuat Juju gemas ingin mencubit pipinya, tapi tertahan


melihat Mak di sebelah.


Juki mencium takzim punggung tangan wanita paruh baya itu, lalu pamit pulang.


“Mak bingung, kenapa semua dekat sama kamu, Ni,” gumam Mak seolah pada dirinya sendiri.


“Mak, mereka teman yang semua baik sama Nilam.”

__ADS_1


Gadis itu meminta Mak beristirahat, menikmati kasur busanya yang empuk. Berbaring-baring sebentar, mereka berdua ngobrol tentang keluarga Babe yang baik, sambil menikmati udara segar dari jendela dan kipas.


Nilam mengambil ponsel hendak memesan food delivery langganan untuk nanti malam. Layanan itu sangat bermanfaat saat kondisi lemas dan malas seperti Nilam sekarang, ia sedang enggan membeli nasi campur ke jalan depan.


Sedang asyik menelusuri jari, memilih apa yang kira-kira cocok untuk Mak, ketukan pintu menghentikannya, ia meletakan ponsel di meja.


“Eh, Pak Min.”


“Neng Nilam dan ibu nanti diundang makan malam oleh Nyak.”


Nilam mengucapkan terima kasih, kebetulan sekali ia belum sempat pesan tadi. Sebuah rejeki pertama yang Mak dapat di Jakarta.


Nilam mengisi waktu selepas Ashar dengan membaca buku pemberian Hanif. Jika sudah aktif nanti ia ingin sekali mencari guru yang paham agama, seperti pesan Hanif. Belajar sendiri tentu ia tak bisa menemukan kesalahan penyebutan bacaannya.


Mak diam-diam terkesima pada semangat Nilam, yang mampu duduk berjam-jam menekuni buku di pangkuannya.


***


“Ni?” Nilam menoleh cepat ke arah suara tak asing dari pintu.


Dian masih dengan pakaian kerja dan tas di tangan masuk, memandang tak berkedip pada gadis yang baru


menyelesaikan salat Magrib itu.


“Ya Allah, kangen banget ame loe, Ni.” Nilam dipeluknya erat, membuat napasnya sedikit sesak. “Lama banget pulangnya?” lanjut Dian memegang kedua pundaknya, memperhatikan ia dari atas ke bawah, kemudian naik lagi, berhenti tepat di wajah Nilam, menatap penuh selidik.


”Lu, nggak lupa kita, kan?”


Kening Nilam berkerut, temannya ini tak memberikan kesempatan untuknya menjawab.


“Eh, ada Mak, Ni.” Tangan Mak cepat Dian raih dan ditempelkan pada dahi, sambil perkenalkan diri.


Melihat itu Nilam akhirnya tertawa. “Kamu kenapa, sih, Di? Kemarin lupa sama aku, sekarang enggak lagi?”


“Lupa gimana?”


“Hai, baru sampai, Ni? Lama amat pulangnya?”


Nilam kembali dibuat menganga saat Dara juga Tri bergantian memeluknya, seolah ia pulang dalam waktu yang sangat lama sampai mereka begitu rindu.


Nilam merasakan kembali cinta para sahabat padanya, lega semua telah kembali seperti semula. Ia sengaja tak menanyakan kenapa mereka berubah waktu itu, tapi saat mereka ngobrol, cerita mengalir sendiri dari mulut Dara, lalu disambung Tri.


Ceritakan kalau dua malam lalu keluarga Babe mengundang Kyai dari pondok beserta beberapa santri untuk berdoa bersama. Lalu mereka juga minum air zam-zam yang sudah didoakan.


“Kita bertiga malam itu sampe muntah-muntah, Ni. Si Dian tuh pingsan,” seru Dara menimpali.


"Iya, muntah darah hitam," tambah


Nilam kembali memeluk mereka, meminta maaf atas kesalahan Suci. Syukurnya, ketiga gadis itu tak mempermasalahkan, melihat Nilam sehat saja mereka sudah senang.


Pelukan dari tiga sahabat menumbuhkan kembali harap di hati Nilam~~~~, semoga saja tak ada lagi hal aneh yang


terjadi di antara mereka.


 


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2