
"Setelah Bapak keluar dari Rumah Sakit, bersiaplah untuk menikah secara resmi di KUA. Setelah kalian menikah, bangunlah rumah tangga kalian sendiri. Jangan tinggal di rumah Bapak, tinggallah di rumah kalian sendiri." Pak Didi berucap tanpa menolehkan wajahnya ke arah Arumi dan juga Aldo.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya, Arumi terlihat saling pandang dengan Aldo. Tidak lama kemudian, mereka terlihat tersenyum senang.
Walaupun pak Didi tidak melihat ke arah mereka, namun setidaknya mereka bisa mendengar keputusan yang baik dari mulut bapaknya tersebut.
Aldo terlihat senang sekali, dia langsung berdiri di atas kedua lututnya lalu dia meraih tangan kanan pak Didi dan menciuminya.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih, aku anggap ini adalah restu dari Bapak." Kembali Aldo mencium tangan pak Didi.
Pak Didi hanya terdiam, dia tidak berniat untuk menolehkan wajahnya ke arah Aldo sama sekali.
Walaupun seperti itu, Aldo tidak tersinggung. Yang terpenting baginya, dia sudah mendapatkan restu dan dimintai untuk menikahi Arumi secara resmi.
Hal itu sudah menjadi hal yang membahagiakan untuk dirinya, dia benar-benar merasa sangat bahagia saat ini.
Arumi juga tidak kalah bahagia, dia langsung memeluk pak Didi dan mengecup dahi lelaki paruh baya yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.
"Terima kasih, Arumi sayang Bapak." Arumi mengeratkan pelukannya.
Pak Didi langsung menangis, dia merasa sedih karena restunya ternyata bisa membuat hatinya terluka. Namun, bisa membuat Arumi terlihat begitu bahagia.
"Oh iya, Sayang. Aku pergi saja kalau begitu, aku mau mempersiapkan acara pernikahan kita," kata Aldo.
Arumi terlihat melerai pelukannya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Aldo.
"Ya udah, terserah Mas aja." Arumi menggenggam tangan Aldo.
Aldo terlihat bahagia sekali, dia langsung berdiri lalu mengecup punggung tangan pak Didi untuk yang kesekian kalinya.
"Aldo pergi dulu ya, Pak. Aldo ingin mempersiapkan pernikahan yang terbaik untuk Arumi. Sekali lagi Aldo ucapkan terima kasih karena Bapak sudah merestui pernikahan kami," kata Aldo.
Setelah mengatakan hal itu, Aldo langsung pergi dari ruang perawatan pak Didi. Dia begitu senang dan begitu tidak sabar untuk mempersiapkan acara pernikahannya bersama dengan Arumi.
Aldo sudah memutuskan akan membuat pesta yang termewah dan termegah untuk wanita yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Tidak apa pikirnya menghabiskan uang banyak untuk pesta pernikahannya, toh ada Nyai Ratu yang akan terus memberikan uang berlimpah tanpa batas untuk dirinya.
Tentunya yang penting dia selalu setia melayani Nyai Ratu setiap dia menginginkan Aldo, jangan pernah membuat Nyai Ratu marah tentu itulah kuncinya.
Setelah kepergian Aldo, Arumi nampak mengitari ranjang pasien yang ditempati oleh pak Didi.
Dia terlihat duduk tepat di samping pak Didi seraya menatap wajah pria paruh baya tersebut dengan lekat.
"Terima kasih ya, Pak. Karena Bapak sudah memberikan restu untuk aku menikah dengan mas Aldo," kata Arumi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, pak Didi terlihat menatap wajah Arumi dengan lekat.
"Aku memintamu menikah dengan Aldo bukan berarti merestui hubungan kalian, aku hanya takut jika kalian melakukan banyak dosa. Terutama melakukan zina seumur hidupmu," kata Pak Didi.
Dahi Arumi berkelut dalam mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya tersebut, dia benar-benar tidak mengerti kenapa Pak Didi mengatakan hal tersebut dengan apa yang dimaksud oleh bapaknya itu.
"Maksud Bapak bagaimana? Arumi tidak paham," tanya Arumi dengan raut wajah penasaran.
"Kamu tahu Arumi, jika seorang perempuan menikah dia harus dinikahkan oleh Bapaknya. Selama Bapaknya masih hidup tidak ada lelaki manapun yang boleh mewakilkannya, lalu kemarin kamu menikah tanpa restu Bapak dan bukan dinikahkan oleh Bapak. Itu artinya pernikahan kamu tidak sah Arumi," kata Pak Didi.
Ya, saat mereka menikah Arumi meminta pak Ustadz untuk menjadi wali hakimnya. Arumi tahu betul jika itu salah, karena dalam Islam seorang anak perempuan harus dinikahkan oleh bapak kandungnya.
Sejauh manapun bapak kandungnya pergi, tetap harus dicari untuk menikahkan putrinya. Jika putrinya tersebut akan melaksanakan pernikahan, karena itu hukumnya wajib.
"Maaf," kata Arumi seraya menunduk lesu.
Pak Didi terlihat tersenyum sinis, demi bisa menikah dengan Aldo Arumi rela mengenyampingkan hal tersebut.
"Seharusnya kamu tahu Arumi, jika dalam agama kita itu tidak dibenarkan. Itu sama saja artinya kamu melakukan dosa besar, karena pernikahan kalian tidak sah," kata Pak Didi menjelaskan.
Arumi semakin tertunduk malu, dia benar-benar tidak tahu lagi harus bicara apa dengan bapaknya tersebut.
Dia tahu jika dirinya salah, dia terlalu menggebu. Dia terlalu ingin menyatukan ikatan cinta mereka dalam tali pernikahan, walaupun tanpa restu dari pak Didi.
"Maaf, Pak. Maafkan Arumi," hanya kata itu yang terus-menerus keluar dari bibir Arumi.
__ADS_1
Tidak ada kata lain lagi yang ingin dia ucapkan, karena memang pada kenyataannya Arumi telah salah langkah.
"Bapak sudah memaafkanmu, setelah Bapak sembuh kalian segeralah menikah. Bangunlah rumah tangga kalian sendiri, semoga kalian berbahagia dengan apa yang sangat kalian inginkan," kata Pak Didi.
Setelah mengatakan hal itu pak Didi terlihat memalingkan wajahnya, air mata terlihat mengalir deras dari kedua kelopak matanya.
Lelaki paruh baya itu sebenarnya sangat menyayangi Arumi, namun dia juga begitu menyayangkan sikap keras kepala dari putrinya tersebut.
Dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, dia hanya ingin menjodohkan Arumi dengan lelaki yang dia rasa sangat baik dan sholeh.
Sayangnya Arumi tidak mengerti akan hal itu, Arumi lebih mementingkan egonya. Arumi lebih mementingkan apa yang dia inginkan dari pada apa yang terbaik untuk dirinya.
Melihat kesedihan di wajah bapaknya, Arumi merasa sangat sedih sekali. Hatinya seakan dihujam ribuan belati saat mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya.
Sayangnya semuanya sudah terjadi, dia memang sudah memutuskan jalan itu sendiri. Tidak bisa ia ubah lagi, dia tidak bisa berpindah haluan lagi.
Arumi ikut menangis, dia begitu sedih saat melihat wajah bapaknya yang penuh dengan air mata. Dia benar-benar merasa sangat bersalah saat melihat hal itu.
Di rumah Aldo.
Aldo terlihat begitu senang sekali karena pada akhirnya dia akan segera menikahi Arumi secara resmi.
Dia bisa menunjukkan pada semua orang jika Arumi adalah istrinya, dia tidak perlu bersembunyi lagi jika dia ingin menemui Arumi.
Dia juga sudah bisa tidur bersama dengan Arumi, tidak akan ada jarak lagi di antara mereka.
"Ah, akhirnya aku bisa tenang. Akhirnya aku bisa menikahi Arumi secara resmi, aku bahagia." Aldo tertawa terbahak-bahak seraya memasukkan banyak uang ke dalam sebuah tas.
Dia akan segera pergi untuk menyewa gedung, memesan catering dan untuk membayar semua perlengkapan acara pernikahannya dengan Arumi.
***
Masih Berlanjut....
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Jangan lupa like dan koment setelah membaca ya, kalian memang luar biasa.
__ADS_1