Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Mencoba Menghindar


__ADS_3

Setiap hari Aldo selalu saja dibuat resah, karena Nyai Ratu terus saja menjadi bayang-bayang untuk Arumi, ke mana pun Arumi pergi, Nyai Ratu akan selalu ikut.


Hal itu membuat Aldo semakin resah dan juga gelisah, dia takut jika Nyai Ratu akan benar-benar membuktikan ucapannya.


Padahal, Aldo sudah menugaskan bi Inah untuk selalu menemani Arumi saat tidak ada dirinya. Namun, tetap saja dia merasa tidak tenang.


Badan Aldo kini terlihat lebih kurus, bahkan wajahnya terlihat sangat pucat. Karena setiap hari dia merasa tidak enak makan, setiap malam tiba dia juga tidak pulas dalam tidurnya.


Hal itu terjadi karena Aldo takut Nyai Ratu akan datang dan akan mengambil janin yang sedang berkembang di dalam rahim Arumi.


"Mas! Sudah dua minggu ini kamu terus saja terlihat gelisah, sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Arumi.


Aldo yang terlihat sedang asik melamun langsung menatap wajah Arumi, dia merasa bingung harus menjawab apa.


"Loh, kok diem aja, sih, Mas?" tanya Arumi lagi.


Arumi terlihat bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Aldo, tidak seperti biasanya aldo terlihat begitu diam.


"Eh? Ngga apa-apa, Yang. Mas cuma lagi mikir aja, Mas bisa ngga ya, jadi orang tua yang baik?" tanya Aldo. Padahal cuma alasan saja.


Arumi tersenyum, dia pikir Aldo kenapa. Karena selama dua minggu ini Aldo terlihat sangat aneh, Arumi sampai merasa kesal dibuatnya.


"Oh, aku kira kamu kenapa. Aku yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik buat anak-anak kita," jawab Arumi.


Aldo tersenyum, dia elus puncak kepala istrinya. Lalu dia kecup kening istrinya dengan lembut.


"Yang, terus terang aku merasa tidak tenang menghadapi kehamilan kamu. Aku merasa belum sepenuhnya bisa menjaga kamu, aku mau minta sesuatu sama kamu bisa?" tanya Aldo.


Arumi memeluk Aldo erat, lalu dia sandarkan kepalanya di dada bidang suaminya tersebut. Lelaki yang membuat dirinya rela membangkang terhadap bapaknya


"Mas mau minta apa?" tanya Arumi.


Selama beberapa hari ini Aldo berpikir dengan sangat keras, bagaimana caranya agar anak yang ada di dalam kandungan Arumi tidak menjadi tumbal?


Aldo berpikir, mungkin saja dengan mengungsikan Arumi ke rumah pak Didi maka Arumi tidak akan menjadi incaran dari Nyai Ratu lagi.


"Kita tinggal di rumah bapak, ya? Kamu tahu sendiri, kan, kalau bapak sekarang kurang sehat. Setidaknya kita menemani bapak di masa tuanya," kata Aldo beralasan.

__ADS_1


Tidak mungkin bukan, jika Aldo mengatakan alasan yang sesungguhnya. Bisa-bisa Arumi benar-benar minta cerai kepada Aldo.


Sebenarnya Arumi juga sangat ingin tinggal bersama dengan bapaknya, karena dengan seperti itu dia bisa berbakti kepada bapaknya.


Di saat-saat seperti ini, bapaknya sangat membutuhkan dirinya. Namun, dia takut jika Arumi meminta tinggal di rumah bapaknya, Aldo tidak boleh ikut bersama dengan dirinya.


Karena walau bagaimanapun juga, Arumi sangat paham jika pak Didi belum bisa menerima Aldo sepenuhnya sebagai menantunya.


"Tapi, Mas. Aku takut jika nanti bapak menolak kehadiranmu, atau bahkan bapak malah tidak mengizinkan aku untuk tinggal di rumah bapak," jawab Arumi.


"Yang, walau bagaimanapun juga dia tetap bapakmu. Aku mohon, kita tinggal sama bapak, ya? Kalau misalkan bapak tidak memperbolehkan aku untuk tinggal di sana, setidaknya ini waktunya kamu untuk berbakti kepada bapak kamu."


"Aku tidak masalah tinggal di sini, yang penting kalau kamu mau apa-apa bilang saja sama aku," kata Aldo lagi.


Lagi-lagi Aldo beralasan seolah-olah jika bapak Arumi' lah yang sangat membutuhkan kasih sayang darinya.


Padahal, pada kenyataannya Aldo sangat takut jika Nyai Ratu sewaktu-waktu akan benar-benar mengambil janin dari tubuh Arumi.


"Baiklah," jawab Arumi pasrah.


Aldo sangat senang, karena pada akhirnya Arumi mau mendengarkan apa yang dia katakan.


Aldo yang mengerti akan kegundahan istrinya, langsung menarik lembut tangan kanan Arumi. Lalu, dia mengecupi punggung tangan Arumi dengan sangat lembut.


"Jangan tegang, Sayang. Mas hanya tidak mau memutuskan tali silaturahim antara anak dan bapaknya," kata Aldo.


"Ya, Mas," jawab Arumi.


Tiba di rumah pak Didi, Aldo benar-benar tidak diterima kehadirannya di sana. Namun, pak Didi berkata jika Arumi boleh menginap di sana untuk beberapa hari jika memang menginginkan.


Aldo pasrah, baginya tidak masalah jika Aldo tidak diizinkan untuk tinggal. Karena yang terpenting, Arumi bisa aman bersama dengan bapaknya.


Aldo sangat yakin jika Arumi tidak keluar dari rumah bapaknya, dia dan bayinya akan aman-aman saja.


"Mas pergi dulu, kamu baik-baik sama bapak. Jangan keluar malam-malam, kalau mau apa-apa langsung telpon, Mas. Nanti Mas beliin," pesan Aldo.


"Iya, Mas," jawab Arumi.

__ADS_1


Aldo tersenyum, kemudian dia menolehkan kepalanya ke arah pak Didi. Namun, pak Didi hanya terdiam.


Walaupun begitu, Aldo tetap berpamitan kepada mertuanya tersebut. Aldo raih tangan kanan mertuanya, lalu dia mencium punggung tangan pak Didi dengan takzim.


"Aldo pulang, Pak. Titip Arumi, Bapak tahu? Sekarang Arumi lagi hamil, semoga Bapak senang. Karena sebentar lagi Bapak akan mempunyai cucu," kata Aldo.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, pak Didi terlihat kaget. Namun, tetap saja dia tidak berkata apa pun.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum," kata Aldo.


Setelah mengucapkan salam, Aldo benar-benar pergi meninggalkan Arumi di rumah bapaknya.


Dia berharap dengan seperti itu maka Arumi benar-benar terjaga dari gangguan Nyai Ratu, dia berharap jika buah cintanya yang sedang tumbuh di dalam rahim Arumi akan terselamatkan.


Selepas kepergian Aldo, Arumi menuntun bapaknya untuk masuk ke dalam rumahnya. Arumi mengajak bapaknya untuk duduk di dalam ruang tamu.


"Bapak mau minum kopi atau teh? Biar Arumi buatkan," tawar Arumi.


"Ngga usah ini sudah malam, Bapak mau tidur saja," kata Pak Didi.


"Oh, ya sudah. Biar Arumi antar ke dalam kamar," kata Arumi.


Arumi langsung mengantar pak Didi untuk masuk ke dalam kamarnya, dia seolah kehabisan kata-kata untuk mengajak pak Didi berbicara.


"Arumi ke kamar dulu," pamit Arumi setelah mengantar bapaknya.


Sebenarnya Arumi ingin sekali berbicara dengan bapaknya tersebut, meluangkan waktu yang banyak seperti dulu lagi.


Namun, suasana semakin canggung ketika Arumi berdekatan dengan bapaknya. Pada akhirnya Arumi pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar yang sudah cukup lama dia tinggalkan.


Tiba di dalam kamar, Arumi langsung merebahkan tubuhnya yang serasa begitu lelah. Mungkin karena efek kehamilannya, yang mebuat Arumi menjadi gampang mengantuk.


"Selamat tidur, baby. Ibu sudah mengantuk," kata Arumi seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata.


***


Masih berlanjut....

__ADS_1


Selamat malam kesayangan, selamat malam minggu. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, yes. Koment kalian adalah penyemangat untuk Othor.


__ADS_2