
POV Author.
Aldo dan juga Arumi sudah sampai di dalam kamar hotel yang khusus dipesan oleh Aldo, kamar pernikahan mereka terlihat begitu mewah dan juga megah. Karena memang Aldo memesan kamar pengantin dengan fasilitas nomor satu.
Kelopak bunga mawar bertebaran dari depan pintu sampai ke atas tempat tidur, di setiap pinggir kamar tersebut juga terdapat lilin aroma terapi.
Kamar pernikahan tersebut benar-benar terlihat begitu romantis, Arumi begitu mengagumi keindahan dari kamar tersebut.
"Kamarnya indah sekali, Mas. Arumi suka," kata Arumi seraya mengedarkan pandangannya.
Aldo tersenyum, kemudian dia memeluk Arumi dari belakang. Dia mengelus lembut perut rata Arumi, hingga merambat ke atas dan meremat dada Arumi yang terbungkus rapi dengan gaun pengantinnya.
"Mas!" desahh Arumi.
Aldo tersenyum karena Arumi gampang sekali terrangsang, dia suka jika Arumi sudah seperti itu, rasanya Aldo sudah tidak sabar ingin memasuki tubuh istrinya tersebut.
Dia selalu merasa terbang melayang jika sudah menyatukan miliknya dengan milik istrinya, milik Arumi terasa nikmat dan selalu membuat miliknya puas.
"Mas, pengen. Sudah satu minggu ngga masukin tubuh kamu, rasanya ngga tahan banget. Sekarang, ya?" pinta Aldo mengiba.
Arumi tersenyum, kemudian dia melerai pelukannya. Bukannya tidak boleh, hanya saja dia masih memakai gaun pengantin lengkap.
Dia juga belum mandi, dia merasa tubuhnya sangat lengket dan ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Nanti ya, Mas. Aku mandi dulu, soalnya sudah gerah dan tubuhku terasa lengket," kata Arumi.
Dia mencoba bernegosiasi dengan Aldo, namun Aldo tetap pada pendiriannya. Dia tetap saja merayu Arumi untuk segera melakukannya, Aldo sudah tidak sabar.
"Sekarang aja, Yang. Sekalian berkeringat, habis itu kita mandi bareng,"kata Aldo.
Aldo langsung nyengir kuda setelah mengatakan hal itu,dia berharap jika Arumi mau menuruti keinginannya.
"Tapi, Mas. Aku bau, nanti kita nggak nyaman saat ngelakuinnya." Arumi merengek.
Aldo tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Arumi, dia malah mengambil obat kuat yang sudah dia siapkan kemudian meminumnya.
Setelah itu, dia kembali menghampiri Arumi. Membantu Arumi untuk melucuti pakaiannya, dia juga membantu Arumi untuk melepaskan aksesoris yang bertengger cantik di kepalanya.
Saat dia membeli obat kuat tersebut, petugas apotek sempat berkata jika reaksinya bisa terasa dalam waktu Lima belas menit.
Aldo sengaja membantu Arumi agar dia tahu bagaimana reaksi dari obat kuat tersebut, hitung-hitung sambil menunggu obat itu bereaksi, pikirnya.
"Mas," panggil Arumi.
__ADS_1
"Hem," jawab Aldo seraya mengecupi pundak istrinya.
Baju Arumi kini sudah tergeletak di atas lantai, semua aksesoris yang menempel di kepala Arumi pun sudah terlepas. Kini dia hanya memakai CD dan BRA saja.
Begitupun dengan Aldo, kini dia sudah berada dalam keadaan polos. Bajunya sudah dia buka dan dia kini sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
"Pengen, ya?" tanya Aldo.
Arumi tersenyum malu-malu saat mendengar pertanyaan dari Aldo, tentu saja dia kini menginginkannya. Karena Aldo terus saja menyentuh titik sensitifnya.
"Kamu yang memancingku," ketus Arumi.
Aldo langsung tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Arumi, tentu saja dia sengaja memancing gairah istrinya.
Karena dengan seperti itu, Arumi akan menginginkan dirinya. Dengan seperti itu pula Aldo akan lebih mudah untuk memasuki tubuh Istrinya.
"Aku tahu kamu mau, puncak dada kamu sudah mengeras," kata Aldo.
Aldo mengusap dada Arumi dengan perlahan, dia berharap dengan seperti itu Arumi akan lebih menginginkan dirinya lagi.
"Mas!" sentak Arumi.
Dia merasa sangat malu kala Aldo mengatakan hal itu, namun memang benar adanya jika dia begitu menginginkan Aldo saat ini.
"Aku tahu kalau kamu sangat menginginkan aku, Yang. Sekarang ya, karena aku juga sudah tidak tahan," kata Aldo.
Kini reaksi obat yang dia minum sudah mulai terasa, bahkan miliknya terasa berdenyut dan kini sudah mengacung dengan sangat tegak.
Arumi tahu jika suaminya sudah merasa tidak tahan, karena dia bisa merasakan milik suaminya itu telah mengganjal di bagian belakang tubuhnya.
"Hem," jawab Arumi malu-malu.
Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Aldo terlihat menggendong Arumi. Dia langsung merebahkan tubuh Arumi dengan perlahan di atas tempat tidur.
Aldo langsung merangkak untuk menaiki tubuh Arumi, kemudian Aldo langsung menunduk dan menyatukan bibir mereka.
Aldo memejamkan matanya untuk menikmati sensasi ciuman yang sedang mereka lakukan, tangannya juga terlihat begitu aktif dengan meraba area sensitif istrinya.
Arumi juga tidak mau kalah, dia membalas tautan bibir dari Aldo. Sesekali tangannya mengusap dada Aldo, merambat turun dan mencengkeram milik Aldo.
Bahkan Arumi sesekali terlihat menaik-turunkan tangannya, dia bermain dengan milik Aldo yang benar-benar sudah menegak dengan sempurna itu.
Aldo terlihat begitu menikmatinya, bahkan sesekali Alda terlihat mengerang saat mendapatkan sentuhan dari Arumi.
__ADS_1
Saat Aldo sedang sibuk mencumbu istrinya, tiba-tiba saja bayangan Nyai Ratu terlintas di dalam otaknya. Bahkan saat Aldo membuka matanya, dia melihat sekelebatan bayangan Nyai Ratu.
Aldo merasa kesal dibuatnya, dia tidak mau jika malam pengantinnya gagal dengan Aruni. Aldo memutuskan untuk berhenti sejenak, dia ingin berbicara terlebih dahulu dengan Nyai Ratu.
"Sebentar ya, Sayang. Mas mau pipis dulu," kata Aldo beralasan.
"Ya, Mas," jawab Arumi.
Aldo mengambil kimono mandi yang tersampir di atas sofa, kemudian dia memakainya. Aldo langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia kini berdiri tepat di depan cermin.
Kemudian, dalam hatinya dia berkata.
'Datanglah Nyai Ratu, aku ingin berbicara.'
Tidak lama kemudian, Nyai Ratu nampak datang dan memeluk Aldo dari belakang. Dia bahkan mengecupi pipi Aldo sampai ke leher lelaki itu, Aldo menggeliat.
Untuk sesaat dia menikmati sentuhan dari bibir Nyai Ratu, namun tidak lama kemudian Aldo berkata dengan tegas.
"Berikan aku kesempatan untuk menikmati malam ini bersama dengan Arumi, istriku. Besok aku janji akan memberikan waktuku semalaman untukmu, aku akan memuaskan kamu. Sekarang pergilah!" kata Aldo.
Dia merasa kasihan jika nanti Nyai Ratu memasuki tubuh Arumi kembali seperti malam pertama mereka, Aldo tidak ingin Arumi kesakitan seperti dulu lagi.
Nyai Ratu terlihat menekuk wajahnya, dia mengelus lembut perut sixpack Aldo hingga turun kebagian inti lelaki itu.
"Milik kamu tegang banget, Sayang. Besoknya makanya gini juga," kata Nyai Ratu.
"Ya, sekarang pergilah! Besok aku milikmu," kata Aldo.
"Iya," jawab Aldo.
Nyai Ratu terlihat pergi menghilang dari pandangan Aldo, setelah itu Aldo bisa bernapas lega. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang pengantin.
"Maaf, lama," kata Aldo.
"Tidak apa-apa," jawab Arumi.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja," kata Aldo.
Arumi terlihat menganggukkan kepalanya kala Aldo mengajak Arumi untuk segera bermain pada intinya.
****
Masih berlanjut....
__ADS_1
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, yes.