
Hari yang dinanti oleh Reihan kini telah tiba, keinginannya untuk mengesahkan hubungannya dengan suster Camelia akhirnya akan terlaksana.
Awalnya Reihan ingin memesan sebuah gedung untuk hari pernikahan mereka, karena dia menikahi seorang gadis.
Tentu saja dia sangat takut jika calon istrinya itu tidak akan suka kalau mengadakan acara pernikahan secara sederhana saja.
Namun, ternyata perkataan dari suster Camelia di luar dugaannya. Suster Camelia berkata jika dia ingin menikah di rumah orang tuanya saja dengan acara yang sederhana.
Dia juga takut kalau melaksanakan pernikahan di gedung, nanti dia akan dilihat oleh banyak orang. Baginya yang terpenting adalah Ijab kabulnya, bukan pestanya. Reihan menurut.
Reihan kini terlihat duduk di depan pak penghulu dengan raut wajah cemas, sesekali dia terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.
Sesekali dia juga bahkan terlihat mengusap dahinya yang terlihat dipenuhi dengan peluh, para tamu yang datang terlihat menertawakan tingkah Reihan.
Begitu pula dengan pak Ridwan, dia merasa sangat lucu dengan tingkah putranya tersebut. Padahal, Reihan begitu menggebu ingin menikahi suster Camelia.
Namun, di saat dia berhadapan dengan pak penghulu dan juga ayahanda dari suster Camelia, dia malah terlihat gugup bukan main.
Pak Ridwan terlihat menghampiri Reihan, lalu dia menepuk pundak putranya tersebut dengan perlahan. Reihan yang sedang menunduk, terlihat menolehkan wajahnya ke arah ayahnya tersebut.
"Tarik napas dalam, kemudian keluarkan dengan perlahan. Tenangkan hatimu, jangan sampai nanti salah mengucapkan kalimat Kabul!" kata Pak Ridwan.
Reihan tersenyum, kemudian dia menegakkan tubuhnya dan memulai apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut.
Ayahanda dari suster Camelia yang melihat akan hal itu hanya tersenyum, padahal suster Camelia saja yang hanya perempuan terlihat begitu tenang.
Namun, saat melihat Reihan yang notabene adalah lelaki, dia malah merasa sangat ingin tertawa. Karena calon menantunya tersebut terlihat begitu gugup.
"Ehm, Ayah. Di mana calon istriku?"
__ADS_1
Reihan menanyakan tentang keberadaan suster Camelia kepada ayahnya, suaranya terdengar pelan tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh pak penghulu dan juga ayah dari suster Camelia.
Pak penghulu tersenyum, kemudian dia berkata.
"Calon istrimu masih disembunyikan, nanti kalau sudah sah baru kami keluarkanm Takutnya nanti kamu malah pingsan melihat kecantikan dari calon istrimu," kata Pak Penghulu.
Reihan nampak tersenyum malu-malu, antara gugup, senang dan juga takut salah dalam pelafalan kalimat kabul. Itulah yang dia rasakan saat ini.
"Oh ya, bagaimana kalau kita mulai saja acaranya?" tanya Ayahanda dari suster Camelia kepada pak penghulu.
"Boleh-boleh, lagi pula sepertinya calon pengantin prianya sudah tidak sabar ingin mengesahkan hubungannya," goda Pak Penghulu.
Reihan terlihat tersenyum canggung ke arah pak penghulu dan juga ayahanda dari suster Camelia, tapi pak Ridwan yang berada di sampingnya terus saja menguatkan dirinya.
Pada akhirnya acara pun dimulai dengan bacaan Basmalah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an.
Begitulah seterusnya, acara berlanjut hingga kini acara inti pun, acara yang sangat dinanti-nanti akan terlaksana juga.
"Baru mau ijab kabul saja tangannya sudah dingin seperti ini, raut wajahnya juga sudah pucat pasi. Nanti, bagaimana kalau saat belah duren tiba?
Ayahanda dari suster Camelia tersenyum meledek, Reihan nampak tersenyum kecut. Berbeda dengan semua orang yang ada di sana, mereka nampak menertawakan tingkah dari Rehan.
Pada akhirnya, pak penghulu memberikan aba-aba untuk ayahanda dari suster Camelia mengucapkan kalimat ijabnya.
Setelah Ayahanda dari suster Camelia menghentakkan tangannya, akhirnya Reihan mengucapkan kalimat kabulnya.
Puji syukur dia bisa mengucapkan kalimat kabulnya dengan satu kali tarikan napas saja, semua orang yang hadir di sana langsung berkata sah setelah pak penghulu bertanya.
Wajah Reihan yang tadi terlihat pucat pasi, kini berubah dengan drastis. Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ibunda dari suster Camelia terlihat mengapit seorang perempuan yang memakai kebaya pernikahan berwarna putih gading.
Rehan sangat tahu jika itu adalah wanita yang sudah diasahkan olehnya baru saja, tidak lama kemudian suster Camelia nampak duduk di samping Reihan.
Pak penghulu menyuruh Reihan untuk memasangkan cincin kawinnya, begitupun juga dengan suster Camelia.
Setelah memasangkan cincin kawin di jari manis masing-masing, suster Camelia nampak meraih tangan kanan Rehan dan mengecup punggung tangannya dengan takzim dari balik cadarnya.
Reihan tersenyum, kemudian dia mengecup kening istrinya dengan lembut. Lalu, tidak lama kemudian Reihan nampak membaca do'a dan meniup ubun-ubun sang istri dengan sangat lembut.
Pak Ridwab nampak terharu melihat akan kejadian tersebut, begitupun juga dengan kedua orang tua dari suster Camelia.
"Nak Camelia, sekarang dia sudah menjadi suamimu. Silakan perlihatkan wajahmu untuk sebentar saja," kata Pak Penghulu.
Akhirnya suster Camelia membelakangi para tamu yang hadir, kemudian dia membuka cadarnya untuk memperlihatkan wajahnya kepada suaminya.
Reihan langsung memelototkan matanya, bibirnya bahkan ternganga lebar. Dia tidak percaya jika ternyata istrinya sungguh sangat cantik.
Wajah yang selama ini di ditutupi oleh cadar ternyata memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, tanpa sadar tangan Re9han terulur.
Dia hendak mengelus pipi istrinya tersebut, sayangnya suster Camelia sudah kembali menutup wajahnya dengan cadar miliknya.
Reihan nampak berdecak kesal, karena suster Camelia seakan mempermainkan dirinya. Namun, tanpa dia duga suster Camelia malah menjinjitkan kakinya lalu dia berbisik tepat di telinga Reihan.
"Nanti di kamar Mas boleh puas-puasin melihat wajah aku, sekarang banyak orang," kata suster Camelia.
Reihan langsung tersenyum senang, dia malah sudah membayangkan hal lebih yang bisa dia lakukan setelah mereka masuk ke dalam kamar pengantin mereka nanti.
"Siap, Sayang," jawab Reihan.
__ADS_1
*****
Masih berlanjut....